MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

"Bohong."


Terdengar helaan napas panjang, Raiden pasrah sekaligus malas. Ia tau gadisnya hanya berpura-pura, tapi Raiden malas membujuknya.


"Om,"


"Hm,"


"Bujuk kek atau gimana gitu? gak peka banget jadi suami."


Benarkan, dasar anak yang satu ini.


"Bujuk gimana sayang? aku gak tau,"


"Ih, om bikin kesal mulu. Jauh-jauh sana, mana berat banget lagi."


Bukannya mengindahkan ucapannya, lengan kekar itu malah menarik tubuhnya ke tengah-tengah ranjang dan kembali ke posisi semula.


"Om, berat."


"Bilang dulu kamu percaya sama aku,"


"Gak, om masih cinta sama si Jihan-jihan itu. Pembohong," tuduh Tasya.


Sebenarnya Tasya percaya dengan ucapan suaminya. Karena selama ini, ia selalu diam-diam bertemu dengan psikiater yang mengobati suaminya tanpa sepengetahuan siempunya. Katanya kemajuan suaminya semakin pesat, pikirannya mulai teralih dari masa lalu dan hanya di isi kehidupan sekarang yang tentunya ada Tasya didalamnya.


Namun terkadang suaminya masih terjebak dengan pikiran sendiri dan dikendalikan alam bawah sadar. Perasaan bersalah kadang menghantui, padahal dia tidak salah apa-apa.


Suaminya murni korban, dikurung di tempat yang gelap selama sebulan full tanpa ada yang tau. Dibunuh pelan-pelan, bahkan Jihan kekasihnya lebih tepatnya mantan suaminya dibunuh tepat didepan matanya. Miris.


"Om,"


"Gak usah ngambek, kita main buka-bukaan aja yok!"


"Buka-bukaan gimana? puasa masih lama om,"


Sontak tubuh kekar itu bangkit dari tempatnya, membuka kancing kemejanya satu persatu dan di lempar asal ke atas lantai.


Dengan gerakan kilat melepas penutup bagian atas tubuh ramping itu, hingga apa yang Raiden ingin lihat selama ini terpampang jelas di depan matanya.


"Om mau ngapain?"


Siempunya gegalapan, menutupi tubuhnya dan berusaha mendorong tubuh kekar itu menjauh, tapi sayangnya tubuh kekar itu lebih gesit. Menarik kedua lengannya, ditahan diatas kepalanya sendiri.


"Om, cari pembunuhnya aja sana. Bayar balas dendam om, aku gak bakalan larang sumpah," elak Tasya.


"Besok aja, yang ini aja dulu."


"Tasya gak suci lagi."


________________


Ketukan pintu terdengar, bersahutan teriakan Mpok Atiek dari luar. Kedua insan suami istri itu yang awalnya memejamkan mata, terusik mendengar teriakkan itu.


"Om, buka sana!"


Tasya mendorong-dorong tubuh kekar itu, hingga terdengar helaan napas panjang.

__ADS_1


"Ck, Mpok Atiek tiap hari kerjaannya menganggu mulu. Dibayar cuman bagian dapur doang, ini menganggu ketenangan."


Sontak Tasya tertawa kecil, bangkit dari tempatnya tepat tubuh kekar itu berbalik hendak membuka pintu. Tubuhnya terasa remuk, ditimpa tubuh kekar itu mulai dari pagi hingga sore.


Namun yang lebih parah, bagian dada nya.


Tasya tidak tau apa yang pria itu lakukan, tapi dada nya terasa sakit.


Dengan langkah gontai tubuh kekar itu melangkah kearah pintu, membuka kunci dan memutar knop pintu. Menampakkan Mpok Atiek, dengan wajah merasa bersalah.


"Maaf tuan, ada tamu."


"Siapa?"


"Teman nona muda,"


"Cewek atau cowok?"


"Dua-duanya, kalo gak salah Zara sama Alex."


"Bukan Axel kan?"


"Tidak tuan,"


"Hm, tunggu bentar."


Tubuh kekar itu berlalu masuk kedalam kamar, menatap kearah ranjang yang terlihat berantakan. Akhirnya Raiden dapat satu, minimal rasa penasarannya terbayar.


"Sya,"


"Kamar mandi, bentar."


Setengah hari mereka habiskan bermalas-malasan diatas ranjang, terpaksa nanti malam Raiden lembur bekerja. Sial, entah sampai kapan Raiden kaya. Tiap hari banting tulang, tapi gak kaya-kaya juga. Suara hati para pencari dollar.


