Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Pengakuan Bang Syukur


__ADS_3

Setelah lama menunggu, mobil Bos ku datang, dan berhenti tepat di halaman rumahku.


Aku sudah pamitan pada Dita saat bersiap tadi, aku bergegas berangkat, dan masuk ke dalam mobil Bos ku.


"Kamu sudah izin pada Istrimu?" tanya Bos.


" Sudah bos!." jawabku.


" Ya sudah, kita berangkat sekarang." ujar Bos.


"Saya sudah coba menghubungi Syukur, tapi dia tidak menjawab, saya cemas terjadi sesuatu padanya, aku tidak bisa acuh Nan, karena bagaimanapun juga, dia tetap kerabat jauh saya." tuturbos.


" iya bos saya mengerti, semoga dia baik-baik saja." jawabku.


Aku yakin teror itu terjadi karena ulah nya sendiri..


......................


Saat Bang Syukur hendak membuka pintu gerbang yang terkunci, Tiba-tiba dari arah depan ada yang mendorong dirinya, padahal tidak ada siapapun di sana, sehingga dia terpental jauh dan jatuh kebelakang.


Seolah dirinya tidak boleh keluar dari pabrik.


BRUK!


Tubuh Bang Syukur terbanting ke lantai, dia meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya, Lalu entah siapa, tiba-tiba kaki kanannya terangkat sendiri.


" Eh! Eh! kenapa dengan kakiku." teriaknya Panik, seolah kaki kanannya ada yang mencengkram kuat, tapi Bang Syukur tidak dapat melihat, sosok apa yang memegangi kakinya sekarang.


" Aaaakkhh! tidak! tidak! lepaskan !" teriak Bang syukur meronta mencoba melepaskan kakinya, dia ketakutan dan panik.


Namun sayang, meskipun dia mencoba sekuat tenaga, cengkraman pada kakinya justru makin kuat, lalu dia terseret dan masuk ke ruangan kerja dan berhenti di depan mesin besar.


Lalu, anehnya tiba-tiba kakinya bisa lagi di gerakkan, Bang Syukur berniat kabur dan pergi dari sana, namun saat dia beranjak bangun untuk berdiri


Dia melihat sebuah sosok yang muncul di belakang mesin besar, Sosok itu berbulu tebal hitam, Matanya melotot merah dan bertaring.


Seketika saja tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa di gerakan. Sosok itu adalah sosok genderuwo.


" Kenapa kamu tidak memberi kami makan?bukankah kamu sengaja menyalakan dupa untuk mengundang kami kemari, sekarang Kami kelaparan, cepat beri kami makanan." ucap genderuwo itu dengan suara berat dan menyeringai.


" Kapan aku memberi dia makanan? Bodoh! aku tidak peduli, aku harus segera keluar dari sini sekarang!" dalam benak Bang Syukur.


Lalu tubuh Bang Syukur tenyata bisa lagi di gerakkan, Bang Syukur segera kabur meninggalkan ruangan kerja, dia bergegas berlari terbirit-birit menuju kamarnya, dan mengunci diri di sana.


Dia dengan panik merogoh ponsel untuk menghubungi seseorang.


......................


Di dalam mobil Bos, tiba-tiba ponselku bergetar, ku lihat ada sebuah panggilan.


" Syukur telepon saya Bos!" seruku memberitahu pada Bos.


" Lho! kenapa dia telepon kamu? harusnya kan dia menghubungi saya." ujar bos heran.


Sebelum aku mengangkat telepon dari Bang Syukur, aku menerawangnya terlebih dulu.


" Oh! Pantas saja Bos! dia sedang di ganggu genderuwo di pabrik! Mungkin itu sebabnya dia menghubungi saya." ujarku membeberkan semua pada Bos.


"Hah? masa sih? Kenapa kamu bisa yakin dia sekarang sedang di kejar genderuwo, kamu tahu dari mana?!" bos merasa aneh dan penasaran.


