MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
DAMPAK KEJADIAN MASA LALU


__ADS_3

Demi orang yang kita cintai, apapun akan kita lakukan. Begitu juga dengan Raiden.


Entah apa kesalahannya dia juga tidak tahu. Istrinya setia mengoceh tidak jelas, mengungkit masalah yang sebenarnya tidak pernah terjadi.


Bahkan Raina dan Richard angkat tangan, meminta tolong terhadap menantu agar segera mengangkut


putrinya dari rumah. Karena sedari tadi istrinya mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini mengganjal dilubuk hatinya, yang sial nya berbicara jujur tanpa filter sedikitpun.


Dan selama perjalanan pulang, Tasya tidak henti-hentinya mengoceh juga. Raiden sebagai suami, hanya bisa diam menjadi pendengar yang baik. Bahkan tidak mengatakan apa-apa, saat jemari lentik itu memukul tubuhnya.


"Sengaja telepon gak diangkat, malah sok kepedean datang ke rumah," sergah Tasya.


"Aku pengen sendiri, aku bosan ngeliat om mulu. Mana gak pernah senyum, mesum lagi, tukang maksa, gak tau diri lagi," sambung Tasya.


Melipat kedua tangan didepan dada, pandangan lurus kedepan.


"Jadi mau kamu gimana?" tanya Raiden akhirnya.


Menepikan mobil dipinggir jalan yang sepi, baru melepas sealtbetnya. Dia harus memeriksa kepala istrinya dulu. Siapa tahu ada yang salah, agar Raiden memperbaiki mengunakan tang.


"Kita pisah rumah sementara waktu, aku gak suka sama om," ucap Tasya tanpa beban.


Raiden tercengang, diam seribu bahasa mendengar ucapan istrinya.


Yang benar saja pisah rumah, pisah ranjang saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling apalagi pisah rumah.


Mungkin Raiden akan menjadi manusia yang paling menderita, sama seperti Rudi.


"Harus banget pisah rumah?" tanya Raiden ragu.


"Hm,"


"Kamu habis makan apa?"


"Makan ayam goreng, tumis kangkung, sambal ijo, jus jeruk, jus tomat, puding, pisang goreng sama ice cream," jelas Tasya jujur.


Sontak Raiden tertawa kecil, melepas sealtbet istrinya dan mengangkat tubuh ramping itu keatas pangkuannya, tanpa penolakan sedikitpun. Seakan Tasya lupa dengan tingkahnya barusan.


"Jadi masih lapar, hm?"


"Lumayan, pengen makan bakso tapi aku udah tobat. Takutnya malah salah tujuan lagi."


"Kan, ada aku. Biar aku aja yang lihat arahnya, gimana?" tawar Raiden. Melakukan berbagai cara agar istrinya benar-benar lupa dengan ucapannya barusan.


"Gak mood, pengen tidur aja. Tapi tidur di rumah tentangga, soalnya aku gak suka sama om." Tasya kembali melipat kedua tangannya, sembari mengarahkan tatapan kearah yang lain.

__ADS_1


Sial, ternyata istrinya masih ingat. Raiden harus benar-benar bersabar menghadapi anak yang satu ini. Jika tidak urusannya, semakin panjang


Entah apa yang terjadi dia tidak tahu, kedua mertuanya juga bungkam.


"Kenapa harus di rumah orang? rumah kita 'kan ada," tanya Raiden lembut. Membelai lembut wajah cantik itu, dengan senyuman tipis terbit dibibirnya.


"Masalahnya aku gak suka sama om,"


"Kenapa?"


"Om, jelek. Tua, kayak om-om."


"Yah?"


"Aku turun di sini aja, aku mau pulang."


Tasya hendak turun, namun Raiden lebih dulu bergerak. Mengunci pintu mobil dan memasukkan kunci kedalam kantong celananya.


"Mau kemana? ini udah malam," bujuk Raiden. Tetap bersikap tenang dan lembut.


"Ck, kamu apa-apaan sih? buka pintunya!"


"Gak, boleh. Di luar bahaya sayang."


