Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Meraga sukma


__ADS_3

Setelah melaksanakan shalat isya suasana di rumah mulai sepi karena tv juga dalam keadaan mati, mungkin Dita juga sudah tertidur. Aku mulai bermeditasi, Aku duduk bersila senyaman mungkin sambil memejamkan mata, aku mencoba untuk memfokuskan diri.


Dalam keheningan, sukmaku keluar dari ragaku, kini aku berdiri di hadapan diriku yang tengah duduk bersila.


Aku melihat cahaya putih bersinar terang di dekat pintu, itu di sebut portal menuju dimensi lain. Lebih tepatnya pintu masuk antara dunia nyata dan dunia lain.


Tubuhku mulai terasa ringan, itu artinya sedikit demi sedikit sukmaku mulai menjauh dari ragaku.


Proses ini bukanlah kematian, sering di namakan dengan proses Meraga sukma.


Dimana dalam proses tersebut sang spiritualis dapat meninggalkan wujud kasar dan memakai wujud halus untuk mengakses ke dunia lain.


Dalam segi spiritual, hanya beberapa orang yang dapat melakukan Meraga sukma. Dan aku salah satu yang bisa melakukannya.


Setelah aku memasuki cahaya putih tersebut, kini aku mendapati diriku sedang berdiri di sebuah lorong gelap yang begitu panjang, sisi kiri dan kanannya gelap dan tidak beruang, hanya ada satu cahaya terang yang terpancar jauh dari ujung lorong.


Tempat ini di namakan dunia pararel, jalan penghubung antar dimensi.


Dunia pararel yang sering aku datangi tidak hanya berupa lorong gelap saja, kadang juga membentuk ruangan lain yang berkaitan dengan dimensi selanjutnya.


Sebenarnya aku bertanya-tanya siapa yang telah membukakan portal ini untukku, aku hanya dapat menyusuri jalan tanpa tahu dimensi apa yang akan aku masuki nanti.


Suasana dunia pararel ini sangat berbeda dengan sebelumnya.


Hawanya begitu dingin, aku merasakan kakiku ini basah, entah apa yang sedang aku pijak, seperti air namun sangat lengket bahkan tercium bau amis.


Namun aku tidak begitu memedulikan situasi saat ini, fokusku terus tertuju pada cahaya di ujung lorong.


Semakin aku mendekati ujung cahaya, Semakin banyak juga suara-suara aneh yang aku dengar. Dari tangisan, rintihan, teriakan, dan ada juga suara yang memanggil-manggil namaku.


Sudah menjadi hal biasa bagiku mendengar suara semacam itu jadi aku hiraukan.


Kini aku tiba di depan cahaya.


saat aku hendak masuk, Tiba- tiba muncul tangan yang berkuku tajam, tanpa sempat aku menghindar tangan itu menarik ku masuk ke dalam cahaya tersebut.


Aku kaget dan panik, aku hendak berteriak meminta tolong, namun tangan yang berkuku tajam itu langsung membekap mulutku.


Makhluk apa yang sudah menangkap ku? Apakah mahluk dari dimensi lain?


Yang terpenting aku harus bisa melepaskan diri. Kemudian aku sengaja memberontak untuk kabur, namun sayangnya cengkraman tangan itu sangat kuat.


" Diam! " Ucap makhluk yang menangkap ku itu.


Aku refleks terdiam, karena kaget mendengar suaranya yang cukup familiar.


Lalu makhluk itu pun tertawa, suara tawanya itu seperti suara seorang kakek tua yang tengah mengejek ku.


Aku langsung saja menoleh kebelakang.


" Astaga! Aki!" Seruku kaget serta melepaskan tangan aki dari leherku dengan kesal.


" Ck! Kenapa aki menangkap ku seperti tadi?! Aku kira setan atau mahluk dari dimensi lain. Bikin panik saja." Keluhku yang marah-marah pada Ki sugro. Ternyata dia tengah menjahili ku dan sengaja membuatku panik.


" Hahaha.. ternyata manusia sepertimu masih punya rasa takut." ejek Ki Sugro tertawa.


"Bukan takut ki, tapi kaget" ucapku kesal.


"Artinya kan sama saja, maaf sudah membuatmu panik, sebab aki bosan menunggu mu disini." keluh Aki sugro.


"Oh, jadi Aki yang membukakan pintu portal di rumahku, sampai menunjukan jalan ke sini." Ujarku.


Ki Sugro mengangguk.


"Tapi ini dimana Ki? dimensi apa yang aku datangi sekarang ?" Tanyaku memastikan. Karena biasanya aku yang mencari akses jalanku sendiri.

__ADS_1


" Iya. Aki memang sengaja langsung membukakan portal untukmu ke sini, Ini adalah dimensi siluman kera penunggu pohon keramat." Ucap Ki Sugro memberi tahu.


