
Karena mimpi itu, tubuhku terasa lemas sekali, tidak bertenaga, bahkan rasa sakit akibat ikatan di kaki dan tanganku masih jelas terasa, ku lihat ada tanda lecet yang memerah mengitari pergelangan di kedua tangan dan kakiku.
Ikatan talinya membekas? Jelas sekali itu cuma mimpi, astagfirullah apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Tiba-tiba Dita membuka pintu kamar melihat aku yang tengah termenung duduk di kasur.
"Lho sudah bangun? Baru aja aku niat bangunin kamu Yah." seru Dita.
" Ya sudah, tapi sudah bangun badanku sakit semua, rasanya capek sekali" ucapku.
" Kok bisa? Kamu sakit?" tanya Dita sambil menempelkan telapak tangan di dahiku untuk mengecek suhu tubuh.
" Normal kok, gak demam" jawabnya.
Dita terus memperhatikan kondisiku, Dia terkejut saat melihat luka lecet di pergelangan tangan.
"Astaga! Ini kenapa?! kok bisa lecet gini! bahkan kaki kamu juga sama, kamu habis ngapain?" tanya Dita panik.
"Aku cuman tidur dari tadi, kamu juga tahu." jawabku.
" Tapi kenapa bisa kaya gini kalau cuman tidur, ini kaya bekas ikatan Yah, Apa mungkin Raka jail ikat- ikat tangan kamu waktu tidur. Tapi masa sih dia punya tenaga sekuat itu sampai berbekas lecet gini. Aku tanya Raka dulu." ucap Dita hendak pergi keluar namun aku cegah.
" Bukan, ini bukan ulah Raka." tuturku
"Tapi kan bisa aja dia..
" Aku tadi mimpi, aku di tangkap, dan tangan juga kakiku di ikat kencang, aku juga hendak di bakar, tapi untungnya aku sempat terbangun, dan mungkin mimpi itu yang membuat begini, seperti nya itu bukan sekedar mimpi." ucapku menghentikan Dita yang berbicara.
Dita langsung syok, bahkan dia sampai menelan ludahnya sendiri.
Dia hanya terdiam mematung sesaat.
" A, aku ambilkan kotak obat dulu" ucapnya terbata, dia ketakutan sambil berlalu keluar kamar.
" Hufht, teror lagi, bahkan sampai mimpi, Dita pasti sangat cemas sekarang." keluhku.
Dita segera datang dengan kotak obat yang di bawanya, dia mengobati tangan dan kakiku dengan telaten.
Aku melihat raut wajah cemas pada Dita, namun dia hanya diam membisu, entah apa yang sedang dia pikirkan.
" Gak usah cemas, aku baik- baik saja. Cuman lecet nanti juga sembuh." ucapku menenangkan Dita yang terlihat khawatir.
" Tetap saja, hal ini gak masuk akal, percaya gak percaya, tetep harus percaya, semua teror jelas-jelas terjadi di luar akal sehat. Yang aku gak ngerti, kenapa mereka masih saja terus mengusik kita, bahkan dalam mimpi juga, mereka sampai melukai kamu hingga seperti ini, gak bisa kamu berhenti aja dalam tugas kali ini" keluh Dita dengan nada kesal. sambil membereskan kotak obat.
"Maaf sudah bikin kamu cemas, tapi apa boleh buat, Mah. Ini risiko yang harus aku tanggung, aku tidak bisa berhenti di tengah jalan, nyawa seseorang bisa jadi taruhannya, Aku janji akan menyelesaikan ini dengan cepat, agar teror ini cepat berakhir." kataku.
" Aku khawatir! bagaimana jika bukan hanya kita, takut jika anak-anak juga di teror. Lihat kamu saja sampai kaya gini " ucap Dita meneteskan air mata.
" Hush! Jangan ngomong gitu, Aku akan berusaha memastikan kalian baik-baik saja. sudah ya jangan nangis kamu harus kuat demi melindungi anak-anak." ucapku menenangkan Dita.
Tiba-tiba.
" Asalamualaikum!" terdengar seseorang mengucap salam dari luar.
" Aku buka pintu dulu, ada tamu." jawab Dita keluar kamar sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
" Walaikumsalam. Tunggu sebentar." ucap Dita menghampiri pintu. Aku juga segera menyusulnya ke pintu depan.
" Siapa yang datang?" tanyaku sambil berjalan perlahan karena rasa perih mulai menjalar mengelilingi pergelangan kaki dan tanganku. Mungkin obat oles tadi mulai bereaksi.
" Iman Yah, masuk Man." seru Dita.
Iman pun masuk.
"Eh, Man. Jangan terus berdiri di pintu, cepat duduk." sahutku melambaikan tanganku menyuruhnya duduk.
Tanpa di sadari Iman melihat pergelangan tanganku yang lecet dan memerah.
" Itu tangan elu kenapa Bah?" tanya Iman kaget.
" Ini, biasa lah man. Mah bikinin kopi ya." ucapku menyuruh Dita ke dapur.
" Biasa gimana Maksudnya?" tanya Iman heran.
" Ah sudahlah, ngomong-ngomong ada perlu apa Man, kelihatannya genting." tanyaku
" Ini bah, di rumah gue ada yang ngirim ini." ucap Iman memberikan sebuah kotak di bungkus tebal oleh selotip
" Kotak apa ini?" tanyaku heran.
