Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Bernegoisasi


__ADS_3

Aku terus bertahan sekuat tenaga agar Iman tidak lepas dari genggamanku, meski tarikan ekor ratu ular sangat kuat.


" Menyerahlah dan lepaskan dia! Dia milik kami! Kalau tidak kami akan melukaimu!" ucap Ratu Ular.


" Tidak akan! Apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan dia!" tegasku.


" Baiklah, jika kamu bersikeras, rasakan Ini!" seru Raja Ular menimpali.


CTAR!


Ekor Raja ular mengibas dan menyerangku seperti cambuk, bahkan tanah ikut bergetar saking kuatnya serangan dari ekornya yang menyentuh tanah.


Aku terpental karena hantamannya cukup kuat, untunglah serangan itu tidak berhasil melukaiku, karena aku sempat menghindar.


"Tidaaak! Kembalikan dia padaku!" ucapku mencoba bangkit dan berteriak pada ratu ular yang berhasil mendapatkan Iman.


" Tidak bisa! Sesuai perjanjian dia adalah milik kami, jika kamu ingin marah, marah dan salahkan saja ayahnya, mengapa dia mau bersekutu dengan kami, yang dengan mudahnya dia mau saja menumbalkan anaknya sendiri demi harta yang kami berikan." ucap Ratu Ular.


Aku menoleh pada Ki Dayeng berharap dia membantuku, namun Ki Dayeng masih saja duduk bersila dengan mata terpejam.


" Ki kumohon selamatkan Iman Ki!" teriakku menggoyangkan tubuh Ki Dayeng namun Ki Dayeng sama sekali tidak bergeming.


Ratu dan Raja ular mulai terbang ke atas langit-langit untuk keluar dengan cara menembus atap rumahku.


Bagaimana ini.. Iman berhasil di bawa mereka, arghh.. Aku gagal..


Tiba-tiba Raja dan ratu ular terpental lagi ke bawah dan jatuh menyentuh lantai. Mereka mencoba terbang lagi menembus atap rumah, dan mereka terpental lagi ke bawah.


" Ada apa ini! kenapa kita tidak bisa keluar dari tempat ini!!" teriak Ratu ular marah mencoba terbang sekali lagi, namun lagi-lagi dia terpental.


" Sepertinya ada energi lain yang menyelimuti tempat ini, sehingga kita tidak bisa keluar dari sini." tutur Raja ular mengamati rumahku.


" Apa yang kamu lakukan? Cepat hilangkan energi yang menghalangi kami." tuduh Ratu ular padaku.


" Bukan aku! tapi baguslah dengan begini kalian akan terjebak di sini, cepat serahkan Iman padaku!" bentakku pada mereka.


" Tidak akan!" tegas Ratu ular.


Sebenarnya aku juga bertanya-tanya kenapa tiba-tiba rumahku di selimuti energi yang bisa membuat mereka terkurung disini.

__ADS_1


Siapa ya? Apa mungkin diam-diam Ki Dayeng yang melakukannya sambil bermeditasi, Yaa pasti begitu..


kedua ular terebut belum menyerah, mereka masih mencari jalan keluar dari rumahku, mereka menabrak-nabrakkan diri pada dinding, pada langit-langit, pada pintu bahkan jendela, berharap diri mereka bisa berhasil menembus tempat ini, namun tetap saja mereka terpental kembali.


"Kenapa tempat ini tiba-tiba terasa panas! Ugh! Panas sekali disini! Ada apa!" keluh Raja ular.


" Benar! Kenapa disini panas sekali, aku tidak bisa bernafas! Kulitku rasanya terbakar! Tempat macam apa ini! Ugh... Panas... Panas sekali!" teriak Ratu ular yang mulai menggeliat seperti cacing kepanasan, sehingga lilitan pada tubuh Iman pun terlepas begitu saja.


Ini kesempatanku..


Aku segera merebut Iman dari Ratu ular, sementara Ratu ular masih menggeliat kepanasan.


Segera aku membopong Iman dan ku baringkan di dekat Ki dayeng.


" Panas! Aku ingin keluar dari sini! Panas! Panas! Keluarkan kami!" ucap keduanya sambil menubrukan diri ke setiap sudut rumah.


Bagus.. Rasakan itu...


Tiba-tiba muncul Ki Sugro di hadapan mereka.


" Jika kalian masih bersikeras ingin membawa anak itu, kalian akan terus terkurung disini dan berhadapan denganku." ancam Ki Sugro.


