
Sepanjang lorong rumah sakit, Tasya hanya menundukkan kepala menyembunyikannya wajahnya yang memerah bak kepiting rebus.
Kata-kata dan perlakuan suaminya barusan terekam jelas di otaknya. Hal yang paling langka pria itu lakukan.
Suasana hati yang semula berantakan, langsung berubah drastis. Yang ada senyuman lebar tercetak jelas dibibirnya.
Apalagi kedatangan mereka berdua disambut hangat ibu mertuanya, hanya Raiden saja yang terlihat tidak bersemangat.
"Malam bunda, maaf yah kita baru bisa datang ke sini," ucap Tasya lembut. Menyalim ibu mertuanya yang sedari tadi tersenyum hangat kearahnya.
"Gak, papa," balas Marissa.
Kembali duduk ketempat semula, seraya mengajak Tasya duduk disampingnya. Di sofa yang ada dalam ruangan itu.
"Keadaan ayah gimana bund?" tanya Tasya. Meletakkan buah tangan yang mereka beli dari luar keatas meja.
"Udah mendingan. Kebetulan ayah baru minum obat, jadi ketiduran," terang Marissa.
Tasya hanya mengangguk paham, menoleh kearah suaminya yang sedari tadi diam membisu didepan pintu dengan tatapan kearah brankar.
Entah apa yang pria itu pikirkan, ekpresi wajahnya tidak terbaca sama sekali.
"Bunda udah makan?" tanya Tasya lembut kearah Marissa.
"Udah, sekalian sama ayah tadi. Kalian udah makan?" tanya Marissa balik.
"Udah," kilah Tasya.
Padahal kenyataannya mereka berdua belum makan, yang ada salah tujuan karena ulahnya.
Raiden yang semula melamun mematung di tempat, tersadar setelah mendengar ucapan istrinya. Mengalihkan atensi kearah Tasya, dengan tatapan tajam.
"Bohong, kita belum makan," ungkap Raiden dingin.
Ekpresi wajahnya tetap sama, datar tanpa ekspresi sedikitpun. Padahal didalam mobil bahkan di toko buah beberapa menit yang lalu, pria itu hanya tersenyum kearahnya.
Bahkan melemparkan candaan dan godaan setan. Sekarang malah berubah menjadi kulkas berjalan, seperti biasanya.
Sontak Marissa tertawa kecil, melihat wajah kesal putranya.
"Yaudah, bawa istri kamu pulang gih! Keadaan ayah udah mendingan, mungkin besok kita pulang dari sini. Kalo pengen ketemu ayah, kalian datang ke rumah aja besok," ujar Marissa.
Tasya hanya mengangguk, membalas tatapan tajam suaminya kesal dengan tingkah pria itu.
Entah apa yang dia pikirkan, orangtua sendiri yang jatuh sakit tapi dia sendiri yang ingin cepat-cepat pulang dari sini. Bukannya berniat menganti posisi Marissa untuk malam ini saja, tunggu ayahnya pulang dari rumah sakit besok.
Marissa yang paham tatapan Tasya hanya tersenyum, mengeser sedikit tubuhnya dan berbisik tepat di telinga menantunya.
"Suami kamu takut rumah sakit," bisik Marissa sembari terkekeh geli.
"Serius bund?"
__ADS_1
"Iya, kamu tanya aja nanti. Takutnya malah ngambek."
Sontak mereka berdua tertawa terbahak-bahak, tanpa memperdulikan tatapan tajam yang mengarah kearah mereka berdua.
Raiden tahu dia sedang dinistakan, apalagi bundanya kompak dengan Tasya mulai dari dulu.
Bahkan Pernikahan mereka satu tahun yang lalu, terlihat sudah direncanakan. Karena bundanya memang sering menjodohkan dengan Tasya. Anak tetangga yang sering menginap di rumah orangtuanya.
"Ayo!" ajak Raiden. Berlalu keluar dari ruangan, tanpa berniat pamit terlebih dahulu.
"Yah, gitu doang?" tanya Tasya syok. Tak habis pikir dengan tingkah suaminya.
"Suami kamu memang durhaka dari dulu, bunda udah biasa digituin," ucap Marissa mulai memainkan drama.
Menunduk lesu dengan menautkan kedua tangan, melancarkan aksinya.
"Maaf yah bund," ucap Tasya merasa bersalah dengan tingkah suaminya barusan.
"Bunda udah angkat tangan sama suami kamu. Dari dulu sampai sekarang dia udah biasa kayak gitu. Dia gila karena mimpi punya anak sama Jihan tidak terjadi," ucap Marissa asal.
Tasya meringgis, mendengar ucapan mertuanya. Masa tingkat kegilaan suaminya sampai segitunya? yang benar saja.
"Tenang aja bund, aku pasti hamil," ucap Tasya serius.
