MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
TEMAN


__ADS_3

Tasya benar-benar menangis, menatap nanar layar ponselnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Jus buah naga bercampur aduk dengan ponsel berwarna hitam itu, layaknya kue dilumuri cokelat.


Berbagai cara Tasya lakukan, walau tetap saja hasilnya sama. Bukannya tidak mampu mengganti yang baru, masalahnya ini satu-satunya alat yang dia punya sekedar mendengar suara sang suami.


Keluar rumah membeli yang baru bukan ide yang bagus, Raiden sempat mengancamnya untuk tidak keluar rumah apalagi pulang ke kota.


Entah kapan mereka bertemu, yang pastinya jarak mereka saat ini sangat menyiksa menurutnya.


"Oma," rengek Tasya, menunjuk ponselnya yang sudah tidak enak dipandang mata.


"Udah jangan nangis lagi, lihat adek kamu udah mau nangis," tunjuk Ratna kearah Keano.


Tasya hanya bisa pasrah, mengusap air matanya kasar beralih memeluk tubuh kecil itu.


"Besok-besok, bakar rumah Oma yah. Kakak gak bakalan marah,"


Ratna hanya mengeleng mendengar ucapan cucunya, ucapan melantur Tasya itu sudah biasa mulai dari dulu. Jadi tidak diherankan lagi.


"Bawa adek kamu ke kamar, biar yang lain yang bersihin."


Tasya hanya mengangguk, bangkit dari tempatnya berlalu menjauh kelantai atas.


"Ck, kakak gak bakalan dengarin suara Daddy lagi. Abang nakal," ucap Tasya. Tepat mereka berdua masuk kedalam kamar.


"Abang nakal?"


"Iya, kakak udah kangen Daddy tahu tapi Daddy gak kangen sama kakak. Dasar om-om. Mana hp udah rusak lagi, Keano kakak bisa mati gara-gara kamu," Tasya histeris.


Membaringkan tubuh mereka berdua keatas ranjang, saling memeluk tubuh satu sama lain.


Ini pertama kalinya Tasya menjalin hubungan jarak jauh dengan orang yang paling ia cintai. Berpisah dengan kedua orangtuanya dulu itu sudah biasa tapi berpisah dengan manusia yang satu ini, sangat jauh berbeda.


"Menyedihkan."


________________


Rudi pikir Raiden bercanda dengan ucapannya. Ternyata dia benar-benar dibunuh. Di bunuh pelan-pelan dengan cara, diturunkan dipinggir jalan yang sepi dan ditinggalkan tanpa belas kasihan.


Setengah jam berjalan kaki ketempat tujuan, bertepatan Raiden menyudahi pertemuannya tanpa beban sedikitpun. Seringai licik tercetak jelas dibibirnya, menatap Rudi yang tak jauh dari tempatnya.


"Coba ceritakan pengalaman anda berjalan kaki setengah jam," ucap Raiden dengan santainya.


A-z semua bintang yang ada di kebun bintang terabsen satu persatu. Rudi membuka sepatu hitam nya dan dilempar asal kearah Raiden.


"Mati aja Lo!"


"Gak guna. Gitu aja gak bisa, lemah."


"Pe'a, gue jalan kaki setengah jam Lo masih bilang gue lemah?"


Rudi kesetanan, membuka sepatunya yang tersisa dan di lempar asal kearah Raiden. Tanpa memperdulikan pemuda tampan yang duduk dengan pria itu.


"Gue kasih tahu sama bini Lo!"


"Siapa takut? yang ada gue dapat servis."

__ADS_1


"RAIDEN BR*NGSEK."


Siempunya hanya mengangkat bahunya acuh, mengalihkan tatapannya kembali kearah pria yang duduk dihadapannya.


"Dia memang gila, anjing Dirgantara group memang begitu. Kadang gak tahu diri, masih jam kerja bisa-bisanya keluyuran."


"Ngomong apaan Lo?"


Rudi tidak tahan lagi. Melangkah mendekat kearah Raiden, hendak melayangkan pukulan sebelum tubuhnya terhempas ke sofa yang lain.


"Ck, mending Lo tidur. Setengah jam lagi gue butuh supir keluar kota."


Pria ini. Andai Rudi memiliki tenaga, habis sudah Raiden detik ini juga. Tenaganya terkuras habis berjalan kaki dibawah terik matahari yang panas, entah mengapa juga tidak ada tumpangan hingga ketempat ini.


"Saya duluan, putra saya lagi sakit di rumah."


Perhatian Raiden dan Rudi beralih kearah suara, mengikuti setiap gerak gerik pemuda dihadapan mereka hingga mengulurkan tangannya kearah Raiden.


"Kapan-kapan kita bertemu lagi agar lebih dekat. Maaf saya tidak bisa lama-lama."


Raiden hanya mengangguk, menyambut hangat salam perpisahan pria itu.


"Saya berharap lebih untuk proyek yang satu ini, Gavin Megantara."


Siempunya tersenyum lebar, menepuk pundak Raiden layaknya teman seumuran.


"Aman. Tapi prosesnya mungkin agak sedikit lama, bulan depan kita bicarakan lagi kemajuannya. Istri saya lagi mengandung, jadi agak susah membagi waktu."


Rudi dan Raiden diam mematung di tempat, menganggumi sosok seorang Gavin Megantara dalam diam. Hingga punggung pria itu berlalu keluar dari ruangan.


