MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PEMERAN UTAMA 3


__ADS_3

Dari rumah, Raiden sengaja tidak memberi tahu Tasya tujuan awalnya sebelum berangkat ke kantor.


Apalagi selama perjalanan, istrinya mengeluh mengantuk dan kedinginan. Makanya boneka ulat bulu itu sengaja dililitkan di lehernya.


Awal pertama Raiden memasuki aula pikiran dan hatinya masih tenang, namun setelah acara demi acara berlangsung pikiran dan hatinya mulai berantakan. Maniknya belum menangkap satu sosok manusia cantik yang menjadi alasan utamanya menerima undangan dari SMA GALAXY untuk hari ini, ditengah-tengah kesibukannya.


Hingga mikrofon tepat digenggamanya, tepuk tangan langsung mengema seisi aula.


"Selamat pagi," sapa Raiden berat. Wajah tetap sama, datar tanpa ekspresi sedikitpun.


"Perkenalkan nama saya, Raiden Dirgantara. Salah satu donatur, sekaligus alumni, angkatan ke-8."


Manik Tasya yang semula tertutup rapat terbuka dengan sendirinya, merasa tidak asing dengan pemilik suara itu. Gerakan kilat mengakat wajah bantalnya, dan menatap syok kearah pria yang berdiri diatas podium.


Memang selama ini, Tasya dengan kedua sahabatnya tidak pernah mengikuti acara penting yang diadakan sekolah. Dan tidak peduli siapapun tamu yang hadir.


Andai dari awal Tasya tahu donatur yang Zara sebut itu suaminya, mungkin mulai dari tadi Tasya melarang suaminya masuk kedalam lingkungan sekolah.


Apalagi dia baru tahu beberapa hari yang lalu, bahwa suaminya alumni SMA GALAXY. Tempat awal kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi, akibat trauma s*alan yang selalu menghantui suaminya.


"B*ngsat," umpat Tasya pelan.


Memperbaiki posisi duduknya, seraya menoyor kepala kedua sahabatnya.


"Kenapa Lo berdua gak bangunin gue?" sergah Tasya.


Memperbaiki penampilannya, walau tetap saja boneka ulat bulu itu setia melilit dilehernya.


"Lah, Lo sendiri yang kebo," balas Zara kesal.


"Diam Lo!"


Zara memilih mengalah, pura-pura menguap dengan mengangkat kedua tangan. Sebagai koneksi terhadap Raiden. Yang sedari tadi terlihat sibuk mencari keberadaan istrinya.


Cara Zara benar-benar berhasil. Manik hitam itu langsung menoleh kearah mereka, tepatnya kearah Tasya yang terlihat sok cantik. Berbeda dari beberapa menit yang lalu.


"Dasar," cibir Zara.


Tasya hanya mengangkat bahu acuh, pandangannya hanya fokus kedepan. Tepat ke arah dua pasang mata yang semula menatap tajam, merasa tidak nyaman di tempat ini.


"Semangat," ucap Tasya tanpa suara. Bibirnya membentuk sebuah senyuman lebar, kedua lengan terkepal mengambang di udara, seakan memberi penyemangat terhadap sang suami.

__ADS_1


Wajah Raiden yang semula datar tanpa ekspresi langsung berubah drastis. Bibirnya terangkat dengan sendirinya, membentuk sebuah senyuman dengan tatapan fokus kearah manik biru itu.


"Manusia bucin gini amat," decak Alex. Sembari menoleh kearah Axel yang terlihat kecewa.


"Halu Lo ketinggian bang, pawangnya gak ada lawan," bisik Alex seakan tahu isi kepala pria itu.


Bisik-bisikkan para kaum hawa langsung heboh, beberapa kali Raiden datang sebagai tamu. Baru kali ini tersenyum seperti itu. Entah apa alasannya, tidak ada yang tahu.


"Lo kasih apaan suami Lo?" bisik Zara. Tidak habis pikir, perubahan Raiden secepat itu.


