MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
LIMA PULUH


__ADS_3

Uap kopi hangat mengembul di udara, angin sepoi-sepoi dan ombak terdengar menenangkan. Raiden bangun lebih awal dan sekarang mengobrol ringan dengan Ratna.


Wanita tua, yang memperkenalkan diri sebagai mantan pendeta dan selama ini menjadi pelayan gereja sekaligus merawat istrinya selama ini. Pantasan pemikiran Tasya berbeda dengan ucapannya, ternyata manusia yang mengajarinya selama ini bukan sembarang manusia.


Mereka berdua duduk berhadapan di meja party, kaca rumah langsung tembus menghadap kearah pantai. Pemandangan yang memanjakan mata.


"Hidup Tasya memang tidak seberuntung anak yang lain, dari kecil kedua orangtuanya tidak pernah akur dan berdamai dengan masa lalu. Ayah Tasya dulu sering mabuk-mabukan, kadang tidak pulang ke rumah. Hingga ketahuan selingkuh."


"Dari awal saya kenal ayah Tasya, saya sempat menolak dengan cara yang halus tapi putri saya ngotot memilih pria itu sebagai pasangan hidup. Sebagai orangtua terkadang kita memiliki firasat tapi mengalah demi kebahagiaan anak."


Ratna menghela napas sejenak, menenguk teh hijau dari gelas putih yang ada di meja dan meletakkannya kembali.


"Saya memiliki tiga putri dan hanya ibu Tasya yang gagal dalam pernikahan. Terkadang saya merasa gagal menjadi orangtua. Padahal selalu berusaha mengajarkan yang baik tapi mungkin seperti itulah garis takdirnya."


"Berdamai dengan masa lalu itu penting, dendam tidak perlu disimpan yang ada semua hancur berantakan."


Raiden bungkam seribu bahasa, mencerna baik-baik semua ucapan Ratna. Baru kali ini Raiden bertemu manusia modelan seperti ini, tutur kata yang mengubah pemikiran, ucapan lembut semua ada pada wanita tua dihadapannya.


Tipe wanita idaman Raiden selama ini, walau nyatanya yang ia dapat titisan setan.


"Kita memang baru kenal, tapi saya harap kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab terhadap cucu saya. Tasya memang nakal, tapi itu semua hanya sekedar mencari perhatian saja."


Raiden hanya mengangguk, mengikuti gerak gerik Ratna bangkit dari tempatnya sembari tersenyum hangat kearahnya.


"Saya pamit dulu,"


"Mau kemana Oma?"


"Gereja."


"Saya antar," tawar Raiden. Bangkit dari tempatnya, menuntut Ratna berlalu keluar dari rumah.


Sekarang hari Rabu tapi entah mengapa wanita yang satu ini malah berangkat ke Gereja. Kebetulan Raiden bukan manusia yang taat beragama, jadi kurang tahu apa yang mereka lakukan di Gereja.


"Saya sudah tua, jadi lebih baik menghabiskan waktu berdoa di dalam Gereja. Masih banyak isi Alkitab yang belum saya pahami."


Pertanyaan Raiden terjawab sudah. Dengan hati-hati menuntut Ratna duduk di jok depan mobil, tepat disamping kemudi.


Selama perjalanan, Raiden memilih diam. Sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ratna. Hingga mobil berhenti tepat didepan Gereja. Dengan sigap Raiden turun, membuka pintu mobil untuk Ratna.


"Oma pulang jam berapa?"


"Biasanya sore, kadang menginap di rumah pendeta. Kebetulan dia masih gadis."


Raiden hanya mengangguk, menuntut Ratna masuk kedalam Gereja, hingga seorang gadis seumuran anak SMP menyambut kedatangan Ratna.


"Selamat pagi Oma,"


Siempunya hanya mengangguk, melepas rengkuhan lengan kekar itu dari tubuhnya dan tersenyum hangat kearah Raiden.


"Makasih yah nak, kamu pulang aja. Nanti istri kamu cariin,"


"Iya Oma,"


Tubuh kekar itu berbalik, berlalu masuk kedalam mobil dan melaju menjauh.

__ADS_1


"Siapa Oma? ganteng banget,"


"Jangan nakal kamu, dia suami cucu Oma."


"Alena cuman nanya Oma, galak banget sih."


Alena mendengus kesal, kebiasaan gadis yang satu itu.


________________


Bertepatan Raiden masuk kedalam kamar, tepat tubuh ramping itu membuka selimut yang menutupi wajahnya. Menoleh kearah pintu dengan tatapan sayu menahan ngantuk.


