
Dengan langkah lebar kedua kaki jenjang itu menyelusuri lorong sekolah satu persatu, cengkraman lengan kekar itu semakin menguat kesal melihat tingkah Axel barusan.
Gadisnya hanya menurut, tanpa ada penolakan sedikitpun. Hingga terdengar jeritan dari kejauhan, lorong paling ujung tepatnya kelas 12 IPS 1.
Itu terdengar jeritan Zara, mungkin potongan kejadian itu kembali menghantui. Disatu sisi Tasya kasihan, tapi disatu sisi lagi rasa takut lebih mendominasi. Mengingat tatapan membunuh sosok menyeramkan itu.
Tasya yakin itu sosok yang menghantui Zara selama ini, sosok yang menginginkan Zara layaknya tumbal. Dampak dari perbuatan orangtuanya selama ini.
"Om,"
"Gak boleh," tolak Raiden mentah-mentah, seakan tau maksud ucapannya.
"Tapi om–"
"Tetap gak boleh, saya suami jadi turuti ucapan saya."
Sekejap Tasya diam seribu bahasa, hanya isakan kecil yang terdengar. Sebenarnya Raiden tidak tega, tapi egois untuk keselamatan gadisnya juga penting.
Raiden belajar dari kejadian yang menimpa istrinya, manusia yang menolong bahkan mengangkatnya dari kerumunan hanya Axel. Manusia baru, yang masuk kedalam kehidupan mereka.
Padahal selama ini waktu gadisnya lebih banyak dihabiskan dengan kedua sahabatnya, tapi bisa-bisanya dalam waktu genting seperti itu mereka berdua seakan lupa dengan sahabat sendiri.
"Jangan nangis!"
"Om,"
Raiden seakan tuli, membuka pintu mobil dan sedikit memaksa gadisnya masuk kedalam. Tangis Tasya semakin pecah, menatap kebelakang tepat semua siswa ketakutan keluar dari ruangan masing-masing.
Biasanya hanya Tasya yang mampu melawan itu semua, walau dampaknya besar untuk keselamatannya. Alex tidak akan mampu menenangkan Zara sendiri, yang ada dia kerasukan.
Perlahan mobil melaju meninggalkan pekarangan sekolah, dengan kecepatan sedang Raiden membelah jalan yang sedikit lengang.
Tak menunggu lama mobil sudah memasuki pekarangan rumah, dengan gerakan kilat Raiden turun membuka pintu mobil untuk gadisnya.
"Ayo!"
Kedua lengan ramping itu melilit di lehernya dan kedua kaki gadisnya melilit dipinggangnya.
Mpok Atiek yang kebetulan baru pulang dari supermarket, menatap khawatir kearah nona muda nya. Mengikuti tubuh kekar itu masuk kedalam.
"Nona muda kenapa, Den?" tanya Mpok Atiek cemas, mengelus lembut rambut panjang Tasya yang hampir menutupi wajahnya.
"Gak papa, Mpok gak usah kasih tau bunda apalagi ayah. Bising,"
Mpok Atiek hanya mengangguk patuh, menutup pintu kamar dan menghela napas panjang.
Raiden memilih duduk di tepi ranjang, melepas sepatunya terlebih dahulu baru sepatu gadisnya. Semilir angin terasa dingin, mingkin sebentar lagi hujan. Langit juga perlahan gelap, setitik air jatuh dari atas terdengar bersahutan.
"Sayang," bisik Raiden lembut, sembari mengelus punggung istrinya.
"Panas," lirih Tasya parau, bahu nya bergetar sesekali terdengar isakan kecil.
"Jadi?"
"Buka baju,"
Jemari Raiden langsung bergerak, melepas kancing seragam putih itu satu persatu dan melepasnya dari tubuh ramping itu.
Dengan sigap Tasya kembali memeluknya, menyembunyikan wajahnya diceruk leher suaminya.
__ADS_1
"Jangan nangis, gak semua perlu ditangisi. Jadi manusia jangan terlalu baik. Gak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, manusia itu egois."
"Emang om gak manusia gitu?" tanya Tasya kesal, disela-sela tangisnya.
"Setengah manusia setengah setan, istri aja setan."
"Gak lucu,"
Sontak Raiden tertawa kecil, bangkit dari tempatnya berpindah posisi ke sisi ranjang yang lain. Menghadap tepat kearah kaca balkon yang terbuka.
Hujan dan angin terlihat saling berlawanan, hingga hujan terbang dibawa angin masuk dari celah-celah jendela.