" Enggak tahu bah, tiba-tiba aja itu ada di teras gue, perasaan gue enggak pesen apa-apa, terus di kotak itu juga enggak ada nama pengirimnya. Gue bawa ke sini minta tolong elu cek isinya apaan." tutur Iman.
" Lah, kenapa harus gue yang buka, kotaknya di kirim buat elu masa gue yang buka." keluhku.
" Gue takut bah, sebelum kotak itu gue temuin, di atas itu kotak banyak kembang tujuh rupa nya." tutur Iman.
Aku terdiam sejenak melihat ke arah kotak di hadapanku.
" Kapan elu dapet kotak ini?"
" Kemarin malam, Bah. Pas gue tuh bawa kotak ke rumah, perut gue tiba-tiba sakit banget. Kaya ditusuk-tusuk bah, gue kesini juga maksain dateng, sampai sekarang masih ke rasa sakitnya. Gue pikir gue salah makan, tapi beda bah, sakit perut salah makan bukan begini rasanya." keluh Iman mulai meringis menahan sakit.
" Bentar gue coba buka dulu." jawabku sambil merobek selotip yang membungkusnya dengan cutter.
"Ugh!" Iman meringis.
" Kenapa Man?!" tanyaku kaget.
" Enggak apa-apa bah, lanjut aja buka kotaknya." pinta Iman.
Aku mulai melepas semua selotipnya agar mudah saat membukanya. Lagi-lagi
" Duh.." Iman meringis lagi.
" Elu kenapa?" tanyaku khawatir karena wajah Iman mulai pucat.
" Udah jangan pikirin gue, cepetan buka isinya apaan" pinta Iman lagi.
Setelah selotipnya terlepas, aku hendak membuka tutup kotak tersebut dan..
Bruk!
__ADS_1
Seketika tubuh Iman ambruk dan terbaring di karpet, dia menekuk tubuhnya sambil memegangi perutnya dengan kuat. Dia kesakitan.
" Aduh! Sa..sakit Banget bah, Aduh!" pekiknya meronta kesakitan
Aku Kaget, sekaligus heran.
Apa-apaan ini setiap hendak membuka nya Iman kesakitan, sebenarnya apa isi dalam kotak ini.
" Tahan, Man! Gue buka dulu kotak ini" ucapku mencurigai isi dalam kotak kemungkinan ada hubungannya dengan sakit perut Iman.
Aku dengan cepat menyambar kotak itu dan langsung membuka tutup kotak nya.
" Astagfirullahaladzim!" sontak aku kaget saat melihat isi kotak itu.
Ada sebuah boneka berbentuk pocong bertuliskan nama Iman di boneka tersebut.
Dan boneka pocong itu di perutnya banyak jarum yang menancap.
Dan ada sebuah surat di dalam nya.
Melihat Iman yang sangat kesakitan, dan boneka pocong yang tertancap jarum-jarum itu, aku memahami sesuatu, tahu bagaimana menyembuhkan Iman.
"Bismillah."
Aku langsung melepas semua jarum-jarum yang menancap di boneka pocong tersebut.
Dan benar dengan sekejap Iman berhenti meronta kesakitan. Dia kaget dari posisinya yang terbaring langsung kembali duduk dan memegangi setiap bagian perutnya dengan keheranan.
" Bah, gue sembuh! Enggak sakit perut lagi! Kok bisa? gue kenapa Bah?" tanya Iman sambil meraba-raba seluruh perutnya.
" Ini.. Tadi di boneka ini menancap banyak jarum, mungkin itu yang buat perut kamu sakit. Aku sudah melepas semua jarumnya jadi kamu baik-baik saja sekarang." tuturku sambil memberikan boneka pocong itu pada Iman dan menerimanya.
" Hiiiii..!" sontak Iman yang tadi memeganginya langsung melemparnya kembali ke dalam kotak.
" Ke.. Kenapa boneka pocong itu di tempel nama gue, bah!" ucap Iman bergidik ketakutan.
" Ada suratnya juga, Man." ucapku.
" Co.. Coba bacain bah!" jawab Iman cemas dan gugup.
"Jangan coba-coba lagi membantu Rizal, jika tidak aku akan melakukan hal yang lebih dari ini padamu."
Seketika tubuh Iman bergetar ketakutan mendengar surat ancaman itu.
" Bah, se, sebenarnya ini ulah siapa? kenapa malah gue yang di ancam?" keluh Iman takut dan cemas.
" Bukan hanya elu Man, yang di kirimin benda begini, gue juga sama malahan istri gue yang nerima kiriman kotak itu. Isi surat nya juga sama surat ancaman, dan baru tadi gue mimpi buruk, elu liat kan bekas lecet di tangan dan kaki gue. Gue juga di teror di mimpi gue dan berbekas kaya begini." beberku pada Iman.
Iman syok mendengar apa yang aku ceritakan.
" Apa mungkin, maksud teror ini adalah peringatan untuk kita berhenti menolong Pak Rizal?" tanya Iman memastikan.
"Iya Man. Dan gue tahu siapa orang di balik ini semua. Dia adalah orang yang sedang kita cari selama ini." tuturku
Iman terdiam dan nampak berpikir.
__ADS_1
"Pak Yono!" cetus Iman.
......................