" Tidak bisa, sesuai perjanjian ayahnya sudah memberikan anak itu sebagai persembahan untuk kami, bahkan kami sudah memberikan ayahnya banyak harta sesuai permintaannya, jadi anak itu adalah hak kami, milik kami." ucap Ratu ular.


" Dasar siluman B*doh! Kami tidak akan menyerahkan anak ini. Anggap saja ayah anak tersebut tidak dapat memberikan tumbal pada kalian, Bahkan ayahnya sudah memakai harta yang telah di beri oleh kalian kan! Ambil saja Jiwa ayahnya! karena apapun yang terjadi kami akan tetap mempertahankan anak ini." tutur Ki Sugro bernegoisasi


" Tidak! Tidak bisa seperti itu, jika kami mengambil jiwa ayahnya, ritual persembahan akan hilang, dan tidak akan ada lagi manusia yang mau memberikan tumbal-tumbal selanjutnya untuk kami." Tutur Ratu Ular.


" Bukankah itu bagus! Jadi tidak akan ada lagi korban-korban yang di tumbalkan, hentikan saja pesugihannya sekalian! lalu ambil saja jiwa ayahnya, selesai kan!?" tutur Ki Sugro.


" Tidak! Kami tidak mau! Kami tetap akan mengambil jiwa anak Itu, cepat serahkan dia!" ucap Ratu Ular bersikeras.


Tiba-tiba mata Ki Dayeng yang tadi sedang terpejam langsung terbuka. Lalu menyemburkan api besar dari mulutnya ke arah pada Ratu ular.


Ratu Ular tidak sempat menghindar, karena serangan Ki Dayeng yang tiba-tiba.


Ratu ular terpental jauh dan merintih kesakitan dia terluka cukup dalam akibat semburan api Ki Dayeng


" Jika kalian masih keras kepala! Kalian akan berakhir hangus di tanganku!." tegas Ki Dayeng sangat marah.

__ADS_1


Melihat Ratu ular yang tidak berdaya, lemas dan terluka, Raja Ular mulai khawatir.


" Baiklah kalau begitu, kami akan mengalah, tapi jangan serang kami lagi, istriku sudah terluka parah, sekarang ijinkan kami untuk keluar dari tempat ini." Tutur Raja Ular.


"Bagaimana kami akan percaya jika kalian tidak sedang menipu kami" keluhku.


" Kami berjanji tidak akan mengambil jiwa anak itu lagi dan tidak akan mengganggu kalian lagi. ku mohon biarkan kami pergi, aku harus mengobati istriku." pinta Raja Ular sambil membopong ratu ular di depan dadanya.


" Baiklah.. Kami pegang ucapanmu, jika kalian merasa rugi ambil saja jiwa ayahnya." tutur Ki sugro


Raja Ular pun mengangguk, lalu terbang menembus langit-langit rumahku dan menghilang.


Kami bertiga mulai melihat kondisi Iman yang terbaring tidak berdaya di sisi Ki Dayeng.


Ki Sugro mendekati Iman, dia menempelkan telapak tangannya pada dahi Iman.


Ada cahaya putih yang memancar dan masuk ke tubuh Iman.


Setelah selesai, Iman pun sadar dia perlahan membuka matanya.


Tatapannya masih terlihat kosong, wajahnya terlihat linglung dan kebingungan.


" Ini dimana?! Apa gue udah mati?" tanya Iman mulai sadar.


"Apaan sih lu! kok! ngomong kaya begitu! Elu masih ada di rumah gue." jelasku padanya.


" Lho! Bukannya bokap gue udah berhasil numbalin gue, bahkan gue kesakitan serasa mau mati tadi bah. Terus gue juga lihat ada ular cewe mau nangkep gue." tutur iman mencoba mengingat-ingat.


" Nggak kok man.. Alhmdulilah elu selamat! Elu aman sekarang.." ucapku senang dan lega.


" Beneran Bah?" tanya Iman tidak percaya.


" Iyaa.. Buktinya elu sekarang baik-baik aja kan..tubuh elu udah nggak sakit lagi kan?" tuturku.


" Iya sih bah.. Ta.. Tapi kok bisa? Padahal perjanjian bokap gue udah di tentuin kan, dia juga udah dapet harta yang dia mau, kok gue bisa selamat." tanya Iman masih terlihat bingung.


" Ya, alhamdulillah dong man, berkat bantuan Allah juga gue berhasil nolong elu dan batalin perjanjian itu." tuturku.


......................

__ADS_1


__ADS_2