
Flashback
Usia Tasya sudah memasuki masa pubertas, dimana banyak perubahan terjadi baik dari segi fisik maupun hati.
Tasya sudah tau yang namanya cinta, cinta monyet. Walau sebenarnya sih dia sendiri mirip monyet, karena kebiasaan memanjat pohon mangga tetangga.
Namun kebiasaan buruk itu perlahan pudar, Tasya belajar menjadi gadis anggun demi menarik perhatian pria incarannya. Sahabatnya sendiri, Alex Budiman. Pria yang selama ini berperan sebagai ayah dan pelindung.
Mungkin semua gadis akan merasakan hal yang sama seperti Tasya, terbawa perasaan hanya karena perhatian lebih dari kaum Adam.
Mulai dari kelas 1 SMP Tasya menyimpan perasaan dengan pria itu, hingga kelas 3 SMP Tasya memberanikan diri menyatakan perasaannya. Tepatnya hari ini, ditaman depan rumah Tasya.
"Lex,"
Pria disampingnya hanya tersenyum, mengelus lembut rambut panjangnya seperti kebiasaan pria itu.
"Kita pacaran yuk!"
"Ngomong apaan sih Sya?"
"Pacaran, masa Lo gak tau?"
Terdengar helaan napas panjang, jemari pria itu beralih mengengam jemari nya dengan tatapan tidak lepas dari manik biru itu.
"Kita sahabatan aja yah,"
"Kenapa aku gak cantik yah?"
"Gak, kamu cantik banget malah."
"Jadi?
"Nanti Zara sakit hati,"
"Kok gitu?"
Tasya mengerutkan dahi, menatap pria itu bangkit dari tempatnya berdiri menjulang tinggi tepat dihadapannya.
"Zara lebih butuh kasih sayang."
Manik Tasya melotot, terkejut mendengar ucapan pria itu.
"Maaf Sya,"
"Gak papa."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Tasya bangkit dari tempatnya, berlalu masuk kedalam rumah dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Cinta pertama nya kandas begitu saja, ditolak mentah-mentah hanya karena alasan itu saja. Ternyata Tasya gak pantas mendapatkan kasih sayang, pantasan kedua orangtuanya tidak pernah menunjukkan kasih sayang.
_____________
Lepas kejadian itu Tasya memilih mengurung diri di kamar, hanya kesepian dan gelap malam yang menjaganya.
Hingga satu malam, maniknya menangkap satu sosok manusia tampan. Anak tetangga, sekaligus manusia kesepian sama sepertinya.
Pria tampan itu selalu pulang larut malam, kadang tertidur di dalam mobil. Kadang duduk melamun didalam mobil, dengan kaca yang terbuka.
Hari berlalu, kebiasaan pria itu selalu sama setiap hari dan itu tidak lepas dari pandangan Tasya selama ini.
"Ternyata ada yang sama kayak aku," gumam Tasya.
__ADS_1
Senyuman manis terukir indah dibibirnya, tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan itu.
Entah sekedar penasaran atau tertarik, mulai hari itu Tasya malah penasaran dengan kehidupan pria itu. Kadang memotretnya diam-diam dan dijadikan polaroid. Tanpa sadar, pikirannya teralih dari kehidupan kelam nya, yang ada senyum-senyum sendiri tidak jelas.
"Kenapa Lo?" tanya Alex, mungkin menyadari tingkah aneh nya.
"Gak, papa."
Tanpa memperdulikan kedua sahabatnya, Tasya hanya fokus menatap layar ponselnya. Sesekali tersenyum sendiri, hingga Alex ikut menatap layar ponselnya saking penasarannya.
Zara yang merasa dicuekin malah memainkan drama. Apalagi Zara juga menyukai Alex dan mendengar pembicaraan mereka waktu itu tapi hanya setengah.
Mulai dari kejadian itu kelebihan yang Zara miliki dia jadikan sebagai kelemahan, hanya sekedar menarik perhatian Alex. Hingga mereka duduk di bangku SMA.
Kadang Tasya merasa kesal, apalagi waktunya lebih banyak ia habiskan untuk membantu Zara. Bahkan kadang kerasukan, saking banyaknya setan yang menginginkan Zara. Tapi sayangnya sahabatnya tidak sebaik yang ia pikir, Zara itu egois.
Dia hanya mementingkan diri sendiri, kadang mengalihkan perhatian Alex dan berakhir Tasya kesepian. Kadang Tasya ingin balas dendam, namun neneknya bilang,
"Kebaikan tak selamanya dibalas kebaikan. Kejahatan tak selamanya dibalas dengan kejahatan. Ini dunia, bukan surga. Jangan pernah mencari kesempurnaan, jangan pernah berharap lebih ke manusia."
"Roda berputar, sama hal nya dengan kehidupan. Jika kamu melakukan kebaikan hari ini, bukan berarti kamu mendapatkan balasannya hari itu juga."
