MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
MAKHLUK PENGANGU


__ADS_3

Selama perjalanan, sebisa mungkin Rudi mengosongkan kepalanya. Terutama tidak menganggumi sosok wanita cantik yang duduk disampingnya.


Bahkan Alex yang duduk di jok belakang, mencondongkan tubuhnya kedepan. Mengamati Tasya dari samping, dengan tatapan bingung.


"Sya, Lo bisa baca pikiran? sejak kapan Lo anak indigo?" tanya Alex serius.


"Lo ngomong apaan sih?" balas Tasya sewot.


"Darimana Lo tahu kita ngomongin–"


"Berarti benar Lo ngomongin gue didalam hati?" sela Tasya memotong ucapan Alex.


Melipat kedua tangan didepan dada dan menatap Alex dengan wajah menyebalkan.


"Lo kebiasaan ngomongin orang dalam hati kata Zara," ungkap Tasya.


Skakmat, ketahuan. Zara juga memperingatinya tentang hal itu, karena Alex baru tahu Zara bisa membaca pikiran. Walau sekarang, Zara sudah tidak memiliki kemampuan itu lagi.


"Kalo om Rudi, gak tahu tapi mukanya tegang banget mulai dari tadi. Om, sakit?" tanya Tasya dengan santainya. Tanpa sadar dia sendiri yang menciptakan suasana mencekam dari tadi.


Andai bukan istri sahabatnya, detik ini juga Rudi ingin melempar Tasya kepinggir jalan.


Bayangkan selama perjalanan tadi, sebisa mungkin Rudi fokus menyetir dan tidak memikirkan apa-apa. Tapi bisa-bisanya mereka terpengaruh dengan ucapan Tasya.


Alex juga lupa, sahabatnya yang satu ini jahil tingkat akut tidak ada tandingannya.


"Sib*ngsat." Dengan kesal Alex hendak menjambak rambut Tasya seperti biasanya, namun kalah gesit. Lengannya lebih dahulu dihempas kasar, Rudi menatapnya tajam seakan mengancamnya. Jangan macam-macam!


Sial, pawang Tasya bertambah. Walau tetap saja Raiden yang paling menyeramkan.


"Maaf om, ngeliatin gue gitu amat. Lagian kita udah biasa bercanda, iya gak Sya?"


Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, berlalu keluar dari mobil tanpa memperdulikan kedua pria itu.


Entah apa yang mereka diributkan, Tasya tidak peduli. Kebetulan dia tidak melihat aksi Alex barusan. Ia hanya sibuk melepaskan sealtbetnya dan berlalu keluar.


"Mulai sekarang sampai seterusnya, jangan macam-macam!" ancam Rudi.


"Tenang aja om, kita satu tujuan di sini. Melindungi istri orang," jawab Alex tenang. Turun dari mobil mengikuti Tasya masuk kedalam rumah. Atas paksaan wanita itu selama perjalanan.


Alex juga tahu Rudi menyayangi Tasya, layaknya saudara perempuan. Tidak lebih dari itu.


Raiden yang baru saja menginjakkan kaki ke tangga terakhir, mengerutkan dahi mendengar suara deru mobil dari luar. Menit berikutnya pintu terbuka, menampakkan istrinya dengan senyuman lebar tanpa beban sedikitpun.


Berani-beraninya dia tersenyum setelah membuatnya uring-uringan setengah mati. Bahkan melambaikan tangan, yang sial-nya terlihat manis.


Namun yang lebih membuat Raiden kesal setengah mati, kehadiran dua makhluk halus yang berdiri di belakang istrinya. Bahkan menatapnya dengan tatapan mengoda.


"Mau kemana?" tanya Tasya lembut. Membuka sepatunya didepan pintu dan melangkah mendekat kearah suaminya.


"Ngapain Lo berdua ke sini?" tanya Raiden ketus. Tanpa mengubris ucapan istrinya, walau tubuhnya mengikuti tarikan jemari lentik itu kearah sofa.


Andai dua orang ini tidak ada di sini, Raiden akan membanting tubuh ramping ini keatas ranjang. Memberi pelajaran atas kejadian tadi pagi tapi sebisa mungkin Raiden menahan amarahnya.


