
Terdengar langkah mendekat, Mpok Atiek yang awalnya sibuk membersihkan dapur spontan menundukkan kepala. Malu sekaligus segan, atas kejadian semalam.
Wajah tampan itu juga terlihat tidak bersahabat, tatapannya tajam seakan siap menerkam mangsanya.
"Ck, jangan nunduk Mpok. Besok-besok jangan masuk ke kamar sembarangan. Saya udah punya istri, walau tampang nya memang kayak setan," decak Raiden.
Mpok Atiek yang mendengar ucapan Raiden hanya menghela napas lega, untung tuan muda nya tidak mengamuk seperti yang dibayangkan.
"Tuan," panggil Mpok Atiek ragu, mendongakan kepalanya keatas menatap wajah tampan itu yang terlihat sibuk menyiapkan bekal makan siang istrinya.
"Hm,"
"Ingat nona muda masih sekolah!" peringat Mpok Atiek.
"Iya, tenang aja. Saya gak bakalan lupa," Beda cerita kalo sisi j*hanam saya lebih dominan. Ucap Raiden yang sampai ditenggorokan.
Kebetulan mereka berdua di titipkan ke tangan Mpok Atiek, siapa tau Raiden melakukan hal yang tidak-tidak sebelum Tasya lulus. Tapi semalam, mereka berdua hampir melakukan hal di luar batas. Untungnya Mpok Atiek salah paham, jika tidak malam pertama pasangan suami-istri itu akan terjadi.
Mpok Atiek salah satu kepercayaan keluarga Dirgantara, ia sudah lama bekerja dengan keluarga Dirgantara, bahkan mulai dari Raiden kecil. Ia juga cukup dekat dengan kedua orangtua Raiden, bahkan menganggap nya sebagai teman walau perbedaan status sosial jauh berbeda.
Tapi bukan berarti Atiek menggunakan kesempatan itu, misalnya merebut suami nyonya besarnya. Itu haram hukumnya, bahasa kasarnya manusia tidak tau diri. Dikasih hati malah minta jantung. Di kasih makan, malah minta berlian.
Keluarga Dirgantara terlalu baik, bahkan gajinya saja tidak layak dikatakan gaji ART sangking banyaknya.
"Tapi Iden kurang yakin nunggu Tasya sampai lulus, jadi Mpok harus tutup mulut. Kalo gak–"
Raiden mengantung ucapannya, beralih menatap Mpok Atiek yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Iden bunuh Mpok Atiek," ancam Raiden asal.
"Mpok kasih tau sama tuan besar," balas Mpok Atiek tak mau kalah, seperti kebiasaan mereka dulu.
"Silahkan, Iden gak takut."
Iden panggilan Mpok Atiek selama ini. Mungkin karena terbiasa, Raiden juga mengunakan panggilan itu sejak kecil.
Apalagi ia dekat dengan Mpok Atiek, ibarat ibu kedua.
"Terserah tuan Iden, asal jangan lupa jaga kesehatan."
"Hm,"
__ADS_1
Mpok Atiek hanya tersenyum tipis, menatap punggung kekar itu berlalu menjauh.
Hampir setengah jam Raiden menunggu Tasya di dalam kamar, hingga detik ini juga tidak ada tanda-tanda batang hidungnya akan muncul. Bukan karena terlambat bangun, tapi gadisnya sibuk berdandan padahal hanya sekolah.
"TASYA!" teriak Raiden mengema seisi rumah, habis sudah kesabaran nya.
Bisa-bisanya anak yang satu itu, dia pikir dia mau kemana? cari calon suami? di depan matanya saja sebagai suami sah, anak yang satu itu tidak pernah berdandan. Ini hanya ke sekolah saja harus berdandan hampir setengah jam.
Dia pikir dia bisa selingkuh di belakangnya? bisa saja Raiden mengurungnya di kamar, melakukan itu berulang-ulang agar gadisnya tidak bisa berjalan selama seminggu, setahun sekalian. Bikin kesal saja.
Siempunya yang merasa terpanggil hanya tertawa terbahak-bahak, meraih ranselnya dan berlari terbirit-birit menuruni tangga satu persatu.
"MAU KEMANA KAMU?"
"Sekolah om suami," sahut Tasya dengan santainya. Melongos begitu saja dari hadapan Raiden, masuk kedalam mobil tanpa memperdulikan suaminya sebagai supir pribadinya.