"Ya tahu aja Bos! nanti coba saja bos tanyakan padanya."Jawabku enteng.


Bos langsung terdiam.


Saat aku hendak mengangkat teleponnya, Bang syukur langsung mengakhiri panggilan.


......................


Beberapa menit kemudian, kami tiba di pabrik.


Pabrik terkunci dari dalam.


Kami memanggil Bang Syukur untuk membukanya, namun dia sama sekali tidak menjawab seruan kami.


Untunglah Bos ingat, dia punya kunci cadangan, dia mengambilnya dari kotak di dalam mobil.


Lalu akhirnya pintu gerbang terbuka, kami langsung berlari masuk.


" Syukur!" teriak bos memanggilnya, karena kami tidak melihat Bang Syukur.


Kami mencari ke ruangan kerja. dia juga tidak nampak di sana.

__ADS_1


" Oh, mungkin dia di kamarnya! saya akan mencarinya ke sana." seru Bos .


Aku sampai tidak memedulikan bos yang pergi ke lantai dua, karena terkejut nya melihat saking banyaknya sosok mahluk ghoib di depanku dari sosok yang menyeramkan hingga sosok yang tidak pantas di lihat.


" Aaaakkhh!" Tiba-tiba terdengar teriakan Bang Syukur dari kamar mess nya.


Aku segera berlari menaiki tangga, menyusul Bos yang sudah lebih dulu ke sana, dan meninggalkan kumpulan mahluk di ruangan kerja, yang tengah menatapku dengan tajam.


" Nandy! cepat bantu saya mendobrak pintu ini!" seru Bos yang melihatku berlari dikoridor dan menghampirinya.


" Iya bos!"jawabku


Saat aku tiba di depan pintu kamar Bang Syukur, terdengar lagi suara teriakannya dari dalam.


Kami langsung mendobrak pintunya secara bersamaan.


BRAK!


Pintu hanya bergetar saja.


"Sekali lagi!" teriak Bos.


BRAK!


BRAK!


DUAGH!(suara pintu terbanting menyentuh dinding)


Dan akhirnya pintu kamar berhasil terbuka.


Namun, Kami kaget melihat Bang Syukur yang kini dalam kondisi kesurupan.


Dia menggeram pada kami berdua, dengan posisi merangkak, dan tangan yang kaku seolah mengeluarkan cakar seperti hendak menyerang kami.


Dia lalu melompat ke arahku, Namun Bos dengan sigap memegangi Bang Syukur.


" Dia .. kenapa, Nan?" Bos heran dan Panik, sambil menahan Bang Syukur yang meronta-ronta.


" Dia kesurupan Bos!" jawabku.


" Kita harus apakah dia?! bagaimana cara menyadarkan orang kesurupan, saya tidak tahu." ucap Bos bingung dan panik.


Aku pun menghampiri Bang Syukur yang menggeram sambil meronta-ronta.


" Kamu mau ngapain, Nan?!" tanya Bos heran dan bingung.


Aku membacakan ayat kursi dengan lirih di dekatnya.


"Grrrrr..! Berhenti! Jangan ucapkan itu!" Bentak Bang Syukur yang kerasukan genderuwo, dia merasa tidak nyaman aku membacakan ayat kursi.


" Jika kamu tidak suka! Enyahlah!" Bentakku lagi pada Bang Syukur.


" Tidak! Dia harus memberiku makanan! Aku lapar! lapar! lapar!" seru Bang syukur.


" Ini bukan tempatmu! manusia ini tidak akan memberimu sesajen lagi, jika kamu bersikeras aku akan membakarmu hingga hangus." ucapku.


Bos terheran-heran melihat aku dan Bang Syukur berbicara.


Aku melanjutkan doaku.


