
5 bulan kemudian
Raiden Dirgantara, anak semata wayang. Biasa hidup mewah dan dimanjakan. Apa yang ia inginkan sekejap mata akan terwujud. Setiap manusia yang melukainya akan mendapatkan balasan setimpal, bahkan lebih dari itu.
Hanya saja, dua manusia penghancur mentalnya lolos dari tangan kedua orangtuanya. Walau dibalik itu, setiap detik setelah kejadian itu, orangtuanya selalu ada disampingnya. Memperketat keamanan, melarangnya melakukan ini itu.
Dari situ juga, Raiden menutup diri dari semua orang, memperlambat proses penyembuhan mentalnya. Hanya saja Rudi selalu setia disampingnya. Setiap ada waktu, sang sahabat akan mendorongnya keluar dari zona nyaman, hingga sekarang Raiden mulai terbiasa menghadapi masalahnya sendiri. Termasuk, melupakan masa lalu.
Tidak ada yang abadi. Bahkan kebahagiaan dan kesedihan sekali pun. Semua ada waktunya. Ada waktu bersedih, ada waktu bahagia. Termasuk menjadi pemalas.
"OM, ASTAGA. INI UDAH SIANG LOH!" pekik Tasya mengema seisi kamar. Menarik-narik selimut, hingga menampakkan tubuh kekar bert*lanjang dada. Tidur telungkup di atas ranjang.
"OM, BANGUN! KATANYA MAU BERUBAH, UDAH LIMA BULAN GAK ADA BERUBAH-UBAHNYA MALAH!" omel Tasya.
Terpaksa Raiden membuka maniknya, menoleh kearah Tasya dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
"Buruan bangun! Katanya mau manjain istri, ini malah kebalik," omel Tasya lagi.
Memungut kaos suaminya dari atas lantai, dilempar asal kearah siempunya.
"Mulai sekarang kamu gak usah keluar rumah. Udah mau jadi orangtua juga,"
"Iya-iya, maaf."
"Aku bakar juga rumah sebelah, udah punya anak masih bisa-bisanya mikirin yang gak berguna. Ini juga, malah ikut-ikutan," sergah Tasya.
Sesuai ucapan suaminya, mereka pindah setelah kelulusan. Pindah kesebuah desa yang lumayan jauh dari kota, tepatnya desa pinggir sungai.
Sebuah kebetulan juga, mereka bertemu dengan rekan bisnis suaminya. Sekaligus manusia yang paling Tasya kagumi selama ini, Gavin Megantara.
Pria yang dia kenal dari sosial media, manusia yang sering melarangnya bolos, walau kenyataannya pria itu sendiri tukang bolos.
Raiden hanya mengaruk tengkuk, bangun dari tidurnya. Duduk bersandar di kepala ranjang. Menatap istri cantiknya yang semakin terlihat bulat. Apalagi kehamilan istrinya, sudah memasuki bulan keenam.
"Sayang," panggil Raiden lembut.
"Apa? cuci muka sana, sekalian mandi. Udah tua, bukannya mikirin istri sama anak. Ini malah kelayapan di rumah tetangga. Aku gak habis pikir sama kamu," omel Tasya bertubi-tubi.
Mungkin beberapa bulan sebelumnya, Tasya terlihat seperti manusia pemalas. Sekarang, semua berbanding terbalik. Raiden yang jadi pemalas, tukang tidur, jahil, susah di atur dan keras kepala.
Awalnya Tasya pikir, Gavin Megantara akan membawa dampak positif terhadap suaminya, ternyata salah besar. Malah kedua makhluk itu bekerja sama, begadang setiap malam, membuang-buang waktu setiap saat. Dihabiskan bermain game.
Apalagi Raiden mengundurkan diri sementara waktu dari perusahaan, digantikan Rudi.
"BURUAN! SUSAH BANGET DI BILANGIN. INI UDAH JAM SEPULUH, LOH." Tasya bercakak pinggang, menatap kesal kearah suaminya yang masih setia duduk diatas ranjang.
"Emang kita mau kemana?"
Tasya mengeleng-gelengkan kepala, tidak habis pikir dengan ucapan suaminya.
"Ternyata asli Raiden Dirgantara begini."
Sontak siempunya bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan Tasya. Dengan wajah datar, tidak terima dengan ucapan istrinya.
"Apa? gak terima?"
"Dih, siapa bilang?" elak Raiden.
"Bilang aja, iya."
"Gak."
"Yaudah, jauh sana-sana!"
Tasya membalikkan tubuhnya, mengumpulkan pakaian kotor yang sudah menumpuk. Tanpa memperdulikan suaminya yang masih setia berdiri dibelakangnya.
"Sayang,"
__ADS_1
"Gak, boleh. Kamu gak boleh kemana-mana! Cucian banyak," bantah Tasya. Seakan tahu maksud ucapan suaminya.
Pasti tidak jauh-jauh dari dunia game, yang Tasya yakini meminta izin ke kota. Entah melakukan apa, tapi suaminya dan suami tetangga. Wajib ke kota sekali sebulan.
"Iya."
Raiden mengambil alih keranjang baju kotor dari gengaman istrinya, mengecup sekilas sudut bibir Tasya baru berlalu keluar dari kamar.
"Tumben nurut, pasti ada maunya," tebak Tasya. Ikut keluar dari kamar, mengikuti tubuh kekar itu masuk kedalam kamar mandi.
Rumah yang mereka tempati cukup sederhana, rumah minimalis namun nyaman untuk ditempati.
"Sarapan dulu, sana! Udah siang," ujar Tasya lembut. Menarik-narik belakang celana suaminya, yang terlihat sibuk memasukkan pakaian kotor kedalam mesin cuci.
"Iya, bentar."
"Makan dulu, nanti sakit."
