MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
KORBAN 2 + CAST TASYA


__ADS_3

Sore ini Zara kembali histeris, untung Alex siap siaga berjaga 24 jam bahkan membiarkan Zara memukul tubuhnya, asal tidak melukai diri sendiri.


Potongan kejadian itu kembali muncul, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Korban di perlakukan layaknya b*natang, di potong-potong hingga tak berbentuk.


Tubuh Zara gemetar hebat, tatapannya kosong dengan penampilan yang berantakan. Alex hanya bisa memeluk tubuh sahabatnya, sesekali berbisik lirih dan meramalkan doa.


Pelan-pelan tubuh Zara tenang, walau tangisannya semakin menjadi-jadi.


"Za," bisik Alex lembut, menyelipkan helaan rambut Zara di belakang telinganya dan mencium pelipisnya.


"Jangan takut, Lo gak salah. Mungkin itu garis takdirnya. Kita cuman bisa doa, biar dia tenang dia alam sana."


"Gue takut,"


Gue lebih takut, Lo cuman milik gue. Gak ada yang boleh ngambil Lo dari gue, apa pun itu. Batin Alex.


Bibirnya tidak henti-henti mengucapkan doa, sembari mengelus lembut surai hitam sebahu itu.


Cara ampuh Alex berhasil kali ini, yang tersisa hanya isakan tangis. Tubuh Zara kian melemah, kehabisan tenaga. Pukulannya hanya di lampiaskan ke punggung kekarnya, dengan pukulan kecil.


Siempunya tidak mengatakan apa-apa, hanya berdoa dengan suara serak menahan tangis. Walau sebenarnya, wajah Alex sudah lebam. Beberapa helai rambut berserakan di atas lantai.


Zara histeris, hingga tidak memperdulikan sekitarnya. Tapi Alex tidak mempermasalahkan hal itu, asal Zara tenang.


Rasanya terluka melihat Zara seperti saat ini, dia tidak salah apa-apa tapi harus menanggung beban yang berat. Yang lebih sial nya, dalang dibalik semuanya malah hilang entah kemana.


Meninggalkan darah dagingnya sendiri, dengan beban yang tidak sepantasnya Zara pikul.


________________


Merasa puas dengan tidurnya, manik biru itu perlahan terbuka. Mengerjapkan matanya berkali-kali menyesuaikan cahaya lampu yang terlihat menyilaukan.


Semilir angin mengalihkan intensi nya, menoleh kearah kaca balkon yang terbuka. Menampakkan punggung kekar b*telanjang dada, dan asap rokok yang mengembul di udara. Berdiri tepat di depan kaca balkon.


Suaminya terlihat fokus berbicara dengan seseorang di balik telepon, Tasya tidak bisa mendengar apa-apa, tapi terlihat suaminya serius. Sesekali menganggukan kepala.


Mereka sudah ada di kamar, langit sudah gelap. Tasya mengakat lengannya memastikan pakaian apa yang ia gunakan sekarang. Ternyata kemeja putih suaminya, dengan aroma khas tubuh kekar itu.


Bibir nya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis, beralih menatap punggung itu kembali.


"Om,"


Tubuh kekar itu langsung berbalik, menaikkan sebelah alisnya. Mematikan sambungan telepon seraya melempar puntung rokoknya.


"Kenapa?" tanya Raiden, melangkah mendekat kearahnya. Duduk di tepi ranjang sembari membantu gadisnya bangkit dari tempatnya.


"Kok Tasya gak dibangunin,"


Terdengar decakan kecil, bersahutan pukulan kecil di dahi nya.


"Kebo."


"Yah, kok Tasya malah di pukul sih."

__ADS_1


"Saya bangunin kamu berulang kali, kamu nya aja yang gak mau bangun," elak Raiden.


Sebenarnya Raiden sama sekali tidak membangunkan Tasya, rasanya tidak tega apalagi wajah cantik itu terlihat tenang dan tidur nyenyak.


Bahkan saat Raiden memasangkan kemeja nya di tubuh ramping itu, siempunya tidak terganggu sama sekali. Yang ada semakin tertidur, dan meracau tidak jelas.