Dengan wajah yang ditekuk wajah cantik itu menuruni tangga satu persatu, tanpa memperdulikan tingkah suaminya yang sedari tadi senyum-senyum tidak jelas mengikuti langkahnya.


Zara dan Alex yang hampir setengah jam menunggu, hanya diam tanpa berani berkomentar seperti biasa.


"Kalian udah lama?" tanya Tasya, seraya duduk di sofa tepat dihadapan kedua sahabatnya. Diikuti tubuh kekar itu, tanpa melirik sedikit pun kearah kedua sahabatnya.


"Seperti biasa," sahut Alex.


"Ngapain?" tanya Tasya to the point. Mood nya hancur berantakan, hanya karena ulah pria yang duduk disampingnya.


Tasya tidak habis pikir, hampir seluruh bagian atas tubuhnya memerah bekas gigitan. Pantasan sakit.


"Kita mau ngomong sesuatu,"


"Ngomong aja."


Manik Alex dan Zara beralih kearah Raiden, yang terlihat sibuk dengan rambut istrinya. Tasya yang sadar maksud sahabatnya, tertawa kecil sembari membalikkan tubuhnya.


"Om, jauh-jauh sana!"


"Gak,"


"Bandel banget jadi orangtua, bentar aja sana!"

__ADS_1


"Gak,"


"Tasya ngambek nih,"


"Silahkan,"


"Oke, Tasya bakalan ngambek. Jadi jangan harap om dapat–"


"Ck, iya-iya."


Tubuh kekar itu bangkit dari tempatnya, menatap kearah Zara dan Alex sebentar dan berlalu ke meja party yang berdekatan dengan ruang tamu. Raiden harus berjaga-jaga,


siapa tau kedua sahabat istrinya melakukan yang tidak-tidak. Karena Raiden tidak percaya lagi dengan kedua makhluk itu.


Merasa suasana mulai tenang, Zara dan Alex fokus menatap kearah Tasya kembali.


"Sya, gue minta maaf," ucap Zara terdengar tulus.


"Lo gak salah apa-apa,"


"Gue minta maaf sebesar-besarnya, gara-gara gue hidup Lo terancam selama ini."


"Santai aja, selagi gue masih hidup."


"Kita bakalan pindah."


Sontak manik Tasya melotot, menatap kedua sahabatnya dengan tatapan terkejut.


"Gue gak mau Lo tersiksa cuman gara-gara gue, ini kehidupan gue yang seharusnya menanggung sendiri bukan Lo."


"Maksudnya?"


"Kita bakalan pindah, jauh dari kota. Gue gak yakin Zara aman di sini. Gue udah dapat seseorang yang bisa nyembuhin Zara," ungkap Alex.


"Emang bisa? itu kan dosa perbuatan orangtua Lo. Seharusnya mereka yang nanggung, Lo cuman berusaha dekat sama Tuhan bukan yang lain. Lo berdua jangan nambahin dosa, orangtua Zara udah berhubungan sama iblis," ujar Tasya.


"Tenang aja, ini jalan yang baik kok."


Tasya hanya mengangguk, menatap sendu kearah kedua sahabatnya. Sebenarnya Tasya egois selama ini, apapun ia lakukan asal kedua manusia ini tetap menjadi teman dan pelindungnya.


Keluarganya hancur berantakan, hanya dua manusia ini yang setia disampingnya selama ini, walau terkadang menyakitkan.


"Sya gue minta maaf yah, waktu itu kita gak bisa nolongin Lo. Gue minta maaf banget, selama ini gue jadi beban. Cuman gara-gara gue hidup Lo makin berantakan, cuman gara-gara gue Lo malah berhubungan sama setan. Gue minta maaf."


"Gak papa,"


Tapi gue gak punya teman lagi, mama sama papa juga bakalan cerai. Cuman om Raiden doang teman gue, semoga aja Tuhan gak ambil itu juga dari gue. batin Tasya.


Zara dan Alex bangkit dari tempatnya, duduk di samping Tasya dan memeluk tubuh sahabatnya.


"Lo baik-baik di sini yah, tenang aja Lo gak bakalan diganggu setan lagi. Lo gak bakalan tersiksa lagi. Doain gue yah, biar gue bisa normal lagi seperti manusia biasa. Ini sakit banget," ungkap Zara.


___________________


TERIMAKASIH:)


INI MASIH AWALAN CERITA, SAYA BELUM JELASIN SEMUANYA. BEGITU PEMIRSA SEKALIAN.

__ADS_1


BOCORAN, PSIKOPAT MUNCUL DI BEBERAPA PART SELANJUTNYA.


__ADS_2