Menembus Dimensi

Menembus Dimensi
Memulai Rencana


__ADS_3

Setelah sekian lama aku berkeliling di dunia pararel, aku berhasil menemukan portal untuk kembali ke dunia nyata.


Saat aku mulai membuka mata, Aku masih berada di dalam kamar Deni.


Hufht, kejadian tadi benar-benar di luar dugaanku, syukurlah aku bisa kembali dengan selamat dan tepat waktu, jika aku tidak segera kembali ke ragaku, bisa-bisa aku terjebak di dunia pararel selamanya dan ragaku akan berada dalam kondisi koma.


Tok. Tok. Tok.


Tiba-tiba terdengar pintu di ketuk dari luar.


"Baah?"


ternyata Asep yang memanggilku.


" Ya Sep, tunggu sebentar." jawabku sambil meregangkan sedikit tubuhku yang terasa kaku karena duduk bersila dalam waktu yang lama.


Lalu aku beranjak untuk keluar kamar dan membuka pintu.


" Sedang apa Bah di dalam, kok lama sekali! Tidur ya?" tanya Asep heran.


" Ngawur nih! Masa saya tidur di rumah orang." jawabku sambil berjalan meninggalkan Asep menuju ruang tamu.


" Hehe saya kira Abah tidur, jadi saya coba ketuk pintunya supaya Abah bangun, terus jika bukan sedang tidur, ngapain dong?" tanya Asep yang mengikutiku dari belakang.


" Ya semedi lah sep." jawabku.


" Ooh.." ucap asep mengangguk.


Sesampainya di ruang tamu, Deni bertanya.


" Bagaimana Bah, urusan Abah sudah selesai?"


" Alhamdulilah sudah." jawabku dan duduk di kursi.


"Kalau boleh tahu kenapa tiba-tiba Abah ingin meminjam kamar saya? saya hanya merasa terkejut tiba-tiba Abah meminta saya meminjamkan kamar dengan wajah yang serius" tanya Deni penasaran


" Hehe iya maaf ya, saya malah bersikap seenaknya. Tadi saya pakai kamar itu untuk bersemedi, mencari mahluk yang selama ini


Mengganggu di sini." tuturku.


" Ada mahluk? maksudnya ada hantu di rumah saya?" ucap Deni kaget dan memastikan.


" Ya mungkin bisa di sebut seperti itu.," jawabku.


" Lalu? bagaimana sekarang? apa abah bisa menemukan mahluk tersebut dan menangkapnya?" tanya deni lagi.

__ADS_1


" Ya, bisa ,sepertinya mereka adalah mahluk kiriman yang di kirim oleh dukun yang selama ini menipu bang Deni, diam-diam mereka mengawasi gerak-gerik bang deni dan melaporkannya pada dukun tersebut." tuturku


" Pantas saja dia bisa tahu apa yang sedang saya lakukan di rumah, jadi itu sebabnya saya selama di rumah sering merasa tidak nyaman, ternyata ada mahluk seperti itu di rumah saya. Duh parno jadinya." ucap Deni marah.


" Lalu selanjutnya kita harus apa Bah?" tanya Asep.


"Kita datangi kediamannya, dan menunjukan kepada semua orang kalau dia penipu, dia akan malu dan kita buat semua orang sadar." ucapku.


" Bagaimana caranya? Itu terdengar cukup sulit, dia juga pasti sudah mengenali semua pasiennya, jika kita tiba-tiba datang, dia akan curiga karena kita orang adalah asing. Apalagi tiba-tiba menyadarkan semua orang kalau dia dukun palsu, itu cukup nekat bah!" ujar Asep


" Tidak, dia tidak akan curiga jika kita berpura-pura menjadi pasien baru yang ingin berobat, dengan alasan kita tahu tentang dia karena di ajak oleh Bang Deni." tuturku


"Kurasa ide itu cukup bagus. Dengan begitu dia tidak akan curiga, Jika kita punya bukti, kita bisa saja membongkar kebohongannya di depan semua orang." Ujar Asep terlihat bersemangat.


"Nah itulah rencana kita, namun ada hal yang ingin saya tanyakan bang? bagaimana cara dia mengobati pasiennya, sampai banyak orang percaya dia dia paranormal sakti." tanyaku penasaran.


" Hmm, waktu itu kalau tidak salah sebelum ritual tubuh kita di cek dengan sebuah benda, apakah kita terkena sihir atau tidak, kita akan bereaksi dengan benda tersebut, lalu saat dia beraksi dia akan menerbangkan sebuah keris di hadapan semua orang, keris itu benar-benar bisa terbang bah, itulah sebabnya dia di sebut paranormal sakti." tutur Deni


" Oh begitu .. aku mengerti." jawabku.


