
Awal Kemunculan kakek itu memang sedikit membuatku waspada, dia belum menunjukan wujud aslinya pada saat itu, dia masih memakai wujud seorang kakek biasa.
Karena dia selalu membantuku, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Kenapa anda selalu berbuat baik padaku, Apa alasannya? Dan siapa Anda? Apa anda leluhurku dari kakek buyutku?" tanyaku pada kakek berpakaian serba putih itu.
" Ya, kamu bisa menganggapku seperti itu, anggap saja aku sebagai kakekmu, kamu bisa memanggilku Aki Sugro. Aku tidak ada niatan buruk padamu, Aku hanya ingin membimbingmu untuk mencari jati dirimu." tuturnya
" Berarti Aki tahu, apa yang sedang terjadi padaku? Dan kenapa aku memiliki kemampuan ini?" tanyaku.
" Kemampuan yang kamu miliki berasal dari leluhur kakek buyutmu, tentu saja kemampuan itu bersifat turun temurun, dan sekarang ilmu itu sedang mencari wadah atau cangkang baru, kamu di takdirkan untuk mendapatkan ilmu tersebut. Kamu tidak perlu cemas aku akan membimbingmu hingga kamu bisa dan mampu." tuturnya.
" Oh, jadi begitu, Pantas saja aki menyuruhku untuk bergabung ke dalam perkumpulan spritual." ujarku.
" Ya, jadi dari perkumpulan itu, kamu bisa mencari manfaat dalam segi pengetahuan jadikan ke ikutsertaan mereka untuk melakukan perjalanan bersamamu." tutur Aki Sugro.
" Perjalanan? Maksudnya Ki?" aku tidak mengerti.
" Kunjungi tempat-tempat sakral yang ada di tanah Parahyangan ini. Ada tujuh tempat yang harus kunjungi. Pertama, yaitu Laut. Kedua, Patilasan para wali. Ketiga, Patilasan Siliwangi. Keempat, Patilasan Kian Santang. Kelima, Patilasan Arya Kemuning. Keenam, Patilasan Syekh Quro dan ketujuh lalu kembali lagi ke Laut tempat pertama kamu memulai." Tutur Ki Sugro.
Untuk melakukan perjalanan seperti itu bagi seorang Anak SMA tentu saja sulit, itulah alasan kenapa aku harus bergabung dengan perkumpulan yang di anggotai oleh bapak-bapak dan ibu-ibu ini.
Secara terbuka, Aku sampaikan maksud dan tujuanku pada mereka, dengan memberi tahu petuntuk yang di beri Ki Sugro sebagai sebuah ilafadz.
Mungkin karena aku adalah anggota yang paling peka terhadap hal-hal mistis di bandingkan dengan anggota yang lain, dan meskipun aku anggota termuda di perkumpulan ini, mereka selalu menghormati dan mempercayaiku, Sehingga mereka setuju akan ikut menemani dan melakukan perjalanan tersebut bersama-sama.
Namun, sebagai gantinya aku harus bisa membantu mereka dalam menyelesaikan semua permasalahan ghoib yang mereka alami.
......................
Aku melakukan perjalanan hingga selesai. Kurang lebih memakan waktu sampai lima tahun, dari sejak aku SMA hingga aku menikah dan berkeluarga.
Namun, Semakin lama, perkumpulan ini semakin memanfaatkan kemampuanku untuk Kepentingan mereka sendiri, Seperti Menerawang masa depan bisnisnya, atau Jika ada yang menyerang mereka dalam jalur ghoib, aku lah yang harus menjadi tameng mereka, meski mereka sama-sama memiliki kekuatan.
Setelah aku selesai melakukan perjalanan, Ki Sugro muncul lagi memberi petunjuk baru.
__ADS_1
" Segera kamu keluar dari perkumpulan itu, lalu, carilah seseorang yang bisa kamu petik ilmunya. Ah.. Tidak, Tidak perlu kamu cari, sebab dia akan segera bertemu denganmu, dia akan mengayomi, mengajarkan dan menurunkan semua ilmunya padamu, dia akan sangat menyayangimu melebihi anaknya sendiri." tutur Ki Sugro.
Singkat cerita, aku bertemu dengan orang yang Ki Sugro maksudkan.
Seorang bapak yang berwibawa dan memiliki kemampuan spiritual yang sangat hebat, dia bernama Pak Asep.
Dia benar-benar mengayomiku, dan membimbingku ke jalan yang benar dan baik. Baik dalam segi Agama, adab dan tatakrama dalam berilmu.
Bagaimana cara mengumpulkan energi, mengeluarkan energi, mengajarkan Ajian-Ajian baru semua dia ajarkan. Aku pelajari semuanya dengan sungguh-sungguh selama satu tahun.
Berkat Pak Asep pula, Aku dan Ki Sugro menjadi lebih dekat dan Akrab hingga sekarang, sehingga Ki Sugro pun dengan leluasa merubah wujud aslinya yang berwajah seorang kakek menjadi wajah harimau.
