
Malam ini mereka kedatangan tamu, seorang wanita dan bocah kecil. Membawa boneka ulat besar setara dengan tubuhnya dan cokelat dibungkus sedemikian rupa.
Senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya, terlihat tak sabaran turun dari gendongan ibunya.
"Ma, titip yah. Katanya pengen main sama kakak Tasya, aku sama suami mau kekota. Besok baru pulang," ucap wanita itu, mencium wajah putranya sekilas dan berlalu keluar.
Ratna hanya mengelengkan kepala, tidak heran lagi dengan tingkah putri bungsunya.
Alasannya saja kekota, nyatanya hanya membersihkan rumah yang berantakan karena ulah putranya. Sekalian bermanja-manja dengan suaminya.
Kebetulan cucunya yang satu ini dekat dengan Tasya, tidak terpisahkan selagi bertemu.
"Kakak."
Bocah kecil itu melangkah mendekat, membawa boneka ulat itu sedikit kesusahan apalagi cokelat yang ia bawa lumayan besar.
Spontan Raiden bangkit dari tempatnya, mengangkat tubuh kecil itu dengan senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
"Namanya siapa tampan?"
"Keano."
Raiden hanya tertawa kecil, menurunkan tubuh kecil itu tepat dipangkuan istrinya.
"Kakak Sya, Keano kangen." lengan kecil itu memeluknya erat, mengayun-ayunkan tubuhnya saking senangnya.
"Hei, bocah. Tahu darimana kangen-kangenan? masih bocah, udan bucin," sergah Tasya.
Walau tetap saja membalas pelukan tubuh kecil itu, hingga terdengar tawa kecil.
"Keano, bawa boneka ulat. Sama cokelat kesukaan kakak Sya,"
"Oh, yah? Abang makin pintar, besok-besok bawa uang mama sama papa sekalian. Surat tanah, kunci mobil sama motor. Kalo boleh ambil berlian mama dari lemari."
Sontak Raiden memukul kecil jidat istrinya, bisa-bisanya mengajari yang tidak-tidak dengan anak kecil. Dikasih hati malah minta jantung.
Siempunya hanya menjulurkan lidah, layaknya anak kecil yang ada dipangkuanya.
"Makasih yah bang Keano, tapi Kakak gak bawa hadiah."
Wajah tampan itu terlihat kecewa, menundukkan kepala dengan mengerucutkan bibir. Kebetulan selama ini mereka berdua memiliki tradisi, sebelum Tasya pulang biasanya mengirim pesan. Jadi Keano akan mempersiapkan hadiah, yang tentunya ada hadiah setimpal dari Tasya.
Sayangnya mereka datang ke sini tanpa sepengetahuannya, makanya bocah kecil ini baru muncul mungkin membeli boneka ulat terlebih dahulu.
"Gimana kalo besok, kita main air aja," tawar Tasya.
Wajah tampan itu langsung berseri, menganggukan kepalanya antusias sembari menyodorkan boneka ulat dan cokelat yang ia bawa.
"Kakak Sya janji?"
"Janji,"
"Yes, main air."
Tasya hanya tertawa kecil, mencium pipi gembul itu saking gemasnya.
Mulai dari lahir, hingga berusia 4 tahun seperti saat ini. Bocah kecil ini memang selalu menempel dengannya, bahkan kata yang pertama kali dia ucapkan kakak. Mama dan papa nya sempat menangis hanya karena itu saking tidak terima akan hal itu. #Terlalu lebay
"Oma pamit kekamar dulu," ujar Ratna.
Sontak Raiden bangkit dari tempatnya, melangkah mendekat kearah wanita tua itu menuntut Ratna masuk kedalam kamarnya.
"Kakak Sya, itu siapa?" bisik Keano serius.
"Suami Kakak,"
"Suami?"
"Iya. Tunggu besar dulu baru kakak kasih tahu, apa itu suami."
"Oke."
Tasya bangkit dari tempatnya, mengendong tubuh kecil itu dengan membawa boneka ulat dan cokelat pemberian Keano.
__ADS_1
Berjalan sepelan mungkin menaiki tangga satu persatu, hingga menghempaskan tubuh mereka berdua keatas ranjang.
"Lagi," pinta Keano, menjulurkan tangannya kearah Tasya.
"Bentar,"
Tasya meletakkan cokelat nya keatas nakas, mengangkat tubuh kecil itu setinggi mungkin dan dihempaskan keatas ranjang yang empuk.
Tawa kecil terdengar mengema seisi kamar, Tasya melakukan itu berulang kali.
"Ck, sama-sama bocil."