Semua karyawan langsung heboh, bertepatan ia keluar dari lift membawa tubuh ramping itu dengan santainya. Mungkin gosip tentang mereka berdua sudah tersebar luas, apalagi Raiden sengaja mencium pucuk rambut gadisnya sepanjang lorong.


"Yah, rok Tasya mana?"


Siempunya histeris, menatap tajam kearah suaminya dengan manik yang membola.


"Om pegang Tasya diam-diam? Om mesum banget sih, Tasya gak suci lagi."


Raiden hanya berdecak kecil, menatap gadisnya yang terlihat heboh sendiri. Berusaha menutupi tubuhnya, walau tetap saja Raiden bisa lihat pakaian dalam berwarna pink bergambar hello Kitty.


Bisa dibayangkan anak SMA memakai pakaian dalam seperti itu? Raiden bahkan tertawa terbahak-bahak melihat penampakan itu untuk pertama kalinya.


"OMG, Tasya gak suci lagi. Kalo Tasya hamil gimana? Nanti yang kasih makan anak Tasya siapa? Tasya cari duda beranak satu dimana? kalo–"


"Astaga otak kamu jorok banget," sela Raiden memotong ucapan gadisnya.


Menarik tubuh ramping itu mendekat, dengan entengnya mengangkat tubuh ramping itu keatas pangkuannya.


"Om, Tasya masih di bawah umur. Kalo Tasya hamil gimana? cara melahirkan gimana?"


Raiden hanya tertawa kecil, merasa terhibur melihat tingkah konyol gadisnya. Ada-ada saja kelakuannya.


"Om,"


"Kita belum ngapa-ngapain, janjinya kan besok."


"Bohong,"


"Aku gak bohong, buktinya kamu masih bisa jalan sama gerakin badan. Kalo besok, gak."


"Kenapa?" tanya Tasya dengan polosnya.


"Kita mulai dari malam nya hingga ke malam nya lagi."


"YAH, GAK BISA GITU DONG. NANTI TASYA LUMPUH,"


"Gak bakal,"


"Om jahat banget sih,"


"Mana ada,"


Drama tetap berlanjut, walau kenyataannya berbeda. Mulutnya menolak, nyatanya tubuhnya tidak. Tasya malah mlilitkan kedua kakinya dipinggangnya, seraya memeluk leher nya.


"Om, jahat."


"Belum mulai,"

__ADS_1


"Jahat,"


"Tunggu besok, baru kamu ngomong gitu."


"Om jahat,"


Raiden hanya mengeleng-gelengkan kepala, membalas pelukan hangat itu tak kalah erat dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.


Jujur hidup berdampingan dengan gadis yang satu ini membolak balikan kehidupan nya. Hidup monoton perlahan terhempas, walau masa lalu itu terkadang menghantui.


Setiap hari ada saja tingkah nya, tak habis-habisnya berulah. Tapi sayangnya mengisi kekosongan hati dan pikirannya.


"Om,"


"Iya, kenapa sayang?"


"Ohm, so sweet."


"Ngomong apaan sih?" tanya Raiden, dengan menahan tawa setengah mati.


"Om makin hari makin so sweet? belajar dimana?"


Tasya menarik wajahnya, menatap wajah tampan itu dengan menautkan alisnya. Hingga kedua alis nya menyatu.


"Belajar apaan?"


"Belajar romantis,"


"Ck,"


"Kan biasanya om kayak kulkas, es batu, kutub Utara, apa lagi yah?"


Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, mengecup bibir pink itu sekilas. Yang sayangnya berdampak besar untuk siempunya.


Astaga, dia makin berani. Batin Tasya.


_______________


TERIMAKASIH:)


MAAF AKU GAK BISA BALAS KOMENTAR, KEPALA PUSING JADI GAK MOOD. TAPI TERIMAKASIH DUKUNGANNYA:)


#VISUAL NONA MUDA DIRGANTARA






#RAIDEN NYA JANGAN DI INGAT-INGAT LAGI, DIA MEMANG GANTENG. HAHAHA.

__ADS_1


__ADS_2