
Entah berapa lama aku dan Iman menyusuri jalan tersebut.
Kami sudah sangat kelelahan dan kebingungan tanpa arah.
Di sepanjang perjalanan Iman terus saja mengeluh ingin segera pulang.
Malah sesekali dia terkaget melihat beberapa bayangan dan sekelebatan para penghuni tempat ini.
Namun aku tak henti untuk menenangkan Iman dan mencoba untuk mengalihkan setiap apa yang dia lihat di sepanjang perjalanan.
"Bah, gue nyerah, gue udah nggak kuat, bodo amat lah, misalnya gue mati disini elu harus tetep bawa jasad gue pulang." keluh iman yang panik dan putus asa.
"Hush.. istighfar Man, jangan ngomong kaya gitu, kita harus berusaha buat nyari jalan pulang, elu harus yakin kita pasti selamat dan pergi dari tempat ini." tuturku mencoba menenangkan.
"Terus kapan nyampe nya Bah? Ini jalan kaya nggak ada ujungnya, kita nggak tahu harus kemana? mau minta tolong sama siapa coba di sini?" ucap iman mengeluh dan mengeluh.
"Terus, terus, aja lu ngeluh Man, bukannya berdo'a. Tenang aja ada tuhan, dengan berdoa pasti Tuhan akan bantu kita. Jadi elu jangan banyak ngeluh." tegasku
Semakin lama lumpur jalanan makin dalam, sehingga membuat kecepatan motor kami melambat.
Sesekali aku harus mendorong motor, yang terkadang terjebak di dalam lumpur.
"Duh, bah. Gimana ini bensin motor gue udah mau abis?" keluh Iman lagi.
"Yaudah Man kita berhenti dulu aja, kayaknya dari tadi kita cuma muter muter terus di jalan ini." tuturku.
Aku dan iman mencoba untuk beristirahat di sebuah pohon tua dengan kulit pohon yang kering yang beberapa terkelupas.
Aku melihat sekeliling tempat kami berdiam diri, untuk memastikan tidak ada yang mengikuti atau mengintai kami.
Iman yang mulai lelah dan terduduk bersamaku menyandar di pada pohon tua, motor kami mulai mogok.
Hanya cahaya motor yang menerangi, untuk tetap menjaga pandangan kami karena sekitar kami sangat gelap, tidak dingin dan tidak pula berangin.
Hawa di tempat ini justru agak panas membuat kami gerah dan kelelahan.
"Man coba liat jam di ponsel loe, jam berapa sekarang?" tanyaku
Iman pun mengambil ponselnya dari kantong celana. ku lihat raut wajahnya sedikit kaget.
"Bah, Kok jam nya mundur, disini gue liat pukul 11.30,bukannya pas di warung setan tadi pukul 12 lebih?" ucap Iman keheranan
Kenapa bisa waktu nya berjalan mundur berbeda setengah jam. Ada apa ini sebernarnya, Arrrgh.. Bikin pusing aja!
"Ponsel elu error kali, Man, mungkin kena lumpur atau basah." ucapku.
"Bener juga Bah, masa iya jam bisa mundur ya kan?" seru Iman.
Kami hanya bisa termenung di tempat ini, kami mencoba untuk menenangkan diri dan menepis semua pikiran negatif kami sekarang.
Kami mencoba berpikir dan terus berpikir, namun tiba tiba terdengar langkah kaki dari arah cahaya motor kami.
Sruk..Sruk.. Sruk..
"Man, Man, loe denger sesuatu? Ada yang mendekat kesini." ucapku berbisik.
Imam pun segera mendekat ke sampingku dengan wajah ketakutan.
"Itu suara apaan sih Bah?"ucap Iman gemetaran memegang kuat tanganku.
__ADS_1
Sruk.. Sruk.. Sruk..
Seperti suara langkah kaki yang tengah menginjak rerumputan. Suara langkah kaki itu semakin mendekat ke arah kami, namun aneh tidak nampak sosok apapun yang muncul, Meski tersorot lampu motor, kami tidak melihat apapun.
"Asalamualaika ya ahlil bait." ucap ku memberikan salam kepada penghuni tempat ini
Aku dan iman dibuat penasaran,sosok apa yang mendekati kami tanpa wujud ini,
Kami terus waspada, menajamkan pandangan kami, Aku dan Iman berdiri saling membelakangi dan menempelkan punggung kami.
Namun seketika itu iman berteriak.
"Hiii !! makhluk apa itu Bah?!" teriak Iman ketakutan
Sontak aku segera menengok ke arah yang Iman lihat.
"Astagfirullah!"
Tak jauh dari tempat kami, di depan kami berdiri sesosok makhluk yang berkepala kerbau namun berbadan manusia,dengan mata merah, bertaring dan menyeringai.
Aku segera membacakan ayat kursi untuk mengusir makhluk itu, namun dia marah dan hendak menyerang kami.
Ada apa ini, kenapa doa bahkan kemampuan spritualku tidak berpengaruh disini.
"Aaaaaa, lari Bah!! Lari!!"teriak iman berlari ketakutan.
Iman yang sangat ketakutan dia pergi meninggalkanku sendiri. Aku segera menyusulnya.
