
Aku mulai membereskan alat sholatku, karena meditasiku sudah selesai. Ki Sugro juga pergi. Dia hanya menyuruhku untuk bergegas mengentikan pemujaan sebelum korban tumbal jatuh lagi.
Kebetulan yang pas. Iman meneleponku.
"Hallo,Bah? elu dimana?" tanya Iman di balik telepon.
" Gue di rumah,Man. Kebetulan banget gue mau ngomongin hal penting sama lu, Nih!" sahutku.
" Hal penting apa? Sama gue juga, kita butuh bantuan elu di sini. Elu bisa ke tempat kita sekarang gak?" tanyanya.
" Elu lagi sama Iwan?"sahutku.
" Iya,Bah. Ntar gue kasih alamatnya. Elu harus cepetan kesini, Okeh! gue tunggu!" sahutnya. dan sambungan telepon pun tertutup
Tring!
Notifikasi chat dari Iman langsung ku terima. Segera aku bersiap menuju alamat yang di kirimnya tadi. Aku pun pamit pada Dita.
Melihat aku yang tergesa-gesa membuatnya memasang ekspresi yang Khawatir.
"Jangan terlalu cemas." sahutku sambil memakai sepatu.
" Nggak cemas gimana, urusanmu kali ini permasalahannya bukan diakibatkan oleh mahluk astral saja kan, tapi ada orang yang jahat di baliknya, Orang jahat kan lebih menakutkan dari mahluk astral. Mereka nekat menghabisi nyawa orang tanpa rasa bersalah." ucap Dita bergidik ngeri.
" Ya, kamu pintar. Itulah alasan kita harus lebih waspada pada manusia daripada mahluk ataupun setan. Karena manusia yang perilaku sudah seperti mereka, berarti dia sudah gelap mata dan membunuh baginya sudah menjadi hal yang biasa. Inilah alasan aku pergi sekarang, agar dia mendapatkan hukumannya. Doakan aku agar bisa lancar menyelesaikan semuanya." ungkapku
Tak heran Dita seperti itu, karena aku pernah menceritakan masalah ini padanya. Akan lebih baik jika aku tidak bercerita apapun kedepannya. Aku khawatir dia terus berpikir yang macam-macam karena terlalu cemas padaku. Lebih baik aku cerita jika semuanya selesai.
Dita pun mengangguk paham. Aku pun pamit karena taksi online yang ku pesan sudah datang. Aku pun segera menuju tempat Iman berada.
......................
Aku tiba di tempat tujuan sesuai alamat yang di berikan Iman.
"Kita sudah sampai, Mas." ucap Pak sopir taksi.
Refleks aku melihat ke jendela mobil. Aku sedikit heran dengan tempatku berada sekarang. Jalanan ini penuh dengan pasangan muda-mudi. Apalagi wanita disini mengenakan pakaian yang mewah dan seksi.
"Apa Iman tidak salah memberi alamat? Ini kan Klub Malam!" seruku.
" Lho Bukannya, Mas mau masuk ke sana?" ucap Pak Sopir yang sudah berumur menurutku.
" Haha, bukan Pak. Saya ke sini hanya janjian bertemu dengan teman." jelasku.
" Ohh, Yaa.. Mas nya masuk aja kesana. mungkin temannya sudah menunggu didalam." seru Pak Sopir.
Masa iya sih, Si Iman ada didalam, padahal kondisi lagi genting kaya gini.
__ADS_1
" Kenapa Mas nya gak turun? Oh Mas nya baru pertama kali ya, kesini? atau malu sama saya? saya gak apa-apa Mas. Saya maklum orang muda kaya Mas gini memang sering menghabiskan malamnya disini kan." serunya.
" Astaga, bukan seperi itu Pak." timpalku.
Ahh, sudahlah lebih baik aku segera turun. Bakalan makin ngaco kalau menjelaskan lagi.
Setelah membayar taksi dan turun. Taksi pun pergi. Aku tepat berada di depan gedung Klub Malam, aku tak mau masuk kedalam, aku mencoba mencari keberadaan Iman di sekitar namun tak ku temukan.
Aku makin risih di tatap wanita yang berlalu lalang di depanku. Segera aku menelepon Iman.
"Hallo?" ucap Iman di telepon.
" Heh, k*mpret elu dimana?! elu gak salah ngasih alamat?" ucapku kesal.
" Ya, nggak lah! gue juga ada disini nungguin elu." ucap Iman.
