
Jemari Raiden melayang di udara, tatapannya kosong prasangka buruk yang sempat singgah di benaknya lenyap seketika. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kembali duduk ke tempat semula, menatap layar komputer dengan pikiran yang berantakan.
"Why? apa anda kesurupan? saya jadi takut," ucap Rudi, menyadarkan lamunan Raiden.
Siempunya hanya diam, kembali melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan Rudi yang masih setia duduk dihadapannya.
"Menurut anda apa nona cantik?" tanya Rudi penasaran.
"Lumayan,"
"Saya beb?"
"B*nci,"
"Terimakasih sir, i'm so beautiful."
Raiden hanya menghela napas panjang, melihat tingkah pria yang satu ini. Padahal dari sisi manapun tidak sedikit pun terlihat cantik, malah aneh. Lagian Tuhan menciptakan pria menjadi tampan, bukan cantik. Tapi yasudah lah, lebih baik dibiarkan asal tidak menggangu ketenangannya.
Sekejap hening, yang terdengar hanya bunyi keyboard bersahutan dan suara pulpen Rudi yang bergerak di atas kertas putih. Detik, menit berlalu mereka berdua sibuk dengan urusan masing-masing.
Hingga terdengar ketukan, bersahutan knop pintu berputar menampakkan Tasya dengan senyuman lebar dibibirnya.
Cantik satu kata yang terlintas dalam benak Raiden. Gadisnya terlihat cantik hari ini, tubuh rampingnya dibalut dress selutut berwarna merah maroon, rambut panjang tergerai dan kaki hanya di alasi sandal jepit. Tidak ada nyambungnya sama sekali.
"Hai, om."
Hening, tidak ada sahutan. Dua manusia yang ada di ruangan itu hanya diam dan fokus kearahnya, dengan tatapan yang berbeda.
Padahal Tasya tidak melakukan apa-apa, hanya berdiri di depan pintu dengan senyuman lebar, yang sayangnya menarik perhatian dua manusia itu.
"Om,"
Spontan Raiden tersadar dari lamunannya, menaikkan alisnya menatap Tasya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tasya boleh masuk?"
"Hm,"
Senyuman di bibir pink itu semakin mengembang, melangkah masuk kedalam membawa kantong plastik besar. Dengan langkah lebar mendekat kearahnya, duduk diatas pangkuannya tanpa memperdulikan Rudi.
"Om, udah makan siang?"
Hening tidak ada sahutan. Dua pria itu kembali bungkam dengan seribu bahasa.
Rudi masih setia menganggumi gadis cantik itu, yang s*alnya istri muda sahabatnya dan Raiden terkejut dengan perlakuan gadisnya.
"Sebenarnya yang aneh apa sih? tempat ini apa orangnya? Mulai dari tadi diam mulu, bikin kesal. OM RAIDEN!" teriak Tasya.
Sontak Raiden tersadar dari lamunannya, di ikuti Rudi bangkit dari tempatnya terkejut mendengar teriakkan itu.
"KALIAN KENAPA SIH? TASYA BUKAN NYAMUK OM, ASTAGA BENAR-BENAR KELAKUAN ORANGTUA YANG SATU INI!"
"Jangan teriak-teriak!"
"Om yang duluan,"
"Yah, kenapa jadi saya?"
"Tasya datang, bukannya di sambut ini malah melamun."
Rudi mengulum senyum, menatap wajah Raiden menahan kesal setengah mati.
"Sir,"
Spontan pasangan suami-istri itu beralih kearahnya, menatapnya tajam seakan siap menerkam nya.
__ADS_1
"Saya per–"
"Bentar,"
Tasya memperbaiki posisi duduknya di atas pangkuan suaminya, menatap Rudi dari bawah sampai atas dan tersenyum lebar.
"You are so beautiful," tunjuknya kearah Rudi.
Siempunya terdiam sesaat, dengan antusias kembali duduk ketempat semula.
"OMG, terimakasih nona. Jarang-jarang tau ada yang bilang saya cantik. Padahal yah saya perawatan wajah tiap hari, tapi yah begitu."
"Oh, yah? mungkin mereka iri, padahal kamu cantik tau."
"Saya terharu nona," ucap Rudi dramatis, hendak meraih jemari lentik itu sebelum lengan kekar Raiden menariknya, dipindahkan ke bawah tepat diatas pangkuan siempunya.
Sontak Rudi dan Tasya diam mematung, terkesiap melihat tindakan Raiden.
"Maaf," ucap Rudi, sembari menahan tawa.
Tasya hanya mengulum senyum, membuka plastik besar itu dan mengeluarkan semua camilannya yang sengaja ia bawa dari rumah agar tidak terlalu bosan.
"Oh, iya. Nona sudah tau pasar malam yang sedang buka di kota?"
