MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
PASAR MALAM


__ADS_3

Cindy yang baru saja keluar dari ruangan CEO langsung menyebar berita sesuai yang ia lihat. Dalam sekejap Tasya dijuluki sugar baby, wanita ranjang boss selama ini.


Apalagi peraturan semakin di perketat, bahwasanya seluruh karyawan di wajibkan memakai pakaian sopan setiap hari tanpa terkecuali.


"Ini pasti gara-gara si centil itu," bisik Cindy kearah karyawan lainnya.


"Kalian tau gak? dia duduk di pangkuan si boss, mana sok cantik lagi. Padahal rata kayak dinding, lebih m*ntokkan gue malah," lanjutnya lagi.


Para karyawan lainnya hanya diam, hingga terdengar dehemen keras tepat di samping Cindy.


"Hei, mulut di jaga. Bisa-bisanya Lo ngomongin nona muda di belakang, emang kamu siapa, ha? mana sok cantik lagi. Kalo bosan kerja, itu pintu keluar." tunjuk Rudi kearah pintu.


"Awas aja kalo ada yang ngomongin nona muda lagi, apalagi sok cantik. Gue tandai Lo semua. Ih, kesal aku lama-lama."


Rudi berlalu menjauh, sesekali melampiaskan amarahnya kearah karyawan lainnya. Padahal Tasya hanya memuji kecantikannya, belum tentu ucapannya sesuai yang di hati. Tapi bagi Rudi, manusia yang memuji kecantikannya adalah manusia terbaik.


"Om, sampai kapan jadi patung? sesekali cosplay jadi monyet om, gerak gitu, ngomong kek. Ini malah diam mulai dari tadi," gerutu Tasya.


"Pulang sana, saya S I B U K," ucap Raiden mencopy paste ucapan gadisnya.


"Yaelah om, kerja memang kerja tapi ini udah sore,"


"Kenapa emangnya kalo sore?"


"Yah waktunya tidur om kalo gak cari psikopat, robohin perusahaan ini, nyalain api di rambut om biar gak jadi es mulu. Bikin kesal tau lama-lama," gerutu Tasya sembari bangkit dari tempatnya, menarik-narik jas hitam suaminya yang masih setia fokus dengan layar komputer.


Tapi sayangnya siempunya tetap kekeh, tubuh kekar itu masih setia duduk di kursi kebesarannya tanpa berniat bangkit dari tempatnya.


Hingga pintu terbuka menampakkan Rudi dengan senyuman lebarnya, dengan antusias mendekat kearah Tasya.


"Nona ke pasar malamnya jadi?" tanya Rudi penuh harap.


Dengan antusias Tasya menganggukan kepala, mengandeng lengan Rudi dengan senyuman lebar dibibirnya.


"Jadi dong om, Tasya pengen banget tau ke pasar malam," ungkap Tasya.


Dengan semangat mereka berdua berjalan beriringan hendak melangkah keluar dari ruangan Raiden, sebelum lengan kekar melilit dipinggang Tasya. Dan menghempaskan lengan Rudi.


"Kita duluan, urus karyawan yang lembur malam ini!"


Rudi tercegang, diam mematung di tempat menatap kedua punggung itu berlalu menjauh.


"Bilang cemburu aja susah banget, dasar," cibir Rudi.


Untung kantor sudah lumayan sepi, tinggal beberapa orang yang mungkin lembur malam ini. Hanya bunyi sandal jepit Tasya yang menarik perhatian, sesekali terdengar tawa para karyawan.


Jangankan mereka, Raiden saja pusing mendengar bunyi sandal jepit itu. Apalagi kaki ramping itu sengaja menyeret langkahnya, menimbulkan suara nyaring itu.


"Om, Tasya lapar."


"Makan atau pasar malam?"


"Oh, tentu pasar malam tentunya."


Tasya tersenyum lebar, memeluk erat lengan kekar suaminya hingga duduk di jok mobil disamping kemudi.


