MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
EMPAT SEMBILAN


__ADS_3

17:00 PM


Dengan pergerakan sepelan mungkin Raiden mengangkat tubuh ramping itu, menuruni tangga satu persatu hingga mendudukkannya dijok depan dengan selimut dan topi menutupi rambut gadisnya.


Seragam putihnya sudah Raiden ganti dengan pakaian santai, karena sipemalas menikmati tidurnya tanpa terganggu sedikitpun. Entah apa yang Tasya makan selama ini, bisa-bisanya tidur nyenyak tanpa terganggu dengan pergerakannya. Mulai dari seragam yang diganti, hingga diangkat ke mobil.


Tahu begini ceritanya, sisi liar Raiden bisa bangkit sewaktu-waktu. Kondisi seakan mendukungnya.


"Den, hati-hati!" lirih Mpok Atiek.


Mengelus punggung kekar itu, layaknya ibu dengan anak.


"Iya, Mpok bisa pulang ke rumah. Uang bulanan tetap Iden kirim,"


Mpok Atiek hanya tersenyum, menerima uluran tangan Raiden sembari mengelus lembut rambut pria itu.


Raiden memang kejam, kejam dengan semua yang bersangkutan dengan keluarga Dirgantara. Apalagi sekarang ada Tasya yang harus dia jaga. Mpok Atiek mengerti akan hal itu, mungkin Raiden belajar dari masa lalu. Tapi dibalik itu semua, aslinya pria ini baik dalam bidang apapun selama tidak melakukan hal yang tidak-tidak dibelakangnya.


"Rumah gak usah dibersihin, Mpok istirahat aja. Ingat jangan kasih tahu ayah sama bunda, bilang aja kita honeymoon."


Mpok Atiek hanya mengangguk, menatap tubuh kekar itu berlalu masuk kedalam mobil hingga melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Selama perjalanan Tasya tetap terjaga, hingga jam berputar menunjukkan pukul 23:00. Mereka sampai ditujuan.


"Ck, anak ayam satu ini gak bangun-bangun juga."


Raiden melepas sealtbetnya, menghela napas sejenak menatap wajah cantik itu yang terlihat tenang dengan napas yang teratur. Kalo begini ceritanya dia mana tega, terpaksa Raiden mengangkatnya kembali walau tubuhnya terasa remuk menyetir mulai dari tadi.


Tepat pintu mobil tertutup, manik biru itu terbuka dengan sendirinya.


Menatapnya dengan tatapan bingung, dan melompat begitu saja dari gendongannya.


"Astaga om, kok Tasya gak dibangunin?"


"Minta dib*ntungin," decak Raiden kesal.


"Mau kasih surprise?"


"Kepedean."


Tasya mendengus kesal, menghentak-hentakan kakinya memasuki pekarangan rumah besar dihadapannya, mengetuk pintu tak sabaran tanpa memperdulikan waktu yang sudah tengah malam.


"OMA, BUKA PINTUNYA! TASYA DOBRAK NIH PINTU! MASA CUCU PULANG GAK DISAMBUT, GIMANA SIH? OMA SAMA AJA KAYAK OM-OM DIBELAKANG TASYA."


Raiden menahan tawa setengah mati, memilih mengeluarkan koper daripada mendengar ocehan tidak penting yang keluar dari mulut gadisnya.


Untung daerah ini pinggir pantai, jadi tetangga tidak akan mendengar teriakkan gadisnya.


"OMA!"


Pintu terbuka menampakkan wanita tua dengan wajah syok, detik berikutnya tongkat kayunya melayang di udara.


"CUCU GAK TAU DIRI! MASIH INGAT PULANG KAMU?"


"Astaga Oma, sakit."


"PULANG SANA!"

__ADS_1


"Oma sama aja, gak om-om yang itu. Nenek-nenek yang ini malah lebih ngeselin. Bukannya disambut, malah dimarahin. Tasya kesal sama Oma, mulai hari ini kita musuhan."


Ratna hanya menghela napas panjang, menatap tubuh ramping itu berlalu menjauh masuk kedalam rumah, hingga terdengar pintu dibanting cukup kencang.


"Ck, terlalu dimanja malah jadi begitu."


Tasya cucu satu-satunya Ratna yang paling dia manjakan. Apalagi cucunya yang satu itu tidak seberuntung yang lain, kedua orangtuanya tidak pernah akur berakhir Ratna yang memanjakannya.


