Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Terbawa Ilusi


__ADS_3

Jalan selanjutnya yang akan kamiewati adalah jalan setapak yang sudah tertutupi oleh rerumputan tinggi dan lebat.


Karena malam, keadaan sangat gelap tidak ada cahaya penerangan, kami bertiga memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalan ini.


" Sepertinya kita harus waspada Man, akan berbahaya jika kita berjalan tanpa penerangan." keluhku.


"Gue bawa senter bah, tadi di rumah gue udah nyiapin alat-alat yang akan kita perlukan untuk keadaan seperti ini. Untung gue siaga." ucap Iman sambil merogoh tas nya, dan mengeluarkan dua buah senter.


" Wih, hebat!" pujiku pada Iman dan mengambil salah satu senternya.


Kami mulai berjalan menelusuri jalan ini.


"Ki, kemana kita harus arah mana?" ucapku.


" Sebentar, sinyal yang di beri Aji Saka tidak jelas." tutur Ki Jagat.


" Ya sudah, sementara kita telusuri jalan yang ada saja." ucapku.


" Bah, elu denger sesuatu nggak?" tanya Iman tiba-tiba.


" Suara apa?" tanyaku lagi


" Kaya suara gamelan gitu, Bah, tapi samar-samar sih" ucap Iman.


" Iya Man, gue juga denger Kok, Kirain elu gak denger makannya gue diem aja." ujarku.


"Anom! Gawat! Sinyal dari Aji Saka menghilang, Sepertinya Aki harus pergi untuk mencari sendiri jalan menuju tempat klewing, sinyal dari Aji saka ada yang menutupi, aki juga harus mengeceknya, Ingat! tajamkan penglihatan mata batinmu! Jangan sampai kamu terhipnotis oleh ilusi dari para penghuni hutan ini, terutama temanmu itu, jagalah dia supaya tetap sadar." imbuh Ki Jagat.


" Baik Ki." jawabku.


Ki jagat pun menghilang.


Aku dan Iman meneruskan perjalanan tanpa Ki Jagat.


Semakin kami berjalan, semakin jelas suara gamelan itu terdengar, dan di depan kami muncul sebuah cahaya terang, dan kami melihat ada sebuah pagelaran wayang.


" Kok, ada pagelaran wayang sih disini? Apa mungkin kita memasuki desa terpencil di dalam hutan?" seru Iman.


Aku juga merasa heran.


Pagelaran wayang ini terlihat berbeda, memang banyak warga yang menontonnya, riuh ramai sekali, tetapi Aneh, mulut mereka justru tertutup rapat, tatapan mereka juga kosong menatap ke arah panggung wayang.


Patung wayang itu juga bergerak sendiri dan berdialog tanpa ada dalang yang menggerakkannya. Bahkan, gamelan dan alat musik itu berbunyi tanpa ada yang memainkannya.


Kami berdua terdiam sejenak, karena kebingungan mencari jalan, jalan yang seharusnya kami lewati tertutupi karena adanya pagelaran ini.


Tiba-tiba ada yang menyapa kami, ada orang yang menepuk pundak Iman dari belakang.


"Bade kamarnya Jang?( mau pada kemana aden?)" tanya seorang kakek tua memakai jaket kulit hitam.


"Eh aki, kami Bade ka hiji tempat, tapi kalah nyasab kadie ( kami mau ke suatu tempat, tapi malah tersesat ke sini.)" ucap Iman menjawab.


" Bade kamana kitu? ( mau kemana gitu?)" tanya kakek itu.


" Kami teh Bade ka tempat kle...

__ADS_1


" Bade ka kampung padamalan ( mau ke kampung pedalaman)." ucapku langsunh memotong Iman berbicara. Bahaya jika Iman mengatakan kemana tujuan kami sebernarnya. Terpaksa aku menyela.


Mendengar aku menyela, seketika tatapan kakek tua itu berubah terhadapku, dia menatapku tajam dengan raut wajah yang sangat tidak ramah.


" Tos we didie hela, lalajo wayang bari ngopi ( sudah disini saja dulu, menonton wayang sambil ngopi)" bujuk kakek itu dengan seketika raut wajahnya berubah, tersenyum ramah pada iman.


" Hayu, ngiring jeung aki, urang meser suuk ka palih ditu (ayo ikut dengan kakek, kita beli kacang di sebelah sana)" ajak kakek itu tiba-tiba menarik tangan Iman.


" Jangan Man!" kataku.


" Kenapa bah, bentar aja gue mau cari makanan, gue laper" jawab Iman yang mulai di tuntun oleh kakek itu.


Seketika aku teringat perkataan Ki jagat untuk mempertajam mata batin.


Karena pandangan asliku sudah terhipnotis oleh ilusi, jadi aku melihat dengan mata yang terpejam. ya mata batinku.


Aku pun melihat keadaan yang sebenarnya.


Aku melihat diriku sedang berada di tengah makam tua yang besar dan luas. Dan aku berada di antara kumpulan para pocong.