"Mungkin di masa depan kamu mendapatkan balasan dari semua kebaikan kamu. Jadi lakukan apa yang kamu bisa, selagi itu baik. Tuhan itu melihat, gunakan logika jangan cuman hati."
Tasya percaya dengan ucapan nenek nya, makanya Tasya tidak pernah melakukan apa-apa sekedar membalas kekesalannya.
Kata-kata itu selalu Tasya tanamkan di dalam hati, sejahat-jahatnya manusia bahkan sahabatnya. Tasya tidak pernah berniat membalasnya. Buktinya kehidupan mereka saja semakin rumit, tanpa Tasya sadari.
________________
"Lo berdua jahat banget," lirih Tasya disela-sela tangisnya. Melipat kedua tangan dengan mengerucutkan bibir.
"Masa gue ditinggal, katanya teman. Mana ada teman kayak gini,"
Dia juga baik, baik dalam bidang apapun yang bersangkutan dengan kehidupan mereka berdua.
Zara tau ia memang salah, tapi egois sesekali juga perlu. Hanya Alex pria yang mau berdekatan dengannya, beda dengan Tasya yang suka gonta-ganti pasangan hanya karena kesal pria incarannya sedingin es batu. Suaminya sekarang.
Banyak pria yang menyukai Tasya dari dulu, bahkan tumpangan dan makan siang di sekolah pun banyak yang mengantri.
"Kita pulang kok kesini sekali sebulan. Jadi tenang," ucap Alex.
"Tetap aja, nanti kalo ujian gue nyontek sama siapa coba?"
"Kan ada Axel,"
"Dia malah lebih bodoh, dia gak tau apa-apa. Detektif bodoh,"
"Axel detektif?" tanya Alex heboh.
"Iya,"
"Gila keren banget,"
Tasya mendengus, menurutnya Axel tidak ada keren-keren nya. Malah nyebelin, masa anak gadis di paksa bela diri. Dasar pria bodoh, bukannya jadi pelindung malah ngajarin yang tidak-tidak.
Kalo ada waktu, Tasya akan membalaskan dendamnya.
"Jadi kalian pindah kemana?"
"Desa balik bukit, orang-orang disana taat beragama semua. Kita belajar agama disana, sekalian mengobati Zara. Katanya ada yang bisa bantu Zara disana," ungkap Alex.
__ADS_1
Tasya hanya mengangguk, menghela napas panjang dan tersenyum lebar kearah kedua sahabatnya.
"Lo berdua baik-baik di sana, gak boleh tidur berdua belum sah."
"Rese Lo," sergah Alex.
"Alamat nya kirim lewat pesan, siapa tau suami gue ada waktu kita datang ke sana."
"Siap, laksanakan Baginda ratu," ujar Alex.
Mereka bertiga bangkit dari tempatnya, melangkah beriringin keluar dari rumah berhenti tepat didepan mobil Alex.
"Lo berdua jaga kesehatan, gue takut Lo berdua pulang dari sana jadi mayat."
"ASTAGA LO DOAIN KITA BERDUA MATI?" pekik Alex tidak terima.
"Cuman Lo doang sih, soalnya ada dendam pribadi."
"Br*ngsek,"
Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, memeluk Zara erat seakan tidak ingin melepaskannya.
"Gedung apartemen lama yang ada ditengah kota, incaran dia cuman suami Lo doang. Kalian hati-hati, tapi Lo gak usah takut dia gak bakalan ninggalin Lo," bisik Zara.
"Makasih."
Zara beralih menangkup wajah Tasya, menghapus jejak air mata yang membasahi wajah sahabatnya. Gadis cantik ini manusia pemberani, yang mau mempertaruhkan nyawa demi menjaganya selama ini.
"Maafin gue," lirih Zara.
"Gak papa,"
"Lo berhak bahagia."
"Lo juga, gak cuman gue. Kalian pergi aja sana gue capek nangis!"
Sontak Zara tertawa kecil, berlalu masuk kedalam mobil. Meninggalkan Alex dan Tasya saling melemparkan tatapan permusuhan.
"Mati aja Lo sana, gak guna!"
"Jahat banget sih Sya,"
Tasya melipat kedua tangannya, dengan air mata yang tiada henti menetes dari pelupuk matanya.
"Sya, boleh peluk gak?"
"Gak, nanti suami gue marah."
"Yah,"
Spontan Tasya tertawa kecil, berhambur memeluk tubuh kekar itu sepuas-puasnya.
"Gue tetap sayang sama Lo, ingat itu. Jaga Zara baik-baik, cuman dia doang teman gue. Lo musuh gue,"
"Iya-iya,"
Alex mendorong pelan tubuh ramping itu, berlalu masuk kedalam mobil sebelum wajahnya babak belur.
"B*NGSAT, BERANI-BERANINYA LO!"
Pawang Tasya keluar dari sarangnya.
__ADS_1
______________
TERIMAKASIH:)