
Diluar dugaan reaksi gadisnya tidak seperti yang Raiden bayangkan. Tasya hanya diam mematung, membuat Raiden semakin berani bertindak. Mengelus lembut paha mulus gadisnya, dengan seringai licik tercekat jelas di wajahnya.
Jemarinya terus bergerak mengikuti lekukan tubuh ramping itu, perlahan tapi pasti menyelusupkan jemarinya masuk kedalam kemeja putih itu. Mengelus lembut punggung gadisnya, seakan mengodanya.
Tubuh siempunya semakin menegang, desiran aneh mengalir dalam aliran darahnya seirama elusan lembut jemari suaminya. Manik biru itu perlahan terpejam, namun detik berikutnya Raiden sudah di bawah kuasa tubuh ramping itu.
"Jangan macam-macam!" ancam Tasya.
Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan wajah kesal gadisnya. Melihat wajah cantik itu kesal, suatu kesenangan tersendiri untuknya.
Apalagi bibir pink itu mengerucut kedepan, sesekali memukul dada bidangnya.
"Om jahat banget sih,"
"Emang kamu mikirin apaan, hm?"
Raiden tertawa kecil, membiarkan tubuh ramping itu duduk di atas perutnya. Memilih memandang wajah cantik itu dari bawah, dengan kedua tangan diletakkan di belakang kepala.
"Om cari kesempatan mulu,"
"Mana ada," elak Raiden.
"Barusan."
Raiden mengerutkan dahinya, pura-pura berpikir dengan kedua mata berputar. Tapi sayangnya gadisnya malah semakin kesal, memukul tubuhnya semakin bruntal.
"Om-om mesum,"
"Jangan mukul, gerak aja. Kamu yang pimpin,"
"Mesum banget sih om."
"Emang kamu paham maksud ucapan saya?"
Sekejap wajah cantik itu memerah, mengigit bibir bawahnya seraya mengalihkan tatapannya kearah yang lain.
Skakmat Raiden semakin berani memojokkannya. Sial, sial, sial, Tasya harus lari kemana? wajahnya terasa panas, manik cokelat itu tidak berniat mengalihkan tatapannya.
Melihat reaksi gadisnya, Raden hanya mengulum senyum. Menunggu reaksi selanjutnya.
"Jadi kamu tau maksud ucapan saya?" ulang Raiden lagi.
"Tau, Tasya kan udah dewasa."
"Jadi?"
"Apanya?"
"Coba gerak, tunjukkin sama saya kalo kamu udah dewasa."
Dasar om-om mesum. Cari kesempatan dalam kesempitan mulu tiap hari. Tau gini jadinya, mending om jadi kulkas aja tiap hari. batin Tasya.
"Buruan! perlu saya ajarin, hm?"
Sontak Tasya gegalapan, mendorong tubuh kekar itu kembali seperti semula dengan menahan sumpah serapah di dalam hati.
"Buruan!" desak Raiden, sembari menahan tawa setengah mati.
__ADS_1
Seulas senyuman manis langsung terukir indah dibibir pink itu, dengan tatapan mengoda sepuluh jemari lentiknya bergerak menyelusuri dada bidangnya. Bergerak pelan naik keatas, berhenti tepat di area lehernya.
"Om suami tersayang,"
"Iya, kenapa sayang?"
"Mati aja om, sumpah."
Tasya m*ncekik leher suaminya, bersahutan tawa Raiden mengema seisi kamar.
Bukannya Raiden takut, malah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah kesal istrinya. Jemari lentik itu bergerak naik keatas, menjambak rambutnya dengan sekuat tenaga.
"SUMPAH, OM MAKIN HARI MAKIN NGESELIN."
Tawa Raiden semakin pecah, perutnya terasa sakit saking capeknya tertawa terbahak-bahak.
Tubuh ramping itu semakin bruntal, bergerak lincah di atas tubuhnya tanpa siempunya sadari.
"Udah Sya, capek."
"Biarin, siapa suruh om bandel."
"Udah Sya!"
"Gak,"
"TASYA." pekik Raiden, tepat gigi tajam gadisnya menancap di area lehernya. Menggigit kencang, tanpa ampun sedikit pun.
"SAKIT, WOI! BUKAN GITU CARANYA," jelas Raiden, dengan menahan sakit.
Bisa-bisanya Raiden sempat menjelaskan cara menciptakan kissmark, padahal nyawanya sudah terancam di ambang gairah yang perlahan memuncak.
Leher Raden kini penuh dengan bekas gigitan, mungkin sebentar lagi berubah warna.
Dengan senyuman jahat Tasya menatap hasil karyanya, tanpa sadar memberi ruang untuk Raiden mengganti posisi mereka.
"YAH?"
