
Setelah Dimas menjelaskan semuanya, Iman langsung antusias menceritakan pengalamannya tadi pada Dimas, dan sementara mereka mengobrol, aku pergi meninggalkan mereka, untuk melihat keadaan Pak Rizal di kamarnya.
Seperti biasa dia hanya bisa berbaring di kasurnya.
" Alhamdulillah ternyata Abah selamat." seru Pak Rizal melihat ke arahku, sepertinya dia sudah tahu kalau aku akan datang menemuinya.
" Ya Pak,Terima kasih. Berkat bapak aku dan Iman bisa selamat." timpal ku.
" Tidak, tidak, jangan berterima kasih padaku, Bapak hanya menjalankan apa yang teman ghoib mu itu sampaikan, bapak tahu kalian dalam bahaya darinya, dia yang datang dan memberitahu, sehingga saya cepat-cepat menyuruh Dimas untuk menyelamatkan kamu dan Iman. Maaf saya tidak bisa banyak membantu atau menyelamatkan kalian saat di dimensi Klewing itu, untuk bangun dari tempat tidur saja rasanya lemah sekali, maaf ya bah, gara-gara masalah bapak ini, Abah jadi ikut terseret dan jadi incaran Klewing juga, bapak sangat menyesal" keluh Pak Rizal yang tiba-tiba meneteskan air mata.
"Tidak apa-apa pak, dari awal saya sudah menerima risiko yang harus di hadapi, jadi saya benar-benar ikhlas menolong bapak. Jadi bapak tidak perlu berbicara seperti itu, mari kita berusaha sama-sama untuk lepas dari teror Klewing." jawabku.
" Tidak Bah, akan lebih baik jika sekarang, Abah berhenti saja untuk menolong bapak, saya takut Abah kenapa-kenapa. Biarlah bapak yang menanggung semua sendiri, ini masalah bapak, bapak juga yang membuat semua ini terjadi" ucap Pak Rizal putus asa.
Tiba-tiba muncul Ki Sugro,
" Ini bukan masalah bisa atau tidaknya kami menolongmu! Tujuan kami datang menolongmu, karena kami memang ingin menghancurkan perkumpulan sesat itu!" ucap Ki Sugro dengan nada marah.
"Saya hanya mengkhawatirkan keselamatan Abah Ki. Saya tidak yakin sekte itu bisa di hancurkan dengan mudah, secara Klewing itu kuat, dan kalian berdua yang bertarung di garis depan, sedangkan saya tidak bisa ikut membantu. Bagaimana kita bisa menang melawan mereka" keluh Pak Rizal.
Tiba-tiba muncul Nini kembar dan Aji saka tepat di hadapan Pak Rizal.
" Astaga! Si.. Siapa mereka! Mau apa mereka kemari! Pergi! Pergi!" ucap Pak Rizal kaget dan ketakutan.
" Jangan takut pak, mereka adalah rekan-rekanku, aku tidak sendirian, merekalah yang selalu ada membantuku selama ini pak." tuturku.
Pak Rizal mulai terdiam.
"Apa kalian tidak tahu. Klewing yang kalian lawan itu bukan hanya satu. Jumlah mereka sangat banyak, entah ada berapa, jelasnya mereka seperti sebuah pasukan." tutur Pak Rizal.
" Aku juga tahu, maka dari itu, kita harus kerja sama, kamu tidak perlu menutupi rahasia tentang mereka, tunjukan dan beri tahu kami semuanya, dimana tempat persembunyian mereka?" tanya Aji saka tegas.
"Saya tidak yakin mereka ada di tempat yang sama, mereka itu selalu berpindah-pindah tempat." jawab Pak Rizal nampak berpikir.
" Tapi ada seseorang yang lebih mengetahui tentang itu di banding aku, dia Pak Yono. Dia lah yang menjebak ku agar aku bergabung dengan sekte 18, bahkan saat aku datang ke tempat berkumpulnya mereka, mataku di tutupi kain saat itu, jadi aku tidak tahu tepatnya dimana tempat itu berada." beber Pak Rizal nampak mengingat-ingat kejadian lalu.
" Dia adalah Ketua sekte di kota parahyangan ini, dia lebih tahu semua seluk beluk tentang sekte 18, kalian bisa menemuinya, namun berhati-hatilah, dia lebih sakti dariku, dia bisa memanggil Klewing kapan saja." tutur Pak Rizal.
" Dimana saya bisa menemukan Pak Yono pak?" tanyaku.
__ADS_1
" Tidak usah di cari, dia akan mendatangimu. Aku ingatkan sekali lagi berhati-hatilah saat kamu bertemu dengan orang yang bertopi dan berpakaian serba hitam dan sangat rapih." himbau Pak Rizal Padaku.
