
Malam berikutnya. Setelah sembahyang aku bermeditasi dan Ki Sugro muncul.
" Kamu siap Anom?" tanyanya.
" Siap Ki." jawabku.
" Tutup matamu, lalu baca amalan yang aku berikan kemarin, fokuskan pikiran mu." titah Ki Sugro.
Aku duduk bersila di atas sajadah, menutup mata dan membaca ajian yang di beri Ki Sugro.
Lama-kelamaan Aku merasa melayang, seakan aku sedang melepaskan diri dari tubuhku. Refleks aku membuka mata.
Astaga! Kenapa ini?apa aku mati?
Aku merasa diriku melayang dan melihat diriku yang lain sedang duduk bersila, Karena aku terkejut, tiba-tiba tubuhku seakan tertarik ke tubuhku yang duduk bersila tersebut.
"Kenapa kamu malah terkejut, ayo lakukan sekali lagi." titah Ki Sugro.
" Tapi kenapa aku bisa melihat diriku yang lain Ki? aku melihat diriku ada dua, Aku yang melayang dan ada diriku yang lain tengah duduk." ucapku cemas.
" Tenang saja, itu adalah proses Meraga Sukma, kamu bisa mengakses ke tempat-tempat jauh tanpa harus memakai raga kasarmu, tapi menggunakan raga halusmu." tutur Ki Sugro menjelaskan.
" Oh jadi diriku yang bersila itu adalah raga kasarku, dan aku yang melayang adalah raga halusku. Tapi apa yang terjadi pada raga kasarku jika raga halusku pergi jauh." ujarku.
" Ya, raga kasarmu akan tetap seperti itu, dia seolah sedang tidur, tenanglah semua akan baik-baik saja aki ada di sini mengawasimu." ucap Ki Sugro.
" Baiklah aku akan mencobanya lagi." ujarku
Aku kembali membaca ajian tadi dengan fokus, dan tubuhku mulai melayang lagi, kali ini terasa sangat ringan, lalu aku membuka mata.
Kini aku tengah berdiri didepan raga kasarku yang sedang duduk bersila memejamkan mata.
Lalu di belakang raga kasarku, ada satu lagi diriku yang sama sedang duduk bersila juga.
"Lho kok bisa? kenapa ada lagi diriku yang lain? apa aku terbagi menjadi tiga? Harusnya kan hanya ada dua? kalau yang ini raga kasar, dan aku raga halus, lalu yang di belakang raga kasar itu siapa?" ujarku.
" Coba saja kamu tanyakan sendiri padanya, agar kamu bisa mengenalinya lebih jauh, dan bisa mengendalikan dia juga" jawab Ki Sugro.
__ADS_1
Aku pun mencoba menghampiri diriku yang berada di belakang raga kasar, Aku sedikit terhentak karena saat aku mendekat, diriku itu langsung berdiri menghadapku, dan dia tersenyum.
Padahal raga kasarku tetap duduk bersila. Tapi Kenapa dia bisa bergerak?
" Apa kamu bagian dari diriku juga?"tanyaku memberanikan diri bertanya.
" Aku adalah dirimu, dirimu adalah aku, aku di ciptakan untuk mengikuti semua tingkah lakumu yang baik juga yang buruk, aku akan mengikutimu hingga kamu meninggal nanti, dan terlepas dari raga kasarmu, kamu akan kembali ke sang pencipta dan akulah yang akan menjadi penghubung antara yang hidup dan yang mati." tuturnya dengan wajah datar.
" Memangnya siapa kamu?" tanyaku makin penasaran.
" Aku adalah Jin Qorinmu." jawabnya.
" Lalu, apa maksudnya penghubung antara hidup dan yang mati ?" tanyaku lagi.
" Bukankah selalu menjadi perdebatan oleh semua manusia, tentang kebenaran yang telah di tuliskan oleh sang pencipta melalui Kitab dan Rasul-Nya. Bahwa orang yang sudah mati arwah mereka akan berada di alam akhirat dan tidak mungkin masih ada di alam dunia, lantas siapa wajah yang mirip dan menyerupai orang yang sudah mati itu? dan bergentayangan di alam dunia juga. Itu adalah kami para Jin Qorin yang pernah mengikuti kehidupan orang yang sudah mati tersebut. " tutur Jin Qorinku
"Lalu, Kenapa sang pencipta harus menciptakan kalian para Jin Qorin di setiap manusia?" tanyaku.