Sekarang Raiden yang tersenyum jahat, kedua kaki jenjangnya mengunci pergerakan gadisnya dengan tatapan jahil.
"JANGAN MACAM-MACAM!"
"Cuman satu macam kok sayang, nikmati aja. Siapa suruh kamu bandel,"
Manik biru itu melotot sempurna, berusaha mendorong tubuh kekar itu walau tetap saja hasilnya sama. Kekuatannya terkuras habis, Tasya tidak mampu lagi melawan tubuh kekar itu.
Jantungnya kian berdetak kencang, menatap was-was lengan kekar itu. Satu persatu kancing kemeja putih itu terlepas, tiga kancing teratas terbuka menampakkan b*a hitam, dan belahan dada nya.
"YAH, TANK TOP TASYA MANA?" pekik Tasya mengema seisi kamar.
"Sengaja saya buka," Orang kamu meracau kepanasan, yah saya buka. Ucap Raiden yang sampai ditenggorokan.
Kebetulan tepat Raiden membuka mata, Tasya meracau kepanasan di atas tubuhnya. Terpaksa Raiden membuka tank top hitam itu, dengan menahan sisi liar nya.
"OM RAIDEN!"
Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, menundukkan wajahnya sedikit demi sedikit hingga mendekat tepat didepan belahan dada gadisnya.
__ADS_1
"NO, JANGAN PEGANG-PEGANG!"
Raiden mengangkat wajahnya sebentar, mengedipkan sebelah matanya dengan menunjukkan senyuman jahilnya.
"WOI!"
"Gak boleh ngomong gitu,"
"OM RAIDEN!"
Tubuh Tasya menegang, bibir ranum itu bersentuhan langsung dengan kulitnya. Mengecup, mencium, hingga m*njilat.
Astaga, gue gak suci lagi. Batin Tasya frustasi.
Raiden seakan menulikan telinganya, fokus nya hanya dua benda yang berada tepat didepan matanya. Jemari dan bibir nya bekerja, melahap rakus tanpa jeda.
"WOI!" teriak Tasya, berharap seseorang datang dan menolongnya.
Bukannya apa-apa Tasya besok ujian, malas rasanya ujian susulan. Duduk sendiri mengerjakan ujian, tepat didepan guru pengajar.
Lagian selama ini nilai nya bagus semua berkat Alex, bukan kemampuan otak 3 GB nya. Saking malas nya berpikir.
Tapi entah setan apa yang merasuki, Tasya malah terbuai dengan permainan suaminya. Bahkan manik nya perlahan terpejam, membiarkan Raiden melakukan tugasnya.
Merasa tubuh ramping itu mulai menerima perlakuannya, jemarinya menyelip masuk kedalam kemeja putih itu. Hendak membuka pengait, yang sedari tadi menghalangi pandangannya.
Tepat jemarinya menyentuh apa yang ia cari, pintu kamar terbuka bersahutan lengkingan yang terdengar familiar.
Manik mereka berdua langsung melotot, menoleh kearah pintu menatap Mpok Atiek dan satpam berdiri mematung di tempat.
Sontak Tasya gegalapan, mendorong tubuh kekar itu seraya bersembunyi dibalik punggung suaminya.
"Om," bisik Tasya, wajahnya memerah bak kepiting rebus bahkan tak jauh berbeda dengan Raiden dan kedua manusia yang berdiri ambang pintu.
"Ma- maaf tuan. Kami pikir terjadi apa-apa," ucap Mpok Atiek gugup, seraya menelan salivanya kasar.
Teriakan mereka berdua terdengar hingga keluar, apalagi kamar tidak kedap suara. Mereka pikir terjadi apa-apa, apalagi pembunuhan anak SMA semakin merajalela. Terpaksa mereka masuk kedalam memeriksa langsung, karena sedari tadi tidak ada sahutan sama sekali.
Sial, mana lagi seru-serunya lagi. Batin Raiden.
"Maaf tuan,"
"Hm, yaudah sana!" usir Raiden kesal.
Mpok Atiek langsung menarik satpam, dengan cepat menutup pintu kembali.
Mereka berdua masih diam mematung, mengerjap berkali-kali hingga terasa atmosfer kamar meningkat drastis tidak seperti biasanya. Alias gerah dan panas di waktu yang bersamaan.
"Sya,"
Siempunya hanya mengangguk kan kepala, memegang ujung kemeja putih itu menutupi tubuhnya yang hampir tidak tertutupi apa-apa.
Raiden bingung jadinya, ia hanya mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali saking malunya.
"Malu-maluin banget sumpah,"
Tasya menutup wajahnya dengan telapak tangannya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun masuk kedalam selimut menutupi seluruh tubuhnya. Terutama wajahnya yang memerah.
__ADS_1
_____________
TERIMAKASIH:)