Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Mahluk pengganggu


__ADS_3

Dengan berbekal senter, aku pun pergi menelusuri hutan sendirian.


Angin bertiup kencang saat itu, Suara lolongan anjing pun tidak menyurutkan semangatku menyelesaikan misi ini.


Kejadian ini sudah sering ku alami, tapi hanya sebatas orang yang di sembunyikan oleh makhluk halus saja, dan orang yang tidak sadarkan diri pun tidak sampai koma seperti rusli, paling hanya sehari atau dua hari mereka langsung sadar.


Hari ini aku harus menyelamatkan Rusli dari cengkraman raja siluman kera dan para pengikutnya.


Sedikit demi sedikit aku sudah menjauh dari perkampungan.


......................


Aku mulai memasuki rimbunan pepohonan bambu yang memberi kesan aura mistis di setiap langkahku.


Kali ini Aku sadar bahwa aku mulai di sambut oleh para penghuni hutan ini. mereka mulai menunjukan eksistensinya.


Mulai muncul kejanggalan yang aku rasakan, jalan setapak yang seharusnya lurus, berubah menjadi jalan yang bercabang tiga arah.


Setahuku, selama aku ke hutan dengan Iman waktu itu, aku tidak merasa ada jalan yang bercabang seperti ini.


Di setiap jalan tersebut ternyata ada mahkluk yang tengah berdiri di sana,


pasti ada yang tidak beres, dan sepertinya mereka ingin menghalangi jalanku menuju pohon keramat.


Tepat di jalan sebelah kiri, ada sosok mahluk yang merangkak, tangan kakinya panjang, kepalanya gundul, lidahnya menjulur panjang keluar, dengan mata yang melotot ke arahku.



"Mendekatlah, aku sudah lama tidak memakan daging manusia sepertimu."


"Aku Lapar....!"


"Lapar....!"


"Lapar....!"


ucapnya berulang kali, sambil menatapku tajam.


Lalu, pada jalan yang bagian tengah. aku melihat sosok wanita cantik, memakai baju kerajaan , dia memakai sebuah mahkota, tapi tubuh bagian bawahnya berbentuk ular.



"Aku sudah menunggumu begitu lama, negeriku membutuhkan raja sepertimu, ikutlah bersamaku ke kerajaanku, disana kau akan hidup senang." ucapnya sambil melambai-lambaikan tangannya padaku dan tersenyum.


dan di jalan yang sebelah kanan, ada sosok yang tinggi besar, dia berbulu hitam lebat, namun mahluk ini hanya tertunduk diam.


Aku sadar ini pasti salah satu tipu daya mereka, aku tidak akan terpancing ataupun terhasut.


Dengan berani Aku langsung berdoa saat itu juga, aku membaca ayat kursi serta meminta perlindungan kepada sang kuasa.


Ayat demi ayat ku lantunkan, membuat ketiga mahluk itu kepanasan, tidak terima dengan apa yang aku lakukan, mereka hendak menyerangku.


Mahluk yang berbulu lebat hitam itu mulai menggeram, yang awalnya dia tertunduk, mulai menunjukan wajahnya padaku. Aku melihat matanya yang merah, dia bertaring tajam, dan menyeringai.



Jarak antara aku dengan mereka kurang lebih lima meter jauhnya.


Aku masih melantunkan ayat kursi.

__ADS_1


Dan sosok yang merangkak cepat menghampiriku sambil berteriak.


" Hentikaaann.... !! Hentikaaaann... !!" teriaknya dengan nada marah.


Semakin mendekat dia merangkak, semakin terbakar juga tubuhnya dan perlahan menghilang.


Begitu juga dengan wanita ular itu, dia tiba-tiba menghilang begitu saja.


Dan yang tersisa, hanya tinggal mahluk yang berbulu hitam, dia hanya tertawa sambil menghampiriku perlahan.


Aku merasakan energi yang dia miliki cukup kuat.


Pada saat dia berjarak satu meter di depanku dia sama sekali tidak merasa terganggu bahkan terlihat baik-baik saja.


Aku sadar ternyata ayat kursi yang ku bacakan tidak mempan padanya.


Aku segera mengganti bacaanku dengan Ajian Pelebur Jin (Brajamusti).


Ketika aku hendak membacakannya, dia langsung mencekikku. dan berkata.


" Jangan kau baca ajian itu ! ternyata kau bukan manusia sembarangan." ucapnya marah dengan nada suara yang berat menggema.


Dengan tangannya yang besar dan berbulu, kukunya pun tajam, dia mencekikku dengan kuat.


Refleks kedua tanganku mencoba melepaskan.


Aku mencoba membaca ajian itu dalam hati, tapi tubuhku malah semakin diangkat ke atas, cekikannya makin kuat, aku mulai kehabisan nafas.


Tiba-tiba sebuah tongkat melayang, dan entah muncul dari mana, tongkat itu menyerang dan mendorong mahluk tersebut hingga terpental jauh.


Seketika itu tubuhku terlepas dari cekikannya, tubuhku jatuh ke tanah, refleks aku langsung mengatur nafasku kembali.


Cekikan mahluk itu hampir saja membunuhku, tapi darimana tongkat itu muncul, dan milik siapa itu?


"Khiihii.. Hihihi... apa kau baik baik saja Anom?" Ucap Nenek itu sambil mengunyah sirih dan tertawa.


Seketika aku menoleh.


