MENIKAH DENGAN GADIS SMA

MENIKAH DENGAN GADIS SMA
SIMBIOSIS MUTUALISME


__ADS_3

Tepat Tasya keluar dari mobil, bertepatan Axel turun dari atas motor ninja nya. Menatap wajah cantik itu yang terlihat murung, memasuki pekarangan sekolah dengan kepala yang menunduk.


Entah apa yang Raiden lakukan hingga istri cantiknya murung seperti itu. Tumben-tumbenan juga titisan setan itu tidak memiliki gairah hidup.


"Kenapa Lo?"


Axel menarik ransel Tasya, hingga tubuh ramping itu terseret mengikuti langkahnya.


"Suami gue ngambek," adu Tasya, layaknya anak kecil. Walau sebenarnya dimata Axel, Tasya yang dulu dan sekarang masih sama. Sama-sama bocil.


"Rasain Lo,"


"Hibur gue kek atau gimana gitu?"


"Bolos?"


"Gak mood,"


"Lagian guru rapat hari ini."


"Jadi ngapain Lo datang ke sini?" tanya Tasya tak habis pikir.


"Buang-buang waktu,"


"Ck, gak om-om yang di rumah, om-om yang ini malah lebih parah. MENDING LO MATI AJA SUMPAH, GAK GUNA. KASIHAN SI BOTAK PUNYA ANAK MODELAN KAYAK LO," teriak Tasya tanpa memperdulikan posisi mereka saat ini.


Seluruh mata tertuju kearah mereka berdua, heran sekaligus mencibir terutama kaum hawa. Entah mengapa semua pria menempel dengan perempuan yang satu itu, hingga mereka tidak kebagian.


Axel hanya mengangkat bahunya acuh, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Sembari menyeret tubuh ramping itu tanpa belas kasihan.


"Apaan sih, sakit WOI!"


Tasya memberontak, berusaha mendorong tubuh Axel menjauh walau hasilnya tetap sama.


Hingga tubuh kekar berhenti, mendudukkan Tasya di kursi paling pojok.


"Teman-teman Lo mana?" tanya Axel, mengamati setiap sudut ruangan. Mencari posisi kedua manusia yang berstatus sebagai sahabat Tasya selama ini.


"Home schooling," jawab Tasya seadanya.


"Kenapa?"


"Zara mau berobat,"


"Bagus itu, gue juga kasihan."


Kebetulan waktu Zara berteriak histeris, itu semua tidak hilang dari pandangan Axel. Menurutnya ada yang berbeda dari perempuan yang satu itu.


Auranya juga menyeramkan, manusia pertama yang Axel temui memiliki aura mencekam.

__ADS_1


"Lo gak cemburu?"


Lebih ke sindiran bukan pertanyaan apalagi perhatian.


"Sedikit," balas Tasya ketus.


Sontak Axel tersenyum tipis, menoleh kearah Tasya yang terlihat memejamkan mata dengan kepala diletakkan diatas meja.


"Cinta Alex tulus banget sama Zara, entah kapan gue diposisi itu," lirih Tasya.


Hingga tepukan kecil terasa dipucuk kepalanya, telinganya dijewer hidungnya ditarik.


"Gak bakal."


"Rese Lo,"


"Bercanda," ujar Axel sembari nyengir kuda.


Persahabatan antara wanita dan pria salah satu diantaranya pasti ada yang menyimpan perasaan. Tasya juga bilang, mereka bersahabat dari kecil. Munafik tidak tersanjung dengan perlakuan satu sama lain. Soalnya Axel pernah di posisi itu.


Kebetulan dulu mereka berdua tidak terlalu dekat, hanya orangtua mereka saja yang bersahabat sesekali mereka bertemu jika ada pertemuan.


Namun setiap pertemuan itu, Axel selalu menggunakan kesempatan untuk mengerjai Tasya, bisa juga menjadi partner komplotan di waktu yang bersamaan. Dibalik itu juga Axel akan menjadi Abang, mendengar keluhan Tasya jika suasana hatinya sedang buruk.


"Tapi Lo keren juga, bisa bersahabat sama Zara sampai sekarang."


"Simbiosis mutualisme. You know?"


"Licik."


Tasya menarik napas dalam-dalam, dan mengeluarkannya secara perlahan.


"Lo tau sendiri, waktu kecil gue jarang punya teman. Kalo pun ada, ujung-ujungnya gue jadi bahan ejekan karena gue anak broken home."


"Cuman mereka doang yang terima gue apa adanya. Waktu gue sendiri, mereka berdua bakalan hadir. Walau sebenarnya mereka juga pencipta luka di hati gue," ungkap Tasya.


