MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
GENGSI


__ADS_3

Sontak Raiden melototkan matanya, menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Mungkin jika membunuh bukan dosa, detik ini juga Tasya akan lenyap.


Bagaimana coba caranya melahirkan melalui mulut, astaga Raiden tidak habis thinking dengan anak yang satu ini.


"Menurut sejarah yah om–"


"Sejarah apa? nilai sejarah kamu aja D," sela Raiden memotong ucapan Tasya.


"Lah kenapa emangnya kalo D? ya bagus dong, D itu besar karena diurutan keempat di alfabet,"


"ASTAGA, SIAPAPUN TOLONG LENYAPKAN DIA DARI MUKA BUMI INI!" teriak Raiden syok.


"Jahat banget sih om, ingat dosa,"


"Terserah, saya gak peduli."


Raiden bangkit dari tempatnya, duduk di sofa membelakangi Tasya. Lebih baik sibuk dengan kerjaan, dari pada mendengar ocehan tidak jelas dari bibir pink itu.


"Om,"


Hening tidak ada sahutan. Raiden memilih sibuk dengan laptopnya tanpa memperdulikan ucapan istrinya.


"Tasya numpang tidur, jangan ngambek loh yah."


"Terserah,"


Tasya bersorak senang, dengan senyuman lebar kembali memejamkan mata dan menyelami dunia mimpi.


Pukul 01:00 manik cokelat itu masih setia memandang layar komputer, mata fokus menatap lurus kedepan dengan pikiran berkeliaran kemana-kemana.


Sesekali terdengar helaan napas panjang dan bunyi keyboard bersahutan. Hingga rasa ngantuk menyerang, baru Raiden mematikan laptop nya dan beranjak dari tempatnya.


Di ranjang terlihat tubuh ramping itu tidur dengan anggun nya, seraya memeluk boneka ulat nya. Dalam kondisi seperti ini, Tasya terlihat seperti anak kecil apalagi wajah cantik itu terlihat tenang, bibir dimanyukan kedepan menambah kesan imut dimata Raiden.


Puas memandang wajah cantik itu, Raiden beralih mematikan lampu. Perlahan naik keatas ranjang sembari membuka kaosnya.


"Om,"


"Lah bukan nya tidur?"


"Gelap,"


Terdengar helaan napas panjang, tubuh kekar itu berbaring di atas ranjang dan menarik tubuh ramping itu kedalam dekapannya.


'Nyaman' satu kata yang terlintas dalam benak Raiden. Rasanya nyaman memeluk tubuh ramping ini. Aroma rambut yang menguar memasuki indra penciumannya, hingga terasa jemari membalas pelukannya.


"Om wangi,"


"Kamu doang yang bau,"


"Masa sih om? padahal tiap malam, Tasya wajib merendam di kolam ikan tetangga,"


"Astaga,"


"Iya, om."


"Jangan bercanda Tasya! ini udah malam,"


"Om, takut?"


"Gak, tapi kalo kamu kesurupan om gak bisa bantu."


"Ck, jahat banget sih om. Diajak malam pertama gak mau, malah sok polos padahal udah tua."


"Diam!"


"Melahirkan Anak katanya gampang kok om, kalo mau anak kembar tinggal di keluarin dari hidung. Kalo mau satu, dikeluarin dari mulut."


Raiden hanya berdecak kecil, beberapa detik kemudian napas teratur terasa menerpa dada t*lanjang nya. Dalam waktu yang singkat Tasya sudah tertidur lelap.


"Pantasan ngawur," cibir Raiden.


Raiden menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, perlahan memejamkan mata ikut menyelami dunia mimpi dengan istri kecilnya. Gagal malam pertama, minimal tidur berdua.


______________


Pukul 06:00 Raiden terpaksa bangun dari tidurnya, dengan ragu melepas jemari yang memeluk erat tubuh kekarnya, pelukan pengantar tidur sekaligus alasan tidur nyenyak malam ini.

__ADS_1


Seumur-umur kedua kalinya Raiden tidur nyenyak dan Tasya alasannya.


"Terimakasih," bisiknya, sembari mengelus lembut wajah cantik itu. Dengan berat hati bangkit dari tempatnya.


Ibarat pencuri itulah gambaran Raiden saat ini, padahal tidur seharian diatas ranjang memeluk tubuh ramping itu bukanlah dosa. Tapi gengsi lebih mendominasi.


Kamar kembali terang seperti semula, grasa grusu Raiden memasangkan kaosnya kembali dan merapikan selimut menutupi tubuh ramping itu.


Tasya tidak boleh tau mereka tidur berdua, terutama pelukan semalam.


Tepat pintu kamar mandi tertutup, Tasya bangun dari tidurnya dengan wajah linglung.


"Dimana? kok hitam semua?"


Tasya mengaruk kepalanya, dengan malas bangkit dari tempatnya duduk ditengah-tengah ranjang sembari mengamati sekeliling.


"Oh, kamar mas suami. Tapi orangnya mana?"


Terdengar percikan air dari kamar mandi, tatapan Tasya langsung fokus kearah pintu kamar mandi. Detik, menit berlalu. Akhirnya pintu kamar mandi terbuka, menampakkan tubuh kekar dengan handuk yang melilit pinggangnya.


Manik Tasya melotot, menatap tubuh kekar itu yang terlihat sempurna. Siempunya belum menyadari hal itu, jemarinya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk dan berlalu masuk kedalam walk closet.


"Astaga, perut kotak-kotak."


Tasya mengusap wajahnya kasar, memastikan penglihatannya.


