
Garendra ayah Rudi yang duduk di sofa ruang tamu, hampir mendengar semua pembicaraan Rudi dengan seseorang dibalik pintu rumah. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Pandangan fokus kearah lembaran koran, yang ada digenggamanya.
Garendra yakin, Raiden pasti sengaja melakukan hal itu. Setelah beberapa tahun putranya mengubah kepribadiannya menjadi Ruby, mulai saat itu juga Rudi tidak mau berhubungan dengan wanita. Seakan menganggap dirinya kaum hawa juga.
Bahkan Raiden yang biasanya datang ke rumah sekali sehari, kini malah datang sekali setahun. Itu juga datang mengobarkan perperangan, sakit hati melihat perubahan sahabatnya.
Dari dulu sampai sekarang, dua sekawan itu tidak bisa terpisahkan, bahkan banyak yang beranggapan mereka berdua g4y saking kompaknya.
Nyatanya hanya sebatas teman dekat, saling membutuhkan satu sama lain.
Bahkan pembunuhan yang sempat viral belakangan ini juga, Garendra tahu putranya dalang dibalik itu semua. Hanya membalaskan dendam sang sahabat.
"Anak siapa?" tanya Garendra. Tepat pintu tertutup, tanpa melirik sedikitpun kearah putranya.
Rudi yang awalnya hendak menaiki tangga, menoleh kearah suara.
"Calon anak," sahut Rudi dengan santainya.
"Anak siapa?" ulang Garendra lagi.
"Ck, calon anak aku. Berarti calon cucu papa,"
"Sejak kapan?"
"Kapan-kapan, iya gak cantik? Rahel panggil dia, kakek," tunjuk Rudi kearah Garendra. Yang duduk di sofa membelakangi mereka.
Manik kecil itu mengerjap, detik berikutnya menganggukkan kepala.
"Kakek," ujar Rahel girang.
"Pintar, jadi mulai sekarang Rahel panggil om papi juga. Oke."
"Papi?"
"Iya, 'kan ada mami. Berarti harus ada papi,"
"Berarti Rahel punya papi?"
"Iya, dong."
Wajah cantik itu berbinar, menatapnya dengan tatapan kagum.
"Rahel punya papi, yes."
Rudi hanya mengangguk, mengecup lembut pipi chubby itu dan kembali menaiki tangga satu persatu berlalu masuk kedalam kamar.
Garendra yang mendengar pembicaraan mereka berdua hanya mengehela napas. Meletakkan koran yang ada di ngengamannya keatas meja.
Sebenarnya bukan hanya Raiden yang kecewa melihat perubahan Rudi, dia juga cukup kecewa. Demi wanita yang mereka cintai, putranya rela melakukan hal diluar nalar.
Bahkan selama ini, menjadikan pekerjaan pelarian sementara. Sampai lupa siapa dirinya sendiri.
__ADS_1
"Semoga saja wanita itu mau menerima kekurangan putra saya," gumam Garendra penuh harap.
________________
Ucapan Tasya benar-benar kenyataan. Raiden jatuh sakit, suhu tubuhnya beda dari yang biasanya tapi sayangnya dia tidak bisa merawat suaminya sedari tadi.
Kedua orangtuanya benar-benar datang dan menangis meminta maaf. Padahal Tasya tidak terlalu memikirkan hal itu. Apalagi sekarang dia tahu sulitnya menjalani dunia Pernikahan.
"Maafin mama nak,"
"Iya, ma. Jangan nangis lagi! aku gak gak papa kok."
Tasya memeluk tubuh wanita paruh baya itu, mengelus lembut punggung ibunya.
"Kamu boleh marah sama mama, mama gak larang. Mama memang salah,"
"Gak boleh ngomong gitu, aku baik-baik aja kok ma. Mama jangan nangis lagi!"
Raina yang mendengar ucapan putrinya semakin merasa bersalah, akibat kesalahannya dan suaminya selama ini, putri semata wayangnya sering mengucapkan kalimat itu.
Biasanya orang yang selalu mengucapkan kalimat "aku baik-baik aja" adalah orang yang paling terluka. Memilih pasrah dengan keadaan, walau sebenarnya tidak terima apa yang terjadi.
