
"Kayaknya mereka berempat alumni SMA GALAXY. Putaran waktu itu cuman ada dilingkungan sekolah tapi gak banyak sih yang gue dapat, cuman itu doang," ungkap Zara. Tidak melebih-lebihkan dan mengurangi fakta sebenarnya.
Dia berbicara sesuai fakta yang ia lihat, tanpa ada niat jahat dibaliknya.
Dimasa lalu memang dia sering mengarang cerita yang tidak sesuai fakta, demi hubungannya dengan Alex tetap berjalan dan Tasya tersingkirkan.
Namun sekarang Zara menyesali itu semua, tidak ada yang dia dapat setelah melakukan itu. Yang ada perasaan bersalah menghantui.
Apalagi Tasya tetap menjadi Tasya yang dulu. Manusia yang tidak pernah berniat membalaskan dendam.
Seketika hening, mereka bertiga bungkam sibuk dengan pikiran masing-masing. Antara kasihan, penasaran bercampur aduk.
Tasya juga baru tahu kejadian sebenarnya, apalagi kehidupan Jihan. Mereka berdua hampir sama, berasal dari keluarga broken home. Bedanya Tuhan masih memberi dia kesempatan, untuk menikmati kehidupan hingga saat ini.
"Jadi?" tanya Alex, melenyapkan keheningan.
"Apanya?" tanya Tasya balik.
"Kita selidiki aja sampai tuntas,"
"Ck, ruangannya udah gak ada lagi. Lagian kemampuan gue gak sebanding sebelum bertobat," terang Zara seraya bersandar pada sandaran sofa.
"Gue akui kemampuan Lo memang keren banget," ujar Alex.
Bangkit dari tempatnya, berpindah duduk ke samping Zara.
"Keren darimana nya? tiap malam gue gak bisa tidur cuman mikirin keselamatan orang lain, gue tersiksa karena gak bisa ngapa-ngapain. Gue cuman bisa teriak, nangis, nyusahin dan pengecut kayak Lo," sergah Zara.
Sontak Tasya tertawa kecil, melihat perubahan wajah Alex yang terlihat kesal mendengar ucapan Zara.
"Gue juga gak mau punya kemampuan s*alan ini, b*ngsat. Kalo kemampuan gue bertambah, mereka bakalan minta t*mbal sama gue," ungkap Zara serius.
Karena setiap satu kemampuan bertambah, tiap malam iblis yang menampakkan diri didepan Tasya beberapa waktu lalu, selalu menampakkan diri di depan matanya juga.
Meminta yang tidak-tidak dan pastinya Zara tidak akan mewujudkan semua keinginannya. Karena dia tidak pernah meminta kemampuan itu.
"Kenapa Lo gak kasih tahu gue, bodoh. Si Alex 'kan bisa jadi t*mbal," ucap Tasya heboh.
Spontan Zara menegakkan tubuhnya, tersenyum lebar kearah Tasya.
"Lah, iya yah. Mereka juga minta t*mbal manusia bodoh, pengecut, sok kegantengan, gak pekaan, sok romantis persis kayak Alex," ucap Zara.
Tasya hanya menahan tawa setengah mati, tetap dengan ekspresi wajahnya. Melancarkan aksi mereka berdua. Apalagi wajah Alex kian memerah, menahan emosi.
"Lo berdua ngatain gue?" tanya Alex berapi-api. Menatap tajam kearah kedua sahabatnya.
"Dih, kepedean," elak Tasya.
Meraih camilan dari atas meja dan mengunyah dengan santainya. Seakan tidak terjadi apa-apa.
"Menurut gue sih Za, kalo mereka minta t*mbal lagi. Kasih tahu sama gue," ucap Tasya.
__ADS_1
"Emang Lo bisa bantu gue?" tanya Zara antusias, seakan itu benar-benar terjadi.
"Bisa, bisa banget tapi cuman satu orang sih. Gak berguna soalnya, yang ada nambahin beban."
"Siapa?" tanya Zara sok polos.
"Tamu kita dari semalam, agak mengangu ketenangan. Mana gak tahu diri," sindir Tasya tanpa beban sedikitpun.
Sontak Alex bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan mereka berdua. Dengan kedua tangan terkepal.
"Kenapa Lo?" tanya Tasya seraya terkekeh geli. Walau kenyataannya, sedari tadi mereka berdua menahan tawa setengah mati. Melihat reaksi Alex.
"Kalo mereka minta lagi, gue langsung kasih tau sama Lo. Tapi kalo boleh, dikasih makan dulu biar gemukan dikit," ucap Zara dengan santainya.
Tasya hanya mengangguk-angguk, meneliti penampilan Alex dari bawah sampai atas dan meletakkan camilannya kembali.
