Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Iman


__ADS_3

" Jangan takut man, insaallah, Allah selalu melindungi kita. Gue bakal bantu elu apapun caranya, jadi elu nginep di sini tuh, biar gue bisa lebih mudah buat bantu elu dan ngawasin elu." ucapku.


" Iya bah, gue ngerti kok maksud elu, gue juga mau kok nginep disini, sehari doang kan? gue takutnya ngerepotin keluarga elu bah, Beneran gak apa-apa nih gue nginep di sini?" tanya Iman lagi


" Iya Man, santai aja, istri gue juga pasti ngerti kok, lagian mereka juga udah pada tidur di kamar, yaa.. gue cuma khawatir aja, kalau elu pulang terus terjadi sesuatu, dan gue gak tahu, terus gak bisa nolong kan bahaya." ucapku.


" Iya bah, elu bener juga, makasih banyak ya bah, udah mau bantu gue" ungkapnya.


" Oke sama-sama man, nggak usah sungkan anggap aja rumah sendiri." ungkapku.


"Iya bah." jawabnya.


Namun ku lihat wajah Iman masih terlihat cemas, aku mencoba menenangkan suasana, dengan sedikit membicarakan hal-hal lain, agar pikirannya teralihkan, dan kecemasannya sedikit berkurang.


Tak terasa waktu sudah begitu larut, kami masih saja berbincang, lalu di tengah perbincangan ringan yang kami lakukan, muncul Ki Dayeng yang tiba-tina menyuruhku melakukan sesuatu.


" Anom, ini sudah waktunya kamu bermeditasi, ajak juga temanmu itu untuk bermeditasi bersamamu." titahnya.


" Oh begitu ya, iya Baik Ki." jawabku melalui pikiran.


"Man, berhubung ini udah lewat tengah malam, gue biasa shalat tahajud jam segini, elu mau ikut shalat tahajud gak?" ajakku.


" Oh iya, boleh bah.. Sekalian gue juga mau berdoa dan meminta perlindungan sama Allah siapa tahu Allah mau nolong gue dari bokap gue yang jahat." ungkapnya sedih, tersirat rasa cemas muncul kembali di raut wajahnya.


" Pasti Allah bakal lindungi elu." ucapku menepuk pundaknya mencoba menghiburnya.


Kami pun shalat tahajud bersama, setelah selesai bersembahyang, ku lihat Iman tengah khusyuk memanjatkan doa, dia menadahkan tangan sambil memejamkan matanya.


Tiba-tiba Ki Dayeng muncul lagi di hadapanku.


"Ada apa Ki?" tanyaku.


" Kamu sudah selesai sembahyang dan bermeditasi?" tanyanya.


" Ya belum lah Ki, baru juga kami selesai sembahyang." ungkapku.


" Baiklah, jika kalian sudah selesai bermeditasi bersama, ajak dia juga untuk meraga sukma bersamamu." titahnya.


"Hah? meraga Sukma bersama? Bagaimana caranya? Aku hanya tahu cara Meraga Sukma sendiri Ki." jawabku melalui pikiran.


" Mudah saja, duduk saja bersila saling berhadapan, lalu kalian berpegangan tangan, ingat! dia juga harus bisa fokus agar meraga sukmanya berhasil." ungkapnya lalu menghilang lagi.


" Eh tunggu Ki! Ah kebiasaan, ngilang gitu aja, tapi memangnya Iman mau meraga Sukma ya?" pikirku.


Melihat Iman selesai berdoa dia pun hendak merapikan alat sholat.


" Eh tunggu Man! Jangan di beresin dulu." seruku.


" Lho? Kenapa? kan shalatnya juga udah beres." tanyanya.


" Kita bermeditasi dulu." ungkapku.

__ADS_1


" Meditasi? apaan tuh?" tanyanya lagi.


" Udah ikutin gue aja, kita coba duduk bersila dan saling berhadapan." ucapku


Iman mengikuti apa yang aku suruh padanya, Namun wajahnya masih tampak kebingungan.


" Pegang tangan gue, pejamkan mata, terus fokusin pikiran elu. Lalu ikutin yang gue lakukan, oke." ucapku.


Kami pun duduk saling berhadapan dan berpegangan tangan, kami memejamkan mata dan fokus, aku mulai mengumpulkan energi dan menyalurkan sebagian energiku pada Iman.


" Bah, Kok tangan gue hangat." ungkapnya.


" Fokus man!" tegurku.


"Oh ya, sorry." jawabnya.


Setelah kurasa energi kami cukup, aku mulai membaca amalan untuk Meraga Sukma.


Seperti biasa tubuhku mulai ringan dan raga halus mulai keluar dari raga kasar, ku lihat raga halus Iman juga mulai keluar dari raga kasarnya, Untungnya dia masih memejamkan matanya, jadi dia tidak akan terkejut melihat proses Meraga Sukma.


Tanpa melepaskan tenaga kami, Aku bergegas membawanya masuk ke dunia pararel, Iman pun mulai membuka matanya.


" Astaga! i.. Ini dimana Bah? Te.. Tempat apa ini? Bukannya kita tadi ruang tamu! kenapa kita ada di tempat yang gelap sekarang, hii.." Iman mulai takut, dia memegangi tanganku begitu erat.