Axel hanya mengangguk, melipat kedua tangan dan bersandar seperti yang Tasya lakukan.


"Apa pun itu bakalan gue lakuin, asal mereka jadi teman gue. Saling menguntungkan satu sama lain, mereka jadi teman gue, gue bisa bantu mereka. Lagian dari kehidupan Zara gue belajar banyak, terutama kelebihan yang dia punya. Walau kenyataannya sih kemampuan Zara itu salah,"


"Kenapa malah hebat?"


"Hebat darimana nya? Zara tersiksa cuman gara-gara itu, dia tau apa yang bakalan terjadi tapi gak tau cara memperbaiki. Because she is human, not God."


"Tumben setan kayak Lo bijak."


Sontak Tasya menoleh kearah Axel, detik berikutnya maniknya melotot sempurna.


"B*NGSAT, ITU MAKAN SIANG GUE. KELUARIN GAK!"

__ADS_1


Wajah Axel memerah sempurna, tersedak makanan yang belum sempat tertelan sepenuhnya. Apalagi Tasya memukul punggungnya, menjambak rambutnya hingga Axel terbatuk-batuk.


"Itu masakan suami gue, enak aja Lo," geram Tasya.


Menarik kotak bekal makan siangnya dari ngengaman Axel, menyiksa pria itu tanpa belas kasian.


Seluruh siswa yang ada di dalam kelas terdiam seribu bahasa, menonton film Psikopat langsung dari balik layar.


Entah mengapa setiap manusia yang masuk kedalam kehidupan Tasya kelakuannya gak ada yang benar. Alias titisan setan semua. Rip.


________________


Perdana untuk hari ini, setelah bertahun-tahun menjabat sebagai CEO sekaligus anak pemilik perusahaan. Seorang Raiden Dirgantara, akhirnya berani memimpin rapat.


Wajah tampannya tetap datar tanpa ekspresi, tidak ada senyuman sedikitpun yang tersungging di bibirnya. Hanya Rudi yang tersenyum, layaknya bapak bangga dengan prestasi anak. Beda dengan seluruh karyawan yang terlihat canggung sekaligus takut.


Selama ini saja Raiden selalu terlihat menakutkan, walau hanya mengurung diri didalam ruangannya tetap saja karyawan terkena semprotan ucapan pedas yang keluar dari mulutnya.


Sekarang pria itu benar-benar menjalankan tugas nya sebagai CEO, entah apa yang akan terjadi. Mungkin kedudukan mereka akan tergeser satu persatu beberapa jam kedepan.


"Silahkan tuan muda dimulai rapat nya," ujar Rudi dari tempatnya.


Tanpa basa-basi Raiden langsung memulai rapat, terkadang tidak segan-segan menyindir kepala divisi setiap inti perusahaan yang selama ini diam-diam memakan uang haram tanpa bekerja.


Dasar manusia, udah digaji masih aja gak tau diri. batin Raiden.


Dia tau banyak calon koruptor dihadapannya, didiamkan selama ini tunggu waktu yang tepat menyiksanya satu persatu. Lagian siapa suruh meremehkan nya.


"Rapat berakhir, terimakasih," ujar Rudi tepat Raiden kembali ke tempat semula.


Satu persatu karyawan bangkit dari tempatnya, berlalu keluar dari ruangan dengan wajah pucat tubuh gemetar. Tepat ruangan kosong, tawa Rudi langsung pecah setelah berjam-jam menahan tawanya.


"Wow Sir, anda makan cabe berapa kilo? sepertinya saya harus bertemu nona muda, ini berita terhot sepanjang masa," ucap Rudi heboh.


"Ngomong apaan Lo?"


Raiden bangkit dari tempatnya, melangkah mendekat kearah Rudi melayangkan pukulan melepaskan kekesalannya yang masih terpendam. Padahal Alex hanya memeluk gadisnya sekaligus sahabatnya tapi hingga detik ini Raiden belum terima.


Gue bunuh juga anak yang satu itu, berani-beraninya menyentuh milik gue. batin Raiden.


Berlalu keluar dari ruangan rapat, meninggalkan Rudi tertawa terbahak-bahak seakan mengejeknya.


"HATI-HATI BEB, NONA MUDA TERLALU CANTIK UNTUK ANDA!" teriak Rudi seakan tak mau kalah.


Padahal wajahnya sudah babak belur, walau hanya satu pukulan. Untung Rudi di bayar mahal-mahal selama ini, walau tetap saja semua dihabiskan untuk merobat. Miris.


____________


TERIMAKASIH:)

__ADS_1


__ADS_2