MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Sebenarnya Tasya juga sedikit curiga dengan Axel, mulai dari kedatangannya yang kurang masuk akal. Biasanya mulai dari jam pelajaran pertama seharusnya dia sudah duduk di dalam kelas, layaknya murid baru seperti biasanya. Tapi entah mengapa dia sedikit berbeda.


Apa Axel mencari mangsa dulu sebelum masuk kedalam kelas? bisa jadi. Tapi pembunuhan itu terjadi setelah pulang sekolah, karena korban hingga pulang sekolah masih di dalam kelas kata siswa yang lain. Dan sebelumnya juga mereka sudah ke tempat kronologi sebelum kejadian.


"Axel memang kelihatan kayak pembunuh, tatapannya beda gak kayak manusia normal. Auranya juga aneh, seram menurut gue," usul Tasya.


Alex mengiyakan ucapannya, karena ia sependapat dengan Tasya. Selama menjadi ketua OSIS, Alex sering bertemu dengan orang-orang yang berbeda setiap hari. Bahkan kepribadian nya pun berbeda-beda.


Hanya Axel manusia yang paling berbeda menurutnya, mulai dari ekspresi wajah yang sulit ditebak, hingga kepribadian. Tapi menurut Alex, pria yang satu itu memang tertutup dan susah di tebak.


"Tapi menurut gue bukan Axel pembunuhnya," kata Zara mengalihkan perhatian kedua sahabatnya.


"Tujuan Axel memang lain datang ke sini, tapi aura nya beda sama pembunuh asli." Ada dendam yang harus dia balas, tapi sampai sekarang gue gak tau siapa manusia nya. Ucap Zara yang sampai ditenggorokan.


"Maksudnya?" tanya Tasya bingung.


"Axel punya tujuan lain datang ke sekolah kita, mungkin menyelidiki kasus pembunuhan itu. Tapi kayaknya pembunuh itu tau tujuannya datang ke sini, makanya dia yang jadi tersangka. Pembunuh itu licik, dia udah merencanakan ini matang-matang cuman karena dendam dan kesenangan semata."


"Lo tau darimana?" tanya Tasya serius.


Mencengkeram kuat bahu sahabatnya, dengan tatapan mengintimidasi. Tasya tau ada yang kurang beres dengan manusia yang satu ini, biasanya Zara hanya mampu melihat potongan kejadian yang akan datang. Bukan seperti saat ini.


"Jawab gue!"


"Maksud Lo apaan sih?" elak Zara, seraya mendorong tubuh Tasya menjauh.


Memilih mengeluarkan semua isi tas nya, di susun rapi di atas meja.


"Kemampuan Lo makin bertambah kan?" tanya Tasya.


Sekejap tubuh Zara menegang, dengan jantung berdetak lebih kencang. Sahabatnya tidak boleh tau masalah yang satu itu, yang ada menambah beban mereka berdua.

__ADS_1


"Benarkan?"


"Gak,"


Dengan gegalapan Zara membuka buku nya, tanpa memperdulikan tatapan tajam kedua sahabatnya.


"Sampai kapan Lo bohongin kita? Lo gak sayang sama kita berdua lagi? ingat Za kita berdua siapa," tutur Tasya tenang, namun terdengar mencekam.


Dia tau Zara yang sekarang semakin berbeda dari yang biasanya, dia bukan Zara mereka yang dulu.


"Za," panggil Alex lembut.


Meraih jemari lentik itu, dan mengengam nya erat.


"Gak perlu takut, kita bertiga tetap sahabat. Kalo boleh, Lo jadi istri gue di masa depan. Gak usah malu, gue selalu terima Lo apa adanya. Kemampuan yang Lo miliki, bukan kekurangan yang harus Lo sesali." tutur Alex lembut.


Selama ini Zara memang sering mengeluh karena kemampuannya yang lain dari manusia normal. Apalagi semakin bertambahnya usia, kemampuannya semakin bertambah. Sedikit menyiksa dan memalukan menurut nya.


Sama gue gak pernah ngomong begituan, dasar Alex bodoh. batin Tasya.


Mengerucutkan bibirnya kedepan, dengan kesal melipat kedua tangannya dengan perasaan dongkol.


______________


Wajah Raiden terlihat menyeramkan, mulai dari pintu masuk hingga setiap langkahnya, wajahnya terlihat tidak bersahabat tidak seperti hari sebelumnya.


Kedua tangannya terkepal kuat, tatapannya tajam membuat seluruh karyawan takut dan menegang. Tapi tidak untuk Rudi. Malah pria yang satu itu tersenyum lebar di belakang Raiden, sesekali tertawa kecil.


"Sir, jangan lupa berkaca." peringat Rudi entah keberapa kalinya.


Siapa tau Raiden lupa dengan ekpresi wajahnya, kasihan para karyawan takut hanya melihat wajahnya. Beda cerita lagi dengan ucapannya, pedas, menyakitkan, tapi tidak untuk belakangan ini. Sedikit ada perubahan.

__ADS_1


"Apa servis nona muda kurang memuaskan? atau mungkin pelukannya kurang erat atau gimana?" tanya Rudi dengan santainya, seakan menganggap kemarahan Raiden masalah kecil.


Memang masalah kecil yang berdampak besar untuk mental siempunya, terutama gaji Rudi.


"Cari dia sampai dapat! Kalo tidak, kamu yang saya bunuh."


Ck, makin parah. batin Rudi.


Jika dalam keadaan genting seperti saat ini, yang turun tangan harus pawang nya atau nyonya besar Dirgantara. Takutnya Raiden melukai diri sendiri.


"Siap sir," Saya jemput nona muda dulu, mungkin anda memang membutuhkan itu. Bukan membunuh orang. Ucap Rudi di dalam hati.


Dengan gerakan kilat Rudi berlalu menjauh, sebelum kepalan tangan Raiden melayang dengan di udara, mendarat dengan mulus nya di wajahnya.


Padahal belakangan ini keadaan Raiden semakin membaik, apalagi ada Tasya yang selalu hadir mengalihkan perhatiannya. Tapi entah mengapa kondisi nya malah menurun drastis, bahkan lebih parah dari sebelumnya.


"Br*ngsek, dia harus mati. Dia gak pantas hidup."


Dinding bergetar, darah segar bercucuran dimana-mana. Manik cokelat itu semakin mengelap, rahang mengeras dengan tatapan tajam.


Raiden harus mencari cara membunuh serangga itu, karena dia pantas mati. Tidak ada seorang pun yang menerimanya di dunia ini, terutama Raiden.


Ia sendiri yang akan membunuhnya, agar serangga itu tau sakitnya di bunuh pelan-pelan.


_________________


TERIMAKASIH:)


EMANG IYA?


__ADS_1


__ADS_2