"Selamat malam Oma,"


Ratna mengalihkan tatapannya kearah suara, tersenyum hangat kearah pemuda tampan yang berdiri menjulang tinggi tepat dihadapannya.


"Raiden Dirgantara?"


"Iya, Oma."


Raiden menyalim wanita tua dihadapannya, dan kembali menegakkan tubuhnya.


Pantasan cucunya tergila-gila dengan manusia yang satu ini, ternyata pria yang sering Tasya bicarakan setampan dan segagah ini. Tapi sayangnya, istrinya keturunan setan.


Ratna jadi kasihan dengan pria yang satu ini, mereka berdua tidak serasi sama sekali.


"Ayo, masuk! kalian pasti capek,"


Raiden hanya mengangguk, menarik koper dan menutup pintu.


"Langsung istirahat, lantai atas kamar istri kamu. Kalo lapar tinggal dorong istri kamu keluar kamar, biar berguna. Oma capek mendidik anak yang satu itu, tidak ada yang berubah malah makin parah."


Raiden hanya mengulum senyum, akhirnya dia tidak sendiri mengurus anak yang satu itu.


"Oma pamit kekamar dulu, besok saja kita kenalan." Wanita tua itu berlalu masuk kedalam kamar, yang tak jauh dari pintu utama.


Jemarinya memutar knop pintu, menampakkan kamar dengan nuansa pink jauh berbeda dengan kamar nya.


"Om, ngapain ke sini? tidur sama Oma aja sana!"


"Kurang m*ntok,"


"Dasar om-om mesum."


Raiden hanya mengangkat bahunya acuh, menutup pintu kamar mendorong koper kearah istirnya. Sial, kamar yang biasanya nuansa gelap kini malah terlihat kamar anak dibawah umur. Untung istri sendiri.


"Bikin anak yuk! kamarnya udah ada, tinggal penghuninya."


"Enak aja, ini kamar Tasya!"


"Ck, mana ada kamar anak SMA begini modelannya."


"Kerjaan om ngejek Tasya mulu sih,"


"Gak ada kerjaan soalnya."


"Keluar sana! pijitin Oma biar ada kerjaan,"


"Kamu aja, gratis sekalian dapat bonus."


"Gak, makasih."

__ADS_1


Sontak Raiden tertawa kecil, menyelusuri kamar dengan maniknya hingga satu objek menarik perhatiannya.


"Kaca sengaja dibuka?"


"Iya, kalo Tasya gak pulang. Biasanya Oma buka jendela, kebiasaan aku kalo tidur. Jadi rasanya Tasya ada dirumah."


Ternyata informasi yang Raiden cari benar, setelah gadisnya jujur tentang mertuanya yang akan cerai, Raiden langsung mencari tahu semua tentang kehidupan Tasya yang belum dia ketahui.


Ratna atau lebih tepatnya ibu dari mertuanya perempuan, yang selama ini merawat Tasya walau jarak mereka berjauhan. Tasya cucu satu-satunya yang diperlakukan berbeda dari yang lain.


Kebetulan SMA GALAXY libur, jadi Raiden sengaja membawa gadisnya kesini tanpa siempunya tahu. Sekalian menyenangkan hati istri.


"Ck, om punya hobi melamun? tidur sana!"


"Gak sopan ngomong sama suami."


Tasya mencibir, melempar bantal yang baru saja ia dapat dari dalam lemari.


"Tidur di luar sana!"


Bukannya mengindahkan ucapannya tubuh kekar itu malah menarik tubuhnya, dibanting kecil keatas ranjang.


"Mau ngapain sih om?"


"Belah duren."


"Gak, Tasya gak mau."


Gegalapan Tasya menjauh dari tubuh kekar itu, walau tetap saja hasilnya sama. Malah kakinya ditarik hingga tubuh kekar itu menimpa tubuhnya.


"Ingat om, Tasya anak dibawah umur. Belum bisa begituan."


"Aku gak peduli,"


"Om, besok aja yah."


"Gak,"


"Tunggu Tasya beli dinas malam,"


"Gak,"


"Yah, biar lebih seru."


"Gak,"


"Om, nanti Tasya beli yang warna merah deh."


"Gak,"


"Om,"


"Gak, aku ngantuk besok aja. Jadi ingat cari dinas malam warna merah. Biar seru," bisik Raiden tepat di telinga gadisnya.


Sial, Tasya termakan ucapan sendiri.


________________

__ADS_1


TERIMAKASIH:)


__ADS_2