" Baiklah kapan kita akan beraksi?" tanya Asep.


" Besok saja, aku terlalu lelah saat ini karena bermeditasi tadi." ujarku.


Siapa yang tahu, jika aku sekarang sudah kehabisan tenaga, karena melawan mahluk yang di kirim dukun itu.


Asep dan aku mengangguk mengiyakan.


......................


Keesokan harinya.


Aku dan Asep seperti biasa pergi bersama menuju rumah Deni, Deni sengaja menutup tokonya hari ini. Setelah kami siap kami pun berangkat menuju rumah dukun tersebut.


Perjalanan cukup jauh, sekitar satu jam kami sampai, kediamannya berada di perkotaan namun masuk ke dalam sebuah gang, tidak di sangka rumah kediamannya begitu besar di antara rumah-rumah yang lainnya.


Paranormal palsu alih-alih mengobati dan menjual barang-barang pusaka dengan nilai yang tinggi, tentu mendapat keuntungan yang besar pula, tidak heran dia memiliki rumah besar seperti itu.


Saat di depan gerbang, kami memarkirkan motor di halamannya yang luas. Banyak sekali motor dan mobil-mobil lain yang terparkir disana.


" Banyak juga korbannya." seruku.


Asep dan Deni hanya tertawa.


"Ya Tidak heran dia menjual barang pusaka dengan nilai tinggi, ternyata dia juga pandai dalam mencari mangsa, dalam sekejap dia mudah meraup keuntungan yang besar." ujarku .

__ADS_1


" Ya bah benar, mereka yang datang kemari rata-rata para petinggi dan orang yang berpenghasilan tinggi." tutur Deni.


"Orang yang berpenghasilan tinggi namun ilmu dan iman nya minim, mudah saja tertipu dengan keris yang terbang" ejekku.


" Huh, orang kaya saja dapat tertipu, apalagi orang miskin kaya kita bang, Bang Deni mau saja ikut-ikutan di tipu keris terbang." Gerutu Asep.


" Iya sorry, tapi sekarang saya sadar kok sep, perlahan saya nggak akan begini lagi." tutur Deni terlihat menyesal.


Kami bertiga saling tersenyum sambil berjalan menuju pintu masuk kediaman paranormal tersebut.


Saat masuk aku begitu terpukau dengan interior mewah pada rumah ini, bahkan furniture nya terlihat mahal dan berkelas.


Cukup kagum, namun aku sadar ini mungkin kekayaan ini dia dapatkan dengan cara memeras orang lain, salahsatunya Deni.


Lalu kami di sambut oleh seorang penjaga, terlihat Deni tengah berbicara dengan penjaga itu, lalu Deni dan kami pun di antar oleh penjaga tersebut ke lantai dua, kami menaiki tangga yang mewah dan besar.


" Bicara apa Bang sama tuh orang?" tanya Asep berbisik


" Dia cuma penjaga, dia akan mengantar kita ke tempat pemiliknya


" jawab Deni pelan.


" Oh, si dukun palsu?" Asep berbisik lagi


" Sst.. Kita sampai." ucap Deni berbisik agar Asep sedikit memelankan suaranya.


Aku sedikit terkejut, saat tiba di lantai dua ku lihat banyak sekali orang berkumpul di depan sebuah ruangan. Padahal di lantai bawah tadi terlihat sangat sepi.


Mereka tengah berbincang satu sama lain membicarakan masalah pribadinya, ada juga yang sombong membicarakan kekayaannya, bahkan ada juga yang mengeluh dengan harga barang yang selalu di jual mahal oleh sang dukun, sepertinya dia juga salah satu korban lain seperti Deni.


Cukup lama kami menunggu, pintu ruangan di depan kami pun di buka oleh para penjaga.


Kami semua masuk ke dalam dengan tertib.


ruangan yang kami masuki sangat luas, bisa menampung banyak orang, sepertinya ini ruangan khusus yang di sediakan pemiliknya untuk transaksi dukun palsu.


Kami semua pun duduk melingkari ruangan, saling berhadapan. Tibalah sang pemilik datang muncul di hadapan kami.


Aku sedikit kaget, karena ternyata dukun tersebut adalah seorang wanita paruh baya. Dia memakai pakaian tertutup dengan riasan wajah yang memberi kesan kuat dan di segani


Mungkin bagi beberapa penilaian orang dia terlihat berwibawa.


Dia nampak memperhatikan tamu-tamu yang datang, lalu sorot matanya tertuju padaku dan Asep


Apa yang sedang di pikirkan nya? Apa mungkin dia sudah mengetahui rencana ku?

__ADS_1


......................


__ADS_2