
Melihat orang yang kita cintai tersenyum, suatu anugerah terindah. Apalagi untuk seorang Raiden yang selama ini merasa gagal menjadi seorang suami.
Wanitanya memang tidak pernah mengeluh, bagaimanapun sifat dan keadaannya selama ini Tasya selalu berada di sisinya.
Tapi sebagai manusia, tahu diri itu juga penting. Sebelum wanitanya merasa bosan karena sikapnya yang terlalu dingin, dia sendiri harus peka dan berusaha menjadi sosok yang hangat minimal didepan Tasya Jovanka saja.
"Kata Oma, mama sama papa bakalan datang ke sini," adu Tasya.
Turun dari atas tubuh kekar itu, memilih berbaring diatas ranjang sembari menarik selimut sebatas dada.
"Ngapain?"
"Gak tau, Oma juga kaget."
Lama, udah dua hari yang lalu perjanjian. Batin Raiden.
Kebetulan satu Minggu ini, waktunya lebih banyak dihabiskan menunda perceraian kedua mertuanya.
Memang Ayah Tasya setuju dari awal, karena memang dia yang salah. Wanita secantik dan sesempurna ibu mertuanya bisa-bisanya dicampakkan begitu saja. Padahal dari segi manapun, ibu mertuanya sempurna.
Suaminya saja yang tidak berguna, bahkan berani-beraninya selingkuh. Padahal wajahnya jauh dibawah rata-rata.
Untung istrinya full fotocopy ibu mertuanya. Baik dari segi wajah, postur tubuh, maupun pemikiran.
Walau awalnya Ibu mertuanya sempat menolak mentah-mentah tapi karena perkataan Raiden ibu mertuanya akhirnya luluh.
"Kempatan kedua, dalam jangka satu tahun. Satu tahun bukan waktu yang singkat. Dipergunakan sebaik mungkin untuk mengubah semua perilaku ayah. Tapi satu tahun itu tidak ada perubahan, saya sendiri yang turun tangan."
Karena bagaimanapun juga dia sendiri yang menunda sidang perceraian itu. Demi istri kecilnya, demi melihat wajah cantik itu tersenyum dan bisa merasakan kasih sayang orangtua.
"Menurut om, papa bisa berubah gak yah? kasian mama. Dulu tiap malam harus nangis gara-gara papa. Padahal mukanya pas-pasan, tapi mama mau sama papa dulu."
"Menurut kamu gimana?" tanya Raiden. Memeluk erat tubuh ramping itu, seraya memejamkan mata.
"Bakalan susah, papa br*ngsek."
"Kenapa ngomong gitu?"
"Udah dari dulu papa berulah, mana gak pernah nafkahi keluarga. Lebih parahnya lagi, gak pernah kasih uang jajan. Padahal bukannya gak punya uang, dasar gak punya otak aja."
Akibat mama nya jarang pulang ke rumah karena satu alasan itu. Papa nya tidak bertanggung jawab, ujungnya mama nya banting tulang tiap hari demi menafkahi mereka berdua.
"Masalah uang jajan, bisa aku atasi. Tapi harus ada servis nanti malam,"
"Ck, gak lucu. Orang serius, malah diajak bercanda."
"Iya-iya, maaf. Lagian gak usah diungkit-ungkit lagi, yang ada timbul dendam."
"Aku gak pernah kepikiran sejauh itu. Sejahat-jahatnya papa, dia tetap papaku satu-satunya."
Ini nih, yang paling Raiden suka dari manusia yang satu ini. Kelakuan wanitanya memang di luar nalar, tapi sekali diajak serius dia bisa lebih serius dari yang dibayangkan.
"Kiss me!" Pinta Raiden.
__ADS_1
Tasya hanya menurut, mengecup lembut bibir tebal itu.
_________________
"Besok, gue cariin janda muda beranak satu. Paket lengkap. Lo punya bini, plus punya anak."
Kata-kata Raiden benar-benar kenyataan. Janda muda beranak satu, salah satu karyawan di kantor kini berdiri di depan pintu rumah. Dengan gadis kecil berumur 5 tahun, wajahnya persis seperti ibunya.
Wanita ini memang janda tapi wajahnya, terlihat seperti anak gadis berumur 17 tahun. Cantik, tubuh modis, rambut panjang tergerai, make up tipis. Lengkap dengan senyuman manis.
Banyak karyawan yang menganggumi sosok wanita ini, bahkan blak-blakan mengatakan perasaannya langsung. Tapi entah mengapa dia memilih sendiri sampai saat ini.
