Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Akhir Siluman Ular


__ADS_3

Melihat Iman yang sudah terkulai lemas tidak sadarkan diri, dan Ki Dayeng yang terus berteriak agar aku cepat melakukan sesuatu, seketika membuat pikiranku kacau.


Aku bingung, aku panik, aku tidak bisa berpikir jernih.


Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana melawan musuh yang berukuran raksasa seperti mereka. Berpikir.. Ayo berpikir..


Aku melihat di sekelilingku banyak sekali batu besar seukuran kepalan tangan.


Sontak aku mengambil beberapa buah, dan aku lemparkan pada kedua siluman ular itu, berharap mereka kesakitan dan mau melepaskan Iman dan Ki Dayeng.


Namun perkiraanku salah, mereka sama sekali tidak kesakitan.


" Ahahahaha... Apa yang kamu lakukan anak bodoh! Begini caramu menyerang kami? Hahahaha sungguh memalukan." ejek Raja ular.


" Lepaskan mereka! Aku tidak akan berhenti melempari kalian dengan batu-batu ini"ucapku.


" Heh! Percuma saja kamu melakukan itu, kami sama sekali tidak merasakan apapun, bagaimana bisa kamu membunuh kami dengan cara itu.. Hahahaha.. apa kami harus berpura-pura kesakitan?" timpal ratu ular.


Mereka berdua tertawa-tawa, aku hanya bisa tertunduk malu.


" Bodoh! Kenapa kamu menyerang mereka dengan batu! Gunakan tenaga dalammu! Pukul mereka sekuat tenaga, apa kamu belum belajar cara menyerang dengan tenaga dalam oleh Ki Dayeng?" tanya seseorang yang berbisik di telingaku tanpa wujud.


Aku celingukan mencari asal suara itu.


Aku hafal suara ini adalah suara Ki Sugro.


Kenapa aku bodoh sekali! Aku sama sekali tidak ingat aku bisa menggunakan tenaga dalam, saking panik dan takutnya melawan mereka yang lebih besar dariku, aku sampai lupa, bodoh sekali aku!


Aku memejamkan mata, dan fokus mengumpulkan energi di telapak tanganku, setelah energi terkumpul ku hempaskan untuk menyerang mereka.


Sinar hijau menyilaukan mataku. Dan terarah kepada kedua siluman itu.


BRUK!


Iman dan Ki Dayeng terlepas dari lilitan ekor mereka, kedua siluman itu terpukul mundur cukup jauh lalu menghantam dinding goa cukup keras.


Aku terkejut dengan seranganku sendiri tenaga dalamku mampu menyerang dua ekor siluman raksasa.


"Dasar! kenapa tidak kamu lakukan dari tadi Anom!?" keluh Ki Dayeng marah padaku.


" Maafkan aku Ki, aku terlalu panik sehingga aku tidak bisa berpikir jernih dan tidak fokus." jawabku.


" Cepat! serang mereka dengan brajumustimu sekarang, sebelum mereka mendahului untuk menyerang kita." titah Ki Dayeng.


Aku langsung fokus dan kembali mengumpulkan energi, namun pengumpulan energi ini cukup berbeda, energi di telapak tanganku terasa begitu berat, tanganku sampai gemetaran menahan beratnya energi.


Ugh! bertahanlah..sedikit lagi....


Dan..


SRAT!


Sinar merah kali ini yang muncul, melebar dan meruncing ke arah mereka seperti sebuah laser. Seketika cahaya itu berubah menjadi api yang membakar mereka.


Api di selimuti cahaya hijau, seolah membelenggu api brajamustiku.


Mereka berteriak kesakitan! Jeritan mereka menggema di seluruh goa dan memekakkan telingaku.


Api Brajamusti tidak berhenti berkobar, dan terus membakar mereka sampai habis tak bersisa dan hilang begitu saja tanpa bekas. Seperti pasir yang tersapu angin.


Setelah itu, goa bergetar hebat..


" Goa akan runtuh Anom! Cepat tinggalkan tempat ini." seru Ki Dayeng.


Aku mengangguk dan segera menghampiri Iman yang tergeletak di tanah dalam keadaan pingsan, aku membopong tubuh Iman dan bergegas berlari keluar melewati lorong goa.