Sebenarnya Raiden malas ke tempat yang ramai, apalagi bising. Tapi membiarkan Tasya dengan Rudi bukan hal yang bagus juga. Untuk hari ini ke tempat yang ramai mungkin bukan ide yang buruk, semoga saja.


Sepanjang perjalanan terdengar helaan napas panjang, entah seberapa besar beban yang Raiden pikul yang pasti menarik perhatian Tasya.


"Om mau mati?"


Raiden hanya mengelengkan kepala, tanpa berniat membalas ucapan gadisnya.


"Jadi, sesak napas?"


Lagi-lagi Raiden mengelengkan kepala, hingga jemari lentik itu mendarat di dahinya.


"Gak panas, om flu? siapa tau penyakit jantung,"


"Sangkut pautnya apaan?"


"Hidung sama jantung kan sejalan om, kalo hidung sama jantung gak berfungsi lagi berarti om END."

__ADS_1


"Apaan?"


"Kayak film-film om, selesai tamat. Berarti hidup om selesai,"


"Makin ngawur kamu,"


"Tasya makin cinta sama om,"


"Terserah, saya gak peduli."


"Kenapa? Tasya cantik tau, om gak bakalan sia-sia cinta sama Tasya. Sejarah–"


"Jangan ngomongin sejarah, ingat nilai kamu C."


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, seraya memukul kecil lengan kekar suaminya.


"Jangan bawa-bawa nilai om, Tasya malu tau,"


"Katanya malu, itu kamu ketawa. Aneh,"


"Biar gak keliatan,"


"Terserah."


Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, menatap lurus kedepan hingga maniknya berbinar menatap pemandangan di ujung jalan.


Banyak orang yang berlalu lalang, hiburan dan permainan menghiasi pasar malam.


Tapi sayangnya tak satu pun yang menarik perhatian Raiden, bahkan rasanya ingin lari dari kenyataan saking pusingnya.


"Om, ayo!"


Tasya berdiri di depan pintu mobil, seraya menarik-narik ujung jas hitam suaminya.


"Kamu aja, saya tunggu di sini."


"Kalo ada yang culik Tasya gimana?"


Terdengar decakan kecil, dengan malas Raiden bangkit dari tempatnya berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan gadisnya.


"Gak papa om, seru tau," ucap Tasya meyakinkan, seraya menautkan jemarinya dengan jemari besar suaminya.


Menarik sedikit paksa tubuh kekar itu, hingga kaki jenjangnya melangkah terpaksa, sesekali berdiri tepat dibelakangnya menghindari keramaian.


"Pulang!" bisik Raiden tepat di telinga Tasya.


Tapi Tasya tetaplah Tasya. Dengan kekuatan penuh menarik tubuh kekar itu, hingga berdiri tepat dihadapan permainan yang paling Tasya sukai Bianglala.


"Om, kita naik itu yah."


Wajah cantik itu terlihat bahagia, maniknya berbinar dengan senyuman mengembang di bibirnya. Raiden hanya mampu mengangguk kan kepala, tidak tega menolak permintaan istri kecilnya


"Tasya makin cinta sama om,"


Saya makin pusing, batin Raiden.


Satu persatu antrian berkurang, hingga tepat nomor antrian mereka berdua. Dengan antusias Tasya menarik lengan kekar itu, duduk di dalam wahana dengan senyuman yang semakin mengembang.


Demi istri, sumpah gak papa. Batin Raiden.


Tasya yang menyadari perubahan wajah tampan itu hanya tertawa kecil, meraih lengan kekar suaminya seraya mengelusnya lembut.


"Om takut ketinggian?"


"Gak,"


"Jadi?"


"Pusing di tempat keramaian," ungkap Raiden jujur.


"Tasya baru tau ada yang gak suka keramaian,"


"Ada, saya terutama author Ga."

__ADS_1


Tasya hanya mengangguk kan kepala, maniknya fokus menatap kebawah sembari mengelus lembut lengan kekar suaminya.


