Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Kondisi Pak Rizal


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu. Pak Rizal jatuh sakit dia hanya bisa terbaring di kasurnya. Menurut dokter Pak Rizal hanya kelelahan dan stress.


Tapi anehnya dia tak kunjung juga sembuh, sering kali saat malam hari Pak Rizal sering teriak-teriak ketakutan.


Dimas mulai merasakan ada kejanggalan pada kondisi ayahnya yang tak biasa.


Saat Ayahnya tengah lelap Dimas mencoba mencari paranormal untuk di bawa ke rumah dan memekrisa keadaannya.


Awal bertemu dengan paranormal , mereka yakin dan menyanggupi jika mereka bisa menyembuhkan Ayahnya.


Namun saat mereka mulai memasuki rumah Dimas dan kamar Pak Rizal.


Mendadak mereka berubah pikiran dan mengurungkan diri untuk memeriksa keadaan Ayahnya, lalu pergi begitu saja tanpa pamit.


Ada yang terburu-buru, bahkan ada yang kabur terbirit-birit ketakutan.


Dimas heran sebenarnya apa yang terjadi pada ayahnya, Dia sudah putus asa harus mengobati ayahnya kemana lagi. Makin hari Pak Rizal makin menjadi.


suatu sore Dimas tengah membeli lauk di pedangan kaki lilma ,untuk makan malamnya nanti.


Sementara pesanannya di buat, Dimas Duduk termanggu di kursi, menunggu pesanannnya selesai. Pikirannya tengah kalut.


Tiba-tiba ada seseorang menepuk pundaknya.


" Woy, Elu Dimas kan?" sapa seseorang yang memakai masker


" E..eh Iya. Siapa ya?" ucap Dimas kaget dan bingung.


" Ini gue Iman.. Masa lu lupa sama temen masa kecil lu sih." keluh Iman sambil membuka masker nya.


" Eh, Man, apa kabar lu? sori gue nggak ngeuh itu elu, biasa lah pikiran gue lagi kalut." ucap Dimas memeluk Iman.


" Keliatan,Sih. Wajah lu lesu gitu. Mikirin apa, Sih? Gimana kabar bokap lu?" tanya Iman.


" Lagi gak baik, Man. Itu yang bikin gue kalut sekarang." keluh Dimas.


"Waduh kenapa bokap lu, sakit?"


Dimas mengangguk.


" Sakit apa emang?" tanya Iman.


"Mas ini pesenannya udah siap" ucap pedagang menyodorkan pesanan Dimas.


" Oh, Iya. berapa semua bang?" tanya Dimas.


" Tiga puluh ribu, Mas." jawabnya


Dimas pun membuka dompetnya.


" Bang satuin aja sama pesenan saya, biar saya yang bayar semua." sahut Iman.


" Eh, Jangan,Man! Gue bayar sendiri aja." sahut Dimas.


" Udah gak apa-apa.. sebagai gantinya gue pengen jengukin bokap lu ke rumah, udah lama gue gak ketemu." sahut Iman.

__ADS_1


" Oh.. iya deh..,mau sekarang? kebetulan gue mau langsung pulang, bokap sendirian di rumah." sahut Dimas.


" Oke." jawab Iman.


......................


Mereka pun tiba di rumah Dimas.


" Ayo, Man, Masuk aja. Bokap ada dia kamar." sahut Dimas.


Mereka pun masuk ke kamar Pak Rizal. Pak Rizal tengah melamun sambil berbaring.


Iman pun ikut masuk ke kamar Pak Rizal dan melihat keadaannya, sontak bulu kuduknya langsung berdiri.


" Pak, Dimas pulang, Dimas bawa lauk,Nih. Bapak makan ya?"


Pak Rizal hanya mengangguk.


"Ini ada Iman lho, Pak! Sengaja mau jenguk Bapak ke sini."


" Hallo, Om." sapa Iman sambil menghampiri Pak Rizal


Pak Rizal pun menoleh menatap Iman.


Lagi-lagi Iman tiba-tiba merinding.


" Iman ya? Maaf ya, bapak gak bisa sambut kedatangan Iman." lirih Pak Rizal.


" Gak apa-apa, Om. Iman ngerti kok lebih baik Om banyak istrahat, biar cepet sembuh." ucap Iman.


" Iya Pak, tadi Iman yang bayarin makanan ini lho." jawab Dimas yang datang membawa nampan dan mangkuk berisi makanan.


Iman dan Dimas pun duduk di ruang tamu. sedangkan waktu mulai menjelang malam.


" Dim, Bapak lu sakit apa?" tanya Iman.


" Kata dokter, Sih. Bapak cuman kecapean, Tapi udah dua minggu bapak belum juga sembuh." jawab Dimas dengan lesu.