Dinding yang rapuh mulai berjatuhan di belakangku seolah reruntuhan itu ingin menimpaku dan mengejarku yang tengah berlari keluar.


Akhirnya aku berhasil keluar dari goa dan menembus air terjun.

__ADS_1


Tanah masih bergetar, akhirnya goa di balik air terjun itu hancur dan tertutupi material batu dan tanah yang jatuh dari atasnya. Sehingga jalan air terjun yang jatuh di bagian tersebut terhalangi.


Iman yang tersiram air terjun saat menembus jalan keluar tadi, mengerjapkan matanya, aku segera membaringkan tubuhnya di tanah.


Dia akhirnya sadar dan membuka mata lalu terduduk, dan tangis Iman pun pecah saking takutnya dengan kejadian yang dia alami.


" Tenang Man,, semua udah selesai, ular-ular yang menangkapmu sudah binasa oleh seranganku." ucapku menenangkan Iman.


" iya bah.. Hiks..Syukurlah bah, syukur.. aku hampir mati ketakutan gara- gara mereka, sekarang gue aman.. Yaa Allah! terima kasih banyak." ucap Iman lega dan menyeka air matanya.


" Akhirnya kami menemukan kalian berdua!!" teriak seseorang dari arah belakang, dia muncul bersama beberapa warga lainnya.


Itukan si bapak pemilik warung, yang aku titipkan motor padanya, dia kemari menyusulku?!


" Kalian baik-baik saja! aku cemas dan mengajak warga lainnya untuk mencari kalian ke air terjun Ini." serunya.


" Wah, terimakasih pak, sudah mencemaskan kami, sampai menyusul kami kemari." ucapku.


" Apa urusan kalian sudah selesai disini?" tanya bapak itu.


" Ya, urusan kami sudah selesai." jawabku.


" Pak! Pak! Lihat ini, apa yang terjadi pada air terjun larangan" seru salahsatu warga yang terkejut melihat kekacauan di tempat ini.


" Astaga?!Kenapa bisa hancur seperti ini.." seru bapak warung kaget.


" Tunggu.. sebenarnya urusan apa yang kalian lakukan disini? Apa ada hubungannya dengan kekacauan ini? Apa yang terjadi sebenarnya nak?! Tolong jelaskan pada bapak" tutur Bapak warung mengintrogasi.


" Sebenarnya.. di balik air terjun ini ada sebuah goa pak! goa itu adalah tempat pesugihan, ayah temanku ini adalah salahsatu korban tumbal mereka." tuturku.


Mendengar ceritaku, semua warga menjadi riuh dan panik.


" Astaga! Bapak tidak tahu jika di air terjun larangan ada tempat seperti itu." ucap bapak warung terkejut.


" Pantas saja banyak warga kami yang hilang di sini, mungkin mereka di ambil oleh mahluk disini lalu tumbalkan."cetus salah satu warga. Dan warga kembali riuh serta panik.


" Tenang saja pak, urusan saya kemari itu untuk menghancurkan tempat ini, bapak lihat kan tempat ini sudah hancur, setelah ini, tidak akan ada lagi korban tumbal ataupun warga yang hilang, semua sudah aman." tuturku.


" Jika bapak boleh tahu tempat pesugihan apa ini nak, mahluk apa yang menunggi disini?" tanya bapak warung


" Bapak bisa tanyakan semua pada kuncennya, dia ada di sana." tunjukku pada pak kuncen yang masih tergeletak.


Seketika warga berlarian menghampiri Pak kuncen.


" Wah! Si*lan tenyata dia dalang di balik semua Ini, ayo kita hukum dia!"


" Ya.. kita serahkan dia pada polisi."


" Ya . Ya. Benar ayo bawa dia ke desa kita." ucap riuh warga


"Kalian anak muda hebat, tanpa sepengetahuan kami perbuatan kalian membuat desa kami menjadi aman, terima kasih banyak." ucap Bapak warung.


"Sama-sama Pak" jawabku.


"Jika kalian sudah selesai dengan urusan kalian, mari kita pulang, bapak sudah menyiapkan sambutan atas kepulangan kalian, mampir dulu ke rumah bapak ya? Pasti kalian lelah" ajaknya.


