Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Sandiwara


__ADS_3

Dia terus menatap ku tanpa berkedip, lalu dia berdiri seolah akan menghampiri kami.


Ternyata Asep juga menyadarinya.


" Bah, dia ke sini." bisik Asep mencolek tanganku.


" Aku tahu." jawabku singkat.


" Kalau dia tanya siapa kita, saya jawab apa?"bisiknya lagi sedikit gugup.


" Ya sesuai rencana awal, kamu berniat berobat padanya. Berpura-pura sakit karena hal mistis" jawabku berbisik lagi tanpa menoleh pada Asep.


" Tapi sakitnya apa?" tanya Asep lagi makin gugup karena dukun wanita itu semakin mendekati kami.


" Bebas." jawabku.


Kini dia tepat berdiri di hadapan kami. Lalu tiba-tiba Deni berdiri menyambutnya lebih dulu.


" Hallo Bu." sapa Deni


" Oh hallo Deni, kamu kemana saja? baru sekarang aku dapat bertemu lagi denganmu. Oh ya bagaimana kabar tokomu? semakin baik?" tanya Wanita itu yang fokusnya teralihkan pada Deni.


" Ya begitulah Bu, makannya saya datang kemari lagi." ucap Deni berbasa-basi.


"Hmm, bagus sekali, aku akan membantumu nanti. oh yaa aku lupa ingin menawarkan barang baru untuk penglaris tokomu. harganya cukup mahal tapi aku yakin kamu bisa membelinya." ujarnya menawarkan sebuah barang lagi pada Deni.


"Berapa kira-kira harganya Bu?" tanya Deni penasaran dan melirik padaku seolah dia memberitahuku beginilah dukun tersebut bertransaksi.


Aku cukup paham dengan kode yang di berikan Deni. Aku pun memperhatikannya.


" Kifaratnya tujuh ratus tujuh puluh tujuh ribu rupiah." ucapnya pada Deni sambil menunjukkan sebuah keris berukuran kecil.


Deni hanya tersenyum.


Dengan cara itulah dia menawarkan harga tinggi hanya untuk sebuah keris kecil.


" Baiklah Bu, simpan saja dulu, jika saya sudah ada uang saya akan membelinya nanti." jawab Deni.


" Hmm, Ya sudah tolong jangan terlalu lama, karena nanti bisa saja barang ini sudah laku terjual, sebab banyak sekali orang yang menginginkan barang ini." ujar Bu Rita seolah nampak kecewa.


" Baik Bu, saya akan usahakan secepat mungkin membeli nya, oh ya! Saya bawa teman saya, mereka berdua ingin berkonsultasi masalah mistis dengan ibu." ujar Deni memperkenalkan kami.


Kami pun bersalaman, lalu dia pun duduk di hadapan kami dengan membawa Tas yang berisikan kotak-kotak aneh di dalamnya.


Setelah saling memperkenalkan diri, kini kami tahu Nama dukun tersebut adalah Rita.

__ADS_1


" Jika boleh tau apa pekerjaan kalian?" tanya Bu Rita padaku dan Asep.


" Saya buruh pabrik Bu." ucapku.


" Kalau Saya, mm...saya pegawai negri" tutur Asep.


Mendengar ucapan Asep Bu Rita seolah tertarik, dia pun mendahulukan konsultasi Asep dibanding denganku.


Hmm.. bagus rencana mulai berjalan sekarang.


Aku dan Deni tersenyum bersama.


" Apa masalahmu Asep ?" tanya Bu Rita sangat ramah padanya.


" Saya sering mimpi buruk setiap malam." ujar Asep.


" Lalu Nandy apa permasalahan mu?" tanya Bu rita tiba-tiba padaku.


"Saya sering di datangi dua orang nenek kembar." ujarku memancingnya.


Dia nampak terkejut dengan ceritaku. namun seketika raut wajahnya berubah kembali biasa seolah menutupi kekagetannya, lalu Dia kembali fokus pada Asep, dan sejenak menatap pada Asep, Lalu dia seolah sedang menerawang Asep.


"Sepertinya kamu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, kamu sedang di permainkan oleh orang lain dengan cara di guna-guna." ujar Bu Rita sambil memejamkan matanya


Asep sedikit bingung, padahal dia berbohong dengan pernyataannya yang sering bermimpi buruk.


" Apa benar yang dia ucapkan tadi?"


" Tentu saja tidak, dia hanya ingin menakut-nakuti mu, bukankah kamu sedang berpura-pura, berarti penuturannya juga salah dia juga berbohong padamu jadi jangan terlalu terbawa suasana." ucapku berbisik mengingatkan Asep.


Asep hanya mengangguk.