Dari pocong anak kecil hingga dewasa ada, mereka berkerumun menghadap ke suatu rimbunan pohon bambu yang tak lain rimbunan pohon bambu itu adalah panggung pagelaran wayang.


Dan aku fokus melihat Iman. Dia sedang di tuntun oleh sosok genderuwo yang sedang memetik pohon jambu.


" Astagfirullah!" ujarku sambil membuka mata ku, penglihatan ku kembali ke suasana pagelaran tadi.


Aku segera berlari menghampiri Iman.


" Iman ayo cepat kita pergi dari sini!" ujarku menarik tangan Iman menjauh dari kakek tua itu.


Sinden itu memakai kebaya dan selendang merah, dia memiliki wajah yang sangat rupawan cantiknya.


Seketika para penonton yang duduk menonton langsung berdiri dan menari.


Sang sinden itu pun bernyanyi dan turun dari panggung, dia berjalan menghampiri kami, lalu mengajak Iman untuk menari, dia menarik Iman ke arah kerumunan untuk menari bersama penonton itu.


Aku segera mencari air, untuk membasuh mukaku agar aku bisa melihat dengan jelas tanpa mata batin.


Aku membasuh mukaku dengan air yang aku dapat dalam sebuah botol.


" Bismillah.." aku membasuh wajahku dengan air itu


Seketika aku bisa melihat keadaan yang asli tanpa mata batin.


Aku melihat Iman tengah menari dengan sekumpulan pocong-pocong.


Dan sinden yang menari dengan Iman, adalah sosok Kunti yang kami lihat di jalan tadi. Dia bukan sedang bernyanyi, melainkan sedang menjilati wajah dan tangan Iman.


Air botol yang aku dapat ternyata air di dalam kendi.


Aku berlari membawa air kendi menuju Iman.


Untuk menyadarkan Iman aku harus membuka mata batinnya dengan air ini.


Sialnya, pocong- pocong itu menghalangiku untuk bisa menggapai Iman.

__ADS_1


Wajah mereka ada yang sudah membusuk tak berbentuk, ada yang tinggal tengkorak, ada juga yang hitam pekat, dengan mata yang menonjol keluar, mereka tahu aku akan menyelamatkan Iman mereka melihatku dengan menyeringai.


Hoek!


Beberapa kali aku ingin muntah, mencium bau bangkai busuk dari mereka.


Aku mencoba menerobos mereka, aku berteriak memanggil Iman, namun sayang Iman tidak mendengar, dia terus saja dia asyik menari dan terus di jilati Kunti itu.


Aku mencari celah agar bisa menggapai Iman, para pocong itu terus saja menghalangi, padahal jarakku sudah hampir dekat menggapainya.


Sorry man, gue harus buka mata batin elu. Biar elu sadar!


Dengan cepat aku menyiramkan air kendi dari jauh, tepat ke wajah Iman.


Sontak Iman menunduk, dan mengusap- ngusap wajahnya yang basah.


" Kenapa elu malah nyiram gue bah!" ucapnya kesal.


" Sadar b*go! Liat sekeliling elu!" teriakku.


Iman pun melihat ke sekeliling, dia syok dan kaget dengan mata yang melotot.


Tak lama Dia pun pingsan.


Aku segera menangkap Iman dan melindunginya.


Benar saja para pocong dan lainnya, berusaha menyentuh Iman, ternyata mereka menginginkan Iman dan berniat membawa Iman.


Aku menendang, memukul mereka yang mendekat, sambil membaca doa agar mereka menjauh.


Tiba-tiba genderuwo itu menghampiriku.


Dengan cepat dia mencekikku.


Aku yang lengah, karena di cekik genderuwo dengan mudah para pocong itu langsung mengerumuni Iman yang pingsan.


Ugh! Gawat Iman, bagaimana ini.


Aku meronta, mencoba melepaskan diri. Namun justru malah semakin keras dan kuat, aku kesulitan untuk bernafas.


Tiba-tiba Datang Ki Dayeng dan Ki Jagat menolong kami.


" HEH! Dasar makhluk kasta bawah! Beraninya kamu menyakitiku cucuku!" teriak Ki Dayeng yang marah, dengan tubuh kecilnya dia naik ke pundak genderuwo dan menjewer lalu menarik kedua telinga genderuwo itu dengan sekuat tenaganya.


Sedang Ki Jagat yang hanya berjalan menghampiri Iman, para pocong dan kunti itu ketakutan dan menghilang.


Tangan Ki Dayeng yang sedang menarik telinga genderuwo tiba-tiba mengeluarkan Api.


Api itu membakar Telinganya genderuwo, aku pun terlepas dari cekik-kannya.


Ki Dayeng pun melompat melindungiku, sementara kepala genderuwo itu mulai terbakar, dan api pun dengan cepat menjalar dan membakar seluruh tubuhnya dan hilang menjadi abu.


" fiuuhh, terima kasih aki, kalian sudah datang menolongku tepat waktu." ucapku.


" Ya, sama-sama, ayo cepat Anom, kita harus segera pergi, yang lain sudah menunggu." ajak Ki Dayeng

__ADS_1


......................


__ADS_2