
Dasar, tenyata anak ini hanya pengganggu.
Aku segera kembali ke tempat aku duduk tadi, tiba-tiba Ki Dayeng muncul.
" Heh! Dasar bocah kurang ajar! Bukannya lakukan tugasmu kamu malah jalan-jalan seperti itu!" teriak Ki Dayeng memarahiku.
" Maaf Ki, tadi aku penasaran ada anak kecil yang menangis ku kira itu manusia ternyata dia hantu." jelasku padanya.
" Alah! Alasan, makannya cepat selesaikan tugasmu sekarang! Karena tempat ini jika semakin gelap akan semakin menyeramkan, aku sudah tidak mau berlama-lama di tempat ini." pungkas Ki Dayeng.
Aku pun segera melanjutkan mengajiku yang tadi baru sampai surah Ali-imran, tiba-tiba Ki Dayeng memarahiku dan menyuruhku berhenti di saat aku baru saja akan memulainya.
" Tidak! Tidak! Kamu harus mengulang bacaanmu dari surah pembuka (Al-fatihah)! siapa suruh kamu tadi berhenti, jika kamu berhenti maka kamu harus mengulang lagi dari awal" Tegasnya.
"Astaga.. Iya.. Iya baiklah aku akan mengulangi dari awal, tapi aku harus shalat magrib dulu, ini sudah waktunya shalat magrib." ucapku
......................
Setelah selesai sembahyang aku melanjutkan mengaji, dan hari mulai gelap, hanya cahaya obor yang menyinari ku.
Suara gemuruh air terjun menemaniku disetiap lantunan ayat suci yang aku lantunkan.
Benar saja semakin malam, semakin banyak godaan yang aku alami dari suara tangisan teriakan yang memanggil namaku, teriakan yang meminta tolong, bahkan ada juga suara yang menyuruhku untuk pergi dari sini.
" Pergi..."
" Pergi.."
" Jangan ganggu tempat kami..." suara itu terdengar parau dan muncul dari kegelapan di balik rimbunan pohon bambu yang hanya berjarak lima meter dari tempatku.
" Jangan ganggu tempat kami..."
" Kami lapar.."
" Lapar.."
Terus saja suara parau itu terdengar, namun aku tidak memedulikannya, aku tetap fokus untuk mengaji.
Saat aku tiba pada beberapa ayat terakhir, tiba-tiba ada sesuatu yang mengalihkan pandanganku.
Ada sosok wanita yang ku kenal, dia tersenyum padaku.
Itukan Nurmalasari? Kenapa dia ada disini? Bukankah dia ada di dimensi lain? apa dia sengaja mengunjungiku kemari?
Seketika aku menghentikan bacaanku.
__ADS_1
Hmm, sepertinya itu benar Nurmalasari.
Nurmalasari melambaikan tangannya padaku, dia seolah mengajakku untuk mengikutinya, kecantikannya membuatku kehilangan fokus hingga aku lupa akan tugasku yang seharusnya mengaji.
Entah kenapa aku seolah tidak bisa menolak ajakannya, aku pun menghampirinya dan kini aku berada cukup jauh dari tempatku mengaji.
Aku tiba di sebuah tempat pemandian yang memilki kolam kecil, sosok Nurmalasari menyuruhku untuk melepaskan pakaianku, begitu juga dia, dia melepaskan selendang dan kemben yang di kenakannya.
Seketika kami berdua bertelanjang bulat, lalu masuk ke dalam kolam air bersama.
Aku terpana dan terbuai melihat kemolekan tubuh Nurmalasari.
Aku mulai terbawa suasana dan mencoba mendekatinya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menjewer telingaku dan menjambak rambutku dari arah belakang.
" Dasar otak mesum! Sudah aku bilang jangan terhasut oleh godaan! Kenapa tidak kamu lanjutkan saja mengajimu, jika Si Sugro tahu kelakuanmu, dan kamu gagal kamu akan dicabik-cabik olehnya, dan semua ilmuku akan di cabut oleh Ki jagat jika aku gagal membimbingmu, Huh! dasar bocah b*doh!" umpat Ki Dayeng yang terus saja menjewerku sambil menarikku dari dalam air.
" Aw.. Aw.. Ampun Ki, Ampuuun!" teriakku kesakitan.
" Memangnya kamu tidak bisa lihat, siapa sosok yang ada di depanmu itu, Hah!"tanya Ki Dayeng marah.
" Dia, Nurmalasari?!" jawabku.
" Kalau bukan Nurmalasari, lalu dia siapa?" tanyaku.
Lalu Dengan cepat Ki Dayeng menyemburkan api dari mulutnya ke arah Nurmalasari.
