
16:00 PM
Satpam yang berjaga di depan rumah hanya membuka gerbang, menatap heran kearah nona muda nya yang terlihat berantakan. Rambut panjangnya tergerai bebas, manik sembab bahkan nyaris bengkak.
Dengan langkah gontai kaki ramping itu memasuki pekarangan rumah, menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
Sesekali terdengar helaan napas panjang, tubuhnya lemah tak bertenaga. Dengan malas memutar knop pintu, menampakkan Raiden duduk di sofa dengan rokok menyelip diantara kedua jemari nya.
Sontak Tasya mematung di tempat, tanpa berniat melanjutkan langkahnya kembali.
"Tutup, kunci sekalian!" ucap Raiden tenang. Terdengar mengema seisi rumah yang terlihat kosong, memang benar-benar kosong hanya di huni mereka berdua.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Tasya menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Buka sepatu!"
Siempunya menurut, melepas sepatunya hingga telapak kaki nya menyentuh lantai yang dingin.
"Tas!"
Siempunya menurut lagi, melepas ranselnya dari pundak nya diletakkan di atas sofa.
"Sini!"
Lagi-lagi Tasya menurut, melangkah ragu kearah tubuh kekar itu berdiri tepat dihadapan suaminya. Menatapnya sendu, dengan manik berkaca-kaca.
Spontan seulas senyuman manis terukir indah dibibir tebal itu, lengan kekarnya melilit dipinggang gadisnya dengan entengnya mengangkat tubuhnya keatas pangkuanya.
Mengelus lembut wajah cantik itu, hingga setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Om,"
"Kenapa, hm?" tanya Raiden lembut, seraya menghapus jejak air mata yang membasahi wajah istrinya.
"Capek,"
Sontak Raiden tertawa kecil, menarik tubuh ramping itu dan mendekapnya erat. Sebenarnya Raiden sudah tau kejadian yang terjadi di SMA GALAXY beberapa jam yang lalu, makanya pulang ke rumah melihat kondisi istrinya.
Flashback
Tasya baru tau Zara bisa melihat mereka yang tidak terlihat (setan). Selama ini mereka pikir Zara hanya bercanda, nyatanya kemampuannya semakin bertambah tidak seperti yang dulu.
Kilas balik ke masa lalu. Jadi beberapa tahun yang lalu orangtua Zara pernah menjalin hubungan dengan iblis. Persahabatan mereka yang terjalin sejak kecil, perlahan tau apa yang dilakukan orangtua Zara selama ini.
Perbuatan yang mereka lakukan, berdampak besar untuk Zara. Hal-hal mistis perlahan muncul mengangu ketenangan nya, dan Tasya sebagai sahabat turut serta membantu semampu yang ia bisa.
Segala upaya cara mereka lakukan untuk menghilangkan kemampuan Zara yang bisa melihat masa depan, walau hasilnya tetap sama.
Seseorang pernah bilang, jika kemampuan Zara akan bertambah seiring berjalannya waktu. Satu diantaranya, indigo atau melihat mereka yang tidak terlihat. Jika Zara melihat satu sosok, tubuhnya jangan di sentuh.
Tasya awalnya biasa saja, tapi setelah kejadian ini Tasya tau maksud ucapan itu.
Di hadapannya berdiri satu sosok menyeramkan, menatapnya tajam seakan membunuhnya. Tasya bisa melihat setan.
"Kamu harus mati!"
Sekali hempas tubuhnya melayang di udara. Terlempar beberapa meter, membentur lantai lapangan basket dengan siswa yang lain.
__ADS_1
Sosok menyeramkan itu semakin menjadi-jadi, lehernya terasa di lilit sesuatu bahkan bernapas pun terasa sulit.
Tak satu pun yang mau menolongnya, bahkan kedua sahabatnya. Alex hanya sibuk menenangkan Zara seperti yang biasa pria itu lakukan. Bahkan dalam masa genting seperti ini pun Alex selalu mengabaikannya, padahal Tasya hanya ingin perhatiannya saja tidak lebih dari itu.
