MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PENGAKUAN ZARA


__ADS_3

Sesuai ucapan Zara, pulang sekolah mereka berdua pulang ke rumah Tasya. Rumah yang wanita itu tempati dengan suaminya hampir setahun ini.


Selama perjalanan, Zara bungkam seribu bahasa. Antara percaya dan tidak percaya. Seorang Tasya Jovanka, dijemput supir pribadi dan beberapa bodyguard suruhan suaminya.


Sekejap semua pikiran kotor yang sempat singgah dalam benaknya, hilang terhempas angin lalu dan Zara simpulkan, Raiden Dirgantara suami sahabatnya benar-benar mencintai istrinya. Tidak seperti yang dia bayangkan.


"Za, woi! melamun aja Lo. Turun ayo!" ujar Tasya. Berlalu masuk kedalam rumah, dengan soal-soal digenggamanya.


Mulai dari pagi hingga selama perjalanan pulang, Tasya hanya fokus memahami materi-materi yang suaminya kumpulkan.


Sesuai ucapan pria itu, Tasya harus fokus dengan sekolah dulu baru belajar menjadi istri yang baik dan Tasya hanya menurut saja.


"LEX, BINI LO PULANG. MARAHIN LEX MARAHIN!" teriak Tasya mengema seisi rumah. Tanpa memperdulikan tatapan tajam kedua sahabatnya.


"Gue belum tuli, gue belum buta. Gak usah teriak-teriak!" sergah Alex. Seraya mengusap telinga dan dadanya secara bergantian.


"Dih, rumah-rumah gue. Gue usir tahu rasa Lo."


Tasya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, memejamkan mata lelah berkutat dengan soal-soal seharian.


Perhatian Alex beralih kearah Zara, "Pulang sama siapa Lo?" tanya Alex ketus.


Mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di sofa, dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Mulai dari pagi dia memang tidur, rasa pusingnya bertambah akibat begadang semalam.


Raiden juga memperbolehkannya di sini, malah menyuruh Mpok Atiek untuk merawatnya.


"Bang Riki," sahut Zara tak kalah ketus, sembari duduk disamping Tasya.


"Gue udah bilang, tunggu gue jemput minggu depan. Nurut apa susahnya?"


"Dih, siapa Lo ngatur-ngatur gue?"


"Yah?"


"Gue bosan Lex, bang Riki juga bolehin gue pulang."


"Oh, jadi Lo–"


"Ck, Lo berdua kenapa sih? kalo kangen yah pelukan. Ini malah adu mulut," sela Tasya memotong ucapan Alex.


Memperbaiki posisi duduknya dan menatap kedua sahabatnya secara bergantian.


"Pelukan aing kalo kangen, bising!"


Zara dan Alex hanya diam. Tidak mengubris ucapan Tasya sama sekali.


"Gengsi digedein, disuruh nikah gak mau. Disuruh kawin juga gak mau. Dasar anak manusia," ucap Tasya kesal.


Bangkit dari tempatnya, seraya menarik Zara menaiki tangga satu persatu. Berlalu masuk kedalam kamar yang sempat ia tempati.

__ADS_1


Karena kamar yang satunya, hanya boleh dimasuki dia dan suaminya saja.


Bahkan Mpok Atiek saja tidak diperbolehkan masuk ke sana, kecuali Raiden sendiri yang memperbolehkan.


________________


Kini mereka bertiga duduk disofa yang sama, dengan Tasya duduk ditengah-tengah seperti biasanya. Tatapan fokus ke layar televisi, mulut sibuk mengunyah camilan.


"Jadi apa yang mau Lo ceritain?" tanya Tasya membuka pembicaraan.


Zara menghela napas sejenak dan membuangnya secara perlahan.


"Sebelum ke desa balik bukit, gue punya kemampuan yang baru," ungkap Zara.


"Apa?" jawab Tasya.


"Melihat putaran waktu ke masa lalu, terutama masa lalu suami Lo."


Sekejap hening, Tasya diam mematung dengan ekpresi tidak terbaca.


Sebenarnya dia tidak mau mendengar masa lalu suaminya dari orang lain, dia ingin mendengar sendiri dari orangnya. Namun di satu sisi, Tasya tidak mau mengungkit masa lalu suaminya didepan orangnya sendiri. Karena berdampak besar untuk mentalnya.


"Gue gak bakalan cerita, kalo Lo gak mau," kata Zara seakan tahu isi kepalanya.


"Gak papa cerita aja, asal Lo gak nambahin atau kurangin. Apapun cerita Lo nantinya, gue tetap sayang sama suami gue," ucap Tasya tegas.


