Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Ritual Aneh


__ADS_3

Setelah aku selesai menyelesaikan pekerjaan ku, aku pun pulang, tapi tidak dengan Bang Syukur dia menginap di tempat kerja, karena di tempat kerjaku memiliki mess yang khususkan untuk para karyawan yang jauh.


Di mess ada sekitar tiga orang yang menginap, Bang syukur, Bang Anton, dan Bang Rudi.


Bang Rudi adalah anak perantauan, beliau datang dari luar pulau Jawa.


Bang Anton, berasal dari luar kota, dia dari Depok.


Rumahku juga cukup jauh, tapi Aku tidak mungkin tinggal di mess, sebab aku juga punya keluarga di rumah yang menunggu aku pulang.


......................


Sesampainya di rumah, seperti biasa aku kembali bermeditasi, namun hari ini ada yang tidak biasa, Ki Dayeng yang selalu mengganggu fokusku saat bermeditasi, kini tidak datang.


Aki kemana ya? Biasanya dia suka datang saat aku bermeditasi, Apa dia sudah berhenti membimbingku? Atau mungkin dia ada keperluan lain, *ah..biarkan saja lah tidak ada hal yang genting juga*.


Aku tidak terlalu memikirkannya segera aku pun pergi tidur.


......................


Keesokan harinya, seperti biasa aku pergi kerja.


Namun sesampainya di tempat kerja ada situasi aneh yang aku rasakan pada Bang Anton dan bang Rudi, biasanya mereka paling berisik di tempat kerja, namun hari ini mereka tampak pada pendiam.


Anehnya mereka berdua selalu bersama kemana-mana, bahkan untuk ke kamar mandi saja mereka bersamaan.


Aku melihat Bang Anton menunggu di luar pintu kamar mandi yang sedang di pakai oleh Bang Rudi.


Aku mencoba menghampiri Bang Anton dan bertanya.


"Bang Anton, kalian ini kenapa? tumben-tumbenan Bang Anton sama bang Rudi nempel terus dari tadi, bahkan ke kamar mandi saling antar begini, mau ngapain hayo?" godaku pada Bang Anton.


Kemudian Bang Rudi keluar dari kamar mandi dan mendengar ucapanku.


" Eh dasar, jangan mikir yang aneh-aneh yaa Nan, kita hari ini cuman lagi parno aja gara-gara kelakuan si anak baru." ucap Bang Rudi yang langsung menjawab


" Maksudnya? Oh..bang syukur? Emangnya dia kenapa?" tanyaku penasaran.


" Semalam dia ngobrol bareng kita, keselnya dia tuh nggak berhenti ngobrolin soal setan. di pabrik kita katanya banyak setannya, ada di kamar mandi lah, di pojokan lah, di mes juga ada, otomatis kita berdua jadi takut Nan, kami jadi nggak berani sendirian, makannya dari tadi barengan terus." tutur Bang Anton.


" Iya nih, gue juga kesel sama Si Syukur, mentang-mentang dia bisa lihat setan, kita yang orang awam dia takut-takutin. Kan gak lucu." keluh Bang Rudi.


"Kenapa harus takut bang, Bukannya selama kalian nginep di mess, kalian berdua baik-baik aja. Masa cuman gara-gara omongan Bang Syukur kalian jadi percaya terus jadi penakut gini." tuturku.


" Itu dia Nan, gue juga nggak tahu kenapa, memang sih selama disini nggak aneh kalau kita suka dengar suara-suara yang nggak jelas atau merinding yang tiba-tiba, tapi kami nggak terlalu memikirkannya, kami udah terbiasa dengan itu. Tapi entah kenapa semenjak Si Syukur datang, suasana mess jadi terasa lebih menyeramkan Nan, dia bahkan suka tiba-tiba nakutin. 'Jangan kesana, di sana ada setannya' kaya gitu. otomatis gara-gara dia bilang begitu kami berdua jadi gak berani keluyuran malam-malam di pabrik." keluh Bang Rudi.


" Nah.. aku juga sama bang, selama empat tahun kerja di sini, Nggak pernah tuh aku lihat penampakan ataupun di teror setan, Pabrik aman-aman aja kok." ucapku.


Tiba-tiba..