"Man! Woy! Jangan lari sendirian bahaya!" teriakku mencoba berlari mengejar Iman.
Namun Iman berlari ke tempat yang gelap, aku mulai kehilangan Iman, entah kemana dia pergi, aku harus segera menemukannya sebelum sesuatu terjadi pada Iman
"Maaan!!"
Aku mencoba menelusuri arah yang kemungkinan dia lewati. Namun keadaan jalan yang berlumpur dan semak belukar yang rimbun, membuatku kesulitan bergerak cepat untuk menemukannya.
Aku berlari tanpa arah yang ku pikirkan aku harus menemukan Iman sekarang.
Duh, Iman elu kemana sih?!
Aku mencoba mengatur nafasku yang mulai kelelahan, aku mencoba memfokuskan pandanganku. meski gelap aku dapat melihat jejak kaki yang ada di lumpur.
Sepertinya ini jejak kaki iman, mudah-mudahan benar itu dia.
Saat aku mengikuti jejak kaki itu ke arah mana, tiba-tiba terdengar suara teriakan.
"ABAH..!! TOLONG GUE BAH !!"
Itu suara Iman!
Segera aku berlari, ke arah suara Iman berteriak.
"Man loe dimana?" ucapku celingukan mencarinya.
"Gue disini Bah! Di atas pohon besar!"ucap Iman yang suaranya semakin dekat ku dengar.
Pohon besar ?
Aku mencoba menfokuskan penglihatan ku dan mencari pohon besar yang di maksud Iman
__ADS_1
Apa pohon besar yang itu?
Aku menghampiri pohon tersebut dan berharap ada Iman di sana.
Aku berlari tanpa memperdulikan jalan lumpur yang menghambat langkahku, ku dekati pohon itu dan ternyata.
"Astaga !! Iman !!"
Aku kaget karena tubuh Iman tengah dalam di cengkraman klewing, Iman terperangkap dalam Kungkungan sayap Klewing yang besar.
"Iman bertahanlah! Lepaskan dia iblis jahat"!teriakku kepada Klewing.
"Kiiiik, kiiiiik, kiiiiik, kalian tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini."ucap Klewing mengancamku
"A-bah,to..long gue, gue.... gak bisa... nafas." ucap iman yang kini tubuh nya di selimuti sayapnya.
Aki Sugro! Nini kembar! Aji saka! dan yang lain tolong bantu aku !!
"Tidak akan ku biarkan kau membunuh temanku iblis laknat!" ucapku marah dan tiba-tiba sekujur tubuhku mengeluarkan hawa panas dan cahaya merah.
Melihat keadaanku Klewing langsung melepaskan Iman dan terbang menyerangku
"Kenapa kemampuanmu bisa berfungsi di tempatku." ucap klewing geram melihat ku
Aku segera membacakan ajian Brajamusti yang asalnya aku lupa bacaannya seketika aku mulai hafal kembali, sehingga energi Brajamusti menuntunku untuk melepaskan energi merah yang panas ke arah klewing sebelum dia menyerangku.
"Rasakan ini makhluk terkutuk."teriakku sambil menghempaskan tenaga dalam dari tubuhku.
"Sial, ternyata kamu bukan manusia biasa." ucap Klewing yang tidak bisa menghindar seranganku.
"Argh!" seranganku mengenainya.
Dia pun terpental hingga tubuh nya menabrak beberapa pohon besar dan terjatuh ke lumpur.
"Kiiikiiikiiiikkiiikk, lumayan juga kekuatanmu, tapi aku tau kekuatan mu hanya bisa digunakan sekali,Hahaha."ucap klewing.
Benar saja tubuhku menjadi lemas seketika akibat tenaga yang ku keluarkan tadi.
"Sekarang giliranku! Mati saja kamu di sini."ucap klewing sambil terbang dan hendak menyerang dengan cengkraman nya.
"Allahuakbar.. Allahuakbar.." terdengar suara adzan berkumandang.
Tiba tiba Klweing berteriak kepanasan dan menutup telinganya hingga terpelanting
Hah ada suara adzan?? Dari mana?
Sesekali tubuh Klewing itu berguling-guling, karena tidak bisa menahan tubuhnya yang kepanasan mendengan lantunan suara adzan yang entah dari mana asalnya.
"Aaaaaaaaaa apa ini! Hentikaaan! Panaaaas! kenapa bisa! haaaaaa!" teriak klewing dan hendak terbang untuk kabur.
"Anom! cepat bawa temanmu dan ikuti sarah suara Adzan." terdengar suara yang tidak asing menggema di telingaku.
"A..Aki Sugro!? Baik Ki."ucapku merasa lega.
Aku segera memapah Iman yang lemas akibat cengkram Klewing tadi dan kami berusaha berjalan mengikuti suara Adzan tersebut.
Semakin aku berjalan, semakin terdengar jelas.
"Man, bertahanlah! elu harus kuat! Kita akan keluar dari sini! kita akan selamat."ucapku meyakinkan Iman.
__ADS_1
"Iya bah." ucap Iman lirih, namun terlihat wajah senang karena ada harapan baginya bisa kembali untuk pulang.
..............................