MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
DELAPAN


__ADS_3

"LO LAGI!" geram Alex.


Dengan sigap menarik kepala Tasya kedalam dekapannya, sebelum pria ini babak belur.


Dia Bima, bukan Bima sakti. Preman sekolah, ketua geng motor, sekaligus fans berat Tasya. Beberapa kali menyatakan cinta walau tetap saja hasilnya sama, Tasya selalu menolak.


"Vanka gue mau ngomong sesuatu," ucap Bima lembut.


Vanka nama panggilan Tasya dari Bima, nama panggilan yang paling Tasya benci. Apalagi Bima yang memangil.


"Ngomong aja," balas Tasya, seraya membalas pelukan Alex.


Wajah Bima langsung berubah drastis, kedua tangannya terkepal kuat.


"Gue mau Lo jadi pacar gue," ujar Bima sedikit memaksa.


Spontan Tasya melepaskan pelukannya, menatap Bima sebentar beralih merangkul pundak kedua sahabatnya.


"Gimana pendapat ayah sama Bunda?" tanya Tasya kearah kedua sahabatnya, secara bergantian.


Sebenarnya Tasya hapal betul apa jawabnya, tapi melihat pria yang satu ini kesal suatu hal yang seru.


"BIG NO," jawab Alex dan Zara bersamaan.


Tasya menganggukan kepalanya, beralih kembali kearah Bima.


"Kata bunda sama ayah gak, jadi maaf. Lagian Lo udah punya pacar, tuh dia ngeliatin Lo," tunjuk Tasya kearah pintu.


Terlihat gadis cantik sekaligus pacar Bima selama ini, kelas sebelah satu tingkat dengan mereka. Sebenarnya Tasya kurang yakin perempuan yang satu itu masih gadis, pergaulan mereka saja bebas tanpa pengawasan orangtua. Pergaulan Tasya memang bebas, tapi melakukan hal yang merugikan diri itu bukan tipenya.


"Dia bukan pacar gue," elak Bima.


Sontak Tasya bangkit dari tempatnya, bertepuk tangan tepat dihadapan Bima dengan tatapan tajam.


"Ulangi!"


"Dia bukan pacar gue,"


"Kalo bukan pacar, ngapain Lo bawa tiap hari ke tempat yang sepi? Lo pikir dia apaan? JAWAB GUE!" bisik Tasya tepat di depan wajah Bima.


Spontan wajah Bima berubah drastis, entah darimana Tasya tau aib yang satu itu. Kejora bukan wanita yang suka menyebarkan aib sendiri, bahkan aib yang satu itu selalu tertutup rapat tanpa ada yang tau selama ini.


"Lo mau jadi pacar gue? nikahi Kejora setelah lulus, kalo gak Lo tangung akibatnya," bisik Tasya serius.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Bima berlalu menjauh, wajahnya memerah kedua tangan terkepal. Bima memang preman sekolah, tapi Tasya bukan tandingannya.


"Gak tau malu, udah punya pacar bisa-bisanya nembak istri orang," geram Tasya.


Spontan semua mata tertuju kearah nya, detik berikutnya terdengar tawa mengema seisi ruangan. Padahal Tasya mengatakan fakta, bukan stand up komedi. Tapi yasudah lah, orang-orang tidak perlu tau kehidupannya.


______________


Bel pulang sekolah berbunyi Tasya langsung pulang, berharap suami tampannya sudah stand by di rumah. Walau sebenarnya Tasya sudah tau, pria membosankan itu selalu sibuk dengan layar komputernya.


"Ck, punya suami tapi gue masih jalan kaki," gerutu Tasya, sembari berjalan gontai dari ujung kompleks.


Kebetulan angkot berhenti di simpang, jadi Tasya harus berjalan kaki alias kerja dua kali.


"Gak guna,"


Tasya menghentak-hentakan kakinya, bibir mengerucut kedepan tanpa memperdulikan pasang mata yang tertuju kearahnya.

__ADS_1


"Tidur sendiri, makan sendiri, jalan kaki sendiri, dirumah sendiri. Untung gak bayar uang kos,"


Satpam yang mendengar ucapan Tasya hanya mengulum senyum, membuka gerbang untuk nona muda nya.


"Pak, om Raiden udah pulang?" tanya Tasya, sembari bersandar di gerbang dengan melipat kedua tangan.


"Tuan muda pulang sore atau malam non,"


"Lama, gue hancurin juga perusahaan itu."


Satpam hanya bisa mengelengkan kepala, heran sekaligus terhibur. Awalnya ia kaget melihat istri tuan mudanya, apalagi Tasya masih SMA. Tapi melihat kelakuan Tasya beberapa hari ini, ia mendukung penuh akan hal itu. Siapa tau Raiden berubah, tidak hidup monoton seperti biasanya.


