
" Iya beberapa hari ini aku sering lihat sosok Pak Yono, bahkan dia neror hingga ke tempat kerja." ujarku pada Iman.
" Ini udah gak bisa di biarin bah! terlalu berisiko buat kita." geram Iman.
" Kita harus membicarakan ini dengan Pak Rizal,Man." ujarku.
" Iya bah, harus demi kebaikan kita. Jika di biarkan ini akan lebih berbahaya." ucap Iman.
" Bukannya elu sama Dimas di tugaskan untuk cari Pak Yono?" tanyaku.
" Lah, elu enggak sadar? Enggak di cari dia sudah datang meneror kita kaya gini,ngapain juga di cari." cetus Iman.
" Tapi kan tujuan awal cari dia, supaya kita bisa tahu dimana tempat persembunyian sekte 18." jawabku.
" Iya juga sih, tapi sampai sekarang belum ada aba-aba juga dari Si Dimas bah. Gue kan bingung kalau sendirian mulai dari mana coba." keluh Iman.
" Lebih baik segera datangi saja, untuk memastikan semuanya." timpal Ki Sugro yang tiba-tiba muncul.
"Aki ini Kebiasaan ya, suka tiba-tiba datang langsung ikut nimbrung. Memang begitu rencananya sekarang Ki, kami hendak ke rumahnya." jawabku berbicara lewat pikiran dengan Ki Sugro karena ada Iman.
"Sebaiknya kamu langsung tanya saja, dimana tempat persembunyian sekte itu, Anom." usul Ki Sugro.
" Tapi dia kan pernah bilang Ki, kalau Dia tidak tahu tempat sekte itu dimana, sebab dia di bawa ke tempat sekte itu saat keadaan mata yang di tutupi kain." jawabku menjelaskan.
" Justru itu, Aki curiga dia tahu, coba saja Anom pikir, mana mungkin dia tidak tahu, padahal dia sudah cukup lama bergabung dengan sekte itu. Apa mungkin setiap pertemuan dia datang dengan keadaan mata yang tertutupi kain." ujar Ki Sugro.
" Hmm.. Benar juga sih. Berarti pernyataannya selama ini adalah kebohongan, dan sebenarnya dia tahu tentang semuanya.Tapi kenapa dia harus berbohong pada kita Ki? padahal kita berniat menolongnya untuk lepas dari jeratan Klewing kan?" ujarku.
" Entahlah, alasannya aki juga tidak tahu, tapi aki yakin dia sengaja tidak memberi tahu kita, saat kamu bertemu dengannya lebih baik kamu desak saja, agar dia mau membuka mulut dan menceritakan semuanya " ucap Ki Sugro.
" Ya baiklah Ki, aku akan membuat Pak Rizal berbicara." ucapku bertekad.
" Woy! Bah cepetan! jadi enggak nih ke rumah Dimas." ajak Iman yang sudah menaiki motornya.
......................
Sesampainya di rumah Dimas kami langsung menemui Pak Rizal di kamarnya dan aku mulai menanyainya tentang persembunyian sekte 18, namun dia tidak tetap berbicara kalau dia tidak tahu, aku mencoba mendesaknya.
" Pak tolong jujurlah pada saya, mana mungkin bapak tidak tahu sama sekali tentang sekte 18, padahal bapak sudah cukup lama mengikuti sekte itu, Mungkin saya bisa percaya, cerita bapak yang di mana mata bapak di tutupi kain, jika itu kejadian saat pertama kali bergabung, namun bapak sudah bergabung kan setelahnya, apa mungkin seorang pengikutnya terus datang dengan keadaan mata yang tertutup saat datang ke pertemuan?" desak ku pada Pak Rizal.
" Ugh, bagaimana ini! Jika aku jujur, para Klewing itu akan mendatangiku." ucap Pak Rizal dalam hatinya.
"Memang kenapa jika mereka datang kemari? kami juga tidak akan tinggal diam jika mereka hendak menyerang. Sudahlah jangan bergumam dalam hati, aku bisa dengar semuanya. Apa salahnya tinggal berterus terang dan memberi tahu kami semuanya." cetus Aji saka tiba-tiba.