Bang syukur keluar dari kamar mandi yang satunya, tepat berada di samping kami.


Dia menatap ke arah kami, lalu dia tertawa dan pergi begitu saja meninggalkan kami.


"Tuh lihat nggak Nan, dia ketawa-ketawa sendiri, dia aneh kan? Mentang-mentang bisa lihat setan belagunya kaya paranormal." cetus Bang Anton


" Dia itu bukan paranormal, tapi emang nggak normal" celetukku.


Kami semua pun tertawa. Dan Kami pun kembali ke ruangan masing-masing untuk bekerja.

__ADS_1


Lalu bos tiba-tiba datang, dia terlihat membawa sesuatu yang di bungkus oleh kantong plastik hitam.


"Syukur?!" teriak bos memanggilnya.


Syukur pun datang menghampiri bos.


"Nih, saya udah beliin sesuai permintaan kamu." ucap bos sambil memberikan bungkusan plastik tersebut pada Bang syukur.


Bang Syukur pun menerimanya, dia bawa bungkusan plastik itu langsung ke kamarnya.


Tentu aku penasaran, aku mencoba bertanya pada bos ku.


"Bos! Barusan ngasih apaan sama Bang Syukur?" tanyaku.


" Oh Itu, bahan ritual Si Syukur, Nan." jawabnya.


" Hah? Ritual? Ritual apaan?" tanyaku lagi sambil mengerutkan dahi.


" Kata Si Syukur di sini banyak setan Nan, saya suruh dia buat ngusir setan-setan di sini, jadi dia butuh bahan-bahan untuk ritual pengusiran setan, jadi saya belikan." Beber Bos ku.


" Ah, mana mungkin ada setan di pabrik bos, selama saya disini saya nggak pernah tuh lihat penampakan ataupun di ganggu setan, keadaan pabrik baik-baik aja lho bos." celetukku.


" Kamu bilang seperti itu karena kamu kan nggak bisa lihat setan Nan, Si Syukur kan bisa. Dia lebih paham soal hal ghoib." ucapnya padaku.


Justru aku bilang seperti itu karena aku lebih paham darinya..


" Ya sudah, kalau bos nggak percaya yaa nggak apa-apa yang penting saya udah kasih tahu ke bos, kalau di pabrik nggak ada setan, semuanya aman." ucapku sambil berlalu pergi untuk kembali bekerja.


......................


Selama bekerja aku terus kepikiran Bang Syukur.


Bang Syukur dari tadi nggak kelihatan, emangnya dia nggak kerja apa? Dari tadi nggak keluar-keluar dari kamarnya .


Dia ngapain sih di kamarnya, Bikin curiga..


Bahkan hingga masuk waktu magrib pun Bang Syukur masih belum terlihat.


Mendengar seruan Adzan aku segera melakukan shalat magrib, selesai aku sembahyang, aku segera kembali ke tempatku bekerja, namun aku mendengar Bang Anton dan Bang Rudi yang sedikit gaduh.


" Mmmh.. Bau apa ini? Anton elu nyium bau aneh gitu nggak?" Seru Bang Rudi ke Bang Anton.


" Iya nih, bau apaan sih.. Baunya aneh banget.." jawab Bang Anton.


Aku yang mendengar obrolan mereka sontak ikut mengendus-endus. Penasaran bau apa yang mereka cium.


Aku juga mencium bau yang familiar, aku mencoba mengingat bau tersebut.


Aku tahu bau ini... Ini kan bau dupa yang sedang di bakar..


Aku teringat Bang Syukur yang masih belum keluar dari kamarnya.


Pasti ini ulah Bang syukur.. dia ngapain sih nyalain dupa segala..


Bau dupa begitu menyengat di seluruh area pabrik.


Tiba-tiba, aku melihat bayangan-bayangan aneh yang melesat dan muncul di setiap ruangan pabrik.


Tuh kan, Mahluk-mahluk mulai bermunculan. Kalau begini caranya sih, bukan mengusir setan namanya, justru malah mengundang mereka datang kemari.

__ADS_1


Lalu.. Tidak lama Bang syukur akhirnya keluar dari kamarnya, benar saja dia tampak membawa dupa yang menyala di tangannya.


"Bang! Kamu ngapain sih? itu pegang dupa buat apaan? baunya sampai kemana- mana." keluhku.