Raina akui dia memang salah, memilih sibuk dengan urusannya sendiri selama ini agar pikirannya teralih dari kehidupan nyata. Walau sebenarnya itu salah, yang ada menambah luka.
"Mama jangan nangis lagi! nanti aku benaran marah," ancam Tasya.
Terpaksa Raina menahan isak tangisnya, melongarkan pelukannya dari tubuh ramping itu. Beralih menangkup wajah putrinya dan mencium setiap inci wajah cantik itu.
"Anak mama udah besar,"
Sontak Raina tertawa kecil, membiarkan jemari lentik itu menghapus jejak air matanya.
"Mama udah tua ternyata,"
"Jahat ih, sama mama."
"Oh, aku lupa. Mama 'kan manusia tercantik sedunia," sindir Tasya halus.
Mengabaikan papa nya yang sedari tadi duduk disampingnya, memeluk tubuhnya dari belakang sambil berbisik lirih.
Bukannya Tasya dendam tapi memberi sedikit pelajaran. Biar papa nya tahu rasanya diabaikan, rasanya tak dianggap. Apalagi perselingkuhan suatu hal yang paling Tasya benci. Hal yang paling sulit dimaafkan, bahkan seharusnya tidak bisa dimaafkan.
Mama nya sempurna, semua ada pada diri wanita cantik dihadapanya. Dasar iblis saja yang terlalu berkuasa.
"Mama jangan nangis lagi, aku gak papa," ucap Tasya lembut.
Ratna yang sedari tadi duduk di sofa single tersenyum bangga mendengar ucapan cucunya. Tak sia-sia Ratna merawat cucunya selama ini, apa yang ia ajarkan, semua Tasya cerna baik-baik.
"Suami kamu mana?" tanya Raina. Tanpa henti mencium wajah putrinya.
"Di kamar, kurang enak badan."
__ADS_1
"Yaudah kamu ke kamar aja gih, bawa air hangat sekalian kasih minum obat."
Terpaksa Raina melepas pelukannya, bagaimanapun juga, semua berkat menantu nya. Kalo bukan karena bujukan Raiden, Raina tidak akan ada di sini.
Raiden membujuknya mati-matian, pagi, siang, malam tanpa henti. Bahkan tidak segan-segan mengirim pesan dan datang ke tempat kerjanya. Demi kebahagiaan putri semata wayangnya.
"Mama istirahat, jangan kerja terus. Ingat kesehatan!" peringat Tasya.
Bangkit dari tempatnya, berlalu menjauh menaiki tangga satu persatu tanpa memperdulikan papa nya.
Ratna yang mengerti hal itu, hanya tersenyum menenangkan kearah menantu nya.
"Semua ada prosesnya. Mungkin kesalahan kamu terlalu fatal, makanya Tasya seperti itu."
Richard hanya mengangguk, menunduk pasrah.
_______________
Dengan pergerakan sepelan mungkin, Tasya ikut bergabung masuk kedalam selimut. Berharap manusia yang tidur diatas ranjang tidak terngangu sedikitpun.
Namun sayangnya, Raiden merasakan pergerakan itu. Mengubah posisi tidurnya, yang semula tengkurap kini menghadap kearah penganggu tidurnya.
"Maaf," cicit Tasya.
Tersenyum lebar kearah suaminya, sembari menarik selimut.
"Ck, siapa yang bolehin kamu nangis?" tanya Raiden ketus.
Menarik pinggang ramping itu merapat dengan tubuhnya, meneliti wajah cantik itu yang terlihat sembab habis menangis.
"Emangnya kenapa? muka om makin pucat," elak Tasya.
Menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya, dengan gemas mengecup sudut bibir suaminya.
"Jangan sekarang!"
"Apanya?" tanya Tasya bingung. Mengelus lembut wajah pucat suaminya, tanpa melepaskan tatapannya dari manik hitam itu.
"Jangan mancing! aku gak punya tenaga,"
"Mesum."
"Kalo mau cium, harus semua yang dapat. Jangan cuman yang diatas,"
"Jangan mesum mulu ih, otak om makin hari makin jorok."
Raiden hanya tertawa kecil, memajukan wajahnya sedikit demi sedikit hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung istrinya.
Mengecup sekilas bibir bibir pink itu, dengan manik terpejam.
"Kamu gak boleh nangis!"
__ADS_1
________________
TERIMAKASIH:)