Pak Rizal tertohok kaget.
" Tetap saja tidak bisa! terlalu berisiko jika aku mengungkap semua, para Klewing itu datang kemari, kalian Takan mampu melawan kekuatan mereka, sudah ku bilang mereka itu kuat dan berbahaya!" ucap Pak Rizal dengan nada tinggi pada aku dan rekan-rekan ghoibku.
__ADS_1
Oh, jadi itu alasan dia menutupi semuanya.
" Tapi pak, jika bapak tidak memberitahu kami dimana tempat persembunyian mereka, akan sulit bagi kami untuk menghentikan gerak mereka, dan nantinya akan banyak pula korban yang terjebak seperti bapak, Bukankah kita akan bekerja sama mengenai ini, Jika bapak tidak mau memberitahu kami, bukankah bapak seperti tidak mempercayai kami yang sedang berusaha menolong bapak" tuturku.
" Sejujurnya, bapak memang ragu pada kalian, Bah. Dengan kekuatan dan jumlah kalian saat ini sangat mustahil bisa mengalahkan para Klewing yang kuat itu." tutur Pak Rizal.
" Maaf jika aku ikut menyela Om! Kalau Om ragu pada Abah? kenapa tidak bilang dari awal? kenapa Om tidak menolak bantuannya saat aku ajak abah kemari? Om tahu bahaya apa yang aku dan Abah hadapi selama ini? tapi dengan mudahnya Om berbicara seperti itu setelah banyak pengorbanan yang kami lakukan buat menolong Om." tutur Iman dengan kesal membelaku.
" Maafkan Om man! Om tidak berniat menyakiti kalian dengan ucapan Om, Om hanya tidak mau ada yang terluka pada kalian semua." sesal Pak Rizal.
" Pak, kami seperti ini memang tulus menolong Bapak. Jadi saya mohon bapak mau bekerja sama lalu memberi tahu kami semuanya, agar memudahkan kita menghancurkan sekte sesat itu." bujukku pada Pak Rizal
" Sudahlah Bah, biarkan saja sekte 18 itu tetap berjalan apa adanya, tidak usah Abah pikirkan tentang bapak ataupun para Klewing. lebih baik Abah pikirkan keselamatan Abah sendiri, karena Abah mulai menjadi incaran Yono dan para Klewing sekarang, Abah harus berhati-hati." tutur Pak Rizal.
" Tapi Pak, Kita bisa..
" Tolong jangan Paksa bapak, Bah. Jika teror mereka sampai menyakiti keluarga Abah, saya akan sangat-sangat bersalah dan menyesal dari sekarang, lebih baik Abah berhenti menolong saya. Kita lewati jalan masing-masing, bersikaplah seolah Abah tidak pernah kenal dengan bapak dan tidak pernah tahu masalah ini." pinta Pak Rizal dengan memohon dan raut wajah sedih.
Aku, rekan-rekan ghoibku dan Iman hanya bisa terdiam mendengar permintaan Pak Rizal, sedangkan Dimas yang dari tadi berdiri di ambang pintu, mendengar pembicaraan kami, hanya bisa meneteskan air matanya dan menatap pilu pada ayahnya.
Aku memang tidak bisa menolak permintaan Pak Rizal yang menyuruhku untuk berhenti menolongnya.
Namun Aku dan Rekan ghoibku tidak bisa berhenti begitu saja, Orang- orang terdekatku bisa saja dalam bahaya, karena aku sudah terlanjur masuk dalam masalah ini terlebih aku sudah jadi incaran mereka.
Apa boleh buat, aku harus menghancurkan Pak Yono dan para klewing atau setidaknya aku harus bisa menghentikan pergerakan mereka yang terus mencari pengikut untuk di jebak seperti Pak Rizal.
......................
Banyak mahasiswa yang tengah berlalu- lalang dengan aktifitas mereka, kami melajukan motor dengan perlahan untuk memilih para penjual makanan di setiap tepi jalan.
Dan pilihan kami jatuh ke penjual nasi goreng yang tak jauh dari sana, kami memutuskan untuk menghentikan suara perut yang keroncongan dengan itu.