"Kenyataan, astaga om suami keren banget."


Pemandangan yang selalu Tasya lihat ditutupi setelan formal itu, ternyata lebih indah dibaliknya. Otot-otot, perut kotak-kotak, dada bidang semua terlihat sempurna. Jemarinya gatal untuk menyentuh pemandangan itu, walau sebenarnya itu tidak akan mungkin terjadi, tapi tidak untuk Tasya.


"Ngapain? mandi sana!"


Sontak Tasya sadar dari lamunannya, beralih ke arah suara dan tersenyum kaku kearah suaminya.


"Ck, anak gadis bangunnya kesiangan," cibir Raiden.


"Lah emangnya kenapa?"


"Emang kamu gak malu sama saya?"


"Biasa aja tuh,"


Mampus, batin Raiden.


Dua kancing piyama itu terbuka, terlihat sedikit tanda kemerahan bekas gigitannya semalam. Raiden lupa mengancing piyama itu kembali, semoga saja gadisnya tidak menyadari hal itu.


Semalam ia lepas kendali, jiwa setan nya lebih mendominasi berakhir seperti itu.


"Om,"


"Hm,"


"Tidur dimana?"


"Sofa," kilah Raiden.


"Masa sih?"


"Jangan banyak omong, mandi sana. Nanti telat,"


Terdengar decakan kecil, tubuh ramping itu bangkit dari tempatnya berlalu keluar dari kamar. Hingga pintu tertutup, baru Raiden menghela napas lega. Semoga saja gadisnya lupa kejadian semalam.


Suasana sarapan kali ini tengang atau Raiden yang merasa dicurangi. Sesekali Tasya melirik kearahnya, menatapnya tajam seakan mengintimidasi.


"Om,"


"Apa?"


"Jujur!"


"Apa nya?"


"Kita tidur bareng kan?"


"Gak, kepedean kamu."


Tasya mencibir, bangkit dari tempatnya berpindah duduk di samping suaminya.

__ADS_1


"Om bohong kan?"


"Gak,"


"Bohong. Om tidur di samping Tasya, peluk Tasya malah,"


"Jangan ngawur!"


"ASTAGA, TASYA GAK BOHONG OM!"


"Gak usah teriak-teriak. Saya belum tuli,"


Dengan santainya Raiden bangkit dari tempatnya, meraih ponselnya dan di masukkan ke dalam saku jas hitamnya. Berlalu dari meja makan, di ikuti Tasya dari belakang


"Om peluk Tasya semalam kan?"


"Kepedean,"


"Jujur aja om, Tasya gak mimpi itu pasti nyata."


Raiden menahan mati-matian senyumannya, terhibur sekaligus lega gadisnya tidak mengingat apa-apa kejadian semalam.


Raiden Ingat betul kebiasaan gadis yang satu ini, terkadang Tasya bangun tengah malam dan meracau tidak jelas. Tapi pagi nya dia tidak mengingat apa-apa.


Sebenarnya salah masuk kamar setelah pulang dari kantor itu sudah berulang kali terjadi, untungnya Raiden sadar saat manik itu terbuka dan meracau kearahnya bahkan membalas ucapannya, tapi paginya Tasya tidak mengingat apa-apa.


Entah mengapa waktu itu gadisnya tidak meracau seperti biasanya, berakhir salah paham.


"Om, Tasya mau ngomong sesuatu," ucap Tasya serius.


"Mulai dari tadi juga kamu ngomong,"


"Yang ini serius,"


"Emang masih ingat cara ngomong serius?"


"Dengerin dulu om,"


"Emang kamu pikir saya gak punya telinga, makanya kamu ngomong gitu?"


"Astaga, orangtua yang satu ini susah banget diajak kompromi,"


"Sejak kapan saya orangtua? kamu aja belum hamil anak saya,"


"Astaga Tuhan, mungkin robot yang satu ini tercipta begini," gerutu Tasya.


Spontan Raiden tersenyum tipis, tepat gadisnya menundukkan kepala.


"Iya-iya, ngomong aja gak usah nangis,"


"Tasya kesal sama om,"


"Silahkan,"


Wajah cantik itu terlihat kesal, bibirnya dimanyukan kedepan dengan tatapan tajam. Raiden hanya mengangkat bahunya acuh, kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan ocehan gadisnya.


Hingga jas hitamnya ditarik-tarik dari belakang, pundaknya terasa dirangkul susah payah bersahutan bisikan di telinganya.


"Om, lihat cowok yang berdiri dekat gerbang," bisik Tasya serius.


Raiden mengikuti arah tunjuk jemari lentik itu, menatap punggung seseorang yang terlihat sibuk membeli sayuran dari tukang sayur keliling.


"Siapa emangnya?"


"Gak tau,"


"Jadi urusannya apa sama saya?"


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, berlari terbirit-birit keluar dari rumah sesekali berbalik menjulurkan lidahnya.


"BOCIL!"


Tasya hanya tertawa, berlalu keluar dari pekarangan rumah masuk kedalam mobil merah yang sudah standby menunggunya setiap hari, Alex dan Zara.


Tanpa mereka sadari sepasang mata tajam menatap mereka dari kejauhan, dengan tampang datar dan senyuman smirk.


______________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


AKU SENANG BANGET BACA KOMENTAR KALIAN, APALAGI BILANG NGAKAK BACA NOVEL INI. JADI GAK SIA-SIA OTAK 3GB SAYA INI UNTUK MENCARI ALUR TIAP HARI:)


__ADS_2