Raiden menghela napas panjang, berdiri mematung diambang pintu dengan menahan sumpah serapah. Rencananya dia ingin bermanja-manja dengan istrinya tapi sayangnya Keano lebih dulu bergerak kegaris start.
Malam pertama mereka hanya terjadi tadi siang, sekarang gambaran anak dan bapak kembali terjadi.
"Sayang," rengek Raiden, melangkah mendekat kearah ranjang menarik-narik ujung piyama tidur istrinya.
"Kenapa?" tanya Tasya tanpa melirik sedikit pun kearahnya.
"Malam pertama."
"Ck, mesum. Gak tau tempat banget, di sini ada anak kecil tahu."
"Antar pulang sana! yang tadi siang masih nangung."
"Enak aja, masih sakit. Aku gak mau."
"Yaudah, besok kita pulang!"
Final, Raiden akan menyembunyikan istrinya di rumah saja. Lebih tepatnya di kamar. Kuman-kuman sekecil ini pun, wajib dijiauhkan dari wanitanya. Penghancur rencananya saja.
Dengan kesal Raiden melangkah kearah balkon, menutup pintu dan memilih duduk di sofa yang menghadap langsung kearah pantai.
Rokok menyelip di sela-sela jarinya, asap mengembul di udara. Baru kali ini Raiden merasa lepas, pikiran dan mata terbuka lebar hanya memikirkan kesenangan.
Bertahun-tahun dilanda ketakutan, akhirnya bisa lepas dari lingkaran hitam. Andro sudah aman pada tempatnya, mimpi buruk itu berhenti menghantui.
"Melamun."
Tubuh ramping itu duduk dipangkuannya, bersandar didada bidangnya dengan tatapan lurus kedepan.
"Om jangan suka melamun, gak baik tahu."
Terdengar tawa kecil, lengan kekar itu melilit dipinggangnya sebelahnya lagi bebas mengengam rokok nya.
"Penganggu itu mana?"
"Udah tidur, lagian namanya Keano om bukan penganggu. Ada-ada aja."
"Sama aja, tidur dimana?"
"Tuh, di kamar."
"Ck, antar pulang aja sana!"
"Gak, aku masih kangen sama Keano."
"Jadi aku tidur dimana coba?"
"Di lantai,"
"Boleh, asal kamu yang di bawah.
"Mesum."
"Mesum darimana nya?"
"Pokoknya mesum."
Raiden memilih diam, melempar puntung rokoknya asal keatas lantai beralih mengecup lembut pucuk rambut istrinya.
Angin malam dan deburan ombak terdengar. Mereka berdua sama-sama bungkam, disibukkan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Om,"
"Hm,"
"Masuk aja yuk, bentar lagi hujan."
Raiden hanya mengangguk, mengikuti tubuh ramping itu masuk kedalam kamar. Menutup pintu balkon dan jendela yang selalu terbuka.
Di sini ada anak kecil, takutnya kedinginan.
"Jadi boneka ulat ini dari Keano semua?" tunjuk Raiden kearah boneka ulat, berjejer rapi disofa kamar.
"Iya."
Anak kecil saja sebucin itu dengan istrinya, apalagi pria dewasa sepertinya?
"Om, jangan melamun mulu. Astaga, udah malam."
Tubuh kekar itu melangkah mendekat, menghela napas sejenak dan mengaruk tengkuknya.
"Aku aja yang ditengah, masa Keano?"
"Yah, om udah tua. Yakali Keano dipinggir, nanti jatuh."
"Gak bakal,"
Raiden melangkah ke sisi lainnya tepat di samping istrinya.
"Ck, bilang aja modus."
"Memang,"
"Dasar om-om."
"Yang tadi siang masih nangung."
"Nangung darimana nya coba? orang om sampai tepar malah,"
"Siapa? kamu atau aku?"
"Dua-duanya,"
"Good."
Dengan pergerakan sepelan mungkin Raiden naik ke atas ranjang, mematikan lampu menggantinya dengan lampu tidur.
Menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan memeluk erat tubuh ramping itu dari belakang.
"Hadap sini! masa cuman Keano yang dipeluk."
"Ck, bising."
"Sayang,"
"Apa lagi? astaga om, ingat umur."
"Hadap sini, buruan!"
"Peluk dinding aja sana, bising. Udah malam tahu,"
"Malah lebih enak bising malam-malam, mau coba?"
"Ck, makin lama om makin ngeselin."
"Buruan!"
Terpaksa Tasya berbalik, menjambak kecil rambut suaminya dan memeluk tubuh kekar itu.
"Bocil," sindir Tasya.
______________
TERIMAKASIH:)
__ADS_1