Tasya masih setia ditempat, mengamati sekeliling hingga maniknya bertemu manik hitam kelam, milik pria berwajah pucat. Tubuhnya tinggi kurus tak terawat, auranya aneh, gelap, tanpa ada kehidupan dari tatapan mata itu.


Broken heart and broken home? kayaknya. Tapi aneh, batin Tasya.


Dengan cepat Tasya mengalihkan tatapannya, menutup gerbang dan mendekat kearah satpam.


"Pak, yang itu siapa?" tunjuk Tasya kearah punggung pria barusan.


"Orang baru kayaknya non, soalnya wajahnya masih baru,"


"Aneh, mana ada wajah baru. Yang ada baju baru, pak satpam, pak satpam," ucap Tasya.


Berlalu masuk kedalam rumah, menutup pintu dan menghela napas panjang. Kembali lagi ke hidup yang membosankan.


"Ck, hidup gue kapan menyenangkan yah?" keluh Tasya, menaiki tangga satu persatu dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Seperti biasa Raiden hanya fokus menatap layar komputer, sesekali mengusap wajahnya gusar dan bersandar di kursi kebesarannya. Satu hari ini kepalanya pusing, ditambah kelakuan istri kecilnya yang selalu membuat nya pusing setengah mati.


"Permisi sir,"


"KELUAR!"


"Apaan? gue sibuk," sergah Raiden.


Rudi hanya mengangkat bahunya acuh, duduk dikursi tepat dihadapannya.


"Meeting–"


"Kasih sama ayah aja, kepala gue pusing," sela Raiden.


"Gue belum selesai ngomong loh ini,"


"Terserah,"


"Meeting di undur, klien kecelakaan ditengah sungai."


"Gak lucu,"


"Sebaiknya anda pulang sir, wajah anda memprihatinkan. Kurang belain kayaknya,"


"KELUAR!"


"Astaga sir, saya turut prihatin. Semoga nona muda cepat dapat jodoh, saya kasihan,"


Raiden hanya bisa menghela napas panjang, menahan emosi dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Saya rasa nona muda pasti tersiksa menikah dengan anda, saya saja tersiksa melihat wajah tampan anda,"


"BR*NGSEK."

__ADS_1


Raiden bangkit dari tempatnya, melayangkan satu pukulan di wajah sahabatnya dan berlalu keluar dari ruangannya.


Setelah menikah, belakangan ini pria yang satu itu semakin gencar menggodanya. Jika jam sudah menunjukkan pukul 18:00, Rudi akan stand by duduk dihadapannya seakan menyuruhnya pulang.


Padahal yang punya istri di rumah Raiden, tapi yang heboh Rudi.


Dengan kecepatan tinggi Raiden membelah jalanan, hanya membutuhkan waktu yang singkat mobil sudah terparkir didepan rumah.


Dengan grasa grusu Raiden masuk ke dalam, dengan satu tujuan kamar Tasya.


Tapi sayangnya kamar kosong, gelap tanpa pencahayaan, tanpa ada tanda-tanda penghuninya. Padahal satpam melapor Tasya sudah pulang, dan tidak kemana-mana.


"TASYA!"


Hening tidak ada sahutan. Seisi rumah terlihat kosong, tidak ada terdengar suara sedikitpun.


"Ck, kemana lagi anak yang satu itu."


Raiden melepas dasi yang melilit dilehernya, sembari membuka pintu kamar sebelah menampakkan Tasya tidur di atas ranjang, dengan seragam putih abu-abu berserakan di atas lantai.


"Cobaan apa lagi ini?"


Raiden melangkah mendekat kearah ranjang, menarik selimut menutupi tubuh ramping itu yang hanya ditutupi tank top hitam dan celana pendek.


Siempunya yang merasa terganggu dengan pergerakan kecil itu, dengan malas membuka maniknya tersenyum tipis kearah suaminya.


"Om udah pulang?"


"Hm,"


"Lama banget,"


"Ngapain tidur di sini?"


"Tasya gak punya teman di rumah,"


"Banyak alasan,"


Raiden memungut seragam gadisnya satu persatu, dengan kesal melempar ke arah siempunya.


"Jangan di ulangi!"


"Malas,"


"Keluar!"


"Mager,"


"Tasya!"


"Gendong kalo gitu,"


Raiden menghela napas kasar, membuka selimut yang menutupi tubuh ramping itu detik berikutnya melototkan matanya.


Sial, batin Raiden.


"Buruan om,"


Hening, manik cokelat itu masih setia menatapnya tapi dengan tatapan yang berbeda. Gelap dan gairah.


______________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2