" Tapi gue agak aneh liat kondisi bokap lu. sori nih ya, tadi pas gue masuk kamar bokap lu kok gue merinding, Dim. Elu gak ngerasa ada yang janggal gitu sama kondisinya." Tutur Iman


" Emang bener yang elu bilang, Man. Gue juga heran sendiri. Gue udah nyoba cari tahu ke orang pinter. eeh, pas mereka datang ks rumah gue, baru masuk selangkah ke kamar bokap, mereka udah bilang gak sanggup, bahkan ada yang tiba-tiba berlari kabur kaya yang ketakutan. Gue gak tahu mereka itu pada kenapa. Gue jadi bingung sendiri." keluh Dimas.


" Waduh... mereka ampe segitunya, feeling gue sih ada yang gak beres." seru Iman.


" Asli Man, ada satu hal lagi, yang ngeganggu pikiran gue. Kalau udah menjelang malem, Bokap pasti teriak histeris, kaya yang ketakutan setengah mati" sahut Dimas.


Dan benar saja, Tiba-tiba Pak Rizal berteriak dari kamar. Sontak mereka berdua kaget.


" Kan, bener yang gue bilang. Baru juga di omongin udah kejadian." sahut Dimas.


Mereka pun berlari menuju kamar Pak Rizal.


"Aaaaaa...! pergi! pergi! jangan sakiti aku! aku mohon biarkan aku bebas! pergi sana!" ucap Pak Rizal duduk ketakutan di kasur sambil menutup kepala oleh lengannya.


" Pak! Pak! Ini Dimas! Bapak tenanglah!" Sahut Dimas teriak mencoba menenangkan.

__ADS_1


" Dimas! tolong Bapak! Bapak takut ! dia akan membunuh Bapak! Sembunyikan bapak dari nya, jangan sampai dia menemukan bapak. ucap Pak Rizal panik mencengkram lengan Dimas dengan kencang.


" Tenang pak! tenang! siapa yang akan bunuh bapak? gak ada siapa-siapa disini selain kita Pak!" sahut Dimas cemas.


"Dia.. dia yang terus mengejar Bapak, Nak! " ucap Pak rizal menunjuk ke pojokan.


" Siapa? siapa yang ngejar bapak? Bapak kami ada di kamar, Bapak tenang ya, ada Dimas di sini, gak akan ada yang bisa nyakitin bapak," ucap Dimas memeluk ayahnya sedih.


Dimas saling bertatapan dengan Iman.


"Ada yang gak beres sama bokap lu, Dim." sahut Iman.


" Terus gue harus gimana? Gue udah bingung harus bagaimana ngobatin bokap, dia tiap hari kaya begini." ucap Dimas putus asa.


" Jangan putus asa dulu,Dim, pasti ada jalan,Kok. Gue bakal nyoba tanya ke Si abah" seru Iman.


" Abah? Siapa?" tanya Dimas.


"Dia sohib gue,Dim. Dia paham yang beginian." ucap Iman.


" Elu yakin, dia bisa bantuin bokap gue?" tanya Dimas.


" Ya, kita tanya dulu, siapa tahu dia bisa bantu. Gue telepon dia dulu" ucap Iman.


......................


Ponselku berdering, Aku melihat nama Iman tertera di sana.


" Ya, Man, Hallo?" ucapku.


" Bah! gue mau minta tolong!" seru Iman Panik


" Apaan? kok, suara elu kaya panik gitu sih, kenapa?" sahutku mengerutkan kening.


"Mm.. Bingung Bah, gue harus cerita dari mana, enaknya di omongin di sini apa kita ketemu?" tanyanya.


"Tergantung, emangnya ada apa?" tanyaku lagi.


" Ini masalah temen gue,Bah. bokap dia sakit , sakitnya agak janggal menurut gue. yaaa... intinya gitu." jelas Iman padaku.


"Kalau gitu lu ke rumah gue aja malem, sore ini gue ada urusan, paling ada di rumah jam sembilan malam" tuturku.


"Oke, kalo gitu nanti malam gue jemput lu, Bah." ucap iman dan mematikan telpon.


......................


"Nanti malem gue bawa abah ke sini,Dim. Supaya dia bisa liat kondisi bokap lu, sama ngenetralisir rumah lo" ucap Iman.


"Lu yakin Man, temen bener-bener bisa bantu sembuhin bokap gue? takutnya temen lo malah kabur kaya paranormal yang gue suruh ke rumah waktu itu."ucap Dimas.


"Tenang aja Dim, temen gue si Abah tuh. Jago dia, pasukannya juga banyak. hehehe" ucap Iman.


"Hah,pasukan? maksudnya gimana? dia mau bawa temen paranormal lain juga kesini?" tanya Dimas.


"Bukan gitu. Udah,deh. Ntar juga lu paham kalau ketemu orangnya, kalau gitu, gue pamit pulang dulu ya. nanti pukul sepuluh malam gue balik sini lagi sama Si Abah, lu jaga bokap lu, Okeh" sahut Iman.

__ADS_1


"Oke man, gue tunggu nanti malam"ucap Dimas.


......................


__ADS_2