" Gak usah takut, kita sedang melakukan proses Meraga Sukma." ungkapku.


" Hah? meraga sukma?" tanya Iman tidak mengerti.


" Bah! Suara apa itu! Kok ada yang teriak! Tuh ada suara yang nangis juga, Hiii! Astaga ini tempat apaan sih ini bah! Kok serem banget ya Allah, mending Balik yuk!" Ucap Iman gemetar.


" Bawa dia ke lubang gelap seperti goa yang berada di sebelah kanan sana" titah Ki Dayeng yang tiba- tiba membisikan sesuatu di telinga


Aku menoleh ke arah kanan, Benar aku melihat lubang gelap seperti goa disana.


" Baliknya nanti dulu, kita harus pergi ker suatu tempat sekarang." ajakku sambil menarik tangan Iman dan berlari menghampiri lubang goa tersebut.


" Eh! Eh! Kita mau kemana?!" tanyanya.


Kami langsung memasuki goa tersebut, lalu tiba- tiba kami muncul di tengah hutan yang di rimbun dengan pepohonan besar.


" Lho! Ini dimana? Kok kaya Hutan? Ngapain kita kesini?" Tanyanya sangat kebingungan.


Ah, mana aku tahu, aku hanya mengikuti arahan Ki Dayeng. Tapi mana mungkin aku bilang begitu ke Iman. Haaahhh..


" Ini sebenarnya gue ketiduran atau gimana sih bah? Gue mimpi kali ya? Kok gue bisa dengan cepat tiba-tiba berpindah tempat-tempat begini?" Tanyanya celingukan melihat sekitar hutan yang sepi dan gelap.


" Kita mau ngapain ke hutan begini Bah?! Gue takut Bah!" Tanyanya lagi.


" Astaga man, kenapa elu bawel ya .. udah gak usah banyak tanya, ikutin aja yang gue suruh, elu aman kok, gak akan ada apa-apa." ujarku sedikit kesal.


kemana lagi si bocah tua ? Selanjutnya Aku harus apa?

__ADS_1


"Tunggu saja.. Nanti akan ada orang yang datang dan melewati jalan setapak ini. Lalu Ikuti mereka kemanapun mereka pergi." tiba-tiba Bisikan Ki Dayeng terdengar di telingaku lagi.


" Ada orang datang? Siapa? Memangnya ada orang yang mau datang ke hutan malam hari begini?" tanyaku pada Ki Dayeng dalam pikiranku.


Dan benar saja, tidak lama menunggu dari kejauhan aku melihat dua orang pria tengah berjalan ke arah kami.


" Sembunyi Man!" seruku.


" Sembunyi? buat apa?" tanya Iman makin heran melihatku kebingungan mencari tempat sembunyi.


" Ada orang di sana yang sedang menuju kemari." ucapku.


Iman menoleh dan melihat ke arah dua orang pria tersebut, Iman refleks ikutan panik dan mencari tempat untuk bersembunyi.


" Untuk apa kalian bersembunyi bodoh! kalian kan sedang meraga sukma, mereka tidak akan bisa melihat kalian." bentak Ki Dayeng yang berbisik lagi di telingaku


"Oh iya, aku lupa." jawabku kembali.


" Bah cepat Kita sembunyi di dekat pohon besar di sana." tunjuk Iman memberi tahu.


" Tidak perlu Man! Kita tidak usah sembunyi." ungkapku.


" Lho kenapa?"tanyanya


" Udah Ikutin gue aja." Ucapku yang masih terus melihat ke arah dua orang pria yang kini semakin dekat ke arah kami.


Dua orang itu terdiri satu pria kurus, dan satu pria lagi sedikit gemuk dan berisi.


Iman juga ikut memperhatikan kedua orang tersebut. Dia sedikit menyipitkan matanya merasa kenal dengan salah satunya.


" Lho! itukan bokap!" seru Iman yang menyadari sesuatu saat melihat kedua pria tersebut.


" Apa! Bokap?! Masa sih? Yang mana ?" tanyaku terkejut mendengar penuturan Iman.


" Itu yang tubuhnya sedikit gemuk Bah! Itu bokap gue." serunya menunjuk ke arah pria yang kini melewati kami.


" Paak! Bapaaak! Mau kemana?!" teriak Iman memanggil ayahnya.


Tapi sayangnya Ayah Iman tidak mendengar seruan Iman, dia tetap berbincang dengan teman di sebelahnya.


" Pak!" teriak Iman lagi, Yang kini ayahnya mulai berjalan menjauh darinya.


" Percuma elu panggil dia Man! Dia gak mungkin denger, dia juga gak bisa lihat Kita."ucapku.


" Hah, masa sih, kan jelas-jelas gue ada di hadapannya bahkan teriak-teriak juga." Iman bertanya-tanya.


" Kan gue udah bilang kita sedang meraga Sukma, Kita meninggalkan raga kasar Kita dan memakai raga halus." ujarku.


" Raga kasar? Raga Halus? Ya ampun... apa lagi sih itu! Gue sama sekali nggak ngerti." keluh Iman.


......................

__ADS_1


__ADS_2