" Apa! Jadi ini tempatnya." Ucapku tidak menduga.


" Sebenarnya aki sudah menghabiskan banyak energi untuk bisa membuka portal menuju dimensi ini, Akan lebih menghemat energi jika kita masuk melalui portal di pohon keramat, tapi karena tujuan kita sekarang hanya untuk mengintai, lewat pintu portal di pohon keramat itu jadi berbahaya, pasti siluman kera itu mengetahui keberadaan kita." Tutur Ki sugro.


Aku mengangguk tanda aku paham dengan maksud Ki sugro. Aku pun mencoba memperhatikan sekitar.


Tempat ini suasananya seperti sore hari, langitnya berwarna oranye seperti matahari yang akan terbenam. Ada tanah lapang yang cukup luas terbentang jauh di depanku.


Aku dan Ki Sugro tengah berdiri di sisi bukit, dari balik rimbunnya semak-semak dan pepohonan.


Tanah lapang itu di kelilingi tembok besi kokoh dan kuat. Dari kejauhan aku melihat banyak siluman kera yang mondar-mandir.


Nampak juga ada beberapa manusia yang di kerangkeng.


Ada manusia yang di cambuk tanpa henti, ada pula manusia yang diikat tangannya dan di gantung.


Mereka semua terlihat menderita, ada yang menangis, ada yang menjerit, ada juga yang berteriak meminta tolong. Suara rintihan mereka seolah menjadi hal biasa bagi para siluman kera yang mendengarnya, seolah tidak peduli dan terus saja menyiksa manusia-manusia itu tanpa henti.


"Aku miris melihatnya ki. Namun Ada satu hal yang aku pahami, semua manusia disini bukanlah raga manusia asli kan? Mereka adalah Sukma-sukma manusia yang terjerat dan di tangkap oleh para siluman kera.


" Benar Anom, mereka adalah korban siluman kera, namun prosesnya penangkapannya berbeda, Sukma manusia yang menjadi budak disini, berasal dari sebuah perjanjian yang di lakukan antara siluman kera dan para manusia yang masih hidup di duniamu." Tutur Ki Sugro menjelaskan.


" Maksudnya perjanjian itu? Pesugihan?" Tanyaku memastikan.


Ki Sugro mengangguk.


" Astaga! Jadi mereka semua adalah korban tumbal?" Tanyaku lagi.


Ki Sugro mengangguk lagi.


Tidak dapat di percaya, ternyata pohon keramat yang di percayai warga selama ini, memang sengaja di keramat kan untuk ritual pesugihan. Berarti warga desa sengaja meminta dan memohon kepada siluman kera untuk mewujudkan keinginan mereka di bayar dengan tumbal manusia.


" Tapi dimana temanku Rusli Ki? Dari sekian banyaknya Sukma orang-orang disini, aku rasa,dia tidak di jadikan sebagai budak, Jelas sekali Rusli bukan korban tumbal melainkan korban yang di tangkap secara paksa oleh siluman kera." Tuturku.


" Mungkin dia yang ada di sana? Terlihat jelas dia di perlakukan berbeda dari yang lainnya." Tunjuk Ki Sugro pada salah satu pria yang seorang diri di ikat dan di gantung di antara dia pilar yang tinggi besar.


Pria itu sedang di cambuk berkali-kali oleh para siluman kera, tubuhnya sudah di penuhi oleh darah, dia terus berteriak memohon untuk di lepaskan.


Terlihat wajahnya memang mirip dengan sosok pria pada foto yang di tunjukkan Iman pertama kali, Dan aku yakin dia memang Rusli.


Ada satu hal yang baru aku sadari, dari sekian banyaknya siluman kera yang ku lihat ada siluman kera yang ukurannya jauh lebih besar dari yang lain.


Dengan mudah aku bisa mengenali, siluman kera yang ukurannya besar itu, dia adalah siluman kera yang muncul di hutan. Dan semua siluman kera yang lain nampak patuh dan mengagungkan siluman kera besar itu.


" Dia itu adalah Raja dari para siluman kera." Ucap Ki Sugro.


Ludahku tercekat mengetahui fakta itu. Ternyata lawanku sangat berat. Aku ragu dengan kemampuanku.


Namun Melihat penderitaan Rusli dan korban lainnya di siksa seperti itu, membuatku geram dan marah


Ingin rasanya aku bisa membebaskan mereka dari para Siluman kera.


Secara diam-diam aku menuruni bukit dan perlahan aku mencoba mendekati tanah lapang tersebut. Namun saat akan turun Ki Sugro marah.


"Heh Anom! Apa yang kamu lakukan?!" Seru Ki Sugro memperingatkan ku.


Aku tidak memedulikan seruan Ki Sugro. aku malah semakin ingin mendekati gerbang tanah lapang itu.


"Tunggu Anom! Jangan kesana! Jangan sekarang! Energi kita tidak akan cukup kuat!" Seru Ki Sugro dengan nada marah.