"Kita mau numpang makan, iya gak bro?" tanya Rudi kearah Alex dan siempunya hanya mengiyakan saja.


Jujur Alex sedikit penasaran dengan kehidupan kedua manusia ini, apalagi mengingat kejadian tadi pagi. Reaksi Raiden terlihat menyeramkan, hanya karena istrinya keluar dari rumah tanpa penjagaan.

__ADS_1


Untung dia datang tepat waktu, jika tidak Alex tidak tahu apa yang akan terjadi.


Rudi juga sama. Dia juga melihat sendiri Raiden mengamuk dari balik gerbang tanpa siempunya sadari saking emosinya. Kebetulan dia sengaja datang pagi-pagi, sekalian ke SMA GALAXY atas perintah Raiden.


Tapi didepan, dia mendapat pemandangan yang langka setelah beberapa bulan ini tidak terlihat lagi. Raiden mengamuk. Hanya karena istrinya.


Tepat Rudi dan Alex hendak melangkah masuk kedalam, Tasya langsung bangkit dari tempatnya. Bercakak pinggang layaknya ibu siap memarahi anaknya.


"BUKA SEPATU KALO MAU MASUK!" teriak Tasya mengema seisi ruangan.


Raiden yang duduk di sofa hanya mengulum senyum, tidak heran lagi dengan tingkah istrinya.


Kebetulan bagian bersih-bersih rumah Tasya sendiri yang turun tangan. Walau terkadang Raiden melarangnya, karena istrinya kadang lupa siapa dia sebenarnya di rumah ini.


Bahkan lebih parahnya, istrinya lebih mencintai sapu daripada dia yang jadi suaminya. Menyebalkan.


"Maaf nona muda," jawab Rudi sembari terkekeh. Melepas sepatu hitamnya didepan pintu, diikuti Alex yang terlihat malas meladeni sahabatnya. Mengingat kepalanya yang masih pusing.


"Sekali lagi, kalo mau bertamu ke rumah ini. SEPATU DIBUKA. KOTOR!" peringat Tasya. Kembali duduk ke tempat semula, tepat disamping suaminya.


Dengan napas yang memburu dan tatapan tajam.


"Kenapa bolos?" tanya Raiden lembut. Walau mimik wajahnya tetap sama, datar tanpa ekspresi.


"Alex sakit," jawab Tasya seadanya.


"Kenapa dibawa ke sini?" Raiden menarik tubuh ramping itu mendekat kearahnya dan melepas ikatan rambut istrinya.


Anak SMA-nya memang tidak pernah benar menjadi wanita, masih pagi tapi rambutnya sudah berantakan seperti saat ini.


"Tunggu bininya pulang berobat, jadi biar Mpok Atiek yang mengobati," terang Tasya.


"Gak papa 'kan om?" bisik Tasya serius. Meminta izin kearah suaminya, siapa tahu Raiden tidak mengizinkan. Apalagi wajah tampan itu terlihat tidak bersahabat sedari tadi.


"Boleh, boleh banget."


Manik Tasya langsung berbinar, namun detik berikutnya tubuhnya merosot begitu saja.


"Nanti malam yah sayang, tunggu hukuman. Malam ini kamu gak bakalan bisa lolos lagi, aku udah sembuh TOTAL," bisik Raiden lembut. Namun terdengar menyeramkan.


Cepat-cepat Tasya bangkit dari tempatnya, menarik kerah belakang Alex tepat pria itu hendak duduk di sofa.


"Dasar om-om," cibir Tasya.


Sontak Raiden tertawa terbahak-bahak, bangkit dari tempatnya mengikuti tubuh ramping itu ke dapur. Tanpa memperdulikan tatapan Rudi dan Alex.


"Tumben," sindir Rudi.


Tersenyum mengoda kearah Raiden, yang terlihat berbeda tidak seperti biasanya. Selama ini Raiden selalu murung, boro-boro tersenyum membuka mulut saja harus menunggu ayam jantan bertelur. Saking langkanya.


