Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Nenek Tua


__ADS_3

Singkat cerita, pada hari Minggu kami libur bekerja.


Aku sudah berjanji pada Asep akan pergi bersamanya menuju toko saudaranya,


Sayangnya Asep tidak bisa menjemputku hingga ke rumah, karena jarak yang cukup jauh dari arah rumah Asep, kami memutuskan untuk saling bertemu di pertengahan jalan dan berangkat bersama dari sana.


Aku menunggu Asep di sebuah persimpangan jalan raya.


Aku tengah sibuk membalas chat di ponselku, lalu tiba-tiba, di depanku berhenti seorang yang mengendarai sepeda motor.


" Ayo Bang kita berangkat sekarang." ajaknya sambil membuka kaca helmnya, dan ternyata dia Asep.


" Eh, Sep, kirain siapa.. ya sudah ayo, saya sudah siap nih."jawabku menghampiri dan menaiki motornya.


Asep kembali menyalakan motornya.


" Sep tunggu.." cegahku.


" Ada apa bang?!" tanya Asep.


" Nah itu, bisa nggak elu panggil saya Abah aja, sep?" tanyaku.


" Loh! Abah kan panggilan buat orang tua Bang." tanyanya heran.


" Nggak apa-apa, justru saya lebih nyaman di panggil Abah daripada Abang, semua orang biasa Panggil saya abah." tuturku.


" Oke gitu, siap bang! eh... Abah.." jawab Asep.


Asep pun menancapkan gas nya. Lokasi rumah saudaranya lumayan cukup jauh, dua puluh menit kami sudah melakukan perjalanan.


dah setengah jam kemudian, kami mulai memasuki kawasan blok yang penuh dengan ruko-ruko, ada cafe, rumah makan, dan juha banyak juga pedagang kaki lima di setiap tepi jalannya.


Banyak orang berlalu lalang di sini, sehingga jalanan cukup tersendat, mereka kemari sengaja untuk berjalan-jalan santai, bahkan ada juga yang sekedar mengisi perutnya. Di tambah hari ini hari Minggu keadaan cukup ramai dan padat.


Dan Akhirnya Asep menghentikan motornya tepat disebuah toko kelontong yang cukup besar.


" Kita sampai, Bah." ucap Asep mematikan mesin motornya di parkiran.


" Oh di sini." jawabku sambil turun dan membuka helm, lalu melihat kondisi toko tersebut.


Toko ini mirip toko kelontong yang serba ada, bahkan besar dan lengkap. mungkin mirip sekali dengan mini market namun lebih mini lagi.


Ada sebuah rumah yang menyatu dengan tokonya. Mungkin itu rumah pemiliknya.

__ADS_1


Aku dan Asep menghampiri sebuah kasir di dalam toko tersebut, di sana tepat berdiri seorang laki-laki muda seumuran denganku, dia tengah menghitung total harga dari belanjaan pembelinya ada sekitar tiga orang yang mengantri, dan ada juga pembeli lain yang sedang memilih-milih barang di setiap rak.


" Bang Deni! panggil Asep pada laki-laki tersebut melambaikan tangan.


Seketika Laki-laki tersebut menoleh pada kami.


" Wah Si Asep! Akhirnya elu datang ke toko gue, bentar ya gue layanin dulu pembeli " ujarnya pada kami.


" Oke bang santai aja." jawab Asep.


" Kalian tunggu aja di rumah yang di sebelah, itu rumah gue, nggak ada siapa-siapa, gak di kunci juga tinggal buka aja, gue beresin kerjaan dulu ini bentar." titahnya pada Asep.


Asep mengangguk, dan berbalik badan.


" Bah kita ke sana." tunjuk Asep ke rumah yang ada di sebelah toko.


Aku pun mengikutinya.


" Assalamualaikum." ucap Asep sambil membuka pintu rumah.


"Walaikumsalam." jawabku.


Itu sudah menjadi adab, meski tidak ada orang di rumah, kita harus tetap mengucap salam agar jin dari luar tidak bisa ikut ke dalam rumah bersama kita.


Ada beberapa kursi dan meja tertata di situ,, yang di atasnya mejanya berserakan benda-benda aneh seperti batu akik, ada cincin dengan batu yang indah, ada juga keris-keris kecil hingga yang berukuran besar.