" Oh begitu ya, baiklah. Terimakasih bapak sudah mau bekerja sama dengan kami, teruslah bapak beri tahu informasi mengenai mereka, meski harapan untuk menghancurkan sekte 18 itu kecil, setidaknya kami bisa menghentikan penyebaran sekte tersebut, sebelum banyak korban lain yang terjerat." timpal ku.
Tiba-tiba Iman dan Dimas datang menyusul ke kamar Pak Rizal
" Oh, ternyata Abah ada di sini, aku kira abah pulang tanpa pamit lagi kaya waktu itu." seru Dimas yang tiba-tiba masuk ke kamar ayahnya.
"Kok, suasananya serius banget disini? bapak sama Abah ngobrolin apa?." tanya Dimas lagi dan menghampiri kami.
" Bapak dan Abah sedang berencana untuk menemui Pak Yono, Dim. Kamu ingat Pak Yono?" tanya Pak Rizal pada anaknya.
"Mmmm... temen bapak yang orang Jawa itu kan? Yang suka pakai pakaian serba hitam, jas hitam, topi hitam? Terus rapih banget kaya orang kantoran, bapak yang itu bukan?" tanya Dimas memastikan.
" Iya Dim, rupanya kamu masih ingat dengan Pak Yono." seru Pak Rizal.
" Memangnya kenapa pak?" tanya Dimas lagi.
" Dia harus ditemukan Dim, dia yang menjebak bapak masuk ke sekte 18, dia yang tahu semua tentang sekte 18, kita harus menggali informasi darinya agar mudah untuk menghancurkan sekte itu." tutur Pak Rizal.
" Kalau begitu biar aku yang cari dia Pak!" seru Dimas geram.
" Baiklah, bapak percayakan tugas ini pada kalian. Ingat kalian harus berhati-hati dengannya, dia berbahaya. Kalian cukup mencari tempat persembunyiannya, hanya itu! Tidak lebih! Selebihnya itu urusan bapak." tegas Pak Rizal.
" Iya Pak!" jawab Dimas.
Setelah kami berdiskusi lama sekali, tak terasa malam makin larut, aku dan Iman pamit untuk pulang, dan menyiapkan diri esok hari unuk menjalankan rencana kami menemukan Pak Yono.
......................
Keesokan paginya.
Aku tengah bersiap untuk pergi bekerja, seperti biasa sarapan dan pamit pada keluargaku.
Pukul 07.30 aku berangkat kerja. Untunglah tempat aku bekerja tidak jauh dari rumah, masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 km jauhnya. Itung-itung berolahraga.
Di pertengahan jalan, aku sempat berhenti karena ada seorang pria yang menanyakan sebuah alamat padaku.
" Permisi kang!" ucap seorang pria tiba-tiba menyapaku.
__ADS_1
" Iya pak? Ada apa?" sontak aku menjawab.
" Saya hendak mengirim barang, tapi saya kurang tahu daerah sini, apa bapak tahu alamat rumah ini dimana?" tanyanya.
Memang ku lihat dia membawa sebuah kotak yang dia pegang di tangan kirinya, dia menyodorkan aku selembar kertas kecil yang tertulis sebuah alamat disana. Aku mencoba membacanya.
"Jl. lingkar no.55 ya? Oh, dekat ini pak! Bapak dari sini tinggal lurus saja, terus belok kanan, nah cari aja rumah urutan nomor 55 dari sana." jelasku.
" Oh begitu, ya.. ya.. terima kasih banyak ya kang, maaf sudah mengganggu aktivitasnya. Kalau begitu saya pamit, terima kasih sekali lagi." ucap pria itu tersenyum.
" Ya, sama-sama pak!" jawabku.
Pria itu pun pergi menuju alamat yang aku jelaskan, tanpa curiga aku pun kembali berjalan. aku melihat jam di tanganku, jam menunjukan pukul 07.45.
" Astaga! Sudah jam segini! Aku harus bergegas bisa-bisa kesiangan, telat sedikit saja bisa di potong gaji ku nanti."
Setibanya di pabrik, aku mulai mengabsen.
Ditengah koridor menuju ruangan tempat aku bekerja, aku berjalan sambil memikirkan pria tadi.
Alamat yang di tanyakan tadi, kok rasanya tidak asing ya!
Aku terdiam dan berpikir.
"Tunggu.. Itu kan alamat rumahku! Astaga! Kenapa sampai enggak sadar alamat rumah sendiri!" keluhku sambil menepuk jidat.
"Eh, tapi jika dia menuju rumahku, pria itu siapa ya? Gak kenal.. Soalnya Kurir barang yang biasa ke rumah bukan dia." ucapku berbicara sendiri.
Aku mulai mengingat-ingat ciri-ciri pria tadi
Dia pakai baju jas hitam, topi hitam, semua serba hitam.
Deg!
Sontak aku teringat ucapan Pak Rizal kemarin malam.
Itu Pak Yono!!
......................
__ADS_1