"Nini Gandiwi! ternyata Nini yang datang menolongku. terima kasih, Ni berkat Nini aku bisa selamat dari mereka, fiuh... Untung saja." ucapku dengan perasaan lega.


Nini gandiwi adalah sesosok nenek tua, yang kebiasaannya selalu mengunyah daun sirih, Rambut nya gimbal dan panjang, badannya sedikit bungkuk sambil memegang tongkat. Nini Gandiwi adalah salahsatu rekan ghaibku.


Dia selalu datang bersama dengan kembarannya Nini Gandiwa.


"Kemana saja Nini selama ini, terus Nini Gandiwa dimana?" tanyaku penasaran.


"Dia ada bersama dengan Ki Sugro di pohon keramat, mereka berdua sedang mencoba membuka portal di sana, kenapa Anom lama sekali untuk datang, kami sudah lama menunggumu." ungkapnya.


" Iya Ni, maaf. Nini kan lihat aku di hadang oleh beberapa mahluk barusan, aku juga kebingungan tadi, karena tidak tahu harus mengambil jalan yang mana untuk segera sampai ke sana." Keluhku.


"Jalan apa maksudmu? tidak ada jalan di depanmu, di sana hanya ada jurang yang dalam" ungkap Nini menunjuk dengan tongkatnya.


"Astagfirullah!!" Aku tersentak kaget.


Wushh! angin berhembus kencang.


Benar ternyata, saat aku melihat ke arah ke tiga jalan tadi, jalan itu menghilang, dan hanya ada jurang tinggi dan menganga yang di hembus oleh angin yang cukup kencang.


Sial, hampir saja aku terjebak, ternyata tipu daya mereka masih bisa menipu mata batinku.

__ADS_1


" Ayo cepatlah Anom! kita harus segera ke pohon keramat." ajak Nini Gandiwi.


Segera aku berbalik arah, dan menyusul Nini gandiwi yang sudah berjalan lebih dulu. kami pun pergi bersama menuju pohon keramat.


......................


Ternyata begitu berbahaya di hutan ini jika kita pergi sendirian, banyak kulihat penampakan-penampakan seperti kuntilanak dan pocong di sepanjang jalan.


bagiku itu sudah biasa karena di kota pun sering kujumpai mahluk seperti mereka.


Tidak lama, kami pun sampai di pohon keramat.


Terlihat Ki Sugro dan Nini Gandiwa masih mencoba untuk membuka portal di sana.


Mereka sedikit kesulitan, karena terhalang oleh energi yang cukup kuar dari raja kera.


" Darimana saja kamu Anom, kami menunggu lama sekali." tegu Ki Sugro.


" Maafkan aku Ki , ada sedikit masalah tadi di perjalanan." ujarku.


" Untung saja aku menyuruh Gandiwi menyusulmu." ujar Nini Gandiwa.


" Cepat bantulah kami untuk membuka portal ini." titah Ki Sugro pada aku dan Nini gandiwi.


Kami pun mencoba untuk ikut membantu, kami berempat berdiri di setiap sisi pohon.


Dan mulailah kami menyalur energi kami pada pohon keramat, untuk membuka segel pada pohon itu lebih dulu. Barulah portal akan terbuka.


terjadi benturan energi kami dengan energi raja kera yang ada di pohon keramat.


Akibatnya muncul ledakan-ledakan kecil dari gesekan dari kedua energi yang berbeda.


Perlahan portal mulai terbuka, segelnya pun hampir pudar.


Namun tiba -tiba.


Akar-akar gantung dipohon itu bergerak sendiri mendekati kami, dan langsung melilit tubuh Ki Sugro, Nini Gandiwa dan Gandiwi.


Tetapi tidak denganku.


Aku tidak terlilit, dan seketika pintu portal itu terbuka sangat lebar, lalu terdengar suara tawa raja siluman kera.


" Hahahaha.. besar juga nyalimu, manusia! tidak ku sangka kamu berani juga datang kemari." ucapnya dengan suara yang menggema tanpa wujud.


"Tentu saja karena aku tidak pernah takut dengan mahluk sepertimu." jawabku dengan berani


"Hahaha, baguslah.. kalau begitu cobalah masuki dimensiku jika kamu bisa, lalu selamatkanlah teman manusiamu itu. Jika kami tidak berani, kembali saja ke tempatmu, aku akan menutup kembali portal ini, dan teman manusiamu tidak akan pernah bisa kembali, dia akan menjadi budakku selamanya. Ahahaha.. " Ejek siluman kera.


Bagaimana ini, Ki Sugro dan yang lainya terlilit akar, mana mungkin aku bisa masuk kesana sendirian.


"Pergilah Anom, jangan pedulikan kami, aki yakin kamu bisa tanpa kami, karena sang kuasa selalu melihat dan melindungimu dimana pun." ucap Ki Sugro meyakinkanku.


Mendengar ucapan itu, keberanianmu muncul, satu hal yang pasti manusia mahluk adalah yang paling sempurna di banding dengan mereka, serta tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan dan kekuasaan sang pencipta.


Dengan penuh percaya diri, Aku pun bergegas masuk sendiri ke portal dimensi itu.


Aku langkahkan kakiku menuju cahaya putih yang ada di pohon keramat.


Tida lupa aku memanjatkan doa serta perlindungan kepada sang kuasa, dan memulai dengan ucapan.

__ADS_1


Bismillahirrahmanirrahim.


......................


__ADS_2