"Kamu sepantasnya mati, tidak ada yang membutuhkan mu. Bahkan orang yang kamu cintai sekalipun," bisikan halus menyapa telinganya, bersahutan maniknya yang terpejam hampir kehabisan napas.
Tapi sebelum manik Tasya sepenuhnya terpejam, seseorang datang menolongnya. Melawan sosok iblis itu, dan mengangkat tubuhnya menjauh dari kerumunan.
"Lo harus bertahan, ingat suami Lo!"
Pria itu Axel, dengan wajah datarnya dan tatapan membunuh.
_______________
Tangis Tasya semakin menjadi-jadi, memeluk erat leher suaminya sesekali memukul kecil dada bidangnya.
"Tasya capek om,"
Raiden hanya mengangguk kan kepala, mengelus lembut punggung istrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jujur ia bingung harus melakukan apa, hati nya terluka melihat istrinya seperti saat ini. Ia hanya mampu mengelus lembut punggungnya, sesekali mencium pelipis istrinya yang dibanjiri air mata.
"Om,"
"Jangan nangis, aku di sini gak kemana-mana."
"Jangan tinggalin Tasya,"
"Iya,"
Jemari Raiden beralih menangkup wajah istrinya, terkekeh geli melihat wajah cantik itu memerah dengan napas yang tersengal-sengal saking terlalu lama menangis.
"Kamu jelek banget sumpah,"
"Aku kasih napas buatan yah?"
"Gak mau,"
"Nanti kamu kehabisan napas, emang kamu mau saya cari istri baru?"
"Gak boleh,"
Sontak Raiden tertawa kecil, mengecup bibir ranum itu berulang kali gemas melihat tingkah istrinya.
"Jangan nangis lagi," ucap Raiden lembut. Menghapus jejak air mata istrinya, beralih mengecup kedua manik sembab itu dengan tempo yang cukup lama.
Seulas senyuman tipis terbit dibibir siempunya, tersanjung dengan perlakuan suaminya.
"Bidadari gak boleh nangis,"
"Tasya setan om,"
"Mana ada, buktinya kamu kalah lawan setan tadi."
"Dia curang om, main nya dari belakang. Bukan dari depan," balas Tasya, tanpa sadar suaminya tau kejadian beberapa jam yang lalu.
"Tetap aja,"
"Jadi om belain setan nya daripada Tasya?"
__ADS_1
"Gak, siapa bilang?"
Tasya hanya mengerucutkan bibirnya, menatap kesal wajah tampan itu.
Rencana Raiden berhasil, perhatian gadis nya teralih. Air mata berhenti menetes dari pelupuk matanya, tergantikan wajah kesal dan mode merajuk.
"Tasya ngambek,"
Siempunya melipat kedua tangannya, sembari mengalihkan tatapannya kearah yang lain.
"Silahkan,"
"Yah, bujuk gitu. Disayang kek, usaha dikit om biar romantis. Gimana sih?" sungut Tasya.
Tanpa merasa berdosa nya Raiden malah bersandar, dengan kedua lengan melilit dipinggang ramping istrinya.
"Saya bukan pria romantis," tolak Raiden dengan santainya.
"ASTAGA, USAHA WOI!"
"Gak mau,"
"YAH?"
"Tetap gak mau,"
"Tasya makin ngambek, sampai tahun depan sekalian."
"Oh, gak boleh. Malam pertama dulu baru ngambek,"
"Gak, mau."
"MALAM PERTAMA DULU,"
"GAK MAU."
"MALAM PERTAMA DULU,"
"TETAP GAK MAU!"
"HARUS!"
"NO."
Mereka berdua saling melemparkan tatapan tajam, melipat kedua tangan masing-masing dan mengarahkan tatapan kearah yang lain. BOCIL.
"Dasar kulkas, gak ada romantis-romantisnya jadi suami. Bikin kesal,"
"Dih gak sadar,"
"Dasar om-om."
"Bocil,"
"Kulkas tujuh pintu, gak ingat umur udah tua juga."
________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)