"Udah, tapi om suami gak mau. Katanya S I B U K,"
Tasya sengaja menjeda ucapannya, melihat reaksi suaminya. Dan seperti biasa, Raiden diam layaknya patung hidup.
Menyebalkan, batin Tasya.
"Sayang sekali, padahal pasar malam nya seru nona."
"Yaudah kita aja yang ke sana, temani gue malam ini,"
"Serius?"
"Oke, kita berangkat malam ini."
Tasya hanya mengangguk kan kepala, mulutnya penuh dengan makanan sesekali menyondorkan nya kearah suaminya.
"Kalo begitu saya permisi dulu nona, sampai bertemu nanti malam. Aduh aku gak sabar," ucap Rudi dan berlalu keluar dari ruangan.
Tasya mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah pria yang satu itu. Tasya akui Rudi memang cantik untuk ukuran seorang pria. Rambut di sisir rapi, bibir dipoles liptint, dan tubuh langsing layaknya wanita. Terutama suaranya yang lembut.
"Darimana kamu tau–"
"Penampilan," sela Tasya, memotong ucapan suaminya.
Raiden hanya mengangguk kan kepala, memilih fokus dengan layar komputer dengan pikiran yang berkeliaran kemana-kemana. Apalagi posisi mereka saat ini sangat tidak menguntungkan baginya, yang ada membangkitkan sisi liar nya.
"Om udah makan siang?" tanya Tasya lagi.
"Hm,"
"Gak bohong kan?"
Raiden hanya mengelengkan kepala, berusaha tetap fokus dengan kegiatannya tanpa memperdulikan istrinya.
Dengan santainya Tasya bersandar di dada bidangnya, sesekali menyondorkan camilannya tepat didepan bibirnya. Terpaksa Raiden membuka mulut, menerima suapan itu.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Terserah Tasya dong om, lagian apa salahnya. Atau jangan-jangan om punya selingkuhan lagi?"
"Ngawur,"
__ADS_1
"Siapa tau, sejarah om-om biasanya punya selingkuhan dibelakang istri."
"Ngada-ngada kamu,"
"Mulai dari tadi mengelak, nampak banget om punya simpanan."
"Tasya!"
"Iya, om suami."
"Ck, mending kamu pulang aja sana. Saya gak konsentrasi kalo begini ceritanya,"
"Tasya gak mau pulang, siapa tau selingkuhan om datang. Jadi Tasya tinggal bunuh simpanan om,"
"Astaga makin ngawur,"
Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, maniknya fokus menatap lengan kekar itu sibuk dengan kegiatannya dan mulutnya penuh dengan makanan.
Bunyi keyboard bersahutan kembali mengisi ruangan, Tasya tidak berniat membuka pembicaraan apalagi teman ngobrol nya manusia patung seperti suaminya.
Hingga terdengar ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.
"KELUAR!" teriak Tasya.
Terdengar decakan kecil, lengan kekar itu mencubit kecil lengannya bersahutan teriakan Raiden.
"MASUK!"
Pintu terbuka, menampakkan wanita seksi dengan kemeja putih ketat dan rok hitam sebatas atas lutut layaknya wanita p*nggoda.
Wajah wanita itu sempat syok, dengan canggung melangkah mendekat kearah mereka berdua.
"Maaf pak menganggu, laporan keuangan bulan ini," ujar wanita itu.
Tasya tertawa kecil, menatap wanita itu dari bawah sampai atas dan beralih ke arah suaminya, yang terlihat fokus dengan tumpukan kertas putih itu.
"Dia siapa om?" tunjuk Tasya kearah wanita itu.
"Bagian keuangan,"
"Karyawan di sini? kok bajunya gitu sih om? emang dibolehin?"
Spontan Raiden menghentikan kegiatannya, beralih ke arah gadisnya yang terlihat fokus menilai penampilan karyawannya.
"Biasanya kalo wanita pakai baju terbuka kayak gini, kerjanya di tempat yang aneh-aneh bukan di kantor. Beda cerita kalo tujuannya lain, godain boss misalnya," sindir Tasya.
Wajah wanita itu langsung memerah, antara kesal dan malu. Entah siapa gadis yang satu ini, bahkan bisa-bisanya duduk dipangkuan Raiden.
"Atau jangan-jangan simpanan om?"
"Jangan ngawur,"
"Jadi dia ngapain pakai baju begitu di kantor? om mau cuci mata tiap hari gitu? benar-benar dah,"
Tasya bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan suaminya.
"Om pecat dia sekarang!"
"Tasya,"
"Oh, gak mau? aku laporin sama ayah sama bunda."
Terdengar helaan napas panjang, sekali tarikan tubuh ramping itu kembali duduk dipangkuanya. Dengan gerakan kilat, Raiden menutup bibir gadisnya dengan telapak tangannya.
"Baca peraturan kantor, sebelum kamu saya pecat!"
__ADS_1
_______________
TERIMAKASIH:)