Zara mengangguk, walau dilubuk hati yang paling dalam sakit hati mendengar ucapan sahabatnya.


"Maafin gue," lirih Zara.


Menarik perhatian kedua sahabatnya, terutama Tasya yang sedari tadi sibuk mengunyah camilan.


"Eh, kok minta maaf. Katanya mau cerita." Tasya peka dengan ucapan Zara barusan. Karena dia memang sengaja mengucapkan kalimat itu, melihat reaksi sahabatnya. Siapa tahu Zara pura-pura bertobat, jadi Tasya harus waspada.


Namun reaksi Zara barusan, menunjukkan dia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Sini peluk! Tapi janji cerita." Tasya menarik Zara kedalam pelukannya dan memeluk tubuh sahabatnya dengan erat.


"Cerita dong, gue penasaran," ucap Tasya mengalihkan perhatian.


Alex yang duduk disampingnya hanya diam, tidak tahu arah pembicaraan mereka, hingga keduanya berpelukan seperti itu.


"Gue rada lupa, jadi Lo susun aja," jelas Zara dan memejamkan mata.


Tasya hanya mengangguk, mengelus lembut punggung sahabatnya dengan telinga fokus mendengar ucapan Zara.


"Psikopat yang berkeliaran waktu itu, masa lalu suami Lo. Namanya Andro saudara kembarnya Andri tapi manusia yang berurusan sama suami Lo di masa lalu, Andri."


"Awal permasalahan hanya karena satu perempuan, namanya Jihan. Jihan perempuan cantik, berasal dari keluarga broken home, gak punya perasaan, gak tahu namanya cinta. Namun karena om Raiden, dia ngerasain yang namanya hidup, bahagia dan tersenyum."

__ADS_1


"Semua kata-kata yang Jihan ucapkan hanya kebohongan semata, karena memang om Raiden benar-benar sayang sama dia. Apapun dia lakuin, asal Jihan bahagia terutama lepas dari jeratan Andri."


"Gue gak tahu awal permasalahannya, karena awalannya bukan dilingkungan sekolah."


Tasya mengerut, bingung maksud ucapan Zara.


"Intinya Jihan pacaran sama Andri yang notabenenya Psikopat berdarah dingin. Jihan yang awalnya ngerasain yang namanya hidup, kembali seperti semula. Karena Andri bukan manusia normal, melainkan manusia gangguan jiwa."


Sontak Zara menegakkan tubuhnya, duduk bersila di atas sofa menghadap kearah Tasya dengan wajah serius.


"Gila, Jihan pacaran sama psikopat maksud Lo?" tanya Tasya syok.


Bahkan Alex yang semula duduk melamun menatap layar televisi, tertarik dengan pembicaraan kedua sahabatnya. Pindah duduk lesehan di atas lantai, menatap fokus kearah Zara.


"Iya," jawab Zara seadanya.


Spontan Tasya meneguk salivanya kasar, merinding sendiri mendengar ucapan Zara.


"Rasanya pacaran sama psikopat gimana?" tanya Alex. Disetujui Tasya, dengan anggukan kepala.


"Gaya pacaran mereka beda, kayak b*natang sama tuanya. Bayangin tiap hari Jihan dilarang ini itu, diikuti kemana-mana, mentalnya dihancurin. Lebih parahnya lagi, setiap Zara melanggar salah satu peraturan itu. Tubuh dia yang jadi sasaran."


"Dip*rkosa?" tanya Tasya ragu.


"Gak, s*yatan."


"Gila, kasian banget," ucap Alex tak habis pikir.


"Iya, makanya om Raiden rela ngelakuin apa pun asal Jihan tersenyum. Karena memang dia benar-benar sayang banget sama Jihan dimasa lalu," ungkap Zara seadanya.


Mimik wajah Tasya langsung berubah drastis, namun cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali takut sahabatnya tahu. Apalagi itu hanya masa lalu.


"Jadi si Andro?" tanya Alex penasaran.


"Andro agak beda sih dari Andri. Dia masih sedikit waras tapi karena kematian Jihan dia makin gila."


"Jihan mati?" tanya Alex lagi.


"Iya tapi gue gak tahu karena apa," jawab Zara jujur.


"Masalah yang satu itu cukup kita aja yang tahu," ucap Tasya menarik perhatian kedua sahabatnya.


"Itu rahasia, gak boleh ada yang tahu."


Alex dan Zara hanya mengangguk patuh. Mengerti akan hal itu.


"Jadi darimana Lo tahu itu semua, sampai sedetail itu?" tanya Tasya serius.


______________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2