MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
BAHAGIA VERSI TASYA JOVANKA


__ADS_3

"Ck, calon koruptor," decak Rudi. Tepat mereka keluar dari ruang VIP disatu restoran, tempat pertemuan mereka dengan rekan bisnis siang ini.


Raiden tidak mengatakan apa-apa, tanpa dibicarakan pun dia sudah tahu rencana jahat dibalik kerja sama yang mereka jalin tapi Raiden tetap melakukan kerja sama.


Bermain-main sedikit mungkin menyenangkan, melihat sampai dimana kemampuan musuh bertahan.


Lagian keluarga Dirgantara diajak bermain, lawan yang tepat untuk mempercepat proses bertemu yang diatas.


"Den, kenapa Lo terima?" tanya Rudi kesal. Tak habis pikir dengan keputusan sang sahabat, selaku CEO sekaligus anak pemilik perusahaan.


"Mangsa baru,"


"Ck, gue gak punya waktu Den. Calon bini gue keburu diembat orang."


Raiden hanya mengangkat bahu acuh, berlalu keluar dari restoran itu diikuti Rudi dari belakang.


Sepanjang lorong menuju keluar, Rudi tidak henti mengomel, kebiasaan pria itu jika tidak terima dengan keputusan sepihak sang sahabat. Walau ujung-ujungnya Rudi akan ikut serta kerja sama, mengikuti alur permainan Raiden membalaskan dendam terhadap musuh.


"Ini nih yang gue gak suka dari Lo, apa salahnya minta persetujuan dari gue dulu. Gue tahu Den, Lo jarang dapat jatah tiap malam tapi gak gini juga caranya," omel Rudi.


"Bapak sama emak gue udah kebelet pengen punya cucu, calon bini aja gue gak punya apalagi anak. Sesekali pikirin nasib gue Den, nafkahi sekalian kayak Lo nafkahi nona muda. Kita sahabat dari kecil, gak salah kalo Lo nafkahi gue. Cari uang susah banget bro, udah berapa kali gue bilangin sama Lo," ucap Rudi panjang lebar.


Raiden hanya diam, tidak berminat membalas ucapan sang sahabat. Pandangan hanya lurus kedepan, hingga maniknya bertemu manik biru dengan lima jari melambai kearahnya.


Tanpa memperdulikan Rudi yang masih setia mengomel dibelakangnya, Raiden melebarkan langkah kearah sang istri. Dengan senyuman kaku, terbit dibibirnya.


"Eh, kita ketemu lagi. Kayaknya kita jodoh," celetuk Tasya asal. Terkekeh geli melihat ekpresi kaku diwajah tampan itu, yang ditunjukkan kearah papanya.


"Darimana?" tanya Raiden berat, terkesan dingin seperti biasanya.


"Dari mall sama papa," tunjuk Tasya kearah gedung dibelakang mereka.


"Jadi itu buat apa lagi?" tunjuk Raiden kearah leher Tasya. Tepatnya boneka ulat bulu berwarna hijau, yang dililitkan dileher putih itu seperti kebiasaan istrinya.


"Dibeliin papa, iya gak pa?"


Senyuman merekah tercetak jelas dibibir Tasya, sebelah lengannya bebas bergelanyut manja di lengan sang papa. Sebelahnya lagi, memegang paper bag.


Richard hanya tersenyum, sembari mengacak-ngacak pucuk rambut putrinya.


"Buat apa lagi, di rumah udah banyak?" tanya Raiden.


"Terserah aku dong, papa yang beliin aja gak bilang apa-apa."


"Dasar bocil."


Tasya hanya mencibik, menoleh kearah Rudi yang sedari tadi mengomel dibelakang suaminya.


"Dia kenapa om?"


"Kurang belaain," jawab Raiden asal.


"Jahat banget sih om."


Raiden hanya diam, mengalihkan pandangan kearah mertuanya yang sedari tadi tersenyum lebar kearah mereka berdua.

__ADS_1


Kebetulan beberapa jam yang lalu sebelum SMA GALAXY pulang, Richard mertuanya memang meminta izin menjemput istrinya ke sekolah.


Walau kenyataannya, setelah pertemuan mereka waktu itu Richard selalu meminta izin sekedar bertemu putrinya. Namun Raiden selalu menolak, tunggu Tasya lupa kejadian beberapa waktu lalu.


Kebetulan juga Tasya tripikal manusia pelupa, terbukti sekarang wanita itu terlihat senang. Hanya karena keinginannya dimanja sang papa terwujud.


"Kita mau ke restoran seafood, sekalian bertemu mertua kamu," terang Richard.


Raiden hanya mengangguk paham, senang mendengar ucapan pria paruh baya itu. Ternyata perjuangannya tidak sia-sia, kedua mertuanya benar-benar berubah.


"Ayo, pa! nanti mama kelamaan nunggu kita," ajak Tasya.


"Suami kamu gak ikut?" tanya Richard memastikan.