Setelah Pak Asep selesai menurunkan semua ilmunya padaku, setelah satu tahun itu juga dia berpulang pada sang kuasa.
Ada satu ucapan yang aku ingat sebelum dia meninggal.
" Kita hidup, harus bisa bermanfaat untuk orang lain, meski terdesak sekalipun kamu harus bisa menolongnya, Apalagi menolong orang yang selalu membutuhkan bantuan dari ilmu spiritualmu, salah sendiri kamu memiliki kuncinya. Jadi apa boleh buat terimalah takdirmu." tutur Pak Asep terakhir kali.
Setelah kepergian Pak Asep, aku mulai mencari dan mengasah kemampuan sendiri dengan di dampingi Ki Sugro.
Kasus pertama yang aku tangani, adalah Iman.
Singkat cerita, Aku berhasil menyelamatkan Iman. Sebab itulah, hingga saat ini jika ada sesuatu yang berhubungan dengan hal gaib dia pasti langsung mencariku.
Kasus demi kasus aku bisa tangani dengan lancar, namun ada satu kasus yang gagal aku tangani, Kasus itu adalah kasus tentang santet.
Aku gagal menolongnya, sebab ilmu yang aku punya masih kurang, sehingga berdampak buruk padaku.
Melihat aku yang terkena efek samping dari persantetan, Ki Sugro menyuruhku untuk berpuasa selama 7 hari, bahkan menyuruhku untuk bermeditasi setiap malam
Aku selalu melakukan apa yang Ki Sugro suruh, tanpa tahu alasannya.
Dan setelah menikah pun aku masih menekuni ini, aku selalu berpergian ke sana kemari untuk menyempurnakan ilmuku dan menolong banyak orang,
Sampai-sampai aku meninggalkan keluargaku di rumah.
__ADS_1
Apalagi, saat aku menikah, kami kesulitan dalam masalah perekonomian, karena aku belum mendapatkan pekerjaan yang tetap.
Aku selalu menolong orang-orang tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan apapun. namun orang-orang yang aku tolong ,selalu memberiku sesuatu sebagai bentuk tanda terima kasih, kadang itu berupa uang, atau barang kebutuhan lainnya, cukup membantuku yang kesulitan dalam masalah ekonomi.
" Hari ini kamu mau pergi kemana lagi?" tanya Dita yang terlihat kesal melihatku tengah bersiap.
" Seperti biasa, ada urusan penting di luar, kamu juga tahu itu kan." ujarku.
" Memangnya kamu tidak lelah?! Seharian sudah bekerja, malamnya kamu pergi lagi, terus pulang dini hari." keluhnya.
" Ya, mau bagaimana lagi, Keselamatan mereka penting, jadi aku harus menolongnya." jelasku.
"Oh, begitu. jadi kamu lebih mementingkan orang lain." sindir Dita.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu tahu ini memang tugasku, aku tidak bisa tidak peduli pada mereka, bukankah dengan menolong mereka kita juga terbantu dalam masalah pengeluaran kita. Anggap saja aku sedang ikhtiar mencari tambahan untuk sehari-hari " jawabku.
" Iya aku tahu, tapi setidaknya luangkan waktumu untuk keluarga, apa kamu tidak kasihan sama Raka? Karena kamu terlalu sering di luar, dia sering menanyakan kapan kamu pulang." ujar Dita.
"Tapi, Menolong semacam ini memang memakan waktu Dita, prosesnya juga lama dan tidak mudah. Raka kan sudah besar? Masa dia tidak bisa main sendiri dengan teman-temannya." jawabku.
" Astaga! itu hal berbeda. kenapa kamu tidak mengerti! Dia juga butuh perhatian dari ayahnya! Memangnya sebagai seorang istri, senang di tinggal-tinggal suami seperti ini!" ucap Dita mulai meninggikan suaranya.
" Tapi, aku pergi bukan untuk main-main Dita!" ucapku mulai kesal.
"Ya, sudah, silahkan pergi! kapan aku pernah melarang kamu untuk pergi! Bantu saja mereka! tidak usah kamu pikirkan Raka! Aku bisa yang mengurusnya sendiri! Tidak perlu kamu pedulikan kami, pedulikan saja orang yang butuh kamu!" ucap Dita marah dan pergi masuk kamar.
BLAM! Pintu kamar dia tutup dengan keras.
"Astagfirullahaldzim.." ucapku mengusap wajahku dengan kasar.
Setelah kejadian itu, aku banyak berpikir, mungkin benar yang di ucapkan Dita, aku terlalu sibuk hingga melupakan kewajibanku sebagai kepala keluarga.
Lalu aku memutuskan untuk berhenti sementara dari kesibukan itu, selama satu tahun.
Aku merasa bersalah pada anak dan istriku, Sekarang aku akan tebus semua waktu yang hilang bersama keluarga, dan menganggap keluarga lebih penting untukku.
__ADS_1
Dan selama satu tahun itu, apapun wejangan yang Ki Sugro sampaikan padaku, aku tidak menghiraukannya dan tidak juga aku lakukan.
......................