"Mpok, teman Tasya kayaknya masuk angin, kurang belaain, rindu berat karena ditinggal Istri. Jadi buatin minuman jahe, sekalian Lo mau makan apa?" tanya Tasya kearah Alex.


"Apa aja, asal Lo diam. Kepala gue tambah pusing, sumpah." Alex duduk di kursi meja makan dan meletakkan kepalanya keatas meja.


"Gitu aja Lo udah loyo, dasar lemah," cibir Tasya.


"Sabar yah Lex, ingat dia istri orang. Orangnya tuan rumah, jadi kita gak bisa apa-apa," ucap Rudi. Duduk disamping Alex, tanpa memperdulikan tatapan tajam Raiden.

__ADS_1


Tasya hanya mengangkat bahunya acuh, melangkah kearah kulkas mengeluarkan bahan-bahan makanan.


Raiden yang semula diam mematung di tempat, melangkah mendekat kearah istrinya dan mengikuti tubuh ramping itu dari belakang. Kemana pun Tasya melangkah.


"Masak mie instan aja, biar mereka tau diri," bisik Raiden tepat di telinga istrinya. Yang terlihat sibuk membersihkan daging ayam dan sayur-sayuran.


"Jahat banget sih om,"


"Yah, biarin. Siapa suruh kamu lari dari rumah tadi pagi, hm?"


"Gak nyambung,"


"Besok-besok kalo ada masalah, cerita sama aku bukan sama ALEX," bisik Raiden. Menekan setiap katanya, membuat bulu kuduk Tasya merinding sekejap. Entah darimana suaminya tahu hal itu.


Raiden yang menyadari terkejutan istrinya hanya terkekeh geli, melilitkan kedua lengannya kepinggang ramping itu dan meletakkan kepalanya di bahu istrinya. Menghirup dalam-dalam aroma khas Tasya, yang bagaikan candu penghilang lelah.


"Ekhm, Lex-Lex balik-balik. Emak Lo udah cariin," ujar Rudi heboh.


"Ingat tujuan awal kita om, NUMPANG MAKAN!" jawab Alex. Ikut-ikutan heboh saat melihat pemandangan yang tak jauh dari tempatnya.


"Ekhm-Ekhm, kayaknya gue ketelan batu mangga. Tolongin gue Lex,"


"Gak, benar ini."


"Lex tolongin,"


"Kita kekamar atau ruang tamu aja om? biar lebih bebas."


"Kamar aja lah, biar leluasa berteriak keenakan."


Sontak mereka berdua tertawa terbahak-bahak, bahkan Alex lupa kepalanya yang semula pusing. Dan Rudi lupa kerjaannya yang menumpuk di kantor.


Wajah Tasya langsung memerah bak kepiting rebus, mendorong pelan tubuh kekar itu dari belakang tubuhnya. Walau hasilnya tetap sama, malah Raiden semakin mengeratkan pelukannya.


"Om, jauh-jauh sana," bisik Tasya kesal. Sesekali mencubit lengan kekar yang melilit pinggangnya.


"Biarin,"


"Om, malu ih."


"Orang kita ngapain-ngapain,"


"Tetap aja, sana."


"Gak,"


"Om," rengek Tasya. Terpaksa Raiden melepaskan pelukannya, sebelumnya mengecup sudut bibir istrinya.


"Aku tunggu nanti malam, jangan lupa yah sayang," bisik Raiden dan berlalu menjauh.


Tubuh Tasya kian melemas, jantung berdetak kencang dengan rasa malu yang membendung.


Mpok Atiek yang sedari tadi sibuk didepan kompor, hanya tersenyum geli melihat interaksi Raiden dan Tasya. Yang selama ini tidak pernah ditunjuk didepan orang lain.


Bahkan Mpok Atiek yang bekerja setiap hari, tidak pernah melihat mereka berdua melakukan hal seperti itu didepan matanya. Kecuali tingkah lucu Tasya dan Raiden yang selalu tertawa terbahak-bahak melihat tingkah istrinya.


Mereka berdua memang saling melengkapi, tanpa mereka sadari.

__ADS_1


_______________


TERIMAKASIH:)


__ADS_2