Rasa kagum dan iri sedikit terselip di lubuk hati yang paling dalam. Sebelum Raiden ketempat ini, dia sempat mencari tahu sedikit kehidupan pria itu.


Sosok Gavin Megantara yang memilih menikah muda sewaktu duduk di bangku SMA. Sama halnya dengan wanita yang ia cintai. Dikaruniai satu putra setelah satu tahun pernikahan dan sekarang pria itu mengaku istrinya tengah mengandung.


Andai hidup sesimpel itu. Nyatanya tidak ada tahu apa saja yang mereka lalui menjalani kehidupan pernikahan mereka. Mungkin sama hal nya dengan kehidupan yang dia jalani dengan istri kecilnya.


Dua manusia dipersatukan dalam ikatan pernikahan, memiliki kehidupan yang berbeda. Dia sendiri berlarut dalam kehidupan masa lalu, wanita yang ia cintai manusia bahagia menutupi penderitanya.


Memikirkan itu saja Raiden merasa gagal menjadi seorang suami, andai bisa memutar waktu kembali.


"Dia makan apaan yah? lah saya kepala tiga belum punya istri, apalagi anak. Malah jadi Ruby,"


Raiden tertawa kecil, duduk kembali ketempat semula.


"Kadang saya berpikir, hidup itu suatu keberuntungan dan saya manusia yang paling tidak beruntung. Masa lalu dan sekarang sama saja. Tidak ada perubahan. Yang ada penderitaan yang bertambah."


"Jadi?"


"Pengen mati."


Sontak mereka berdua tertawa terbahak-bahak, tawa yang sering terdengar. Biasanya hal sekecil apapun itu yang menurut mereka lucu akan selalu ditertawakan.


Momen yang paling Rudi inginkan selama ini, setelah bertahun-tahun akhirnya tali pertemanan mereka kian membaik. Walau terkadang rasa canggung mendominasi.


Makanya terkadang panggilan Rudi berganti-ganti tanpa sebab. Entah Sir, anda, Lo saking canggungnya. Perasaan bersalah terkadang menghantui, penyebab Andro muncul kembali itu semua ulah nya. Apalagi kepribadiannya menjadi Rudi yang dulu juga susah kembali, sisi Ruby lebih dominan.

__ADS_1


"Anda masih beruntung Sir, sudah ada nona muda yang mencintai anda dengan tulus. Tatapan matanya tidak berbohong, gerak geriknya hanya fokus mencari perhatian anda saja. Bukan perhatian pria lain."


"Pasti banyak pria yang menganggumi nona muda diluar sana tapi sayangnya, yang berhasil membuka segel pria tua berkepala tiga."


Manik hitam itu membola, menatap tajam kearah Rudi yang terlihat santai memejamkan mata. Belum menyadari ucapannya.


"Ngatain gue Lo?"


Skakmat, Rudi lupa pawangnya.


Kepalan tangan melayang dengan mulusnya tepat di rahangnya, Rudi kalah gesit.


"Gimana sih, sakit a*jing."


"Lo duluan ngatain gue,"


"Gue ngomong sesuai fakta, lah memang benar situ buka segel anak dibawah umur."


"Ulangi!"


Rudi bangkit dari tempatnya, melangkah mundur sedikit demi sedikit tanpa melepaskan tatapannya dari arah Raiden.


"Lo buka segel anak dibawah umur. Lo pedofil, pecinta anak dibawah umur."


"Br*ngsek."


Raiden kesetanan, berlari keluar mengejar target tanpa memperdulikan tatapan mata yang tertuju kearah mereka berdua.


Image belakangan, yang penting Rudi mati ditangannya.


Tanpa merasa berdosa nya juga pria itu malah tertawa terbahak-bahak, layaknya anak kecil bermain kejar-kejaran. Efek masa kecil suram.


Walau kenyataannya itu hanya akal-akalan nya saja. Semakin mereka berdua melakukan hal gila seperti ini, kemungkinan besar pikiran Raiden tentang masa lalu semakin minim.


Bukan hanya Tasya yang sering diam-diam bertemu psikiater yang mengobati Raiden, Rudi juga melakukan hal yang sama. Mencari tahu kemajuan kesehatan mental sang sahabat, siapa tahu ada hal yang bisa dia lakukan membantu Raiden keluar dari masa lalu kelam nya.


"Gue gak habis pikir sama Lo, pantasan dari dulu Lo gak minat cari cewek. Ternyata Lo pedofil."


"RUBY!" panggil Raiden akhirnya.


Sekejap Rudi diam mematung di tempat, kesempatan emas Raiden melenyapkan sahabatnya.


"Sekali lagi Lo ngomongin yang gak benar tentang gue, gue bunuh Lo."


Raiden memiting leher pria itu, diseret masuk kedalam mobil tanpa memperdulikan Rudi yang tersengal-sengal hampir kehabisan napas.


Kebetulan mereka mengadakan pertemuan di restoran dekat hutan, biasanya digunakan pengusaha melakukan rapat penting. Suasana di tempat ini mendukung, apalagi mencari referensi.


Pengunjung tidak terlalu ramai di luar, kebanyakan memilih ruangan VIP yang pastinya dengan suasana yang lebih sejuk sesuai harga.


"Ternyata gak cuman pedofil, Lo juga KDRT. Lo juga tega selingkuh dibelakang gue, padahal gue lebih m*ntok dari nona muda."


"Mulai lagi, gak ada kapoknya."


________________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2