"Gak mungkin, kamu masih sekolah nak."
"Gak papa bund, bulan depan aku udah selesai sekolah kok."
Sontak Tasya tertawa kecil, meraih lengan ibu mertuanya dan menggenggamnya erat. Seakan menyakinkan Marissa.
"Kalo aku gak mau, udah dari dulu aku tolak. Buktinya sampai sekarang, kita masih suami-istri," jawab Tasya bijak.
Hal yang paling Marissa sukai dari wanita yang satu ini, persis seperti ucapan putranya. Dari segi umur Tasya memang masih muda tapi dari segi wajah, postur tubuh dan pemikiran Tasya terlihat dewasa.
Dia tidak salah memilih menantu.
"Doain aja bund Tasya hamil," ucap Tasya serius.
Marissa yang mendengar ucapan menantunya bersorak senang didalam hati, rencana mereka berhasil hanya melakukan drama itu saja.
Selama ini memang Marissa selalu memantau kehidupan menantu dan putranya dari kejauhan, karena Raiden melarang keras mereka menginjakkan kaki memasuki pekarangan rumah yang dia tempati dengan istrinya.
Namun kelulusan sudah dekat, Raiden takut istrinya menjauh dari kehidupannya. Karena dari dulu
Tasya sempat berencana, melanjutkan studi ke negeri orang dengan kedua sahabatnya. Raiden tak sengaja membaca buku diary istrinya.
Jadi menghindari itu, terpaksa Raiden meminta pertolongan bundanya melakukan drama itu barusan. Yang tentunya sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari.
"Bunda pasti doain, yang terpenting kalian berdua jaga kesehatan."
Tasya hanya mengangguk, memeluk ibu mertuanya sebentar baru bangkit dari tempatnya.
__ADS_1
"Kita pamit pulang dulu yah bund, besok kita usahain datang ke rumah," ucap Tasya.
Tepat Tasya berbalik dan melangkah kearah pintu, Marissa langsung bangkit dari tempatnya. Mengangkat jempolnya kearah putranya yang sedari tadi berdiri di balik pintu.
_________________
Nasib menjadi seorang jomblo memang menyedihkan. Dimana-mana akan ada pemandangan yang menyebalkan. Tidak Raiden dengan istrinya, sekarang malah Alex dengan perempuan yang duduk disampingnya.
Entah mengapa kehidupannya dipenuhi manusia bucin, yang sayangnya terlihat menjijikan.
"Ck, Lo berdua jauh-jauh dari gue! B*ngsat," umpat Rudi akhirnya.
Kesal melihat tingkah Alex, yang sedari tadi sok romantis dengan perempuan yang bernama Zara itu.
"Iri bilang om," sindir Alex dengan santainya.
Merapatkan tubuhnya dengan Zara, tanpa perempuan itu sadari. Karena Zara sibuk dengan urusannya mulai dari tadi.
"Gue jijik bocil. Lagian Lo berdua gak tahu diri, di rumah orang masih sempat-sempatnya pacaran," sergah Rudi.
Menatap layar televisi dengan tatapan tajam, padahal Alex duduk disampingnya.
"Makanya cari bini om,"
"Lo pikir cari bini kayak cari uang?"
"True, itu 'kan sejalan. Kalo om punya uang, pasti banyak cewek yang dekat sama om tapi ini gak ada sama sekali. Berarti om gak punya uang."
"Sok tau Lo, bocil."
"Dikasih tahu malah nyolot, dasar orangutan."
Sontak Rudi melototkan matanya, menoleh kearah Alex yang tersenyum lebar tanpa beban kearahnya.
"NGOMONG APAAN LO?"
"Orangutan," jawab Alex dengan santainya.
Detik berikutnya bantal sofa melayang kearahnya, tepat pada sasaran.
"BOCIL." Rudi bangkit dari tempatnya. Menerjang tubuh Alex bertubi-tubi, menarik perhatian Zara yang sedari tadi fokus menatap layar ponselnya. Mempelajari tentang agama, yang dikirim Riki sesuai janjinya.
"Ck, apaan sih Lo berdua? kayak bocil," ujar Zara.
"Om, Rudi sakit ih. Kenapa malah aku yang kena pukul?" ucap Zara kesal. Berusaha mendorong Alex menjauh, namun pria itu malah mencari kesempatan. Memeluknya erat, otomatis dia terkena pukulan Rudi juga.
"OM, RUDI SAKIT WOI!" Zara histeris, memberontak dalam pelukan Alex, bahkan melayangkan pukulan sekuat tenaga.
Entah siapa yang terkena pukulannya, yang pastinya terdengar ringisan kecil tapi Zara tidak peduli akan hal itu. Siapa suruh mengajaknya adu tojos.
_________________
__ADS_1
TERIMAKASIH:)