"Kamu suka hujan?" tanya Raiden, sembari mengelus lembut punggung istrinya.
"Lumayan,"
"Kalo aku?"
"Gak, om udah tua. Pantasnya sama yang tua-tua, bukan anak SMA kayak Tasya."
"Kenapa?"
"Biar serasi,"
"Mana serasi itu."
"Terserah, Tasya gak peduli."
Terdengar decakan kecil, lengan kekar itu menyelipkan helaian rambutnya dengan gemas mencium sudut bibir gadisnya.
"Kalo emosi bukan mukul orang, banyakin bersabar doa sekalian," ucap Raiden mengcopy paste ucapan gadisnya.
"Mana ada?"
"Waktu itu Tasya yang ngomong gitu yah om,"
"Gak ada,"
"Dasar om-om."
Tubuh ramping itu bangkit dari tempatnya, memilih duduk disampingnya menatap lurus kedepan. Sesekali menghapus jejak air matanya dengan kasar.
"Kenapa, hm?"
Raiden menarik tubuh gadisnya, disandarkan didada bidangnya.
"Capek om, Tasya udah berusaha tapi gak pernah beruntung. Yang ada sakit hati,"
"Ada aku yang ngobatin,"
Spontan seulas senyuman manis terukir indah dibibir pink itu, memejamkan mata menikmati sentuhan lembut jemari besar itu dengan hembusan angin masuk dari celah-celah jendela.
"Mama sama papa bakalan cerai," ungkap Tasya.
Manik Raiden langsung melotot, mendorong tubuh ramping itu kembali seperti semula. Beralih menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya.
"Kok aku gak tau?"
"Om gak perlu tau, nanti om malu punya istri broken home."
__ADS_1
"Kok ngomong gitu?"
Sontak Tasya tertawa kecil, melepas jemari suaminya dari wajahnya. Memilih menatap lurus kedepan, tepat kearah tetesan air hujan yang begitu menenangkan.
"Aku gak mau jadi beban siapapun,"
"Yah?"
"Sampai kapan om mau Jujur sama aku? aku istri Om, kalo lupa." desak Tasya. Mungkin ini satu-satunya cara, agar kebingungannya selama ini terjawab.
"Maksudnya?"
Sontak Tasya bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan suaminya mencengkeram kerah kemeja putih itu.
"OM JUJUR SAMA AKU!" bentak Tasya tepat di depan wajah suaminya.
Selama ini ia tau ada yang pria ini sembunyikan, tengah malam Raiden diam-diam terbangun dari tidurnya dan sibuk dengan ponselnya. Berbicara dengan seseorang tanpa sepengetahuannya.
Tapi setiap Tasya hendak menguping, pembicaraan itu malah di akhiri.
"APA SANGKUT PAUT OM SAMA PEMBUNUH ITU?"
"Balas dendam."
"BOHONG!"
Terdengar decakan kecil, sekali tarikan tubuh ramping itu sudah dibawah kuasa tubuh Raiden. Mengunci pergerakannya, dengan tatapan tidak lepas dari manik biru itu.
"Masih cinta masa lalu yah?" ejek Tasya.
"Gak,"
"Kita cerai aja deh om, buat apa coba pernikahan ini kita dilanjut orang kita berdua aja saling tertutup satu sama lain. Om gak tau kehidupan aku, begitu sebaliknya. Suatu hubungan itu harus saling terbuka, bukan saling menutupi." terang Tasya akhirnya.
Selama ini ia hanya membutuhkan teman, kehidupannya terlalu rumit tapi tidak ada yang pasti di ajak kompromi.
Suaminya terlalu rumit untuk dipahami, dia hanya terfokus ke masa lalu akhirnya berputar-putar begitu saja tanpa celah.
"Aku minta maaf,"
"Gak ada artinya minta maaf om, aku gak butuh itu. Cuman perhatian, sama kejujuran."
Terdengar helaan napas panjang, tubuh kekar itu ambruk begitu saja diatas tubuhnya. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma khas gadisnya.
"Pembunuh itu dari masa lalu," bisik Raiden parau.
"Bohong,"
"Aku gak bohong."
"Buktinya apaan? aku gak percaya sama om,"
"Itu yang kita cari selama ini. Tapi gak ketemu-ketemu,"
"Bohong, bilang aja om gak bisa move on dari Jihan."
"Aku gak cinta sama Jihan, dia cuman masa lalu."
_____________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)