MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
MURID BARU


__ADS_3

Jika rasa penasaran anak muda sudah di ujung ubun-ubun, maka itu tidak bisa dihentikan lagi. Ucapan Zara tadi pagi membuat tiga sekawan itu datang ke gedung belakang sekolah, tepat bel istirahat berbunyi.


Banyak rumor beredar, gudang belakang sekolah itu angker. Apalagi tempat itu sudah lama kosong, dan di larang dimasuki oleh siapa pun. Tapi rasa penasaran itu lebih mendominasi, apapun yang terjadi mereka bertiga harus masuk ke kawasan gedung angker itu.


"Lex," bisik Tasya, seraya memegang ujung kemeja sahabatnya dari belakang.


"Apaan?"


"Gue mau kentut,"


"Anjing,"


Sontak Tasya tertawa kecil, sembari memukul kecil punggung Alex.


Zara memilih diam, memimpin langkah kedua sahabatnya sembari mengusir roh yang tidak terlihat alias setan. Kemampuannya semakin hari semakin bertambah, awalnya hanya melihat rekaman di masa akan datang. Sekarang roh yang tidak terlihat pun Zara bisa lihat.


Tapi kedua sahabatnya tidak tau akan hal itu, takutnya mereka berdua takut. Walau sebenarnya Zara juga takut, tapi semakin terbiasa akhirnya Zara menganggap mereka semua teman. Karena tidak semua makhluk yang tidak terlihat itu jahat, selama mereka tidak di usik.


"Diam," bisik Zara, menarik kedua sahabatnya ketempat yang lebih aman dan berjongkok dengan tatapan lurus kedepan.


"Tempatnya di sana," tunjuk Zara, ke salah satu ruangan tertutup yang terlihat berbeda dari yang lain.


"Serius Lo Za?" tanya Tasya serius.


"Iya. Kita bertiga harus lebih hati-hati,"


"Maksud Lo, kita bertiga juga bakalan kena gitu?"


"Gak ada yang tau, dia juga gila s*x hampir mirip Casanova. Tapi lebih dominan jiwa psikopat,"


"Gila, parah benar. Gak ada manusiawi nya," ujar Tasya tidak habis pikir.


Manusia seperti itu sepantasnya mati, Tasya harus mencari cara memusnahkan manusia yang satu itu.


"Lo jangan macam-macam!" sergah Alex, seakan tau isi kepalanya.


"Ck, iya-iya."


"Dia bukan manusia biasa, jadi jangan macam-macam. Waktu nya gue gak tau, tapi seminggu ini bakalan ada korban," timpal Zara menarik kedua sahabatnya berlalu keluar dari tempat itu.


Seperti semula mereka kembali mengendap-endap keluar dari kawasan itu, dan menghela napas lega setelah memasuki pekarangan sekolah. Untung para penjaga tidak ada yang tau keberadaan mereka, walau sebenarnya mereka biasa menyelusup ke tempat yang mereka mau tanpa memperdulikan resikonya.


"Jadi korbannya anak SMA semua atau gimana?" tanya Tasya lagi.


"Anak SMA semua, gue juga bingung gimana caranya dia dapatin hati mereka semua." terang Zara.


"Namanya juga buaya, apalagi Lo bilang dia gila s*x. Psikopat sama Casanova itu hampir sejalan menurut gue, menghalalkan segala cara asal dapat yang mereka mau. Manusia gak punya hati," geram Alex.


Zara dan Tasya hanya mengangguk kan kepala, berjalan beriringan melewati lorong sekolah satu persatu dengan Alex ditengah-tengah seperti biasanya.


Sepanjang lorong sesekali terdengar bisikan, para betina heboh dengan kedatangan murid baru entah darimana asalnya. Tapi Tasya tidak boleh ketinggalan siapa tau cogan. Lumayan menambah koleksi foto album cogan dan deretan barisan para mantan.


"Lo semua ngomongin apaan?" tanya Tasya kearah sekumpulan adek kelas, terpaksa Zara dan Alex menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ada murid baru kak, cowok." sahut salah satu dari mereka.


"Ganteng gak?"


"Ganteng banget kak, kayak pangeran jatuh dari surga."


"Menarik nih,"


Sontak Alex menjewer telinganya, seraya menarik tubuh sahabatnya menjauh dari kerumunan. Ternyata jiwa buaya betina itu masih melekat sempurna ditubuh gadis yang satu ini, karena sebelum menikah Tasya wajib gontak ganti pasangan setiap hari.


Katanya gabut, tapi kerjaan morotin anak orang saja.


"Ingat suami Lo," bisik Alex.


"Apaan sih, sakit banget tau."


Tasya mengelus telinganya yang memerah, dengan wajah yang di tekuk.