"KAMU DENGAR GAK! BUKA PINTUNYA!" bentak Tasya untuk pertama kalinya.


"BUKA GAK!"


Hening.


Pandangan mereka bertubrukan, dengan raut wajah yang berbeda. Namun Raiden tetap bersikap tenang, tidak boleh terbawa suasana.


Dihadapannya Tasya Jovanka bukan Andro, Andri apalagi Jihan. Manusia yang seharusnya dia lenyapkan. Karena mereka bertiga tidak pantas hidup di dunia yang luas ini, terutama Jihan.


Perempuan munafik, dengan sejuta pesona yang memikat. Nyatanya topeng penghancur.


Jihan benar-benar penghancur, Jihan tidak sempurna seperti yang ia bayangkan.


Raiden mengehela napas sejenak, tatapan mata mulai mengelap dengan kedua tangan terkepal kuat dikedua sisi tubuhnya.


"Emang kamu mau kemana?" tanya Raiden lembut. Persis cara Andri menarik perhatian Jihan dimasa lalu, dan dihancurkan sedikit demi sedikit.


"S*ksa pelan-pelan, baru bunuh! Semua itu perempuan sama saja. Mereka tidak ada yang beda." bisikan Andri yang membekas sempurna di benaknya.


Tasya langsung bungkam, dihadapannya sudah manusia yang berbeda. Tatapan mata itu bukan tatapan mata suaminya.

__ADS_1


"Aku tanya sekali lagi, kamu mau kemana?" tanya Raiden berat, terdengar mengancam.


"Pu– pulang," jawab Tasya gugup.


"Pulang kemana?"


"Pulang ke rumah kita berdua."


Sontak Raiden tertawa kecil, menatap manik biru itu dengan tatapan kosong.


Wajahnya sudah pucat pasi, seringai licik tercetak jelas dibibirnya.


"Jangan b*dohin saya," bisik Raiden berat.


Manik Tasya langsung berkaca-kaca, jantung berdetak kencang takut, khawatir bercampur aduk.


Ternyata ucapan Nathan benar-benar terjadi, sewaktu-waktu sisi kelam Raiden dari kejadian beberapa tahun yang lalu akan muncul tiba-tiba. Jika menurutnya situasi itu, benar-benar persis seperti kejadian silam.


"Om, maaf," lirih Tasya disela-sela tangisnya. Meraih tubuh kekar itu dan memeluknya erat.


Namun sayangnya dia salah tindakan, yang ada tubuhnya diangkat, dibawa ke jok belakang.


"Kita bersenang-senang, kamu pasti suka," bisik Raiden tepat ditelinga Tasya.


Melepas paksa penutup tubuh ramping itu, seraya membaringkan tubuh mereka berdua ke jok mobil mempermudah aksinya.


Tasya hanya menurut, minimal suaminya tidak melukai diri sendiri. Apapun dia lakukan, asal mereka sama-sama merasakan luka yang sama. Tidak berat sebelah.


Jika selama ini Raiden selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut. Kali ini liar, b*as tidak seperti biasanya.


Tasya hanya meng*git dan menc*ngkeram bahu kekar itu. Melepas rasa sakit di sekujur tubuhnya. Mulutnya tidak henti berbisik, menenangkan sang suami.


Kedua lengan dan kaki memeluk erat tubuh kekar itu, seakan enggan melepas seditik saja walau tenaganya sudah terkuras habis.


Hingga 20 menit berlalu, napas memburu terasa menerpa lehernya. Tubuh kekar itu tiba-tiba berhenti, seraya menarik paksa wajahnya dari ceruk leher putih itu.


"Eh, kita ngapain?" tanya Raiden syok. Terkejut melihat istrinya yang terlihat meringgis kesakitan. Napas tersengal-sengal, dengan manik tertutup rapat.


"Maaf om, aku janji gak nakal lagi," lirih Tasya.


"Sayang."


Hening tidak ada sahutan. Wajah cantik itu tenang, dengan manik tertutup rapat.


Skakmat, istrinya pingsan.

__ADS_1


________________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2