" Panaaaaaas! Arrrgh! hentikan! Panaaaaas!" teriak Bang syukur semakin meronta, membuat bos terhentak kaget mendengar teriakan, dia sedikit kewalahan memegangi Bang syukur yang terus melawan.


Dengan satu tarikan nafas, aku menarik mahluk itu keluar lewat ubun-ubunnya. Dan seketika Bang Syukur pingsan.


Dengan cepat bos menangkapnya sebelum dia jatuh. Dia tampak melongo menatapku.


Dengan apa yang bos lihat tadi, aku tahu mungkin dia sedikit kaget melihat apa yang aku lakukan.


Tapi dengan begitu, dia pasti percaya kalau aku memiliki kemampuan dalam hal Spiritual.


" Bos! jaga saja Bang syukur, aku harus mengusir mahluk-mahluk di ruangan kerja." tuturku.


" Hah?! Tapi Nan..


Tanpa bos sempat bertanya, aku sudah pergi menuju ke ruangan kerja.


Sekitar lima belas menit, aku bisa dengan mudah mengusir mahluk-mahluk yang lemah, namun, aku sedikit kesulitan, saat harus mengusir mahluk yang cukup kuat, mereka menolak pergi, sehingga mau tidak mau aku memakai sedikit tenaga dalam untuk bertarung melawan mereka, seperti kuntilanak merah, hantu separuh tubuh dan lain sebagainya.


Memang cukup gaduh, Namun pada akhirnya aku berhasil mengusir semuanya.


Bos datang menuruni tangga, bersama Bang Syukur yang sudah sadar dari pingsannya, dia berjalan dengan wajah yang tertunduk.

__ADS_1


" Hebat kamu Nan! Aku melihat semua yang kamu lakukan dari atas sana, aku tidak menyangka ternyata kamu memiliki kemampuan yang tidak di ketahui banyak orang, tidak seperti orang-orang kebanyakan yang banyak bicara dan menghasut, namun kemampuannya nihil." puji bos padaku dan menyindir langsung pada Bang Syukur.


Bang Syukur langsung malu, dan bersimpuh di kaki Bos.


" Maaf bos! maafkan saya! saya salah sudah memanfaatkan bos dengan cara menipu." ucapnya menyesal.


"Memangnya Apa salah saya, sampai kamu tega menipu saya seperti ini." tutur bos.


" Maaf bos, saya khilaf." ucap Bang Syukur dengan suara yang bergetar.


" Meskipun kamu meminta maaf, aku masih terlalu kecewa dan belum bisa menerima perbuatan kamu syukur! Jika aku tega aku ingin melapor ke pihak yang berwajib" tegas Bos.


" Ja..jangan Bos! jangan, saya benar-benar menyesal bos, maafkan saya, saya akan menebus semua kesalahan saya, saya akan mengembalikan semua uang yang sudah saya pakai, asalkan bos mau memaafkan saya, saya akan pergi dari sini. dan tidak akan muncul di hadapan bos lagi." ucap bang syukur menyesal.


" Hanya itu?" tanya bos


" Sa.. saya juga akan meminta maaf pada semua pegawai di sini bos." ucapnya lagi.


"Bagus! Bangun sekarang! saya bukan raja yang harus di sembah seperti itu." ucap Bos risih.


Bang Syukur kembali berdiri dan terus tertunduk malu.


" Inilah akibat untuk orang yang bermain-main dengan hal ghoib, jangan bertingkah sembarangan, bisa saja akibatnya fatal jika saya dan Nandy tidak segera sampai kemari menolongmu, bahkan saat kamu kesurupan Nandy yang menolongmu syukur!" tutur bos.


Bang syukur menoleh padaku.


" Nandy! Maaf.. Maafkan perbuatan saya.." ucap Bang Syukur.