"Iya, sayang."
Tasya hanya mengangguk, mengikuti gerak gerik tubuh kekar itu. Mengawasi pekerjaan suaminya.
"Makin pintar, besok-besok gak perlu diajari lagi," ucap Tasya. Seraya menepuk pelan punggung suaminya.
"Yaudah sana makan! Biar aku aja yang–"
"Gak, usah. Biar aku yang jemurin. Ayo!"
Raiden menuntut Tasya keluar dari kamar mandi, melarang keras istrinya melakukan pekerjaan rumah.
Walau Raiden pemalas belakangan ini, tetap saja pekerjaan rumah dia yang turun tangan. Sebatas memasak sarapan dan membersihkan rumah, Tasya terkadang turun tangan. Karena Raiden selalu bangun kesiangan, efek begadang setiap malam.
"Kamu masak apa?" tanya Raiden lembut.
Memeluk leher istrinya dari belakang, setia mengikuti pergerakan Tasya menyiapkan sarapannya, sesuai permintaan nyonya besar.
"Ngidam?"
"Hm,"
"Kenapa gak bilang sama aku?"
"Bangun aja susah, gimana caranya masak coba?"
"Kan semalam,"
"Baru kepikiran sebelum tidur."
"Oh."
Raiden mengambil alih piring yang sudah berisi makanan dari genggaman istrinya, dan menuntutnya kearah sofa.
"Aku makin gendut yah?"
"Gak, makin cantik."
"Bohong." Tasya duduk disamping suaminya, dengan bantuan Raiden sendiri.
"Terserah kamu aja lah, dijawab malah dituduh yang gak benar."
"Iya-iya, kamu gak bohong."
"Siapa bilang? aku bohong, kamu gak cantik, gendut lagi," elak Raiden. Menjahili Tasya tidak lepas dari kehidupannya belakangan ini, melihat wajah cantik itu kesal suatu pemandangan indah menurutnya.
Apa yang dia rasakan beberapa bulan sebelumnya, sekarang Tasya yang merasakan itu semua.
"Dih, sok kegantengan," sergah Tasya. Memukul kecil punggung kekar itu, sebelum berlalu kedalam kamar.
__ADS_1
"Padahal kamu sendiri yang buat aku begini, gak tahu diri."
Raiden hanya mengangguk, mulut sibuk mengunyah dengan tatapan fokus kearah layar televisi.
"Hamil besar gini aja, kamu masih suka cari kesempatan tiap malam, kamu pikir aku gak tahu?" omel Tasya dari dalam kamar. Membaringkan tubuhnya keatas ranjang, lelah mengangkat tubuhnya sendiri.
"Cuman yang diatas," balas Raiden dengan santainya. Semakin gencar menggoda istrinya.
"Gak tahu diri,"
"Lah, padahal itu kewajiban kamu sebagai istri, gak salah dong aku pegang-pegang. Malah bisa lebih dari itu."
"Ngejawab lagi!"
"Gak boleh nolak suami loh, dosa."
"Diam!"
"Gak boleh ngomong kasar sama suami,"
"DIAM, GAK?"
"Harus sopan sama suami, sayang."
"Benar-benar."
Terdengar decitan ranjang, yang Raiden yakini istrinya akan keluar dari kamar. Dengan wajah emosi, kesal karena ucapannya.
"Ngomong apa barusan!" ancam Tasya. Bercakak pinggang didepan pintu, dengan napas memburu.
Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak. Tebakannya benar.
Kehidupan mereka yang sekarang memang sempurna. Saling melengkapi, saling menjaga dan saling melindungi satu sama lain. Terlepas dari itu semua, kejahilan satu sama lain pelengkap kebahagiaan.
Jika dulu hanya Tasya yang nakal dan jahil, namun karena kehidupan Gavin Megantara beda dari yang lain dengan keluarga kecilnya. Raiden mengikuti hal itu. Terlalu kaku terhadap pasangan ternyata tidak baik, yang ada hubungan semakin renggang.
Dari situ Raiden belajar, bercanda dengan istri tidak salah. Asal tidak kelewatan.
"Iya-iya, maaf. Jangan marah-marah mulu, nanti cepat tua," goda Raiden.
"YAH? kamu ngatain aku?"
"Gak, cuman ingatin."
"Oh, bosan hidup?"
Spontan Raiden bangkit dari tempatnya, dengan mengengam piring dan mulut penuh dengan makanan.
Walau hamil begini, istrinya tetap tidak bisa dikalahkan dalam bidang bela diri. Malah semakin menakutkan.
"Ampun Baginda ratu." Raiden melangkah sepelan mungkin kearah pintu, dan berlari terbirit-birit keluar dari rumah tanpa memperdulikan piring dan gelas digenggamanya.
Gavin dan Kenzie yang kebetulan sibuk membersihkan pekarangan rumah hanya tertawa kecil melihat pemandangan itu. Pasangan suami-istri itu, sebelas dua belas dengan tingkah suaminya.
Kenzie tidak habis pikir, foto copy suaminya ada dimuka bumi ini.
"Ini semua gara-gara kamu Vin. Nyawa kamu juga terancam." Kenzie yakini kemarahan Tasya akan terhimbas terhadap sang suami. Karena suaminya yang menghasut Raiden bermain game, sampai ketagihan.
"Sebaiknya kamu sembunyi, karena aku dipihak Tasya. Nyawa kamu benar-benar terancam," ucap Kenzei pelan. Namun terdengar seperti bisikan malaikat pencabut nyawa.
Gavin diam mematung, tubuh merinding mendengar bisikan itu. Kedua wanita hamil ini memang ancaman terbesarnya dengan Raiden. Satu hari saja, hidup mereka tidak pernah tenang.
"Lari, Vin!"
__________________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1