"Perlu dibawah ke salon juga, perawatan wajah kalo boleh. Agar gimana gitu," nilai Tasya. Seraya menatap wajah Alex saksama.
"Lo berdua ngatain gue?" ulang Alex lagi.
"Dih, siapa juga ngatain Lo?" elak Tasya. Tetap kekeh melancarkan aksinya.
"Jadi ngapain Lo lihat-lihat gue?"
"Karena gue punya mata." Tasya bangkit dari tempatnya, berdiri menjulang tinggi tepat dihadapan Alex dan menghela napas sejenak.
"Lo makin jelek aja, jijik gue lama-lama," ucap Tasya. Berlalu menjauh dari hadapan Alex, menaiki tangga satu persatu menuju kamar.
"LO BERDUA JANGAN MACAM-MACAM DI RUMAH ORANG. ZA LO JANGAN KEMANA-MANA! LO NGINAP DI SINI MALAM INI. GAK ADA BANTAHAN!"
" JADI LO MAU KEMANA?" sahut Zara. Menatap punggung Tasya berlalu menjauh.
"GUE MAU TIDUR, KEPALA GUE PUSING, MUAL-MUAL. EFEK BELAJAR."
Zara hanya mengeleng, kembali menatap layar televisi tanpa memperdulikan keberadaan Alex. Hingga terdengar pintu tertutup dari lantai atas.
"Om Raiden kayaknya cinta banget sama Tasya, gue senang banget ngeliatnya," ucap Zara menarik perhatian Alex.
"Kenapa Lo ngomong gitu?"
"Gue sempat gak percaya sama om Raiden, soalnya di masa lalu dia cinta banget sama Jihan. Mereka berdua juga nikah bukan karena cinta. Gue pikir juga, Jihan masih hidup. Takutnya jadi pelakor," ungkap Zara.
Alex menghela napas sejenak, emosi yang sempat singgah di benaknya hilang sekejap. Hanya melihat wajah Zara.
"Lo tenang aja, om Raiden benar-benar sayang sama Tasya. Dia beda."
Zara hanya mengangguk, setuju dengan ucapan Alex.
_________________
Pukul 19:00, Raiden baru sampai di pekarangan rumah. Diikuti makhluk penganggu mulai dari kantor. Bahkan membujuknya dengan seribu cara, agar mengijinkannya menginap kembali untuk malam ini.
__ADS_1
"Den, gue numpang tidur di sofa sampai minggu depan. Tenang aja tagihan listrik gue yang bayar. Asal Alex numpang tidur di rumah Lo juga," ucap Rudi entah keberapa kalinya.
"Ck, terserah." Putus Raiden akhirnya.
Berlalu keluar dari mobil, diikuti Rudi yang ikut menumpang di mobilnya juga. Benar-benar definisi manusia tidak tahu diri.
"Lo memang sahabat terbaik."
Raiden hanya diam, memutar knop pintu langsung disambut senyuman manis istrinya. Dengan penampilan rapi, dari bawah sampai atas.
"Lama banget pulangnya, aku tungguin tahu," omel Tasya. Meraih lengan kekar suaminya, memutar balik tubuh kekar itu keluar dari rumah.
"Aku mau makan bakso, anak kamu yang pengen."
"Ulangi!" beo Raiden.
"Aku ngidam pengen makan bakso," ucap Tasya asal. Seraya mengelus perut ratanya.
"Sejak kapan kamu hamil?"
"Tahun lalu."
Raiden dan Rudi yang awalnya syok bercampur aduk mendengar pengakuan Tasya mengeram kesal dengan menahan sumpah serapah didalam hati.
Mereka pikir ucapan Tasya kenyataan, nyatanya hanya candaan semata.
"Ck, jangan bercanda!" ucap Raiden kesal.
"Iya, om Tasya lagi ngidam. Pengen makan bakso, sama tukang baksonya."
Tasya mengendus-endus tubuh kekar itu, memastikan aroma tubuh suaminya.
"Masih harum, ayo!"
Alex, Zara dan Rudi yang sedari tadi melihat pemandangan itu tercengang ditempat. Berdenging ngeri melihat Tasya mengendus-endus tubuh Raiden tanpa jijik sekalipun.
"Manusia bucin gini amat kelakuannya," gumam Rudi tak habis pikir.
"Makanya cari bini om, biar tahu rasanya aroma ketiak pasangan. Iya, gak sayang?" tanya Tasya kearah Raiden sembari terkekeh geli.
"Ngawur kamu,"
"Lah, memang benar 'kan. Om aja suka–"
"Diam!" sela Raiden memotong ucapan Tasya. Karena dia tahu lanjutan ucapan istrinya pasti yang tidak-tidak.
"Suka sama Tasya maksudnya."
__________________
TERIMAKASIH
__ADS_1