"Emang kenapa?" jawab Tasya sewot.


Tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun, dari arah suaminya.


"Aneh aja."


"Lo, yang aneh," sergah Tasya. Tidak terima dengan ucapan Zara.


"Yah, gue–"


"Lo, ngatain suami gue didepan bininya sendiri. Gimana sih Lo?" sela Tasya memotong ucapan Zara.


Zara mengalah, melawan Tasya beradu argument ujung-ujungnya adu pukul.


"Lo pernah dengar kata-kata ini, gak?" Zara merangkul pundak sahabatnya, mengalihkan pembicaraan. Tanpa melepaskan pandangan dari wajah Tasya, yang sedari tadi tersenyum lebar kearah suaminya.


"Akan ada waktunya kamu menjadi pemeran utama. Dalam hal yang berjudul, bahagia."


Tasya mengerutkan dahi, menoleh kearah Zara yang tersenyum lebar kearahnya.


"Bahagia yang belum pernah Lo dapat, akan Lo dapat dari Raiden Dirgantara. Obat masa dari masa lalu dia, hanya Lo. Tasya Jovanka alasan dia bahagia, Raiden Dirgantara alasan Lo bertahan."


"Lo pantas Sya, dapatin itu semua. Alex Budiman gak pantas buat Lo, karena dia milik gue," bisik Zara, dengan ucapan bercanda diakhir.


Sontak Tasya tertawa kecil, memukul kecil paha Zara. Bangga dengan perubahan sang sahabat.


"Gue suka Lo yang sekarang," ucap Tasya jujur.


"Siapa juga gurunya, Tasya Jovanka gitu," ujar Zara. Seakan bangga memiliki sahabat sepertinya.


Tasya hanya mengangguk, menaikkan sebelah alis mengikuti arahan jemari dan manik suaminya. Setelah mengakhiri ucapannya dari depan.

__ADS_1


"Gue pulang duluan!" ucap Tasya tiba-tiba.


Baru mengerti instruksi suaminya dari depan, yang sekarang terlihat sibuk berbisik dengan kepala sekolah. Mungkin meminta izin pulang, padahal acara belum berakhir.


"Lah, itu bukannya si botak?" tunjuk Tasya kearah pria paruh baya yang berdiri diatas podium. Tepat disamping suaminya. Dia baru menyadari hal itu.


"Itu bapak gue, b*ngsat!" desis Axel. Padahal selama ini, dia sendiri juga sering menistakan ayahnya sendiri.


"Gue tahu. Masalahnya dia ngapain ke sini?" tanya Tasya serius.


"Kepala sekolah lama, rasa baru," sahut Zara.


Tasya hanya ber-iya, oh. Bangkit dari tempatnya, bertepatan suaminya keluar dari pintu belakang aula.


"Gue duluan, Lo berdua jangan macam-macam diluar. Pulang sekolah, langsung pulang ke rumah!" peringat Tasya, kearah Alex dan Zara.


"Iya-iya, sana-sana!" usir Alex.


"Lagian Lo, udah kayak orangtua kita berdua aja."


"Memang. Orang suami gue, yang kasih makan Lo berdua."


Zara dan Alex hanya menghela napas,


malas berdebat dengan manusia yang satu itu.


"Gue duluan." Tasya menoyor kepala Axel tanpa beban sedikitpun, baru berlalu keluar.


"Ck, gak ada sopan santunnya jadi anak," decak Axel. Seraya mengusap kepalanya, bekas pukulan Tasya barusan.


________________


TERIMAKASIH:)


MAAF BARU BISA UPDATE KEBETULAN SAYA BARU SEMBUH, DAN INI MASIH TAHAP PENYEMBUHAN.


SELAMAT MALAM:)


dan


SELAMAT BERAKTIFITAS UNTUK HARI ESOK

__ADS_1


#GBU


__ADS_2