Nurmalasari langsung berubah menjadi sosok nenek-nenek tua dengan seluruh tubuh yang penuh dengan sayatan dan daging yang terkelupas, serta bau bangkai yang tercium begitu menyengat.
"Astagfirulloh!" Tanpa pikir panjang, aku pun kabur dari sana menuju batu besar tempatku mengaji.
" Anooomm!" teriak Ki Dayeng memanggilku dengan kesal.
Aku yang berlari tiba-tiba berhenti, dan menoleh ke arah Ki Dayeng yang masih di sana.
" Kenapa lagi Ki? Maafkan aku aku akan segera menyelesaikan tugasku." ucapku.
" Apa kamu akan melakukan tugasmu dengan telanjang seperti itu! Pakai dulu pakaianmu dasar b*doh!!!" umpat Ki Dayeng lagi.
" Bawakan saja pakaianku kemari ki.. aku tidak mau kembali kesana, aku tidak mau bertemu mahluk itu lagi" teriakku.
" Berani sekali kamu menyuruh gurumu, Hah!" bentak Ki Dayeng.
" Aduuh, bukan seperti itu maksudku ki. haah.. ya sudah aku akan ambil pakaianku sendiri ke sana." ujarku sambil berjalan dengan malas, dan jijik melihat hantu tadi.
__ADS_1
Ah, sial gara- gara aku tidak bisa fokus dan peka, aku harus mengulang lagi bacaanku..
......................
Hari makin gelap, dan aku melihat jam di ponselku yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam, di tambah lagi tidak ada sinyal pada ponselku saat ini.
Tiba-tiba aku teringat keluargaku di rumah, pasti mereka cemas, karena sudah selarut ini aku belum pulang. Dan terbesitlah rasa ingin pulang di benakku.
Jika saja aku bisa menahan godaan dari gangguan mahluk sial*an tadi mungkin aku sudah menyelesaikan semua ini.
" Ki, tidak bisakah aku lakukan besok saja, aku ingin pulang, udara makin dingin, bahkan bajuku juga sudah basah semua, aku khawatir keluargaku cemas di rumah." keluhku
" Tidak boleh! Pokoknya harus selesai hari ini juga! Jangan seperti anak kecil! Masalah keluargamu aku yang akan mengatasinya." ujar Ki Dayeng.
" Kenapa aku harus melakukan dengan cara yang berat seperti ini sih! apa tidak ada cara lain?" keluhku lagi.
"Baru segini saja, kamu sudah banyak mengeluh! Ada banyak ilmu beserta tingkatan yang harus kamu pelajari, yaitu Sima, Sukma, Jaya, dan rahayu. Kamu harus bisa sampai ke tingkat Rahayu." tutur Ki Dayeng.
" Tapi bagaimana caranya agar aku bisa sampai tingkat Rahayu?" tanyaku.
" Tentu saja kamu harus menyelesaikan dulu tugasmu sekarang, yang sedang kamu pelajari ini adalah tingkatan menuju Sukma, justru cara yang Ki jagat beri ini adalah cara yang paling mudah untuk menguasai tingkat Sukma, sebab manusia lain membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun lamanya untuk tahap ini, sedangkan kamu hanya perlu mengkhatamkan al-quran dalam waktu sehari saja dan tahan akan godaan." tuturnya.
" Memang apa manfaat ilmu Sukma yang sedang aku pelajari saat ini?" tanyaku lagi.
" Manfaatnya untuk menambah kepekaan mata batin agar kamu tidak tertipu oleh mahluk-mahluk yang jahat seperti tadi, yang kedua agar kamu bisa menerawang, ketiga untuk membuka ilmu Qalam sepeti yang di arahkan oleh Ki jagat, maka dari itu kamu harus berhasil." tuturnya.
Aku pun tertegun dengan ucapan Ki Dayeng.
" Baiklah aku akan menyelesaikannya, berarti aku harus membaca dari awal lagi?" tanyaku memastikan.
"Tentu saja, siapa suruh kamu tidak menahan semua godaan yang muncul." ujarnya.
" Baiklah.." jawabku.
Aku kembali naik ke batu besar dan mengaji lagi.
Seperti biasa godaan semakin kuat, banyak makhluk aneh yang muncul di hadapanku berlalu lalang.
Namun saat ini tekadku sudah bulat, aku harus bisa menyelesaikan ini semua.
Setelah beberapa lama fokus mengaji, ayat demi ayat dalam surah panjang sudah terbaca semua, kini tinggal mengaji pada bacaan surah-surah pendek.
Aku merasa senang, aku harus bisa menyelesaikan ini tanpa gangguan.
......................
__ADS_1