" Terus elu ada dimana sekarang? jangan bilang elu ada di dalem, terus nyuruh gue masuk nyamperin elu." sahutku.
" Kagak lah, gue di luar. elu lihat deh ke sebrang deket pohon." sahutnya.
Aku pun mengamati ke sebrang jalan mencari keberadaan pohon. Benar saja Aku melihat Mobil terparkir tertutupi bayangan di bawah pohon. Jaraknya sedikit jauh dari tempatku berdiri.
Aku melihat seseorang melambaikan tangannya padaku. Aku tahu kalau orang itu adalah Iman. Segera aku menyebrang dan menghampirinya.
"Cepetan masuk,Bah!" seru Iman menongol dibalik kaca jendela mobil. Akupun masuk dan duduk di kursi belakang mobil itu.
" s*alan lu! nggak bilang- bilang dulu kalau tempat yang suruh gue datengin tempat beginian." gerutuku padanya.
" Gue sih udah tahu. Kata bokap dari cerita Kak Lilis, Bang Roni emang suka ke sini tiap malam jum'at. Gak perlu nanya tujuan buat apa, kalian pasti juga tahu." ucap Iwan menimpali.
"Mencari wanita untuk korban tumbal berikutnya." jawabku.
Iman yang mendengar ucapanku menelan ludah.
" Sejak kapan kalian membuntutti Roni?" tanyaku.
" Seharian,Bah!" seru Iman.
" Iya, Bah. gelagat anehnya bari kami lihat tadi, pas dia hendak memasukan perlengkapan kain hitam di bagasi mobilnya, dan ada peralatan aneh yang kami curigai itu senjata tajam." ungkap Iwan.
Aku mengganggu tanda paham dengan cerita dari Iwan.
" Itu SiRoni Keluar!" seru Iman menunjuk keluar ke parkiran mobil di samping klub malam tersebut.
Dia di temani seorang wanita yang berpakaian seksi tengah bermanja di tangan Roni. Mereka berjalan menuju mobil Roni.
"Kasihan sekali nasib tuh cewek." sahut Iman sedikit Iba.
__ADS_1
Kami pun mengikuti Roni. Membuntuti mobil Roni.
Tiba-tiba Mobil Roni Menepi di jalanan yang sepi.
Iwan pun ikut menepi sedikit jauh dari mobil Roni.
" Kenapa Mobil Bang Roni berhenti disini." ucap Iwan heran.
"Mungkin Si Roni lagi senang- senang sama tuh cewek." sahut Iman.
Dugaan Iman salah. Terdengar samar-samar suara teriakan wanita dari mobil Roni.
Kami bertiga saling bertatapan.
" Mau di tolongin sekarang?" celetuk Iman.
" Jangan dulu." ucapku.
Iwan pun mengangguk tanda setuju dan paham maksudku.
......................
Sekian lama kami terus membuntutti mobil Roni. Kini Roni memasuki daerah pegunungan, Jalannya yang kami lalui banyak tanjakan, dan liukan serta minim penerangan.
jalanan mulai rimbun dengan pepohonan besar, tinggidan lebat. suara lolongan anjing terdengar dekat. gelap tanpa cahaya.
Anehnya ada beberapa Mobil juga yang mendahului mobil kami. untungnya kami mematikan lampu didalam mobil agar tidak terlihat dari luar.
Aku menyadari kita berada di kawasan kaki gunung. Jalanannya sedikit besar bisa di pakai untuk dua arah.
Laju mobil mereka mulai melambat dan berhenti di depan sebuah goa bekas pertambangan. Kami pun ikut menepikan mobil kami tak jauh dari sana.
Mungkin ini tempat yang Ki Sugro sebut.
" Ini tempat apaan?" lirih Iman.
" Mungkin disini tempat Kak Lilis di bunuh, Man." ungkap Iwan.
Iman kembali menelan Ludah dan bergidik ketakutan.
Lalu Keluar beberapa orang. Mereka semua mengenakan Jubah Hitam yang sama. Begitupun Roni. Dia tengah mengajak beberapa orang menghampiri mobilnya.
Ternyata Mereka membopong seorang wanita. Wanita yang bersama Roni tadi.
" Astaga, wanita itu kenapa? di apain sama Si Roni?" seru Iman berbisik.
Wanita itu di bawa mereka masuk ke dalam goa tersebut.
__ADS_1
"Buruan kita selamatkan, wanita tadi!" seru Iman.
......................