Ada juga botol kaca berukuran kecil dan ada benda aneh di dalamnya, ada semacam rambut, ada yang berisi cairan hitam yang wangi, bahkan ada juga kalung yang berbandul seperti sebuah taring.


Aku dan Asep duduk di kursi, dan mengamati semua benda tersebut.


" Ini nih bah! barang yang dia suka beli dari uang yang dia pinjam ke saya. dia beli barang beginian, untuk apa coba? gak berguna sama sekali, mahal pula. Setiap minggu selalu saja ada benda baru yang dia beli, jika uang yang dia punya nggak cukup, ya dia cari ke saya, alhasil setiap hari uang gaji saya berkurang karena nominal uang yang dia pinjam nggak sedikit bah." Keluh Asep.


" Kenapa elu tetap ngasih padahal elu tahu dia bakal gunakan uang itu buat beli barang yang seperti ini lagi." Ujarku.


" Itu dia Bah, setiap dia datang untuk meminjam uang, dia selalu saja memohon, bahkan terkesan panik dan terburu-buru, saya kan jadi nggak tega bah. saya pernah menasehati Bang Deni supaya tidak membeli barang seperti ini lagi, tapi katanya tidak bisa, sebab jika tidak beli salah satu benda tersebut, usaha toko ini akan jatuh bangkrut. saya juga nggak begitu paham apa guna benda-benda ini semua, katanya sih sebagai penglaris, tapi nggak ada tuh kemajuan yang signifikan dari toko ini, sama aja menurutku. kalau menurut Abah gimana? paranormal yang selalu di kunjungi bang Deni beneran orang pintar atau penipu seperti bang Syukur? Bah Nandy kan bisa menerawang seperti waktu ke saya dulu." ujar Asep.


"Hmmm... bentar ya sep, aku coba terawang dulu ya." ujarku.


Aku pun memejamkan mata, dan menajamkan seluruh panca indera ku.


Tiba-tiba saja aku tidak bisa menerawang seolah ada yang menutupi.


Saat aku membuka mata.

__ADS_1


Astaga!


Aku di kagetkan oleh sesosok nenek tua yang berdiri di pojokan ruang tamu.


Dari mana dia muncul? bukankah tadi dia tidak ada, sejak kapan dia berdiri di situ, bahkan aku tidak menyadari kehadirannya, apa dia yang sengaja menutupi penerawanganku tadi?


Sambil mengunyah daun sirih, nenek tua itu menatapku tajam.


dia memakai pakaian kebaya jaman dulu, berwarna hitam dan kain sinjang berbatik, dia berdiri dengan menopang pada tongkat kayu yang di pakainya .rambutnya dia biarkan tergerai dengan berantakan.


" Siapa kamu? kenapa kamu muncul di sini?" tanyaku pada nenek tua itu lewat pikiranku.


" Kamu siapa? tempat ini tempatku melakukan tugasku." jawabnya.


" Tugas apa maksudmu?" tanyaku.


" Aku bertugas mengawasi manusia yang tinggal di tempat ini." jawabnya.


Maksudnya Deni?


" Siapa yang menyuruhmu untuk mengawasi tempat ini?"


" Tentu saja titah Tuanku." jawabnya singkat.


Berarti dia adalah mahluk kiriman yang di kirim seseorang untuk mengganggu Deni.


" Siapa nama tuanmu?" tanyaku.


" Rita binti Afwan."jawabnya lagi.


Mungkinkah dia adalah paranormal yang selama ini di maksud Asep..


"Siapa kamu anak muda? kamu cukup berani berkomunikasi denganku dan menanyakan banyak hal juga untuk informasi pribadimu." tuturnya.


Belum sempat aku menjawab, Deni pun datang.


" Wah, sorry nih kalian nunggu lama ya? maaf ya pelanggan hari ini cukup banyak.hehe." ucapnya.


" Gak apa-apa Bang, santai aja, oh iya.. kenalin ini Bang Nandy teman saya Bang " ujar Asep memperkenalkan aku pada Deni.


" Saya Deni, salam kenal" ucapnya sambil mengulurkan tangan.


" Saya Nandy." jawabku sambil menerima jabatan tangannya kami berkenalan.

__ADS_1


......................


__ADS_2