Raiden hanya menghela napas panjang, mengikuti tubuh ramping itu masuk kedalam mobil. Duduk dibelakang kemudi, dan meletakkan kotak bekal makan siang gadisnya diatas pangkuan siempunya.
"Udah berani selingkuh kamu di belakang saya?"
"Ngomong apaan sih om? selingkuh-selingkuh emang om pikir Tasya apaan? punya suami satu aja udah puas banget, malah repot saking mesum nya."
Terdengar decakan kecil, tubuh kekar itu menyudutkannya ke pintu mobil. Dengan tatapan mengarah ke bibir gadis nya yang terlihat mengoda hari ini.
"Alex," jawab Tasya asal.
Raiden mendengus kesal, menarik tengkuk istrinya dan meraup bibir pink itu yang sedari tadi seakan menantangnya.
Manik biru itu membola, tubuhnya menegang membiarkan Raiden melakukan semaunya. Hingga liptint tipis yang awalnya terpoles di bibirnya, berpindah ke bibir tebal itu.
"Besok-besok pakai lipstik yang tebal, 1 menit masih kurang," ucap Raiden tepat di depan wajah gadisnya, menghapus jejak salivanya dibibir pink itu menggunakan ibu jarinya.
"Mesum."
_________________
Zara dan Alex sudah stand by berdiri di depan gerbang, menunggu Tasya yang tak kunjung datang. 5 menit lagi bel akan berbunyi, padahal banyak cerita yang ingin mereka ceritakan.
Bolos pun tidak bisa untuk hari ini, seharian full ujian ulangan harian.
Tepat bel berbunyi, mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Detik berikutnya, Tasya muncul dari balik pintu mobil. Dengan wajah yang ditekuk, bibir mengerucut kedepan.
__ADS_1
"Ck, lama Lo." sergah Alex, menarik kedua lengan sahabatnya berlalu masuk kedalam pekarangan sekolah.
"Lo belajar Sya?" tanya Zara ketus. Karena ia sudah hapal jawaban Tasya, padahal apa salahnya menghapal? tapi Tasya tetaplah Tasya.
"Kan ada Alex, buat apa belajar? iya gak beb?"
"Terserah, tapi Lo jangan bising. Lo pikir nyotek itu jualan BH sama CD? malu-maluin gue setan,"
Siempunya hanya tertawa terbahak-bahak, tanpa merasa berdosa sedikitpun. Memang Tasya tidak pernah membedakan antara ujian dan bercanda. Bisa-bisanya ia berteriak meminta contekan padahal ujian sedang berlangsung.
Bertepatan mereka bertiga duduk di kursi masing-masing, guru pengajar jam pertama masuk. Berdiri di depan ruangan, menatap siswanya satu persatu.
"Pulang sekolah jangan ada yang pulang, tunggu pemberitahuan dari monitor."
"Iya Bu," jawab seluruh siswa serentak.
"Buku di masukin ke dalam tas masing-masing, Tasya kamu pindah kesamping Axel."
Siempunya yang merasa terpanggil mengalihkan tatapannya kearah guru pengajar, menatapnya dengan mengerutkan dahi.
"Axel? orang mana Bu? tetangga Tasya gak ada yang namanya Axel," elak Tasya.
"Teman sekelas aja kamu gak tau, ibu gak habis pikir sama kamu. Pindah! ibu tau kamu gak belajar semalam, jangan harap hari ini kamu bisa mencontek dari Alex."
Terdengar decakan kecil, seluruh teman sekelasnya hanya tertawa kecil tak berani mengejek langsung. Karena sama aja masuk kedalam goa singa.
Gadis yang satu itu tidak segan-segan melayangkan pukulan, jika ada yang berani mengejeknya apalagi mengangu kedua sahabatnya. Walau sebenarnya mereka bertiga sama saja.
"Pindah Tasya!"
"Iya ibu cantik,"
Tasya bangkit dari tempatnya, melangkah ke pojok lebih tepatnya di samping Axel. Kebetulan pria yang satu ini duduk sendiri, mereka genap sebelumnya.
"Padahal Tasya gak kenal sama Axel Bu, jadi Tasya minta contekan sama siapa?"
"Itu urusan kamu,"
"Yaudah Axel pindah ke meja Alex aja bu, biar Alex duduk di sini juga."
"TASYA!"
__ADS_1
_________________
TERIMAKASIH:)