" Iya pak terima kasih pak. Maaf jika merepotkan." ucapku.


" Sama sekali tidak, Oh ya! Motor kalian juga masih ada di terasku aku juga sudah mencucinya. Hahaha." seru bapak warung lagi


Kami pun pulang bersama warga desa disini. Sebagian dari mereka membopong tubuh pak kuncen, kami berbincang selama perjalanan.


Setibanya di desa, kami di sambut hangat oleh para warga lainnya, Pak Kuncen di bawa ke balai desa, kepala desa ini akan mengurusnya.


Aku dan Iman singgah di rumah bapak warung, sekalian menghilangkan penat dan lelah kami.


Kami berbincang ringan dengan keluarganya, Tiba-tiba ponsel Iman berdering, ada telepon yang masuk. Iman terlihat heran memegangi ponselnya.


" kenapa nggak di angkat man? Memang siapa yang telepon?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ibu tiri gue, Bah.. Tapi gue malas angkat, pasti nyuruh gue ke sana lagi." ucap Iman.


" Angkat dulu man, siapa tahu itu penting.." jawabku.


Iman pun mengangkatnya.


Tiba- tiba raut wajah Iman terlihat pucat, dia terlihat syok.


" Kenapa man! Ada apa!" tanyaku panik melihat Iman.


"Bokap gue bah.. "


" Kenapa bokap lu."


" Di.. Dia sudah meninggal." jawab Iman


" Innalillahi wa innailaihi rojiun" ucapku dan semua orang.


Iman terlihat termenung, dan melamun.


" Yang sabar Nak! Semoga dia di tempatkan disisi Allah yang terbaik." ucap bapak warung.


Aku hanya bisa mengusap punggung Iman.


"Pak sepertinya saya harus kembali pulang sekarang." ucapku.


" Ya.. Ya.. Silahkan.. bapak turut berbela sungkawa." ucap Bapak warung.


" Terima kasih Pak, kalau begitu kami pamit, assalamualaikum.." ucapku pada semua.


" Walaikumsalam.. Hati-hati di jalan."


Kami pun pulang, selama perjalan Iman sama sekali tidak berbicara dia hanya diam dan menjalankan laju motornya cukup cepat.


" Gue temenin elu man" ucapku.


Iman mengangguk.


......................


Suasana rumah ibu tiri Iman terlihat ramai, namun sepi, kesedihan menyelimuti keluarga Iman sekarang, Iman ikut memandikan jenazah ayahnya, ikut mengkafani dan memakamkan Ayahnya juga.


Kami ikut mendoakan yang terbaik atas kepergian ayah Iman.


Aku membacakan Al Fatihah untuknya.


Semoga dosanya di ampuni Allah, dan di tempatkan disisi Allah.. Aamiin..


Setelah semua orang pergi meninggalkan pemakaman, tinggal Iman yang masih menghadap pusara ayahnya.


Kini air matanya tumpah. Iman menangis tersedu-sedu.


Aku hanya bisa mengusap punggungnya.


"Kalau saja bapak tidak melakukan itu, bapak pasti baik-baik aja sekarang Bah!" cetus Iman.


" Ikhlaskan Man, apa boleh buat inilah Konsekuensi yang harus di korbankan, akibat perjanjian sesat dengan mahluk Allah. Elu yang tabah man. Gue yakin elu kuat." ucapku.


Iman pun bangkit berdiri, dia menyeka air matanya.


" Bah.. Mulai sekarang bimbing gue ya?" tanya Iman.


" Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti ucapan Iman


" Mulai sekarang kemanapun elu pergi gue siap jadi partner lu, gue jadi banyak belajar dari pengalaman elu bah, gue jadi tahu mereka yang ghoib itu ada, meski gue penakut, gue harus berjaga-jaga dan melindungi nyokap gue satu-satunya sekarang, jadi tentang mereka yang ghoib gue masih minim pengetahuan jadi bimbing gue ya bah." cetus Iman.


" Oke man.." ucapku tersenyum padanya


Sambil merangkul bahu satu sama lain, kami pun pulang sambil tersenyum bersama, Kami mencoba menguatkan dan menghibur satu sama lain.

__ADS_1


......................


__ADS_2