MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TERUNGKAP


__ADS_3

Seingat Raiden, mulai dari menginjakkan kaki memasuki kantor ia tak pernah menyebutkan nama Tasya. Tapi mengapa sekarang gadis itu muncul dari balik pintu?


Raiden memerintahkan Rudi mencari mangsanya, bukan memangil gadisnya. Sepertinya manusia yang satu itu sudah bosan menikmati gaji yang banyak, berarti Raden harus memotong gajinya sekaligus menyiksanya.


"Hai om," sapa Tasya.


Senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya, namun itu hanya bertahan sebentar. Detik berikutnya maniknya melotot, seraya melangkah lebar kearah suaminya yang terlihat diam mematung di kursi kebesarannya.


"ASTAGA OM, KALO BOSAN HIDUP GAK GITU JUGA CARANYA." bentak Tasya.


Meraih jemari suaminya, dan menghela napas panjang.


"Kalo emosi om bukan ninju tembok, banyakin bersabar doa sekalian. Bukan langsung hadap yang di atas, udah tua juga." omel Tasya.


Siempunya memilih diam, bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis senang mendengar omelan gadisnya. Dengan gerakan kilat menarik tubuh ramping itu mendekat, dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Kamu ngapain ke sini? ingat perkataan saya tadi pagi?"


"Gak usah mengelak, lihat nih darah nya banyak banget. Mana sampai robek lagi,"


"Sekali bolos, seharian pelayanan di atas ranjang," sambung Raiden lagi. Tanpa memperdulikan tatapan tajam istrinya.


"Om-om mesum,"


Sontak Raiden tertawa kecil, membiarkan Tasya bangkit dari tempatnya berlalu keluar dari ruangan.


Tak menunggu lama tubuh ramping itu kembali muncul dari balik pintu, melangkah mendekat kearahnya dengan membawa kotak p3k.


Wajah cantik itu ditekuk, bibir dimanyukan kedepan dengan tatapan tajam.


"Besok-besok kalo om emosi, lompat aja dari atas. Biar mati sekalian."


Siempunya hanya manggut-manggut, seraya menatap gadisnya yang terlihat sibuk mengobati luka di jemari nya.


"Tangan itu digunain buat ngelakuin hal yang benar, banyak om manusia yang gak sempurna. Tapi om malah melukai diri sendiri. Itu namanya gak bersyukur tau."


"Emang kamu tau artinya bersyukur?"


Sontak Tasya mendongakkan kepalanya keatas, bertepatan wajah tampan itu didepan wajahnya. Hanya beberapa centi, bibir milik suaminya akan menyatu dengan bibirnya.

__ADS_1


Cepat-cepat Tasya kembali menunduk, sebelum suami mesumnya mengambil kesempatan.


"Tasya memang kadang kurang bersyukur, tapi Tasya selalu berusaha bersyukur atas semua berkat Tuhan. Om tau, oksigen itu gratis dan patut di syukuri. Bagaimanapun kehidupan, patut juga di syukuri. Jangan berharap terlalu tinggi, takutnya tertampar realita."


Raiden tertegun sejenak, dengan gemas mengacak-ngacak pucuk rambut gadisnya. Ternyata gadis bar bar bar nya bisa sebijak ini dan patut diacungi jempol.


Walau terkadang harus geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, kadang pusing tapi terhibur di waktu yang bersamaan.


"Sya, kalo saya bunuh orang. Bagaimana menurut kamu?" tanya Raiden hati-hati.


"Tasya bakalan bunuh om, semua orang pantas hidup. Om gak berhak ngambil nyawa seseorang, sejahat apapun itu. Karma is real, akan ada saatnya dia ngerasain apa yang kita rasain. Jadi gak usah di balas,"


Terdengar helaan napas panjang, Raiden memilih bersandar sembari memejamkan mata.


Tasya yang menyadari perubahan wajah tampan itu, bangkit dari tempatnya. Mengumpulkan semua obat-obatan yang baru saja ia gunakan dan dimasukkan ke tempat semula.


"Om banyak pikiran?" tanya Tasya, duduk di atas pangkuan suaminya kembali. Menghadap langsung tepat didepan wajah suaminya.


Mengelus lembut rahang tegas itu, hingga manik cokelat itu terbuka dan membalas tatapannya.


"Mau cerita?"


"Om udah tau yah?"


"Apa?"


"Om jangan marah tapi yah, janji?"


"Hm, janji."


Kedua jemari Tasya menangkup wajah tampan itu, menatapnya saksama dan berkata lirih.


"Dia kembali."


Sontak tubuh Raiden menegang, tatapannya mengelap dengan kedua tangan terkepal.


Tasya sudah tau reaksi ini yang akan Raiden tunjukkan, karena siapapun itu akan melakukan hal yang sama. Jika berada di posisi suaminya.


Pertanyaan Raiden sebelumnya, Tasya tau itu tertuju ke seseorang yang selama ini suaminya cari. Iblis berkedok manusia, perebut kebahagiaan bahkan hampir nyawa suaminya di masa lalu.

__ADS_1


Pembunuh yang berkeliaran selama ini, pasti musuh suaminya di masa lalu. Karena tanda segitiga itu, arti dari cinta segitiga mereka dulu. Tasya yakin hal itu.


Semalaman ia memikirkan itu saja, saking tidak tega nya melihat nyawa yang tidak bersalah.


"Om," bisik Tasya lembut.


"Ingat gak boleh marah,"


Tidak ada perubahan sama sekali, wajah tampan itu malah semakin memerah, tatapannya sudah berbeda dari biasanya.


Astaga, kambuh lagi. Batin Tasya.


Pinggangnya jadi sasaran jemari itu, mencengkeramnya kuat dengan tatapan kosong.


"Maaf," lirih Tasya.


Sebenarnya ia takut mengungkit masalah itu, tapi jika pembunuh itu di biarkan berkeliaran, maka semakin banyak nyawa yang terancam. Padahal mereka tidak salah apa-apa.


Tasya tidak tau cara menenangkan suaminya dalam keadaan seperti saat ini, apalagi suaminya semakin berbeda. Layaknya iblis. Hanya ini satu-satunya cara, semoga saja berhasil. Tanpa pikir panjang Tasya langsung menyatukan bibirnya dengan bibir suaminya, membuat siempunya sadar dalam sekejap.


Ciuman di bibirnya terasa pasif, layaknya pengalaman pertama. Tapi siempunya tetap berusaha, hingga bibir tebal itu membalasnya ciumannya.


Cengkraman dipinggangnya perlahan melongar, tergantikan elusan lembut dari pinggang hingga naik keatas tepat di belakang kepalanya. Tatapan mereka beradu, napas saling bertubrukan. Kilatan marah itu perlahan pudar, tergantikan tatapan jahil seakan mengodanya.


Om, ciuman pertama Tasya balikin. Jerit Tasya di dalam hati.


________________


TERIMAKASIH:)


Yes, true.


Aku pikir yang lain paham, karena aku selalu selipin alur selanjutnya di setiap part.


Konfliknya gak terlalu berat kan?


Dari Comedy romantis, lari ke thiler. Horor lagi. Bwuahaha


__ADS_1


__ADS_2