"Bah, sorry ya, gara-gara gue yang awalnya nyuruh elu buat nolong Pak Rizal, malah berakhir begini, sia-sia kita berkorban dan bertaruh nyawa untuknya." sesal Iman sambil duduk di bangku menunggu pesanan nasi goreng kami selesai.
"Enggak apa-apa Man, gak ada yang sia-sia, semua pasti ada maksud dan tujuan, kenapa sang kuasa menggerakkan kita untuk menolong Pak Rizal, ambil positif nya aja Man. Jadikan sebagai pembelajaran kedepannya." tuturku.
Kami menyantap nasi goreng dengan nikmat. Setelah membayar kami memutuskan untuk pulang, kami segera menghampiri motor Iman yang terparkir di dekat pohon.
Kulihat jalanan sebelah sini agak sepi mungkin ini karena Iman memarkirkan motornya sedikit jauh dari universitas yang ramai tadi.
Sementara Iman sedang menyalakan motor nya, aku bersiap memakai helm, Namun dari kejauhan fokusku tertuju pada dua orang pria yang berjalan saling bertuntun membelakangiku hendak masuk ke sebuah gang.
Pria yang ada di belakang sedang di tuntun oleh pria yang ada depannya, apa pria itu buta?
Semakin ku amati, ada tali hitam yang menyimpul di belakang kepalanya.
Dan orang di depannya memakai pakaian serba hitam dan aku merasa tidak asing dengan pakaian itu.
__ADS_1
Tepat saat mereka berbelok ke gang itu,
wajah mereka terlihat dari samping.
Pria yang di tuntun itu, tidak buta, justru di tuntun karena matanya tengah di tutupi kain hitam yang menyimpul hingga ke belakang kepala.
Sedangkan pria di depannya yang mengenakan pakaian hitam dan menjadi si penuntun adalah..
" Pak Yono!" seruku setengah berteriak dan terdengar oleh Iman.
" Pak Yono? Mana? Dimana Bah?" ucap Iman yang sontak celingukan mencari keberadaan Pak Yono.
" Disana! Dia masuk ke gang Man." seruku.
Iman yang melihat Pak Yono sekejap, mengajakku untuk mengejarnya. Dan meninggalkan motor tetap terparkir di sana.
Kami berlari dan ikut memasuki gang yang di lewati Pak Yono tadi.
Gang Ini tidak sempit namun gelap, masih bisa lah di lalui satu kendaraan motor.
karena gang ini cukup panjang, kami masih melihat keberadaan Pak Yoni yang jauh di depan kami.
Kami memutuskan untuk mengikutinya diam-diam.
" Pak Yono yang mana?" tanya Iman berbisik.
" Yang depan, yang pakai topi dan baju serba hitam" jawabku
"Tapi cowok yang di belakang kenapa di tuntun?" tanya Iman berbisik lagi.
" Elu gak liat ada tali yang menyimpul di belakang kepalanya?" tunjukku.
" Oh iya gue liat, kayanya itu tali di ikat sengaja nutupin matanya ya gak? kok gue jadi inget cerita Pak Rizal?" cetus Iman.
" Terus elu paham gak dia lagi ngapain sekarang?" tanya ku mengetes Iman.
" Buat di jadiin pengikut Klewing baru?" tutur Iman.
" Itu tahu." jawabku.
" Tapi dia mau pergi kemana? Kenapa kita masuk ke area yang sepi begini, ini lahan kosong, tapi banyak ilalangnya, tinggi-tinggi lagi." keluh Iman mengibas Ilalang yang mengenai wajahnya.
" Ih, elu gak usah gibas-gibas juga. ntar ketahuan gimana?" kesalku pada Iman yang tidak bisa berhenti bergerak.
" Sorry.." jawabnya.
Kami kemudian berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar, bentuknya seperti rumah Belanda yang cukup tua.
__ADS_1
Aku teringat disebuah film horor rumah tua yang ada patung gurita besar di atasnya namun bukan gurita yang ku lihat di rumah besar ini melainkan sekumpulan Klewing yang terbang memutar di atas atap.