
Entah apa yang terjadi, Raiden diam berlalu masuk kedalam kamarnya bahkan terdengar pintu dibanting cukup kencang. Padahal Tasya tidak melakukan apa-apa, dasar pria itu saja yang selalu aneh.
Tapi sayangnya bukan Raiden yang aneh, tingkahnya saja yang diluar pikiran. Raiden tidak habis pikir dengan tingkat nya, semakin hari tingkah nya semakin aneh, entah bagaimana caranya mengubah manusia menjadi manusia sebenarnya.
Karena Tasya bukan manusia, bahkan mengaku anak setan.
"Astaga, dunia pernikahan memang begini? lebih baik pisah kalo begini ceritanya."
Raiden melempar asal kemeja putihnya, berlalu masuk kedalam kamar mandi berdiri tepat di bawah air shower.
Tubuhnya panas dalam sekejap, hanya melihat pemandangan itu. Ditambah kepala pusing melihat keramaian.
Hidup monoton itu kembali lagi seperti semula, malah semakin rumit. Andai waktu bisa di putar kembali, Raiden memilih mati bersama gadis pujaan hatinya, daripada bertahan hidup seperti saat ini. Entah apa rencana sang pencipta kedepannya, tapi Raiden harap bukan cobaan hidup seperti beberapa tahun yang lalu.
Percikan air bersahutan napas memburu terdengar di dalam kamar mandi, detik menit berlalu Raiden masih setia berdiri di bawah air shower. Hingga rasa ngantuk menyerang, baru Raiden menyudahi aksinya.
Meraih handuk yang mengantung di balik pintu kamar mandi, lalu dililitkan di pinggangnya dan memutar knop pintu.
"Om, ngapain di dalam? lama banget, om bisa sakit tau." omel Tasya tepat pintu terbuka, seraya bercakak pinggang di depan pintu kamar mandi.
Tanpa berniat membalas ucapannya, Raiden melongos begitu saja masuk kedalam walk closet. Memakai pakaiannya secepat kilat.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Raiden dingin, duduk di sofa menghadap kearah layar televisi tepat di samping gadisnya.
"Takutnya om b*nuh diri saking stres nya ngeliat kecantikan Tasya,"
"Kepedean kamu,"
Terdengar kekehan geli, dengan gerakan kilat Tasya naik keatas punggungnya memeluk erat lehernya, dengan kedua kaki melilit dipinggangnya.
"Ngantuk, om."
"Yaudah sana tidur, itu pintu keluar kalo kamu lupa." tunjuk Raiden kearah pintu.
"Om, ngantuk."
"Yah tidur."
"Om,"
"Apaan?"
"Tasya ngantuk,"
Terpaksa Raiden bangkit dari tempatnya, hendak melangkah keluar dari kamar sebelum tubuh ramping itu menahan pergerakannya.
"Tasya pengen tidur di situ, bukan di sana. Gak enak om tidur sendiri,"
Iya juga, sih. batin Raiden.
Tubuh ramping itu semakin erat memeluk punggungnya, dengan berat hati Raiden memutar tubuhnya melangkah kearah ranjang king size nya.
"Turun!"
"Gak mau, om tidur di sini juga. Gak enak om tidur sendiri,"
"Banyak alasan kamu,"
Tasya tetap kekeh, tubuhnya setia bergelanyut dipunggung kekar itu tanpa berniat turun sesuai perintah siempunya.
"Jangan bandel,"
"Om, tidur sama Tasya di sini. Jangan di sofa,"
Emang siapa juga yang mau tidur di sofa, batin Raiden.
"Om,"
"Gak,"
__ADS_1
"Yah, ayo dong om. Tasya udah ngantuk,"
Astaga Raiden makin pusing meladeni tingkah anak yang satu ini. Mana sisi j*hanamnya susah di ajak kompromi berdekatan dengan gadis yang satu ini. Yang ada bibir dan jemarinya meraba-raba ke sana kemari, jiwa setan nya lebih mendominasi.
"Om,"
Terpaksa Raiden menurut lagi, perlahan duduk di tepi ranjang hingga tubuh ramping itu turun seraya menarik-narik ujung kaos nya.
Padahal hanya tidur, bukan malam pertama. Tapi entah kenapa Raiden malah jantungan. Malu-maluin saja.
"Lepasin tangannya dulu,"
"Om, mau kabur kan?"
"Gak."
Tasya melepas genggamannya dari ujung kaos itu, detik berikutnya maniknya melotot sempurna melihat punggung kekar itu tanpa di balut apa-apa.
"Om, mau ngapain?"
Hening, tidak ada sahutan. Yang ada gelap, detik berikutnya tubuhnya ditarik bersamaan dengan selimut menutupi tubuh mereka berdua.
"Tidur!"
"Tapi–"
"Diam atau saya b*ntungin?"
"Tasya lagi datang bulan om,"
Terdengar helaan napas panjang, bisa-bisanya Raiden kecewa mendengar itu. Padahal tujuannya hanya tidur, bukan yang lain.