"Maaf mengangu pak,"
Siempunya tersadar dari lamunannya, gegalapan menganggukan kepala.
"Kata pak Raiden, bapak cari kerja tambahan hari weekend."
Kerja tambahan? maksudnya?
Dahi Rudi mengerut, tanpa melepaskan pandangan dari wanita cantik dihadapannya.
"Raiden j*hanam ngomong apa?" tanya Rudi tanpa memperdulikan ucapan.
Firasatnya tidak enak. Entah apa lagi yang setan itu rencanakan.
"Katanya bapak terima penitipan anak dihari weekend."
B*ngsat, benar-benar. Batin Rudi.
Dihadapannya wanita, bukan Raiden. Jadi harus jaga image.
"Pak!"
"Eh, iya kenapa?"
"Saya bisa titip putri saya hari ini? Kebetulan saya harus kerja,"
Cobaan apa lagi ini? masa jadi baby sister? yang benar saja. Rudi pikir wanita ini akan mengajaknya kencan, nyatanya malah jadi baby sister.
Ini namanya balas dendam, bukan membantunya mencari jodoh. Dasar pedofil.
"Bisa gak pak?"
Rudi menghela napas sejenak, membuangnya secara perlahan. Rencananya hari ini dihabiskan bermalas-malasan di atas ranjang. Satu Minggu ini dia bekerja tanpa jeda.
Tapi entah mengapa dia tidak tega menolak. Raut wajah kecil itu menarik perhatiannya sedari tadi, mata bulat, pipi chubby dengan ransel kecil di punggungnya menambah kesan imut dimatanya.
Dari gerak gerik nya juga anak kecil ini tidak nakal. Terlihat pendiam tidak seperti anak-anak pada umumnya.
"Boleh pak?"
"Boleh," jawab Rudi akhirnya.
__ADS_1
Senyuman wanita itu semakin mengembang, menoleh kearah gadis kecilnya dan mengecup lembut pucuk rambutnya.
"Mami kerja dulu, adek gak boleh nakal. Oke," ujar wanita itu lembut kearah buah hatinya.
Rudi tertegun sejenak, wanita dihadapannya benar-benar wanita idamannya.
Selama ini memang dia jarang melihat wanita ini di kantor. Apalagi hidupnya lebih banyak dihabiskan menjadi Ruby. Tapi karena setiap hari terdengar bisikan memuja dari karyawan muda, akhirnya Rudi tahu siapa wanita ini. Namanya Evelyn.
Bagian divisi keuangan, sedikit cuek, jarang tersenyum terutama kearah kaum Adam.
"Saya titip yah pak, nanti sore saya jemput."
Rudi hanya mengangguk, hingga lengan kecil bergelanyut manja di kaki nya. Maniknya hanya fokus mengikuti gerak gerik Evelyn menjauh dari pekarangan rumah.
"Om, Rahel ngantuk."
"Ngantuk?" beo Rudi.
Menundukkan kepalanya, melihat wajah gadis kecil itu.
"Iya, mama gak bolehin nakal. Jadi Rahel harus tidur tapi gak tutup mata biar gak nakal."
Sontak Rudi tertawa kecil. Menggapai tubuh kecil itu dan mengendong nya masuk kedalam rumah.
"Untung mama kamu cantik. Jadi kita tidur aja. Om juga capek, pengen tidur."
"Mama cantik?"
"Iya, mama kamu cantik. Nama kamu siapa?"
"Rahel."
"Rahel juga cantik kayak mama."
"Terimakasih, om."
"Tahu darimana ngomong gitu?"
"Mama ajarin."
Spontan bibir Rudi terangkat membentuk sebuah senyuman manis, jiwa lelakinya berkobar mendengar ucapan gadis kecil ini.
Evelyn memang wanita baik, banyak karyawan yang menawarkan diri selama ini menafkahi keluarga kecilnya tapi dia selalu menolak.
Tapi sayangnya, Evelyn berurusan dengan manusia yang salah hari ini.
Sekali masuk kedalam kehidupannya, mereka tidak akan bisa lepas. Sekali wanita itu muncul dihadapannya, seterusnya akan seperti itu. Baru kali ini Rudi tertarik menjalin hubungan dengan wanita, setelah sekian lama sibuk dengan kehidupan pribadi akhirnya dia bertemu wanita yang ia cari selama ini. Apalagi Evelyn terlihat berbeda.
"Mama kamu buat om aja yah."
____________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1
MAKIN KESINI MAKIN SULIT MENYUSUN KATA. MULAI DARI SEMALAM REVISI TAPI TETAP AJA BERANTAKAN. CK.