"Gak, usah. Kerjaan dia masih banyak. Ayo, pa!" Tasya menarik-narik Richard tak sabaran, persis anak dibawah umur.


"Kalo papa ajak gimana?"


"Gak, gak, gak boleh. Om suami gak usah ikut, aku gak suka."


"Dasar anak setan," decak Raiden kesal dengan ucapan istrinya.


Richard hanya bisa tertawa, tak habis pikir dengan interaksi pasangan suami-istri itu.


"Kita duluan, pulang dari sana–"


"Kita pulang ke rumah, aku udah kangen banget pulang ke rumah," sela Tasya memotong ucapan Richard. Seraya menarik-narik papa nya menjauh. Hingga berlalu masuk kedalam mobil.


Istri durhaka, satu kata yang langsung terlintas dalam benak Raiden.


"Karma instan."


_______________


Bahagia, itu yang Tasya rasakan saat ini. Apalagi keinginannya terwujud dalam satu hari. Mulai dari pulang sekolah dijemput sang papa, belanja ke mall dengan sang papa juga. Sekarang makan dengan kedua orangtua, dimeja yang sama.


Ini yang paling Tasya inginkan selama ini, tidak lebih dari itu. Entah apa yang terjadi, semua mendadak berubah.


Senyuman manis setia bertengger di bibirnya, sesekali membuka mulut menerima suapan sang mama.


"Sekolahnya gimana?" tanya Raina, seraya menyuapi putrinya.


"Lancar,"


"Masih sering bolos?"


"Gak,"


"Kamu jangan bandel, kasihan suami kamu."


"Iya, ma."


"Jangan cuman iya,"


"Iya, loh ma. Tanya aja sama om Raiden, aku gak pernah bolos lagi tuh."

__ADS_1


Raina seketika tercengang mendengar panggilan Tasya terhadap menantunya.


"Kamu masih panggil om sama Raiden?" tanya Raina memastikan.


Tasya hanya mengangguk, mulut sibuk mengunyah sesekali menerima suapan dari kanan dan kiri. Leher masih setia dililit boneka ulat bulu berwarna hijau itu.


"Sama suami sendiri?" tanya Raina syok.


"Iya, mama."


"Astaga, emang kamu pikir menantu mama apaan?" Raina histeris, mencubit lengan putrinya bertubi-tubi.


Tingkah anak yang satu ini tmemang selalu diluar nalar manusia normal. Hanya manusia dengan tingkat kesabaran yang tinggi yang bisa hidup berdampingan dengannya.


Berarti Raiden salah satu makhluk Tuhan yang paling sempurna, bisa bertahan hidup dengan manusia seperti putrinya.


Raina dengan suaminya saja angkat tangan, apalagi Ratna mama nya.


"Aduh, sakit ma." Tasya berusaha menghindar, walau tetap saja hasilnya sama. Raina bahkan memukul kecil punggungnya.


"Mama gak habis pikir sama kamu. Astaga Raiden itu suami kamu, bukan om-om ped*fil Tasya!"


"Iya-iya, maaf. Pa, tolongin Tasya!" Mohon Tasya kearah sang papa, dengan manik berkaca-kaca bibir melengkung kebawah.


Richard yang melihat itu tercegang, tumben-tumbenan putrinya semanja ini. Jangankan mengadu, menangis saja Tasya tidak pernah mulai dari kecil. Dia beda, tidak seperti anak-anak pada umumnya. Seakan mengerti dengan keadaan.


Richard merasa bersalah akan hal itu, seharusnya Tasya sama seperti anak-anak pada umumnya. Mengadu dan menangis jika menurutnya sudah keterlaluan. Tidak memendam sendiri.


"Ma, udah!" ujar Richard.


Menarik tubuh putrinya kedalam dekapannya, memeluk erat sesekali mengecup pucuk rambutnya.


"Mama gak seru, harusnya papa gak usah ajak mama makan sama kita. Kerjaan marah-marah mulu," adu Tasya.


"Papa juga nyesal ajak mama."


"Mama gak seru gak 'kan pa?" tanya Tasya, seraya membalas pelukan sang papa tak kalah erat. Dengan senyuman mengembang dibibirnya.


"Iya, mama gak seru."


Raina hanya berdecak, memilih makan tanpa memperdulikan ucapan kedua manusia yang duduk disampingnya.


"Anak sama bapak sama aja," ucap Raina akhirnya.


Sontak Tasya tertawa terbahak-bahak, melongarkan pelukannya dari tubuh sang papa menoleh kearah Raina yang terlihat kesal.


"Ada yang cemburu pa, kayaknya mama pengen dipeluk." Tasya pura-pura berbisik, walau kenyataannya Raina bisa mendengar ucapan putrinya.


"Siapa bilang, lebih dari peluk aja udah papa kasih," ungkap Raina.


"YAH? KALIAN MESUM BANGET SIH."


______________


TERIMAKASIH:)

__ADS_1


__ADS_2