Setelah Bu Rita membuka mata, dia tengah mengambil sebuah benda yang berada dalam kotak kecil miliknya.


Ada sebuah benda kecil di bungkus kain putih, bentuknya seperti sebuah boneka berbentuk pocong.


Bu Rita mendekatkan boneka pocong tersebut ke wajah Asep, Asep terlihat sedikit terkejut, ada raut wajah takut dan heran saat Boneka menyeramkan itu mendekat ke arah wajahnya.


Aku mencoba menahan tawaku karena eskpresi Asep terlihat lucu.


Sambil mendekatkan boneka pocong tersebut. Bu Rita menutup mata, lalu mengucap mantra yang tidak aku pahami, malah mantra itu terdengar aneh di telingaku. Seolah mantra itu di buat-buat olehnya.


Setelah ritual aneh tersebut, dia pun berkata.


"Guna-guna yang di kirim oleh seseorang padamu, ternyata membawa pengaruh yang sangat buruk pada tubuhmu, bahkan sudah cukup parah, sepertinya pengobatan sekali saja belum cukup untuk mengobatimu hingga sembuh total." ujarnya Bu Rita

__ADS_1


Asep sedikit melongo dengan penuturan Bu Rita.


" La, lalu saya harus bagaimana Bu, agar saya cepat sembuh?" tanya Asep berpura-pura risau.


" Sering- seringlah datang kemari, aku akan membuang dan membersihkan energi negatif yang ada pada tubuhmu, selebihnya barang yang tawarkan ini sangat berguna untukmu, barang ini dapat menjagamu saat kamu jauh dari jangkauanku, barang ini sangat penting untuk keselamatanmu jadi harus segera kamu gunakan sekarang juga, nah kifaratnya sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah." ucapnya sambil menunjukan sebuah cincin dengan batu berwarna hijau tua.


Asep sedikit menelan ludah saat mendengar harga yang di sebutkan.


Tentu saja harga tersebut setara dengan setengah gaji Asep sebagai buruh pabrik.


" Baiklah tolong simpan dulu barang tersebut Bu, saya tidak membawa uang tunai saat ini, saya akan pergi ke ATM untuk mengambil uang dan langsung membelinya, tapi bisakah sebelum itu ibu tolong obati dulu temanku yang satu ini" ujar Asep beralasan sambil merangkul pundakku dan tersenyum.


" Oh, tentu saja saya akan mengobati temanmu sekarang juga." ujar Bu Rita.


Kini fokus Bu Rita tertuju padaku.


" Coba ceritakan detail masalahmu padaku" ucap Bu Rita.


" Saya justru ingin menanyakan pada ibu apa yang sedang terjadi pada saya? karena saya bingung dan tidak tahu kenapa saya sering sekali di datangi oleh sosok nenek-nenek kembar." ujarku bercerita.


Dia sejenak terdiam. Namun aku tahu dia sengaja bersikap tenang agar tidak ketahuan olehku,


" ehemm, baiklah aku akan menerawang kamu lebih dulu." ucap Bu Rita lalu menutup matanya.


Hm, Sepertinya ada yang tidak suka padamu, dan dia sengaja mengirim hantu itu agar kamu selalu ketakutan, jika terus dibiarkan energi negatif itu akan menguras energi di tubuhmu dan juga mentalmu, bisa-bisa kamu menjadi stress bahkan yang terburuk kamu akan kehilangan akal sehat." ujar Bu Rita, seperti yang di katakannya pada Asep tadi, ternyata dia memang sengaja menakuti-nakuti tamunya seperti ini.


Aku sangat menyayangkan hal ini, kenapa ada


saja praktek perdukunan yang selalu memeras orang lain, bahkan orang yang benar-benar kesulitan pun mereka tipu.


Dengan akting terkejut aku berpura-pura meminta cara agar aku bisa terhindar dari hal itu.


" Kamu harus datang kesini lagi, tepat pada malam Jum'at depan dan jangan lupa kamu harus membawa sesajen, Nah, Disni kamu tidak perlu khawatir, biar saya yang menyediakan sesajen itu untuk ritualmu, jadi kamu hanya perlu memberikan sejumlah uang padaku untuk membeli bahan-bahan untuk sesajen." ujar Bu Rita membujukku agar melakukan transaksi


"Berapa Bu?"tanyaku.


" Sekitar delapan ratus ribu, itupun jika kamu ingin sembuh." jawabnya.


Aku sangat terkejut mendengar harganya, ternyata dia benar-benar seorang pemeras yang handal.


Belum sempat aku menjawab,


dia mengambil sebuah keris dari kotak miliknya.


Wah... Sepertinya pertunjukan akan di mulai sekarang.

__ADS_1


......................


__ADS_2