Padahal gadis yang satu itu sudah tidur seharian, bisa-bisanya melanjutkan tidurnya dari malam hingga ke siang. Tanpa merasa lelah sedikitpun.


"Darimana?" tanya Tasya serak, khas bangun tidur.


"Gereja antar Oma."


Tasya hanya mengangguk, menarik selimut kembali dan mencari posisi yang nyaman melanjutkan tidurnya.


"Ck, ngapain? bangun udah siang."


"Masih ngantuk om,"


Raiden berdecak kecil, walau tetap saja ikut bergabung kebalik selimut. Memeluk erat tubuh ramping itu, sesekali mengecup lembut pelipis gadisnya.


"Bangun, makan baru lanjut tidurnya. Ayo!"


"Malas banget om,"


"Buruan!"


Bibirnya mengerucut kedepan, dengan penampilan acak-acakan turun dari ranjang hendak melangkah keluar kamar.


"Ck, mau kemana? kamar mandi itu," tunjuk Raiden kearah pintu berwarna pink, didalam kamar.


"Tasya langsung makan aja, boros. Katanya harus hemat air."


Astaga Raiden tidak pikir dengan kelakuan anak yang satu ini, saking malasnya, cuci muka saja pun tidak mau.


Berangkat sekolah saja selama ini terkadang karena paksaan Raiden. Bahkan memakai seragamnya juga Raiden yang memasangkannya ditubuh ramping itu. Entah mengapa ada makhluk hidup modelan seperti Tasya, yang sayangnya istri sendiri.


Terpaksa turun tangan lagi, tidak mungkin anak yang satu itu makan dengan penampilan acak-acakan seperti itu. Menjijikkan.


Tepat sendok melayang di udara, tubuhnya malah diangkat layaknya karung beras, diturunkan tepat didepan wastafel.


"Cuci muka!"


"Malas banget om, udah nangung mana sendok Tasya jatuh lagi."


"Buruan!"


"Tukang maksa!"


Jemari lentik itu memutar kran air, membasuh wajahnya ogah-ogahan. Sesekali melirik tajam kearah suaminya.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan wajahnya yang basah, Tasya langsung kembali duduk ke tempat semula. Menyantap sarapan paginya, tanpa memperdulikan tatapan aneh pria yang duduk disampingnya.


"Jorok,"


"Jorok begini, Tasya udah punya suami."


Sontak Raiden tertawa kecil, mengacak-ngacak pucuk rambut gadisnya saking gemasnya.


"Oma tinggal sendiri?"


"Gak, ada ART tiga orang."


"Mana?"


"Pulang mungkin,"


"Lah, kenapa?"


"Tasya pulang bawa suami, jadi takutnya mereka terpesona."


"Ngawur kamu."


Tubuh kekar itu bangkit dari tempatnya, berlalu keluar dari pintu belakang langsung di sambut kolam berenang dan taman belakang yang ditata sedemikian rupa.


Sebenarnya Raiden belum menyelusuri rumah ini, gadisnya terlalu malas diajak kompromi. Padahal ia cukup penasaran, mengenal keluarga istrinya.


Banyak foto yang terpajang di dinding rumah ini, rumah yang luas tapi hanya memiliki satu kamar dilantai atas. Entah apa alasannya, cukup mencurigakan.


"Ck, jangan melamun!"


Tepukan kecil terasa menyapa punggungnya, hingga tubuh ramping itu muncul dari balik punggungnya hanya mengunakan bikini berwarna merah menyala.


Sial, Raiden ter*ngsang.


"Tasya mau latihan renang, om mau ikut?" tanya Tasya dengan santainya, hendak masuk kedalam kolam berenang sebelum tubuhnya ditarik kebelakang, dipojokkan ke dinding pembatas.


"Mau ngapain, hm?"


"Apaan sih om? Tasya mau latihan renang."


"Pakai begituan?"


"Iya, Tasya biasa pakai beginian dirumah Oma."


"Cukup dipakai dikamar aja yah sayang, jangan diluar!"


Raiden langsung mengangkat tubuh ramping itu, dengan pekikan tertahan keluar dari bibir siempunya.


"Yah, Tasya mau dibawa kemana? om, Tasya pengen main air."


"Nanti aja. Siapa suruh kamu pakai baju begituan di siang bolong, singa jantan bisa bangun."


_________________


TERIMAKASIH:)

__ADS_1


__ADS_2