Itu semua tidak hilang dari pandangan Raiden, bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis tanpa gadisnya sadari.


"Astaga om, di bawah cantik banget."


tunjuk Tasya kearah bawah, tepat posisi bianglala berada di atas.


"Kamu lebih cantik,"


Skakmat Raiden kelepasan.


"Om ngomong apaan?"


"Gak,"


Astaga bisa-bisanya Raiden kelepasan, lagian bibir pink itu menarik perhatiannya sedari tadi. Gadisnya tidak henti-hentinya tersenyum lebar hanya karena menaiki wahana permainan ini.


Apa kebahagiaan sesederhana itu? selama ini Raiden selalu mencari kebahagiaan yang berbeda, tapi hari ini Raiden tau ternyata kebahagiaan itu cukup sederhana.


Yah sederhana, ternyata Raiden manusia paling bodoh di dunia ini. Manusia yang tiada saja, selalu ia harapkan ada dan hadir dalam khayalan dan mimpinya.


"Om, ayo! Om punya hobi melamun yah? Melamun gak baik buat kesehatan pria tua kayak om. Takutnya malaikat pencabut nyawa tiba-tiba muncul dari atas,"


Raiden hanya mengelengkan kepala mendengar ucapan gadisnya, seraya mengikuti kaki ramping itu melangkah sesuka hatinya tanpa melepaskan cekalan tangan berdua.


Padahal seharusnya pria yang melakukan itu, tapi mereka berdua selalu berbeda dari yang lain.


"Om, beli itu dong." tunjuk Tasya kearah permen kapas.


"Saya gak punya uang,"


"Pelit banget sih om, biasanya yang pelit cepat mati tau."


Raiden hanya mengangkat bahunya acuh, meronggoh saku celananya mengambil dompet dan menyondorkan selembar uang berwarna merah kearah Tasya.


"Beli satu, kembaliannya balikin lagi sama saya."


"Dasar pelit,"


Raiden hanya tertawa kecil, berdiri tepat di belakang gadisnya tanpa memperdulikan pasang mata yang selalu tertuju kearah mereka berdua. Semoga saja tidak ada yang mengenal nya.


Walau tetap saja semua tak seindah yang dibayangkan, selalu ada betina sok dekat dan sok kenal.


"Pak Raiden yah?"


Siempunya hanya mengangguk kan kepala, tanpa berniat membalas ucapannya bahkan melirik ke arah wanita itu.


"Ponakannya pak? cantik. Bismillah semoga dapat Paman nya," ucap wanita itu, seraya merapatkan tubuhnya dengan tubuh kekarnya.


"Dia istri saya, enak aja kamu bilang ponakan saya."


Sontak wajah wanita itu berubah drastis, antara malu dan kesal bercampur aduk.


"Kenapa sayang?"


Seorang pria datang dari arah belakang, menatap tajam kearah Raiden seakan mengobarkan perperangan.


"Lo apain pacar gue?"


Raiden memilih diam, malas meladeni manusia yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupannya. Lagian dia tidak melakukan apa-apa., yang ada wanita itu yang mengodanya.


"LO APAIN PACAR GUE?" teriak pria itu tepat didepan wajah Raiden, menarik perhatian orang yang berlalu lalang terutama Tasya.


"Di tanya malah diam, pengecut!"


Raiden tetap diam, bahkan membiarkan kepalan tangan itu melayang, menunggu waktu yang tepat untuk membalasnya. Tapi sebelum kepalan itu mendarat di wajah nya, seseorang lebih dulu menangkis nya. Dalam sekali kedipan mata pria itu sudah tak berdaya.


_______________


TERIMAKASIH:)


BEGINI NIH YANG BIKIN SENANG, HATI LANGSUNG BERBUNGA-BUNGA LAYAKNYA DI PADANG GURUN PENUH DENGAN IKAN-IKAN.

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, SEKALIAN BERI VOTE DAN HADIAH. TERIMAKASIH 🍓



__ADS_2