"Udah diam aja Nan, Kamu nggak usah ikut campur urusanku, aku sekarang lagi bikin ritual untuk pengusiran setan, aku sibuk." Jawabnya, lalu dia pergi ke pojokan yang terdapat mesin besar di sana.


Segera aku mengikutinya dari kejauhan.


Tiba- tiba aku melihat sosok genderuwo yang muncul di belakang mesin tersebut.


Astaga! Itu kan genderuwo? sejak kapan sosok itu ada di sana? Padahal selama ini aku tidak pernah melihatnya, Ahh.. Ini pasti gara-gara dupa itu, mahluk-mahluk lain yang berada di luar jadi masuk ke dalam.


Bang Syukur pun menaruh dupa tersebut di pojokan, lalu dia pergi, dan membiarkan dupa itu tetap menyala.


Tapi anehnya, Dia sama sekali tidak terkejut dengan sosok genderuwo yang muncul


di depannya. Seolah dia tidak melihat genderuwo tersebut.


Melihat bang syukur pergi dan kembali ke mess, segera aku memadamkan dupa tersebut.


Aku mencoba bertanya pada sosok genderuwo.


"Kenapa Kamu datang kemari. Ini kan bukan tempatmu, Kamu datang dari rumah kosong yang ada di belakang pabrik yaa?" tanyaku pada genderuwo.


"Ya, aku datang karena bau dari dupa itu, kami senang dengan bau nya yang enak." ucap genderuwo.


" Aku sudah memadamkan dupa tersebut sekarang, lebih baik kamu kembali ke tempatmu, cepat pulang sana!" ujarku mengusir genderuwo dan semua mahluk lainnya.


Segera aku bacakan ayat kursi agar mereka semua pergi.


Lalu Bang syukur muncul di belakangku.


"Sedang apa kamu di sana Nan?!" panggilnya


" Ini Bang, dupanya bau sekali, jadi aku matikan." ujarku sedikit terkejut.


" Apa! kenapa kamu matikan! kamu tidak tahu aku sedang berusaha untuk mengusir para setan disini." ucap bang syukur marah dan kembali menyalakan dupanya


" Mengusir apaan? justru apa yang Abang lakuin ini, malah mengundang kedatangan setan-setan kemari." Jawabku kesal, Aku pun pergi meninggalkannya .


Aku kesal dengan sikap Bang Syukur, dia malah menyalakan lagi dupanya, aku tidak akan peduli, kalau setan-setan itu muncul lagi, lebih baik aku pulang saja, lagian kerjaanku juga sudah selesai semua.


Namun saat aku bersiap, aku melihat Bang Anton, membawa kopernya.


" Bang Anton mau kemana? Kok keluarin koper." tanyaku.


" Aku juga mau pulang Nan, gak betah di sini gue takut." tuturnya.


" Kenapa elu pulang Ton? Kerjaan lu gimana? Gue di sini sama siapa? Gue kan nggak bisa pulang kaya elu, kalau mau pulang gue harus nyebrang laut dulu." keluh Bang Rudi


"Gue berhenti kerja, Rud. Gue juga udah pamit sama Si Bos di telepon. Lagian elu kan nggak sendirian, ada Si Syukur noh." jawab Bang Anton.


Astaga gara-gara ulah Bang Syukur, mereka jadi ketakutan begini, bahkan Bang Anton sampai berhenti bekerja.


Lihat saja nanti, Aku ingin tahu apa yang akan yang di lakukan Bang Syukur jika setan di pabrik makin banyak bermunculan gara-gara dupa yang dia nyalakan.


Aku mengucapkan salam perpisahan pada Bang Anton yang hendak pergi, sungguh di sayangkan aku tidak akan berjumpa lagi dengannya, setelah itu aku pun pulang.


Sebenarnya posisiku saat ini membutuhkan keberadaan Ki Dayeng, aku ingin bertanya tentang Bang Syukur padanya, apakah dia benar-benar orang pintar sepertiku atau tidak.

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat ucapan Ki dayeng sebelum pergi, bahwa aku harus waspada, jeli dan teliti saat menilai orang yang mengaku dirinya pintar, berilmu dan sakti.


......................


__ADS_2