"Bukahkah sudah aku katakan, bahwa setiap manusia yang hidup di dunia, sehingga dua dari bangsa kami mengikutinya dan mendampinginya hingga nama mereka yang ada di daun pohon Sidratul Muntaha berguguran (ajal menjemput)." tutur Jin Qorinku
"Dua dari kami itu adalah, pertama yaitu kami sebagai Jin Qorin akan menirukan perilaku yang baik yang di lakukan manusia semasa hidup, dan setelah manusia mati, kamilah yang akan memberitahu kepada manusia yang hidup, apa yang roh itu dapatkan di akhirat, kebaikan atau keburukan? Roh manusia yang sudah mati dan ingin menyampaikan sesuatu pada manusia yang hidup, akan kami sampaikan dengan cara merasuki raga atau memasuki mimpi manusia yang masih hidup, entah itu berupa keluh kesah, minta di doakan ataupun berupa nasehat, itulah tugas kami Jin Qorin sebagai perantara antara yang hidup dan yang mati." jelasnya.
" Aku mengerti satu hal, jadi jika ada manusia yang kerasukan seseorang yang sudah meninggal lalu suara dan sikapnya sama dengan orang yang sudah meninggal tersebut. berarti itu adalah ulah dari kalian para Jin Qorin, begitu?" ujarku.
" Tentu saja, lalu yang kedua dari bangsa kami yang lain adalah mereka Jin Qorik. Jin Qorik akan menirukan semua tingkah buruk manusia semasa hidup dengan cara bergentayangan, menghantui dan mengganggu manusia yang masih hidup agar mengira kami adalah roh manusia yang sudah mati. Dan akan menuai fitnah kubur" tutur Jin Qorin ku.
Apa lagi itu Jin Qorik? dan apa maksud dari fitnah kubur itu?
" Jika dia memang ada , Dimana jin Qorik?"tanyaku pada Jin Qorin.
" Dia ada di dekatmu." Jawabnya
" Dimana?" tanyaku mulai celingukan mencari keberadaannya.
Lalu entah kenapa tiba-tiba aku terfokus pada siluet di samping raga kasar.
Siluet itu juga wujud raga kasarku yang sedang duduk bersila.
__ADS_1
"Apa kamu Jin Qorik ku?"ucapku mencoba bertanya pada bayangan tersebut.
Siluet itu mulai bergerak-gerak tidak menentu dan tidak berbentuk.
" Tunjukanlah dirimu wahai Jin Qorik!" ujarku.
Sontak siluet itu meninggi lalu melebar, dan mulai membentuk seperti diriku yang berdiri depannya.
Perlahan membentuk kakiku, tubuhku lalu tanganku. Kini aku sedang berhadapan dengan jin Qorik ku.
Saat bayangan itu terakhir membentuk wajahku.
"Astagfirullah!" tiba-tiba aku terkejut.
Ada yang membedakan antara wujud Jin Qorin dan Jin Qorik.
Wajah Jin Qorin mirip sekali dengan wajahku, sedangkan Jin Qorik dia berwajah sangat menyeramkan.
"Kenapa wajahku padanya berwarna hitam seperti itu?" tanyaku sedikit takut.
" Itu adalah wujud visual dari keburukanmu dalam menjalani hidupmu saat ini." jawab Jin Qorin.
" Memangnya keburukan apa yang aku perbuat?" tanyaku.
" Setiap dosa kecil yang kamu perbuat tanpa sengaja namun kamu lakukan berulang-ulang, akan menjadikan Jin Qorik mu menghitam, yang muncul akibat dari rasa amarah, buruk sangka, kebencian, iri hati dan kesombongan yang ada pada dirimu. Jin Qorik bukan hanya akan menghitam bahkan akan menjadi buruk rupa dan menyeramkan, sesuai dengan seberapa parahnya perbuatan buruk yang kamu lakukan, dan jika nanti kamu mati, lalu roh mu di siksa di akhirat untuk menebus dosa kamu di dunia, Maka Jin Qorik mu lah yang akan merasakan siksaan itu, dia akan bergentayangan dan menangis dengan luka yang diderita, akibat siksaanmu di akhirat, dia akan menampakkan diri kepada saudaramu yang masih hidup dengan wujudnya yang buruk, sehingga akan menjadi pertanyaan pada manusia dan itulah yang di sebut fitnah kubur." jelas Jin Qorin.
" Naudzubillahimindalik! bukankah kalian selalu bersamaku, lalu keburukan apa yang paling tidak aku sadari?" Tanyaku.
"Kamu selalu menunda-nunda shalatmu, atau lupa shalatmu karena urusan dunia." jawab Jin Qorin.
Mendengar ucapannya, seketika aku menangis.
" Sadarkan dan ingatkan aku, jika aku hendak berbuat keburukan." ujarku.
"Itu bukan tugas kami, karena sesungguhnya kamu sendiri yang bisa membuat dirimu lebih baik, dan setiap kebaikan yang kamu lakukan akan berdampak baik pada kami Jin Qorin dan Jin Qorik mu." tutur Jin Qorin.
......................
__ADS_1