Tapi tetap saja jiwa lelakinya berkobar, apalagi jemari lentik itu membalas pelukannya sesekali mengelus lembut punggung kekarnya.
"Om, sakit yah? suhu tubuh om beda. Lain kali jangan kelamaan kalo mandi, gak baik om buat kesehatan. Mana mandi air dingin lagi," omel Tasya.
Sekejap rasa hangat menjalar di sekujur tubuh, padahal itu hanya perhatian kecil. Tapi Raiden suka.
"Iya-iya,"
"Jangan cuman iya, kata bunda om itu nakal. Susah di bilangin, padahal udah tua."
"Bunda tukang bohong, gak usah di dengarin."
Sontak terdengar tawa kecil, jemari lentik itu memukul kecil punggung nya seraya merapatkan tubuhnya dengan tubuh kekarnya.
Raiden rasa gadis yang satu ini tidak ada takut-takutnya berdekatan dengannya. Padahal ia juga pria normal, berdekatan seperti saat ini dengan status mereka yang sudah sah membangkitkan gairah yang seharusnya mereka padu bersama.
"Sya, kamu gak takut sama saya?" tanya Raiden penasaran.
"Kenapa takut? emang om orang jahat? mau mukul Tasya? silahkan, kalo om bosan hidup."
"Gak, saya masih pengen hidup."
"Nah, jadi ngapain tanya begituan?"
"Emang salah?"
"Gak sih,"
Raiden memilih memejamkan mata, mendekap tubuh ramping itu lebih erat. Sembari menghirup dalam-dalam aroma khas gadisnya yang terasa menenangkan.
Entah mengapa Raiden suka dengan aroma gadis yang satu ini, sekejap pikirannya tenang walau tetap saja sisi j*hanamnya lebih mendominasi.
Untuk pertama kalinya, tubuhnya merespon sentuhan wanita. 28 tahun hidup, Raiden tidak pernah kepikiran melakukan hubungan suami-istri dengan siapapun itu. Tapi entah mengapa berdekatan dengan gadis yang satu ini, tubuhnya menginginkan sentuhan lebih.
"Om, udah tidur?" tanya Tasya, memecahkan keheningan.
"Hm,"
__ADS_1
"Emang harus banget om tidur gelap-gelap begini? kalo ada hantu gimana?"
"Tinggal pukul aja,"
"Emang bisa om?" tanya Tasya dengan polosnya.
"Coba aja dulu, siapa tau bisa."
Terdengar decakan kecil, tubuh ramping itu berusaha merapatkan tubuhnya dengan tubuh kekarnya. Padahal jarak diantara mereka berdua sudah kandas, hanya di batasi piyama tidur yang menempel ditubuh gadisnya.
Bahkan Raiden bisa merasakan setiap lekukan tubuh itu, terutama tonjolan di balik piyama tidur gadisnya yang terasa di dada t*lanjang nya.
"Ck, katanya ngantuk," keluh Raiden, tidak tahan lagi dengan tingkah gadisnya.
"Om, wangi banget."
"Tidur! jangan banyak gerak,"
"Iya-iya, om sih wangi banget. Mana peluk able lagi, enak banget tau dipeluk. Nyaman,"
Tapi saya yang tersiksa, batin Raiden.
Apalagi kamar gelap, tidak ada setitik cahaya apa pun. Posisi mereka berdua mendukung penuh melakukan hal lebih dari itu.
"Om,"
"Astaga apalagi? tadi katanya ngantuk," omel Raiden.
Tanpa merasa berdosa nya Tasya malah tertawa kecil, memeluk tubuh kekar itu sepuas-puasnya mumpung ada kesempatan.
Selama ini Tasya selalu berharap memeluk tubuh kekar ini, dan sekarang khayalannya terwujud. Jadi mumpung ada waktu, Tasya tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedetik pun itu.
"Astaga, jangan banyak gerak. Udah berapa kali dibilangin," gerutu Raiden.
"Iya-iya,"
"Jangan cuman iya, tidur! Saya kurang yakin tahan sampai pagi,"
"Mesum."
"Yang di atas boleh?"
"Maksudnya?"
"Cuman pegang doang,"
"Kok om mesum sih? Tasya jadi takut,"
"Emang saya mau pegang apaan? mulai dari tadi dibilang mesum," elak Raiden dengan menahan tawa.
"Bohong,"
"Lah,"
"Diam-diam Tasya ngantuk. Lama-lama om ngeselin, mana mesum lagi."
"Saya pria normal Sya," bisik Raiden tepat di telinga gadisnya, seakan mengodanya.
"Aku gak peduli."
"Harus peduli, emang kamu mau saya begituan di luar sana sama wanita lain?"
"Coba aja, Tasya bunuh om detik itu juga."
"Terserah saya dong, kamu sendiri yang gak mau."
"OM RAIDEN!"
______________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)