" Sudahlah Bang, mungkin dengan cara ini Bang Syukur bisa membuka mata, jika hal ghoib sebenarnya cukup berbahaya, apalagi jika kita tidak bisa melindungi diri sendiri, Aku hanya berharap bang syukur berhenti menipu orang lagi dengan cara seperti ini, masih banyak pekerjaan yang lain yang lebih Halal dan aman kan." tuturku.


Bang Syukur mengangguk.


" Tapi kenapa di kampungmu banyak sekali orang yang percaya kalau kamu orang pintar, padahal nyatanya bukan." tanya Bos penasaran.


" Orang-orang tersebut saya bayar, agar mereka menyebarkan berita dengan berpura-pura sebagai pasien yang sudah saya sembuhkan." ucap bang syukur semakin tertunduk malu.


" Wah! licik sekali kamu Syukur." ejek Bos lagi.


Bang Syukur makin tidak punya muka menatap pada bos.


" Apa setan yang mengganggu kamu tadi setan genderuwo?" tanya bos lagi.


" i. iya bos! bos tahu!" ucap Bang Syukur kaget.


"Oh, ya sudah, tidak salah lagi Nandy memang memiliki kemampuan yang kamu inginkan syukur, tapi sayangnya kamu tidak memilikinya." sindir bos pada Bang Syukur


Bang Syukur kini menatapku dengan segan.


" Ya sudah, besok hari kamu harus tepati semua janji yang kamu bilang, pergi dari sini dan jangan lupa meminta maaf pada yang lain." cetus bos.


" Iya Bos." jawab Bang Syukur.


" Ayo Nan! kita pulang, permasalahan disini saya rasa sudah selesai." ucap Bos.


" Tapi bos! saya takut kalau...


" Udah Aman bang, saya sudah menetralisir semua area pabrik, asal Bang syukur jangan sesekali menyalakan dupa lagi, mereka merasa terundang dengan baunya. Kalau mau aman yaa, mengaji, dan meminta pertolongan pada yang kuasa." tuturku.


Aku dan bos pergi meninggalkan bang syukur di pabrik, ku lihat dia hanya mematung sambil menatap kami pergi.


......................


Karena merasa tidak enak dengan kejadian itu, bos memberiku hari libur selama dua hari.


Tentu saja aku manfaatkan waktu libur itu untuk mengajak Raka dan Dita berjalan-jalan ke tempat yang mereka inginkan, untuk menebus waktuku yang hilang bersama keluarga.


Sesekali bos menelepon dan bercerita jika Bang Syukur sudah menepati janjinya dengan meminta maaf pada semua pegawai dan kembali pulang ke kampung halamannya di Karawang.


Aku dan bos kini cukup akrab, bahkan saat aku kembali masuk kerja semua pegawai yang lain terlihat segan padaku.


" Nan, beneran nih pabrik aman? saya gak akan lihat lagi penampakan atau sekelebat bayangan gitu kan?" tanya pak Dodo memastikan.


" Aman, tapi saya tidak bisa menjamin keamanan terus-menerus, agar tidak di ganggu mahluk-mahluk lagi, kalian juga yang harus membentengi diri kalian sendiri dengan shalat lima waktu yang rajin dan mengaji pak." tuturku pada pak Dodo dan yang lainnya.


" Hehe.. iya Nan." ucap Pak Dodo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Semua Menyetujui saranku, namun tidak dengan Asep, dia nampak bingung dan sedang memikirkan sesuatu, yang aku pun tidak tahu itu apa.


Dengan perginya Bang Syukur, pabrik kembali tentram dan aman seperti awal-awal, kami bekerja seperti biasa juga.


Aku mengerti satu hal di balik kejadian ini, Ternyata semua yang dia maksud oleh Ki dayeng itu menjadi nyata dan sekarang aku paham dengan ucapannya waktu itu.

__ADS_1


"Lihat kan Ki! Aku berhasil menyelesaikan tugasku sendiri sekarang." ucapku dalam pikiran berharap Ki Dayeng juga mendengar dan melihat ini semua.


......................


__ADS_2