"Lo gak takut dip*rkosa om Raiden?" tanya Zara dengan sedikit mengecilkan suara. Takutnya ada yang mendengar ucapannya.


"Biasa aja,"


"Gue doain Lo dihamili secepatnya."


"Jahat banget sih,"


Wajah cantik itu semakin di tekuk lucu, bibirnya dimanyukan kedepan. Tanpa memperdulikan ejekan kedua sahabatnya.


"Gimana rasanya? enak gak?" tanya Alex heboh.


"Apaan?"


"Lo ngomong apaan sih?"


"Sok polos, di leher Lo itu apaan?"


Sontak Tasya gegalapan memperbaiki hodienya, menutupi tanda kemerahan di area lehernya.


Tasya akan balas dendam, semalam kamar gelap berakhir suaminya menang banyak. Jadi nanti malam Tasya yang harus menang.


"Kita kapan yah? Zara gak pernah mau," ucap Alex tanpa merasa berdosa sedikitpun.


"Gimana sih bund, masa ayah kurang belaain. Ngajarin anak pintar banget," balas Tasya.


Terdengar decakan kecil, kalo sudah begini ceritanya kedua makhluk ini harus di hindari. Otak Tasya dan Alex 11/12 gak ada bedanya. Emosi bisa naik dalam sekejap.


"Gak seru Lo berdua," tukas Zara seraya mempercepat langkahnya.


"Bunda, kok kita ditinggal? nanti ayah cari istri baru loh," teriak Tasya tanpa merasa malu sedikitpun.


Karena di lingkungan sekolah, hampir seluruh warga sekolah mengenal mereka bertiga. Makhluk jadi-jadian, si tukang onar, si tukang bolos, manusia yang tidak memiliki urat malu sedikitpun.


Kadang jam pelajaran berlangsung, tiga manusia itu tanpa tau malunya berteriak sepanjang lorong. Padahal Alex mantan ketua OSIS, tapi kelakuannya selalu dipertanyakan waras atau tidak.

__ADS_1


"Gue udah bilangin, b*ntungi aja Lex. Nanti keburu di ambil yang lain," bisik Tasya setan, seraya merangkul pundak sahabatnya.


"Gue mau-mau aja, dia nya aja yang gak mau."


"Bodoh banget sih Lo, yah gak usah di ajak. Lagian Lo bebas keluar masuk kamar Zara. Besok-besok hamili aja diam-diam,"


"Gue takut masuk neraka,"


"Itu pahala,"


"Bapak Lo jing, kelakuan Lo gak ada yang benar."


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, sembari memukul kecil kepala Alex.


Kebetulan Alex selama ini menyukai Zara, tapi cintanya malah bertepuk sebelah kaki. Di suruh nembak malah gak mau, padahal Zara sendiri sudah tau Alex menyukainya. Bahkan hampir seluruh warga sekolah.


"Gak seru Lo Lex, nyesel gue jadi teman Lo."


Dengan dramatis Tasya duduk di sebelah Zara, memeluk lengan sahabatnya dan pura-pura menangis.


"Bunda sama ayah kapan nikahnya? Tasya kasian sama ayah,"


"Ck, rese Lo."


Alex memukul kecil punggung sahabatnya, berlalu duduk tepat dibelakang Zara.


"Ayah punya calon bini, tapi bini nya pilih yang lain. Indah nya pertengkaran,"


"Ngomong apaan sih Sya?" sergah Zara.


"Bunda harus nikah sama ayah, titik gak ada BANTAHAN!"


Sekejap hening, semua mata tertuju kearah Tasya terutama dua manusia yang berdiri tepat di depan kelas.


"Astaga anak yang satu ini, entah kapan jadi anak gadis." ucap guru yang berdiri tepat di depan kelas.


Siempunya yang baru menyadari hal itu, hanya mengerutkan dahi. Menatap satu persatu teman sekelasnya, dan tertawa renyah.


"Sejak kapan bel?"


"TAHUN LALU," teriak Alex dari belakang.


Tasya meringis, memperbaiki posisi duduknya dengan wajah linglung. Seingatnya bel belum berbunyi, tapi sekarang guru les berikutnya sudah stand by didepan kelas. Entahlah, Tasya bingung.


"Perhatiannya kembali ke depan. Anggap aja konser dadakan atau mungkin nenek moyang Tasya lagi kangen cucu nya. Jadi biarkan saja kesurupan,"


"Jahat banget sih Bu,"


"Ibu cuman prihatin,"


"Itu namanya bukan prihatin, tapi doain Tasya biar kesurupan. Gimana sih Bu?"


Sontak semua tertawa terbahak-bahak, kecuali manusia yang berdiri di depan kelas tepat di samping guru pengajar.

__ADS_1


_______________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2