" Tapi ki, aku harus segera menyelamatkan Rusli dan korban lain nya di dalam sana." timpal ku.


Tiba-tiba entah kenapa suasana di tanah lapang yang tadi nya ramai dengan rintihan dan teriakan korban penyiksaan, menjadi hening seketika.

__ADS_1


Para siluman kera itu terdiam dan mulai mengendus-endus.


"Gawat. Apa aku kami ketahuan?" Bisikku


Terlihat ada satu siluman kera yang memanjat sebuah menara. yang tinggi menara itu sejajar dengan bukit tempat kami berada, dia tengah mengawasi sekeliling.


"Anom, bahaya! Cepat kembali." Teriak Ki Sugro memperingatkan.


Aku segera berlari dan kembali ke tempat Ki Sugro. Namun siluman kera di atas menara itu bersuara heboh. Seolah dirinya melihat kami dan memberitahu kepada siluman kera lainnya.


Meski aku coba berlari sekencang mungkin, tetap saja lambat karena jalanan agak menanjak, Tiba-tiba Ki Sugro punmelesat membopong tubuhku dan kembali ke tempat persembunyian tadi, tapi tidak di balik semak- semak melainkan di balik sebuah batu raksasa. Ki Sugro lalu menyuruhku untuk membungkukkan badan dan bersembunyi.


"Dasar bodoh! kamu mau cari mati." bentak Ki Sugro sangat marah padaku.


"Maaf Ki, aku terbawa emosi melihat mereka di siksa seperti itu. Aku ingin menolong mereka. Apa kita sudah ketahuan?" Tanyaku cemas.


"Entahlah, aki periksa dulu, lebih baik kamu tetap bersembunyi seperti itu." Titah Ki Sugro.


Saat Ki Sugro mengawasi sekitar, Tiba-tiba semak-semak yang jauh di depan kami bergerak-gerak sendiri


" Apa itu ki?" Tanyaku pada Ki Sugro.


" Bodoh! Kita sudah ketahuan. Ayo cepat pergi !" ajak Ki Sugro panik dan dia berlari ke atas bukit, tidak jauh dari batu raksasa ada sebuah goa. Ki Sugro pun masuk ke sana dan aku pun berlari menyusulnya.


Saat aku masuk ke dalam goa, tiba-tina ada cahaya putih bersinar terang dan menyilaukan mata. Ternyata Ki Sugro sendang membuka portal untuk kembali.


" Cepatlah Anom, mereka sudah dekat." Ucap Ki Sugro.


Dan benar saja dari kejauhan aku melihat beberapa siluman kera sudah mendaki ke arah goa, aku langsung berlari masuk ke dalam portal bersama Ki Sugro.


Seketika Sukma ku melesat cepat kembali ke dalam raga kasarku.


Aku langsung membuka mata, aku langsung menghela dan membuang nafas panjang.


Degup jantungku masih berdetak cepat karena panik tadi. Tubuhku tiba-tiba terasa letih, padahal yang beraktifitas wujud halusku. Tapi berpengaruh juga pada tubuh asliku, aku pun mencoba tetap tenang dan duduk diam untuk merenungi kejadian tadi.


Ternyata memang tidak mudah untuk menyelematkan Rusli.


Pasukan siluman kera di sana, sangat bnyak bagaimana caraku melawan mereka?


Jam di dining menunjukan pukul dua belas malam.


Wush!


Ki Sugro muncul di hadapanku, dengan wajah marah dan kesal.


" Gara-gara kecerobohanmu, Anom! kita hampir saja tertangkap oleh mereka. untung saja kita masih sempat untuk melarikan diri." ucap Ki Sugro kesal


"Maafkan saya Ki, aku terlalu tergesa- gesa. Aku ceroboh." Ucapku menyesal.


Nampak Ki Sugro memijat pelipisnya. Seolah sedang meredakan amarahnya.


"Ki, setelah mengintai tadi, aku menyadari dan baru membayangkannya saja, aku merasa akan kesulitan melawan siluman kera yang banyak seperti itu." ucapku mulai pesimis.


" Haaah.. sudahlah berpuasalah kamu besok hari, serta kumpulkanlah semua energimu, jika kamu sudah siap untuk menyelamatkan temanmu, Aki tunggu kedatanganmu di pohon keramat." Sahut Ki sugro.


" Tapi ki..


Tanpa sempat menanyakan tujuannya Ki sugro sudah menghilang begitu saja.


Untuk sekarang aku harus mengikuti arahan Ki Sugro, aku harus istirahat sejenak dan bangun untuk sahur nanti. Aku segera menyetel alarm di handphone ku.


Karena tubuh begitu lemas, dengan cepat Aku pun tertidur di atas sajadah yang belum sempat aku bereskan.


......................

__ADS_1


__ADS_2